-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

LIBURAN KE EROPA

Kamis, 20 Desember 2018 | 12:12 WIB Last Updated 2019-12-05T11:48:29Z
LIBURAN KE EROPA


Oleh: Atin Supartini

Sabtu kemarin, di sekolahku telah dilaksanakan pembagian rapor. Hasil dari proses belajar yang telah para pelajar jalani selama enam bulan.

Aku sangat bersyukur, karena dapat hasil sesuai dengan yang ditargetkan. Tapi, hasil itu bukan akhir dari segalanya, aku harus terus belajar tuk sampai di gerbang kelulusan.

Alhamdulilah, kali ini aku kembali pulang mengantongi kebahagiaan. Sepanjang perjalanan, hatiku tak luput dari kata bersyukur.

Sesampainya di gubuk kecilku, kakek sudah menyambut kedatanganku. Aku pun bersalaman padanya.

"Mana coba lihat rapormu?" pinta kakek penuh keingintahuan. Aku pun langsung mengeluarkan rapor dari tas kumalku, "Ini, Kek."

Dibukanya raporku perlahan-lahan, lembar demi lembar beliau telah lalui. Hingga terbukalah nilai hasil belajarku selama semester satu ini. Deretan angka yang tertera di sana, beliau pandang dengan lekat.

Kakekku pun tersenyum sendiri, entah apa yang beliau lihat hingga senyum itu terlukis di bibirnya.

"Alhamdulilah, kamu dapat memperoleh ini. Kakek ikut bahagia. Terus semangat belajarnya!" tutur kakek setelah memeriksa raporku.

"Iya, Kek," ucapku senang. Namun, kali ini ada yang kurang. Nenek....

Biasanya setiap pembagian rapor, beliau suka bareng kakek memeriksa raporku. Kali ini beliau tidak ada di sini, "Nek, aku baru saja pembagian rapor...." aku sangat rindu pada nenek.

Tak lama kemudian, terdengar suara handphone yang berdering. Aku pun langsung mencari handphoneku dan kudapati sebuah pesan SMS dari ibu, "Teh, rapor udah dibagi ya?"

Hatiku bahagia mendapati pesan itu dan langsung saja aku balas. "Alhamdulilah, udah tadi Bu."

"Sekarang kamu dapet peringkat berapa?" pertanyaan yang selalu ibu tanyakan bila telah pembagian rapor.

Aku pun membalasnya, "Alhamdulilah, Bu. Aku dapatkan hasil sesuai dengan yang aku targetkan."

"Ahamdulilah. Ibu bahagia mendengarnya. Kapan kamu ke sini?" kelihatannya ibuku bahagia, dan mengerti maksudku.

Aku mendadak berfikir sejenak, "kapan kamu kesini?" pertanyaan itu membuatku bingung.

"Bu, mungkin saat ini aku belum bisa pulang, di sini masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, tambah di mardasah belum libur. Maaf, Bu." terangku.

Ibu pun agak lama membalas pesanku itu, dan handphoneku kembali berdering.

"Iya, gak apa-apa. Selesaikan dulu pekerjaanmu. Nanti kalau mau kesini kasih kabar, ya." balas Ibu. "Iya, Bu."

Kemudian, aku melanjutkan hari dengan melakukan berbagai aktivitas. Hingga petang pun menjelma, sepulang dari lautan ilmu aku dapati handphone yang berdering memecah kesunyian malam.

Ternyata panggilan masuk dari Ibu, beliau masih sama menanyakan "kapan kamu kesini?" Lalu, aku coba jelaskan kembali. Beliau menyampaikan kalau adik sangat rindu padaku dan ingin aku pulang menemuinya.

Tetapi, aku belum bisa. Di sini masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan. "Aku juga rindu..." perkataan itulah yang aku sampaikan pada Ibu.

Minggu pagi, handphoneku sudah berdering lagi. Lalu, ku tengok dan tertera nama "Ibu" di layar kaca handphone.

Aku langsung angkat panggilannya, beliau masi menanyakan hal yang sama "Kapan kamu ke sini?" Namun, aku coba jelaskan lagi dan beliaupun mengerti. Adiku ikut berbicara, "Teteh ke sini, ade ingin ketemu sama Tetah."

"Iya, de. Teteh juga rindu. Nanti ya, kalau pekerjaan Teteh udah selesai." "Ya, Teh. Ade sayang Teteh." terucap kata dari lubuk hati terdalamnya. Perkataannya sangat menyentuh dan membuat air mata mendadak meleleh.

Kemudian, di minggu pagi sudah menjadi rutinitasku pergi "kerja bakti" di mesjid bersama teman. Sesampainya di sana, kita melihat jajaran sendal di luar mardasah.

"Apakah "kerja bakti"-nya udah selesai?" temanku melontarkan pertanyaan. "Entahlah, mari kita lihat!" ucapku.

Tiba-tiba, muncul sosok wanita yang berkulit putih dengan kepala dibalut jilbab, dan ia berkata.

"Kalian nanti beresin mesjid ya, mardasah sudah semua. Tapi sekarang ayo masuk dulu!"

Beliau menyuruh kita masuk ke satu ruangan mardasah. Kita disuguhkan tampilan santri-santri cilik yang sedang berlatih qosidah. Semangat nampak bergelora di jiwa mereka.

Mereka berlatih tuk nanti di acara "Maulid Nabi" Lalu, sang ustadzah tadi menghampiri kita.

"Gimana udah dapet ide buat yang remaja, mau tampilkan apa?" "Mmm, apa ya. Kami masih bingung, Bu."

"Bagaimana kalau solawat. Solawatnya bareng-bareng, dan harus bagus." beliau memberi usulan.

"Solawat apa, Bu?" tanya temanku. "Ada solawat Qul Yaa Adzim. Coba lihat di internet," jelasnya.

Temanku pun mecarinya di internet. Lalu, Bu ustadzah langsung melantunkan solawat itu dengan suara emasnya.

Subhanallah....Suaranya sungguh menyayat-nyayat hati.

Kemudian, datang tiga santri yang sebaya denganku dan mereka pun langsung duduk di dekatku menyimak penjelasan Bu ustadzah. Lagi-lagi lantunan solawatnya sangat menyejukan hati.

Lalu, beliau bertanya, "Siapa yang mau jadi pemimpin (imam)-nya?"

Kami hanya terdiam, lalu saling menunjuk diri. Bu ustadzah pun memilih satu di antara kita, beliau menarik satu temanku tuk maju ke depan.

Temanku itu malu-malu, hingga dia duluan nyerah "Gak mau, takut jelek." Keluhan dan sikapnya yang lucu mengundang tawa santri-santri cilik.

"Dicoba dulu," Bu ustadzah menasehati.

Akhirnya, hatinya luluh setelah diberi saran-saran oleh Bu ustadzah. Lalu, kami pun mulai latihan. Sang ustadah mementori, tak lelah beliau mengajarkan kami.

Hingga kami lumayan menguasai, tapi ini baru latihan pertama. Masih banyak hari yang harus kita pakai tuk latihan supaya tampilan kita bisa memukau.

Oh iya, pas hari "H" kita diminta pakai baju putih, kerudung hitam dan kebawahnya pakai sarung.

"Mmm, gimana ya takut dibilang ibu-ibu yang baru lahiran." keluh temanku yang perawakannya besar.

"Hehe, tenanglah." ucapku menenangkan.

Setelah beres latihan, kami mulai membersihkan mesjid. Dengan adanya kebersamaan, pekerjaan seberat apapun akan terasa ringan.

Habis itu kami pulang, aku pun berjalan bergandengan tangan bersama teman. Menyusuri panjangnya jalan, hilir mudik kendaraan menghiasi jalanan.

"Liburan kali ini kamu mau kemana?" temanku bertanya. "Hehe, ke Eropa, mau ikut!" jawabku.

"Hah, aku tak percaya kamu mau ke Eropa. Kamu bohong ya?" dia kaget mendengar jawabanku.

"Beneran, ayo ikut!" "Gak percaya ah!" "Emangnya kamu kuat di perjalanannya?" tanya dia memastikan.

"Hehe, iya aku akan liburan di Eropa dengan membaca buku," aku menjelaskan. "Tuh kan, kamu ada-ada aja. Emang buku apa yang kamu baca?" dia menganggapku aneh.

"Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Mari ke rumahku, dan kita baca sama-sama." terangku.

"Ooh, yang itu. Hmm, aku tak bisa, aku disuruh jagain keponakanku. Maaf ya, aku minta resensinya aja dari kamu," dia menjelaskan padaku seraya berlalu pulang ke rumahnya. "Iya, siap." ucapku.

Keesokan harinya aku mulai membuka kembali buku itu "Bumi Manusia" yang baru ku baca hingga halaman 30. Sebetulnya buku itu telah lama aku pinjam dari teman, tapi karena kesibukan dan hal lain aku baru bisa melanjutkan baca sekarang.

Tokoh utama dalam buku ini bernama "Minke" seorang yang berdarah priyayi yang keluar dari kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, Eropa.

Seru.... di saat membaca bagian; Minke mengunjungi rumah hartawan besar Tuan Mellema-Herman Mellema yang di belakang pagar kayunya terpasang papan nama besar dengan tulisan: 'Boerderij Buitenzorg' artinya Perusahaan Pertanian. Mereka mempunyai seorang gadis bernama "Annelies Mallema"

Dia gadis putih, halus, dan berwajah Eropa yang membuat Minke tertarik padanya.

Ada satu ungakapan yang terus melekat dalam benakku; "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri."

Ungkapan itu serasa menjadi serdadu bagiku tuk terus semangat berusaha dalam menggapai mimpi.

Sebenarnya masih banyak bagian yang aku sukai dari buku ini. Tapi tak mungkin aku tuliskan semuanya di sini.

Mending datang ke rumahku, berlibur ke Eropa dengan membaca buku ini bersamaku (khusus buat perempuan).

Hari ini aku baru bisa singgahi halaman 100. Tak sabar ingin mengetahui keseluruhan kisahnya.

Aku harap selama hari libur ini, aku bisa singgahi semua halaman, hingga habis. Karena aku suka baca buku ini "Bumi Manusia." "Dengan membaca kita bisa menjelajahi dunia."

Garut, 20 Desember 2018
Ilustrasi dari jambi.tribunnews.com
×
Berita Terbaru Update