-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEMBACA PANTUN ALIEN INDRA INTISA

Kamis, 13 Desember 2018 | 19:27 WIB Last Updated 2019-12-15T01:07:40Z

MEMBACA PANTUN ALIEN INDRA INTISA

Oleh: Eko Windarto

Kita mencatat dan tahu, banyak pemimpin yang mabuk kekuasaan. Di negeri ini sangat banyak.

Setelah tidak memungkinkan lagi untuk mempertahankan kekuasaan, lalu mendorong istri, anak, atau anggota keluarga lain untuk meneruskan kekuasaannya.

Dikiranya negeri ini negara kerajaan, yang bisa mewariskan kekuasaan kepada anggota keluarga.

Selama ini memang kita bersepakat bahwa bangsa ini terus mencari pemimpin yang punya integritas, tegas, berani, dan pemimpin yang efektif.

Masih bisa ditambah lagi: seorang pemimpin harus memiliki rasa keadilan, cepat mengambil keputusan   yang berarti tidak cukup hanya manusia of ideas, manusia pemikir, tetapi manusia of action, manusia penindak, berani mengambil keputusan, dekat dengan rakyat, yang berarti memihak rakyat.

Tentu tidak kalah penting adalah pemimpin yang memahami dan menghargai keberagaman bangsa yang merupakan anugerah Ilahi, yang paham benar bahwa Indonesia termasuk negara hukum karena itu menghormati hukum dan hak hak asasi manusia adalah wajib.

Secara umum seorang pemimpin adalah buah dari masyarakat. Apabila masyarakat kritis tidak sekedar teriak dan memiliki alasan kuat dan mendasar, dan berdaya guna secara politik, maka masyarakat semacam itu akan mampu menghasilkan pemimpin yang bermutu.

Maka tak heran jika para penyair selalu mengingatkan para pemimpin melalui puisi seperti puisi Indra Intisa di bawah ini.

PANTUN ALIEN

Menyelam sambil minum air
Air keruh ditelan jua
Politik kusir kocar kacir
Basuh membasuh tak hilang jua

Bercermin di kubangan kerbau
Lihat muka kelam semua
Siram bensin supaya kacau
Api membara di panggung sandiwara

Pisau tua tak pernah diasah
Karat melekat membuat tumpul
Makin lama suka menjajah
Siapa mencegat dijadikan bisul

Pelihara kera bermuka dua
Wajah berbulu menutup mata
Siapa berbeda di penjara
Kecuali satu yang siap sedia

Lempar bumerang ke atas bukit
Bukitnya kena kembali ke muka
Selalu diulang yang sakit-sakit
Biar katanya mereka dosa

2018

Jika kita membaca pantun di atas, kita diajak memasuki panggung politik yang penuh sandiwara. Coba kita simak bait pertamanya yang berbunyi dan bersampirannya juga berisi pesan sebagai berikut, / Menyelam sambil minum air/ Air keruh ditelan jua/ Politik kusir kocar-kacir/ Basuh membasuh tak hilang jua.

Rupanya sang pengintai ini mencatat segala sesuatu yang terjadi di ranah politik. Yang mana seorang politikus suka berenang sambil menangkap ikan-ikan, meski airnya keruh seperti comberan tetap dia renangi.

Sang pengintai juga memberi pesan kuat pada sampiranya bahwa, politik itu seperti debat kusir yang mencari kebenaran sendiri hingga rakyat dia korbankan sebagai alat pendukungnya.

Politik ibaratkan korupsi yang takan pernah hilang meski diberantas atau dibasuh dengan contoh penangkapan secara langsung alias OTT. Jelas itu sebagai pesan yang tak bisa dipungkiri.

Sang pengintai betul-betul memasang kamera tersembunyi hingga dia bisa memotret dan merekam kejadian-kejadian yang penting, serta sangat buruk terekam dalam majas dan diksi dalam pandangan pantunnya.

Bercermin di kubangan kerbau/, ah.. lagi-lagi kita diberi gambaran betapa buruknya bau para politikus. / Lihat muka kelam semua/, betul-betul penggambar yang sangat buruk dan hitam sekali wajah perpolitikan kita.

Para politikus kalau sedang berkampanye suka membakar emosi rakyat biar ia terlihat paling berani dan benar seperti penggambaran baris berikut ini, / Siram bensin supaya kacau/ Api membara di panggung sandiwara/. Ih...Sang pengintai ini benar-benar jeli melihat situasi di panggung sandiwara kehidupan.

Hahahaha lagi-lagi sang pengintai yang suka kumat ini, kembali kumat nyinyirnya melalui pantunnya pada bait ketiga, / Pisau tua tak pernah diasah/ Karat melekat membuat tumpul/, memang betul sekali, budaya orde lama telah mengakar sangat kuat.

Meski tak pernah diasah dan tumpul, tapi tetap kuat melekat di hati rakyat. / Makin lama suka menjajah/ Siapa mencegat dijadikan bisul/.

SUKA MENJAJAH dan DIJADIKAN BISUL adalah metafora yang sangat kuat untuk melukiskan klaptokrasi sudah mengakar sangat kuat. Siapa yang berani akan ditebang dengan segala cara. Itulah keadaan perpolitikan kita. Menyedihkan!

Kembali kita dikejutkan dengan penampakan atau penggambaran sang pengintai melalui bahasa sederhana tapi maknanya tidak sesederhana yang tampak. / Pelihara kera bermuka dua/ Wajah berbulu menutup mata/.

Dia ( sang pengintai) melukiskan orang-orang yang tampak manis dan baik bila ada maunya. Sebetulnya bukan orang baik. Juga bisa dia menggambarkan orang-orang yang suka menjilat pada atasannya agar supaya cepat naik jabatan atau menjadi orang kepercayaan atasannya. / Siapa berbeda di penjara/ Kecuali satu yang siap sedia/.

Siapa saja yang berbeda pendapat akan ditilang eh disingkirkan. Hanya orang yang mata duitan dan bermata dua siap disuruh apa saja. Yang penting, asal bapak senang. Beres!

Pada bait keempat, pantun sang pengintai semakin menanjak dan menarik untuk kita uraikan. / Lempar bumerang ke atas bukit/ Bukitnya kena kembali ke muka/.

Rupanya sang pengintai dengan cerdas menuangkan simbol BUMERANG dengan maksud supaya orang yang menamakan dirinya bos cepat sadar, bahwa sesungguhnya apa yang ia tanam akan kembali pada dirinya sendiri alias memanen buah yang pernah ditanamnya.

Perbuatan tidak baik yang selalu diulang akan menimbulkan penyakit hati yang sulit disembuhkan, kecuali dia betul-betul bertobat. / Selalu diulang yang sakit-sakit/ Biar katanya mereka dosa/. Betul-betul suatu pesan yang disampaikan sangat mengena.

Batu, 1582018
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update