-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMBACA NEGERIKU SENDIRI

Kamis, 13 Desember 2018 | 19:10 WIB Last Updated 2019-12-15T01:13:22Z
MEMBACA NEGERIKU SENDIRI

Oleh: Eko Windarto

CINTA SASTRA mencoba mengajak warga sastra mengutamakan fungsinya dalam kebebasan berkarya. Dalam menyongsong ZAMAN CYBER ini, CINTA SASTRA mengajak para sastrawan terlibat dalam memajukan dunia literasi.

Hingga perkembangan susastra maya bersifat sangat luas didalam artian harfiah seperti puisi NEGERIKU SAAT INI; DUA PULUH TAHUN LALU PUISI "NEGERIKU" GUS MUS yang bisa kita pandang masuk dunia ideologi, propaganda, kekuatan kepentingan dll.

Sang penyair mencoba mengritik lewat puisi satirnya. Coba kita perhatikan dan renungkan puisinya di bawah ini.

NEGERIKU SAAT INI; DUA PULUH TAHUN LALU PUISI “NEGERIKU” GUS MUS

Negeriku saat ini; dua puluh tahun lalu
puisi “Negeriku” Gus Mus

Mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebuh dan jagung
tapi juga menumbuhkan tikus tikus
sehingga ibu ibu mencuri beras
di jalanan.

Mana ada negeri sekaya negeriku?
pemimpinnya pemimpinnya kaya kaya
entah, kaya apa?
sudah enam bulan
KTP kami belum dicetak juga.

Mana ada negeri semakmur negeriku?
gedung DPR sudah berapa kali direnovasi
rakyat makmur makmur
giat menyumbang untuk jalan.

Mana ada negeri sekaya negeriku?
tak hanya kaya dengan data penduduk yang bengkak
tapi juga kaya demokrasi
sebelum ada pemilihan umum 20 tahun lalu.

Jakarta, 31 Juli 2017

Negeri gemaripah loh jinawi telah kita ketahui dalam falsafah tanpa rakyat arus bawah bisa merasakan. Jangankan sawah dengan gampang diberi (weneh) bisa tumbuh subur, sedang pasir di dalam laut saja bisa jadi batu mulia.

Begitu subur dan kayanya kekayaan tanah negeri kita seperti yang digambarkan penyairnya / mana ada negeri sesubur negeriku?/ sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebuh dan jagung/.

Jelas negeri kita digambarkan sangat subur sekali. Memang tanah kita adalah tanah yang subur seperti kolam susu.

Namun, saat sekarang ini para petani, nelayan telah terkerangkeng dengan sistem tengkulak yang berduit dan sangat rakus seperti tikus-tikus berdasi yang suka mengerat kesana-kemari tanpa memperdulikan rakyat miskin atau para petani dan nelayan. Sebuah kehidupan yang ironi dalam negeri gemaripah loh jinawi. 

Para koruptor oleh Gus Mus digambarkan sebagai / tapi juga menumbuhkan tikus-tikus/ sehingga ibu-ibu mencuri beras di jalanan/.

Benar-benar kita digambarkan hidup dalam kubangan tikus-tikus berdasi yang rakusnya minta ampun. Ngeriiiii sekali. Hidup sekali setelah itu mati tak membawa apa-apa kecuali amal ibadah saja.

Negeri ini sangat besar dan kaya. Tapi sayang kekayaannya banyak yang dirampok bangsanya sendiri.

Dan anehnya, hasil rampokan disimpan dalam brangkas-brangkas bank luar negeri. Contohnya di bank Singapura, Jerman, Amerika dll. Ironis!

Padahal rakyat miskin, petani, nelayan negeri ini masih sangat membutuhkan modal kerja yang tidak sedikit.

Tapi apa boleh buat mereka yang korupsi takut ketahuan. Dan tanpa disadari telah memperkaya negeri lain hingga bisa mengalahkan kita dalam segala bidang.

Coba lihat para pemimpin kita sibuk membuat undangan-undang yang nantinya dilanggar-langgar sendiri seperti anak-anak kecil saja.

E-KTP aja bisa gentayangan di gedung dewan yang terhormat. Ini negeri punya pemimpin yang perlu dicuci dengan air keras biar dosa-dosanya terkelupas.

Benar kata Gus Dur bawah para wakil rakyat kita masih seperti taman kanak-kanak saja. Masih perlu banyak belajar mendewasakan diri.

Sang penyair dengan gaya satirnya yang mewakili masyarakat banyak terus-menerus menanyakan kemakmuran.

Rupanya dia merasakan kegetiran di negerinya sendiri yang kaya dan subur tanahnya. Dia mempertanyakan demokrasi sekarang dan dibandingkan dengan keadaan 20 tahun yang lalu. Lebih enak mana? Enak zamanku to. Hahahaha.

Sekarputih, 182017
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update