-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMAKMURKAN MASJID

Rabu, 12 Desember 2018 | 20:00 WIB Last Updated 2018-12-12T13:02:16Z
(Ilustrasi dari google)

Oleh : Edi Kuswantono

Kiyai “Dawwin” hidup bersahaja, tidak banyak tingkah, dan selalu menekankan bahwa “hidup di dunia ini merupakan dunia usaha, bukan dunia meminta-minta. Dan bagi orang yang hidupnya suka meminta-minta adalah orang yang tidak tahu tentang kewajibannya, yaitu kewajiban usaha untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari dan kewajiban usaha untuk hidup kebersihan rohaninya. Laku perbuatan semacam inilah yang dikatakan do'a permohonan”. Uraian singkat seperti ini biasanya beliau lakukan menjelang magrib, duduk santai di serambi masjid, tidak ada lantunan ayat dari suara toa, tetapi suara para jema'ah yang mengisi waktunya menjelang magrib. 

Senja tinggal sejengkal lagi sudah terkubur, beliau masih sempat melanjutkan petuahnya "kita ini tidak perlu kontrol diri, laku perbuatan yang kita buktikan dalam menjalankan kehidupan sehari hari adalah cermin dari diri kita. Teriakan kalbu tanpa bukti laku perbuatan adalah do'a kosong, keterikatan kelangsungan hidup sehari hari tanpa bukti perbuatan kehidupan sehari hari adalah percuma. Itulah konsekwensi dari makhluk yang berakal budi yang mempunyai kemampuan untuk mencapai kemurnian rohani sesuai cita harapan kehidupannya."

Tak lama kemudian waktu azdan magrib telah tiba, sambil telunjuk tangannya mengarah pada salah satu jema'ah yang mengelilingi beliau, "Ayo, mas totok hitam yang azdan". Nama asli totok adalah Totok Sugiarto, karena ada totok lain yang warna kulitnya kuning. 

Tanpa basa basi Totok langsung berdiri "Siap kiyai", iapun melangkah menuju tempat melantunkan azdan, azdanpun dikumandangkan, walau suaranya pas-pasan, namun tidak mengurangi arti untuk memakmurkan Masjid.

Setelah sholat magrib berjemah selesai, dan paketan do'a untuk para leluhur telah selesai dikemas dan dikirim, maka masing-masing jemaah memilih tempat berkumpul sesuai keinginannya, ada yang berkumpul dengan membaca tartil qur'an, ada yang berdiskusi dengan tanya jawab, ada yang mengikuti tausiah.

Di dalam isi tausiah kiyai Dawwin menyampaikan bahwa: "Keadaan seperti inikah yang disebut memakmurkan Masjid, sebagaimana dilakukan zaman Rasululloh Saw dahulu, dan sampai saat ini di Masjid Rasul Nabawwi di Madinah tetap dipertahankan keadaannya, dan kita juga ikut melanjutkannya. Sedapat mungkin kita jangan menyia-nyiakan waktu hanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dimengerti". 

Dalam hidup ini yang perlu diperhatikan adalah "kesadaran diri kita ini dibawa kemana? Jika kita menjadi orang 'pinter' tentu akan mampu dan berani menuruti kemauan orang lain, sedangkan orang 'ngerti' adalah orang yang mampu dan berani menuruti kemauan diri sendiri. Menuruti diri sendiri inilah yang siap mengambil jalan yang lurus dan benar, karena berani menerima kehadiran Tuhan Allah dalam jiwa kita, sehingga jalan untuk merubah nasip diri kita sendiri lebih terasa, demi mencapai tujuan nasip diri yang lebih cemerlang rohaninya. Itulah teori 'DARWIN' tentang evolusi yang tidak mungkin ditemukan pada makluk lain, tetapi lebih jelas dan mudah di dalam diri kita sendiri".

"Teori ini bukan semata genetika urusan lahir manusia yang asalnya dari kera, tetapi pada sifat karakter dan naluri hewan kera itulah yang digambarkan pada jiwa kita ini, berevolusi sesuai tahapan ruang dan waktu dalam ketekatan untuk merubah nasib diri yang baik, lebih cemerlang rohaninya".

Lagi-lagi waktu isak telah tiba, sehingga mengakhiri semua kegiatan dalam rangka memakmurkan Masjid. Entahlah mereka yang suka memakmurkan Masjid dengan cara lain bisa merubah prilaku dirinya menjadi lebih baik apa tidak?.

Ah! kenyataannya? Mudah-mudahan generasi penerus Rasululloh tidak seperti buih, ramai-ramai mencuat kepermukaan tetapi lenyap seketika, buat apa?,  sebab Alqur'an merangkum semua Agama, kenapa ummatnya tidak mau menerima?. Mereka hanya mengaku ISLAM, karena tidak memperoleh rakhmat.

Surabaya, 11 Desember 2018
Panglaras Budi Jaya Soepena

×
Berita Terbaru Update