-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MELALUI PUISI DOA NANANG R SUPRIYATIN

Rabu, 12 Desember 2018 | 23:34 WIB Last Updated 2020-01-13T13:40:34Z
MELALUI PUISI DOA NANANG R SUPRIYATIN
(Gambar dari google)
Oleh: Eko Windarto

Memang, melalui puisi kita bisa mengekspresikan dalam bahasa cinta yang syarat makna. Melalui puisi kita bisa menyampaikan pemahaman di dunia hanya lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik.

Dalam berpuisi kita bisa menyampaikan bahwa Tuhan adalah sebagai satu-satunya tujuan, dan tidak ada yang menyamai.

Sebagai pembaca sekaligus penikmat seni berbahasa, saya memilih memahami puisi secara sederhana sebagai salah satu bentuk seni berbahasa.

Dalam artian tentang bagaimana seorang penyair mampu mendayagunakan kata melalui diksi, dan kecermatan dalam kebenaran masa lalu dengan jalan ekspresif, estetik sehingga terdapat ruang dan waktu dalam memberikan makna pada sebuah puisi yang telah ditulis.

Penyair adalah orang yang mengabarkan gagasan melalui puisi. Penyair juga sebagai pencipta sekaligus pelaras ide dan bahasa.

Penyair telah lebih dulu membahasakan sejarah atau tentang kenangan masa lampau menjadi teks-teks sastra. Penyair juga mencatat dan memcatut kegelisahan dalam dirinya sendiri.

Maka, kesadaran tentang perlunya menulis ulang peristiwa masa lalu sangat tampak pada KUMPULAN PUISI BIBIR DALAM JAS HUJAN Nanang R Supriyatin. Salah satunya tercermin pada puisi DOA.

Dari puisi itu kita bisa merasakan bagaimana semangatnya menulis masa lalu dan masa kini sebagai sejarah yang penuh romantika dan terus menerus menyengat ingatan. Mari kita telusuri puisinya yang berjudul DOA.

DOA

Oleh. Nanang R Supriyatin

Sebuah doa tertulis di kertas, tergeletak begitu saja di ruang tak berpenghuni.
tulisannya kabur.

Ada bercak hitam di sisinya dan tak seorang pun menorehnya.
Setiap malam doa yang tertulis di kertas, membuka halamannya, melampiaskan aroma mawar.

Katakan Tuhan, isyarat apa yang Kau berikan hingga aku ingin membacanya.
di ruang tak berpenghuni, lelaki sendiri menangisi hidup, ada airmata jatuh di atas sajadah.

26/06/2017

Dari judul saja kita diajak memasuki metafora penyairnya. Dalam puisi DOA, judul menjadi kekuatan tersendiri.

Bisa prismatis, bisa juga jebakan bagi pembaca. Dari bait dan baris pertama kita diajak mengerutkan dahi, meski bahasanya cukup sederhana. Coba kita simak baris ini, / sebuah doa tertulis di kertas,/ tergeletak begitu saja di ruang tak berpenghuni/.

Kalau kita tak berhati-hati dalam memaknai kata DOA yang menjadi simbolis sangat kuat, kita akan terjebak dengan kata DOA itu sendiri, padahal kata DOA adalah simbolis dari sebuah kenangan sang penyair atau orang lain. Maka dari itu, menulis atau membaca puisi butuh perenungan.

Bait kedua semakin memperjelas / tulisannya kabur/. Dalam artian kenangan masa lalu sedikit demi sedikit mulai muncul, meski masih samar-samar dan kabur. / ada bercak hitam di sisinya dan tak seorang pun menorehnya/. Sang penyair menggambarkan adanya luka, duka, dan kekecewaan yang masih membekas dalam hati. Kenangan itu rupanya sangat menghantui hidupnya.

Hahaha, rupanya setiap malam aku lirik mengingat-ngingat kembali kenangan yang telah ia lupakan. Itu terlihat pada baris berikut ini, / setiap malam doa yang tertulis di kertas, membuka halamannya,/ melampiaskan aroma mawar/.

Jelas sekali, dari kata MELAMPIASKAN AROMA MAWAR, bahwa kenangan itu masih saja mengikutinya. Semakin ingin ia tinggalkan, semakin harum aroma kenangan itu merasuki alam pikirannya. Hemm, mengharukan.

Bait empat, aku lirik bertanya pada Tuhannya, " Mengapa Kau munculkan lagi kenang itu? Ada maksud dan tujuan, atau hikmah apa yang ingin Engkau sampaikan padaku hingga aku ingin membacanya? / katakan Tuhan, isyarat apa yang Kau berikan hingga aku ingin membacanya/.

Bait lima, aku lirik telah menemukan jawaban dari rasa kecewa. Dia bertanya pada dirinya sendiri, "   Kenapa kala bersenandung dengan kekasih hati dianggap hal yang biasa saja, sedang kekasih hatinya memberikan hatinya secara utuh.

Setelah berpisah dan ditinggalkan kekasihnya pergi kelain hati, baru terasa bahwa kekasih yang dahulu ditinggalkan begitu sempurna dalam hatinya. Ah waktu tak bisa diputar ulang kembali kemasa lalu.

Hanya penyesalan yang selalu menemani. Dan ketika sudah tidak lagi bersamanya baunya harum sekali. Penyesalan dan kekecewaan terhadap dirinya sendiri terlihat sekali pada bait terakhir ini, / di ruang tak berpenghuni, lelaki sendiri menangisi hidup,/ ada airmata jatuh di atas sajadah/.

Aku lirik baru menyadari kesalahannya ketika sudah senja, dan telah menemukan jati diri sebenarnya yang ia gambarkan lewat diksi dan majas / ADA AIRMATA JATUH DI ATAS SAJADAH/. Sayang sekali aku lirik baru menyadari di saat-saat senjanya.

Maka dari itu berhati-hatilah sebelum berbuat dan bicara. Sebab terkilir kaki atau tangan masih bisa diobati, tapi, ketika kesleo lidah takan bisa ditarik kembali. Mulutmu harimaumu.

Batu, 2782018
×
Berita Terbaru Update