-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tinjauan Kritis Terhadap Puisi Selangkangan Malam

Kamis, 13 Desember 2018 | 19:04 WIB Last Updated 2019-12-15T01:25:22Z
Tinjauan Kritis Terhadap Puisi Selangkangan Malam


Oleh: Eko Windarto

Melalui puisi tali temali peradaban bergayung sambut terus menerus, baik kontroversi akan pandangan pandangan maupun kepiawaian memproduksi abstraksi ide dalam bentuk puisi yang menggoda.

Melalui kontestasi puisi tatanan peradaban bisa dilembutkan dalam wadah kasar peradaban. Puisi puisi dilahirkan pemikiran penyair yang bisa jadi kaki tangan penguasa kadang juga dijadikan media untuk melawan rezim.

Puisi juga bisa menggambarkan metafisika atau antimetafisika, bisa juga menjelma tranformasi ifrit yang menjunjung tinggi pemikiran bebas tanpa batas. Mari kita coba membaca puisi Ikha Djingga di bawah ini.

1/ SELANGKANGAN MALAM

Pada kerampang malam yang hitam
Aku mengkaji imaji yang lapar
Mulutnya selalu menganga buas, siap mengoyak apa saja
Bahkan selulit terjebak di antara paha malam yang legam

Aku coba menyusuri keindahannya yang buta
Tapi aksara tanpa cahaya bagai purnama yang terpenggal
Hanya ada kelam yang saling menikam
Haruskah aku melangkahi minda tanpa kaki?

Pada selangkangan malam tak kutemukan hasrat 
Yang ada rindu tanpa syarat
Bahkan ketika tubir bibir mencibir aku tak akan minggir
Aku akan tetap di sini di antara lekuknya
Meski malam-malam tak lagi punya selangkangan

Batam, 26 Sept'17
Ikha Djingga

Mari kita coba merenangi puisi SELANGKANG MALAM yang begitu legam menggetarkan malam hati sang pujangga.

Pada kerampang malam yang hitam/ Aku mengkaji imaji yang lapar/ dari kata dua baris itu kita bisa menangkap betapa malam tanpa bintang dan bulan bisa menghadirkan  imajinasi sang pujangga.

Dalam selakang malam dia bisa merasakan gelap malam menciptakan cahaya imajinya./ Mulut selalu menganga buas, siap mengoyak apa saja/.

Jelas sekali sang pujangga selalu lapar dan hanyut dalam birahi menciptakan puisi hingga siapapun tak bisa menghalangi keinginannya.

Dia siap mengoyak siapa saja. Mulut kebatinannya selalu siap mengoyak malam yang sepi maupun pilu sekalipun. /Bahkan sesulit terjebak di antara paha malam yang legam/ pun dia siap melumat. Terlihat sangat kuat kemauan sang pujangga Ikha Djingga.

Mamasuki bait kedua kita diajak memasuki rumah diksi dan metafora puisinya. Mari  kita telisik dengan mata batin. /Aku coba menyusuri keindahannya yang buta/, nah, di situ kita dibawa ke dalam bahasa sastranya yang sederhana tapi tidak sesederhana yang dibayangkan.

Bahasa menyusuri keindahan yang buta ternyata mempunyai makna sangat dalam dan lebar. Kata buta itu sangat menari dan maknanya bisa mengapung kemana- mana. /Tapi aksara tanpa cahaya bagai purnama yang terpenggal/.

Pesona bahasa jiwa Ikha Djingga kembali mengajak untuk diselami secara fisolofis dan mendalam.

Ternyata kata-kata tanpa cahaya hati dan pikiran akan terjadi kesemuan atawa kesia-sian belaka bagai purnama yang terpenggal. /Hanya ada kelam yang saling menikam/ Haruskah aku melangkahi minda tanpa kaki?/ Dari kiasan di atas bisa kita petik hikmah kehidupan yang digelayuti ragu. /Haruskah aku melangkahi minda tanpa kaki?/, itu adalah gambaran hati penuh keraguan. Dan keraguan itu adalah setan.

Lagi-lagi rasa sang pujangga menemukan rindu sejati rindu seperti puisinya di bait tiga ini /Pada selangkangan malam tak kutemukan hasrat/ Yang ada rindu tanpa syarat/.

Memang jika menemui atau mencari Sang Rindu harus sabar dan ihklas karena itu adalah kunci sang pecinta Rindu. /Bahkan ketika tubir bibir mencibir aku tak akan minggir/ Aku akan tetap di sini di antara lekuknya/.

Apa yang dilakukannya penuh ejekan dan cibiran ia tetap tegak lurus tak mau minggir meski coba dikalahkan nafsunya sendiri. /Meski malam-malam tak lagi punya selangkangan/. Betul-betul Ikha Djingga ingin memenangkan hati dan jiwanya. Uhhh....menarik!

Puisi sebagai seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. 

Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa.

Puisi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawaa oraang lain kedalam keadaan hatinya. Boleh juga untuk curhat hehehe...

Beberapa puisi Desi Oktoriana digarap  dengan penghayatan dan penuh kontemplasi sehingga kita menganalisis memerlukan perenungan-perenungan yang dalam.

Acap kali sebuah kumpulan puisi bisa memperluas fungsinya menjadi wawasan pembaca. Bisa juga sebuah puisi mengetuk hati kita untuk berubah lebih baik dari hari-hari kemarin.

Kadang puisi hadir di sekat hati yang gamang. Kadang juga mampu mengaduk-aduk pembacanya dengan tarian-tarian kesadaran di sela-sela diksi yang mengandung aroma memabukkan. Juga bisa membawa kita pada permenungan di jalan-jalan kehidupan ini.

Keindahan teks puisi terletak pada kepiawaian dan pemilihan kata-kata yang berlisensia puitika yang didukung wawasan dan napas yang lama dalam dunia kepenyairan.

Puisi bukan kata-kata puitis yang dibagus-baguskan semata. Akan tetapi puisi bagus adalah puisi yang tidak saja berhasil menyapa pembaca, tapi mempunyai nilai di balik diksi, ritme, idiom yang bisa diterima pembaca dengan nyaman. Coba kita simak puisinya.

SERUPA LANGIT BIRU
Oleh: Desi Oktoriana

Serupa langit biru ijinkan awan hitamnya memburu,
jadikan temaram menyesap sedalam kalbu
berikan kisah mengandung pilu 
saat kau terbujur kaku 
dalam tidur panjangmu

Ayah,
kusapa dirimu dalam sehelai do'a dan tangis resah
menekuri ujung hari dalam sebuah sembah 
kumohonkan sebentang tanah lapang nan sadrah
tempatmu berleha-leha 
dalam tidur panjangmu

Ayah, 
semenjak tongkat mu yang tersungkur memilih bisu
sebisu malammalam tanpa lantunan ayat yang selalu kau seru sepenuh kalbu
kualirkan do'a rinduku 
dalam tidur panjangmu

Ujaran syahdu pada-Nya penaka rinduku
serupa langit biru ijinkan awan hitamnya memburu,
bukan temaram datangkan pilu
namun hujan yang menghempas debu 
yang membasahi tanahmu

Bandung, 7 Juli 2017

Jika kita berdiam diri sejenak, maka suasana kebatinan akan bisa merasakan keadaan di sekelilingnya seperti bisa merasakan puisi SERUPA LANGIT BIRU yang digambarkan Desi Oktoriana.

Mari kita telisik sambil merenangi bahasa atau teks sastra pembuka, /serupa langit biru ijinkan awan hitam memburu,/jadikan temaram menyesal sedalam kalbu/ berikan kisah mengandung pilu/ saat kau terbujur kaku/ dalam tidur panjangmu/.

Sang penyair mencoba menggambarkan suasana duka sedang memburu kisah bersama sang ayahnya. Melihat ayahnya terbujur kaku dia terbayang kenangan suka dan duka bersama sang ayah semasa masih hidup.

Hingga kepedihan itu merasuk dan menelusup sampai kalbunya. Ya, memang ketika kita ditinggalkan orang yang sangat dicintai adalah suatu kepedihan sangat mendalam. Apalagi dia adalah seorang ayah yang sangat disayangi. Sangat memilukan.

Dalam bait kedua dia mencoba menyapa sang ayah lewat doa-doa. Sayang seribu sayang sang penyair masih menangis resah dalam doa.

Padahal orang yang telah mati atau kembali keharibaanNya gak boleh ditangisi kecuali harus selalu didoakan, seperti yang tersirat dan tersurat dalam penggalan baris ini, /ayah, kusapa dirimu dalam sehelai doa dan tangis resah/.

Meski demi dalam baris berikutnya dia tiap detik terus saja berdoa mendoakannya, itu terlihat pada baris ini,/menekuri ujung hari dalam sebuah sembah/, terasa sekali setiap habis sholat mahgrib sang penyair selalu mendoakan arwah ayahnya.

Dia juga berharap ayahnya bisa dengan tenang dan senang menempati rumah baru dengan suasana baru di kehidupan yang baru pula seperti yang telah tertulis pada baris berikut ini, /kumohon sebentang tanah lapang nan sadrah/ tempatmu berleha-leha/ dalam tidur panjangmu/.

Bahasa sastranya begitu sederhana nan halus. Kita seakan dibawa kealam kubur begitu kuat.

Desi Oktoriana kembali mengajak kita mengapung mengarungi bait tiga dalam puisinya, /ayah, semenjak tongkat mu yang tersungkur memilih bisu/.

Dia mengajak pembaca menyusuri metafora tongkat tersungkur/ memilih bisu. Metaforanya terasa halus dan sublim. /sebisu malammalam tanpa lantunan ayat/ yang selalu kau seru sepenuh kalbu/.

Sang penyair kembali menceritakan dan menggambarkan ketika ayahnya masih ada selalu atau sering mendengarkan ayat-ayat sucu al'quran dibacakan ayahnya.

Sangat jelas dia menggambarkan suasana hatinya. Itu juga terlihat dengan baris berikutnya, /kualirkan do'a rinduku/ dalam tidur panjangmu/.

Ini penggambaran seorang anak yang berbakti pada orang tuanya. Setiap saat dia selalu mendoakan ayahnya yang telah tiada. Mungkin dia mengerti bahwa ayah yang telah tiada selalu menanti doa dari anak-anaknya sebagai pengurangan siksa dalam kubur.

Dalam doanya yang syahdu, Desi Oktoriana berharap bisa menyambung tali silatuhrami dengan sang ayah. /ujaran syahdu pada-Nya penaka rindu/ betul-betul dia melukiskan doanya seperti rindu yang selalu menggoda kalbunya. /serupa langit biru ijinkan awan hitamnya memburu, bukan temaram datangkan pilu/.

Diksi dan metaforanya memainkan bahasa dalam perasaannya yang begitu dalam nan pilu. /namun hujan yang menghempas debu/ yang membasahi tanahmu/.

Meski hati sang penyair dalam keadaan berduka dan berkabung dia tetap berharap Allah SWT memberikan kenyamanan dan kesejuk di alam kubur ayahnya. Itulah sekelumit narasi untuk menyelami sebuah rasa berkabung melalui puisi Desi Oktoriana yang begitu jauh merenungi kedukaannya sendiri.

Batu Sekarputih, 22102017
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update