-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGENANG "TONGKAT MAN JUWA"

Minggu, 09 Desember 2018 | 19:47 WIB Last Updated 2018-12-11T16:49:03Z
(Ilustrasi dari google)

Oleh: Edi Kuswantono

Tepat dini hari, cahaya syahdu bulan purnama begitu cemerlang, menyaput wajah bumi. Awan putih berarak menghias langit,  tak terkecuali angin pun mengelus lembut ke sekujur tubuh, dingin menembus keheningan malam.

Hidup ini hanya sehari, siapa yang tidak menghadap sang rembulan, ia tidak akan mengetahui keadaan cahaya dirinya dan yang ditemui hanya bayangan gelap lupa tentang hal ihwal diri sendiri, dan dunia ini menjadi mendung yang menutupi kecemerlangan. Maka dari itu rebahkan hati malam purnama ini, agar senantiasa berseri esok pagi.

Panorama saat purnama tiba di bukit pasir keemasan pantai utara Pulau Madura, sebagian warga  desa bersama keluarga dan sanak-kadang menumpahkan keluh kesah setelah perjalanannya di siang hari, mengurai serat jiwa yang sedang kusut oleh sebab kenangannya yang lalu. Di atas hamparan pasir itu pula anak-anak yang telah tumbuh menjadi generasi hari ini, bersenda gurau tertawa lepas tanpa dosa. Kami pun,  pemuda-pemudi duduk bersama saling melempar senyum keindahan, bercengkerama mencari tahu bagaimana keadaan nasib akan datang yang bakal ditemuinya.

Tiba-tiba salah satu di antara kami berdiri sambil mengangkat tangan, dengan wajah tengadah menatap purnama, lalu berteriak lantang, bagaikan sastrawan seniornya  ABDUL HADI, WM, yang sedang membaca puisi.

Oh, Sang Rembulan!
Engkau adalah wakil Tuhan
Catatkan NIAT kami ke depan
Dukung kami mencari bekal
Demi kehidupan masa depan

Kami tahu sketsa wejangan
Tentang konsep 'agaik bintang geggar bulan' (menggait bintang jatuh rembulan)
Dari perwujudan 'pagaikna janor koning', (penggaitnya janur kuning).
Sebagai sikap yang tetap kami pegang

Sekalipun nasib  belum bisa kami tebak
Namun hidup selalu 'abantal ombak', (berbantal ombak)
Istirahpun senantiasa 'asapok angin', (berselimut angin)
Begitulah hidup kongkrit 'salanjangnga' (selamanya)

Aku yang dungu tidak tinggal diam
Kesaksikan kata ada di dalam
Tidak sanggup untuk diutarakan
Menyangkut visi pengalaman

Sesunguhnya kita semua tiada perbedaan
Seluruh makhluk tercipta tiada kekuatan
Hanya bagi pencapai intelek kemurnian
Akan mampu merangkum semua perbedaan

Kemuliaan derajat bukan kata-kata
Taqwa bukan sekadar berbicara
Tetapi buat diri kita agar bisa menyelam
Supaya nyata jiwa menyatu dengan alam

Kau tidak patut mempersoalkan hal yang lalu
Sebab tiap diri hidup berjalan terus berlalu
Menjunjung tinggi atas akal insani utuh
Bukanlah insan sombong diri dan angkuh

Wahai Saudaraku!
Kau adalah cikal-bakal citra Ambunten
Bangunlah kepribadianmu dengan kemandirian
Malulah terhadap keadaan diri kesepian
Karena Tuhan pun dalam kesendirian

Tak lama kemudian tepuk tangan riuh mengiringi serpihan sajak-sajaknya, bagai butiran pasir tertiup angin membumbung tinggi, lalu menyatu terciptalah gundukan di sepanjang pantai tempat meramu seluruh kasih sayang.

Malam makin larut, angin dingin menyusup dari ujung kaki hingga ke ujung rambut, tak kuasa sang purnama pun merunduk bersujud. Keadaan mereka terasa puas menghibur diri, satu persatu mulai bergegas untuk kembali pulang ke pangkuan sang malam. Perjalanan purnama ini merupakan pengalaman sebagai bahan renungan masa pencarian jati diri.

Pagi telah membuka kelopak mata. Hidup telah mengetuk pintu kehidupan. Deru dan asap mesin auto mengepul, namun sebagian merasakan betapa sesaknya nafas kehidupan ini? Keadaan menjadi gaduh. Tidak terpikirkan, seberapa banyak telah mencemari demi untuk mengetukkan nada
kehidupan setiap harinya? Begitulah sebuah keyakinan hati untuk tetap semangat berkarya. Selagi bisa hendaknya memberikan sesuatu terbaik kepada siapa saja.

Mengenang ketukan “Tongkat Man Juwa" adalah irama detak nadi dzikir batinnya, merupakan tumpuhan kekuatan hidup dalam keadaan kekurangan dan kelemahan. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluhkan keadaan dirinya, hidup dan kehidupannya selalu tawakkal kepada Sang Maha Kuasa. Namun dari bilik hatinya paling dalam ia berseru bahwa: "nasib baik bukanlah di dunia; dunia ini jelas nyata tidak kekal dan gelap seperti keadaan dirinya, tetapi punya keyakinan bakal terbit terang kelak di akhirat”. Sebab “tongkat Nabi Musa” saja Allah memerintahkan: "Lemparkan tongkatmu hai Musa!". Artinya, segala tumpuan kekuatan selain dari Allah segera dilemparkan atau dibuang. Kedua hal ini, kiranya patut kita renungkan, serta kilas balik terhadap perjalanan kita selama ini. "Seberapa teguh keyakinan kita kepada Allah, terhadap hidup dan kehidupan ini"?.

Lintasan tongkat hidup "Man Juwa" telah memberikan motivasi semangat bagi generasi. Beliau telah memperlihatkan ketekunan tentang kepastian mencapai "tujuan" dan selalu tepat sasaran, "keinginan" atau "kehendak" mencapai tujuan menjadi tekat dan harapan cita-citanya, serta "kekuatan" dan "keteguhannya" telah dibuktikan setiap hari, dalam  melaksanakan kewajibannya. Itulah tiga unsur "NIAT" yang menjadikan kekuatan hidupnya, tidak perduli turun hujan maupun terik matahari.

Oh, Tuhanku Allah Robbul Alamin, berikanlah beliau tempat sejahtera di sisimu. Aaamiiin!
Kini tibalah giliran keadaan kita, sebesar apakah manfaat dan tekad dalam menjalani hidup dan kehidupan ini?" Ya, dari masing-masing diri kita, seharusnya terus-menerus mengevaluasi apa saja pada masa lampau, dan pada masa kita ini  hendaknya mengoptimalkan kesempatan. Sesungguhnya tidak ada waktu untuk bermain bagi setiap generasi, konsep masa adalah untuk mendidik pribadi "beribadah/beraktivitas" dalam suasanya yang membahagiakan. Telah lama kita didoktrin bahwa masa anak-anak adalah masa bermain-main.  Doktrin inilah yang mengarah kepada jalan melemahkan "akidah/keyakinan" generasi menjadi rapuh dan mudah patah. Sehingga dalam masanya kini terjebak pada kondisi kerugian, kita. Kita tidak bisa menyalahkan juru penerang membawa lentera pengetahuan seadanya, dan sudah saatnya bagi kita berpikir lebih aktif, demi kebaikan generasi berikutnya.

Firman Allah "Demi masa" tidak bisa dimaknai sebagai sumpah Allah, tetapi lebih kepada "masanya di mana kita berada", kesempatan adanya pergantian siang dan malam tidak boleh disia-siakan, perjalanannya ada suri tauladan yang bisa kita ambil agar tidak dalam keadaan kerugian. Banyak seruan Alllah terhadap keadaan "waktu" ini, karena di dalamnya banyak ayat-ayat agung memberikan manfaat bagi hidup dan kehidupan kita. Sesungguhnya inilah harta paling berharga, oleh karenanya kita tidak boleh lengah ikut orang tertipu terhadap nikmatnya masa, karena hal itu merupakan masa mencari bekal masa depan (ahirat). Apalagi terhadap masa anak-anak kita adalah pencarian bekal masa masa depannya, bukan untuk masa bermain-main, tetapi masanya berpendidikan ilmu pengetahuan. Karana Rasulullah bersabda " wajib menuntut ilmu sejak lahir hingga keliang lahat", sudahkah hal ini kita terapkan kepada anak-anak kita?. Tidak ada satupun dasar menyatakan bahwa anak-anak adalah masa dunianya bermain, kecuali salah kaprah. Cara efektif memperbaiki generasi, hanya menyiasati mengubah cara kita berkomunikasi dan mengoptimalkan suasana waktu atau masa dalam bentuk bersilaturahmi, antara orang tua dan anak muda. Sudah tidak zamannya lagi kita mempertahankan keangkuhan, merasa lebih dari yang lainnya. Sudah tidak ada zamannya lagi kita merasa lebih alim, pintar, kaya, keturunan ini dan itu, tetapi lengah terhadap generasinya sendiri.

 Marilah kita lihat bersama-sama ketika sang purnama hadir, semua kebagian limpahan cahayanya, kecuali yang angkuh tidak mau kebersamaan,  berlindung di balik gedung dan  jubah kebesarannya. Ingatlah bahwa Allah memanggil kita adalah: "barang siapa yang bertaqwa, bukan barang siapa yang Alim atau keturunan ini dan itu". Memang beriman itu tidak mudah, perjalanannya sungguh sulit, tempatnya jauh dan licin berliku-liku, kecuali bagi mereka yang mau mencari dan menemukan jalan rahasianya yang bisa melipat jarak."

"Rasa keimanan diibaratkan seperti  ketukan tongkat Man Juwa, memberikan inspirasi irama nada keimanan yang teguh, mengetuk hati untuk melaksanakan kewajiban berbuat baik kepada siapa saja. Beramal sholeh merupakan batu loncatan untuk saling berbagi, saling mengingatkan, serta saling mengisi kebenaran. Keteguhan jiwa "Man Juwa", dapat menjadi tauladan bagi kita agar tetap bersabar, sebab sabar adalah tempat paling mulia menjadi kekasih "Tuhan".

Hari-hari seperti biasanya “Man Juwa” menelusuri jalan setapak. Tak peduli langit menjatuhkan terang atau menenggelamkannya, entahlah semua hanya merupakan guratan untuk mendukung gairah kehidupan. Sekali lagi ini hanya sebuah guratan, goresan dari setiap diri kita yang hidup, karena setiap diri kita ada peran yang harus dijalankan, antara tua dan muda, lelaki dan wanita, melihat dan tidak melihat keadaan dunia.

Tanpa terasa langkah “Man Juwa” saat itu telah sampai di pojok simpang tiga jalan desa Ambunten, suasananya tidak seperti hari-hari biasa, hingar-bingar dan lalu-lalang kendaraan para pengunjung kerapan sapi terhambat oleh musik “Saronen” (musik pengiring sapi karapan). hari ini adalah hari minggu event "karapan Sapi", banyak orang bergerombol, termasuk pemuda dan pemudi sedang berbincang bincang, bersenda gurau seadanya.

Saat “Man Juwa” melintas, terdengar satu kata yang mengiang keras di dalam gendang telinganya. Gema suara itu berasal dari debat kusir para pemuda dan pemudi desa. Salah satu di antara mereka dengan lantang berbicara keras, "tahukah kalian apa ‘CERMIN DIRI’ itu?” Mendengar kata itulah beliau menghentikan langkahnya,  terdiam berdiri di tepi jalan, mencoba berpikir keras atas  gejolak yang mempengaruhi langkahnya, dan dari dalam benaknya terbesit bahwa “Diri siapa yang  tidak bisa membinasakan dirinya saat bercermin?” Lalu, kepada diri sendiri ia bertanya tanya, “adakah budi pekerti yang luhur atau akhlak mulia yang tidak dibina oleh agama sebagai alur cerminan diri sebelumnya?” Seharusnya apa yang  dilihat sekarang ini tentu ada juga sebelumnya, sedangkan apa yang sebelumnya diterima seharusnya diterima pula sekarang.

Perasaannya menjadi kacau dan gundah, melanjutkan aktivitas sehari-hari atau keadaan ini dibiarkan berlalu, dengan berpikir adanya beban moral terhadap generasi, aku harus mengatakan yang seharusnya dikatakan. Meskipun tidak dapat melihat, akan tetapi masih ada penglihatan yang menyatu dengan pendengarannya yang bisa menjadi media simpati menyampaikan kewajiban berbuat baik demi kecemerlangan generasi.

Kemudian ia, “Wahai anak muda! Dapatkah kalian memberiku tempat untuk bergabung saling berpaut kata?”

“WALIDA USRI”, bunga desa di zaman itu tanpa banyak pikir menghampiri sambil berkata, "yatore Man Juwa" (Mari silahkan Paman Juwa). Dari ujung bibirnya ia nampak tersenyum bahagia, sambil berucap "Mator sakalangkong Din Ida" (Terima kasih Jeng Ida), serta merta ia membalasnya. Ia pun duduk tertunduk hendak menyembunyikan kekurangannya. Tak lama kemudian sambil bergayut pada tongkatnya “ya, kalian adalah pemuda-pemudi yang sedang giat-giatnya mencari ilmu pengetahuan”. Sejenak kesunyian turun meliputi keadaan, menghentikan pembicaraan anak muda desa.

Ia melanjutkan kata-katanya, bahwa “kadangkala kesedihan kenangan memburamkan cermin diri, dan menyekat  ruang dada begitu menyesakkan. Namun bukan berarti memahami lantunan nada kehidupan di masa kini tidak bisa diartikan semua merupakan nyanyianmu. Tidak, anak muda! Itu hanya titipan, pinjaman agar kehidupan muncul bersama hembusan angin yang berderai, bersama gemericik air saat menimpa bebatuan. Aku yang tidak dapat melihat dunia ini,  tak kuduga-duga diri ini mengukur kerinduan hanya dengan lantunan nada tongkat. Sedangkan kalian semua yang berpengetahuan mencoba menjelma menjadi wujud syair kerinduan, yang disenandungkan lewat hasrat keindahan. Sedangkan cinta kasih kadangkala menjadi korban kebinalannya”.

Oh, anak muda!
“Aku memang tidak punya jendela melihat dunia, namun kalian semua bukalah mata saat kehidupan digelar. Lihatlah gambar dirimu di mana saja! Sebab kasih sayang yang menanggung beban rindu, ruang lingkupnya begitu luas. Waktunya juga begitu panjang, serta menguras banyak tenaga. Bagi diriku ini hanya bisa merasakan dan ternganga melihat ketakjuban. Berani mati saat terpana pada kenyataan. Tidak ada syarat rahasia apa pun untuk bicara keagamaan. Tidak ada ruang tertutup untuk mengartikan ‘kehidupan’. Sesungguhnya adalah satu adanya dari makna istilah ‘keagamaan’, dan inilah yang membimbing untuk melesatkan anak panah hidup ini. Tidak menghalangi keinginan pribadi untuk mengikuti anak panah yang menyimpang dari tujuannya”.

Keheningan menyelinap sejenak, kemudian di antara anak muda dengan tenang menyampaikan keingintahuannya tentang hidup ini.

Wahai paman Juwa!
Salah satu di antara mereka tampil bicara, anak muda yang akrab dipanggil GUS BA'ANG, “Mohon maaf atas kelancangan kami ini untuk bertanya. Mohon kiranya memaparkan makna hidup yang tenang, hati kami yang muda senantiasa gelisah, tidak tentu arah, diliputi oleh perasaan kegalauan”.

Man Juwa lagi-lagi tertunduk diam. Wajahnya berubah penuh keprihatinan, kemudian ia berdiri sambil memegang tongkatnya. Mukanya tegak lurus ke depan, seolah-olah ia telah bebas memandang jauh. Terbata-bata ia berkata dengan penuh selidik.

Wahai anak muda!
“Dalam kebutaan mata tidaklah menghalangi  penglihatan mata batin, mari lihatlah bersama-sama bumi rahim tempat kelahiran kita. Adalah ibu kita, pandanglah lautan, dengarkanlah saat kita berada di atas batu karang. Perut ibu bergejolak membuai mengantarkan senandung lagu, nyanyian gelombang, dan mempersembahkan tarian dendang keabadian. Dari setiap yang hidup hendaknya memadukan peran, menyelaraskan suara agar tercipta keharmonisan simponi, dan ayakan alami bagi kelestariannya. Itulah makna hidup yang tenang.”

Tak ada sepatah kata terlontar saat “Man Juwa” menuturkan hikmah perjalanannya, kemudian sambil sedikit memindahkan posisi tongkatnya, melanjutkan:  “Bukankah Kakek Nenek moyang kita adalah pelaut? Seni budaya mempertautkan diri dengan samudra, senantiasa memandang jauh ke depan mengikuti alunan gelombang, memperlihatkan jutaan ombak bergulung, membebaskan semua kesenduan dalam impian tidur,  membebaskan semua penilaian yang mengapung bagai buih terpental sirna menjelma  tutur kata kehinaan. Tetapi budi pekerti luhur seharusnya tetap bergerak sama seperti riak gelombang lautan, apabila hilang dari keadaan maka hilang pulalah jiwa samuderanya.

Di antara anak muda bernama “Amin Jakfar” menyela di tengah pembicaraan “Man Juwa”, mohon maaf bila ada yang keliru, “bagaimana pergulatan seperti itu bisa terjadi? Lantas seperti apa langkah yang harus dilakukan?” Ia sambil menoleh pada teman-temannya dan diam kembali menunggu jawaban.

“Man Juwa” sedikit menoleh kepada datangnya suara.“ Ya, memang tidak mungkin terjadi tanpa menerpa diri untuk menghancurkan pihak-pihak keseimbangan hati, antara pernyataan sisi kanan dan pernyataan sisi kiri, berbantal ombak berselimut angin akan tercampakan di atas pasir,  menjerit bagai debur ombak menghempas batu karang, semua karena sebuah tekad peleburan. Memang seharusnya demikian, bagi siapa saja yang hendak merindukan kebebasan dari awan guratan hidup. Itulah hidup yang sesungguhnya, ayunan ombak gelombang lautan menghalau kegalauan dan derita terdampar ke tepian pantai. Sebab tidak selamanya ketenangan berarti diam,  tidak bergerak. Sekali pun dunia gelap bagiku, namun aku yakini bahwa cermin diri ada pada keagamaan. Sejak dini ketika diri terlahir, di mana saja, dalam keadaan apapun, dan engkau boleh antipati mencurigai kehidupannya, ataupun  memilih sesuka hatimu, namun bila mempunyai ilmu pengetahuan maka kehidupan dan keagamaan adalah satu hal adanya, yang bersembunyi dan berkerudung di dalam pribadimu, lebih tua dari semua yang hidup, sama seperti halnya hakekat kebenaran sudah mendahui sebelum diucapkan.

Amin Jakfar kelihatan gelisah, lalu “bagaimana menyikapi kehidupan dan keagamaan adalah satu hal adanya, yang bersembunyi dan berkerudung di dalam pribadi terhadap budaya kita ini?” Wajahnya menatap wajah “Man Juwa” penuh penasaran.

Dengan tenang “Man Juwa” menjawabnya. “Budaya adalah adat istiadat perilaku yang berlaku pada setiap suku bangsa. Bagaimana bisa menyangkal budaya kita ini tidak menyukai agama yang dikemas dengan kata kata? Bukankah setiap budaya punya kebiasaan berkata-kata? Lalu, dengan apa kalian semua bisa membaca dan menulis? Andaikan mengetahui bahwa apabila Sang Maha Hidup hendak berbicara, maka langit dan dunia seisinya akan ditumpahkan menjelma menjadi kata kata. Bukankah hal ini yang dikatakan kenyataan? Adapun yang kita lakukan dalam kenyataan adalah suatu keadaan yang nyata ketidaktahuannya, membedakan sesuatu dengan lainnya, tidak melakukan kebaikan kepada sesama ciptaannya, tetapi hanya sebuah tindakan mengaku merasa bisa melakukan. Oleh karena itu, berkomunikasilah dengan baik kepada sesamanya.
Rapuhnya budaya kita karena patahnya cara berkata-kata kita dengan baik kepada sesamanya, harus selalu bisa bijaksana dalam berkata-kata, dan ingatlah sebelum engkau melihat mengerti ‘bacalah’ tentu dirimu mendengar ‘kata-kata'!”.

Wahai anak muda!
“Bercerminlah, dan lihatlah apa yang ada dalam cermin itu, tidakkah mengakui pada pribadimu akan keburukanmu sendiri? Sebab apabila ia berbicara, maka linangan air mata, senyum manis di ujung bibirmu, sombong dan keangkuhanmu, penuh prasangka buruk terhadap sesama ciptaannya, menuduh buruk karena tidak sepihak, serta pribadi yang gila sanjungan akan menjelma menjadi kata kata yang sangat membinasakan. Tindakan itu bukan cermin budaya para leluhur bangsa ini”. Tak ada kata sepatah pun dari anak muda, mereka tertuduk mendengarkan secara seksama.

Sungguh bersyukur pemuda-pemudi hidup di Desa Ambunten, Sumenep, Madura,  masih diberi petunjuk melalui nada kehidupan ketukan tongkat “Man Juwa”. Tidak banyak orang yang memperhatikan, kecuali orang-orang yang memang membutuhkan tenaganya setiap hari. Ia menyediakan jasa memikul air untuk kebutuhan memasak dan mandi bagi orang-orang desa yang membutuhkannya.

Sungguh! Ia telah memotivasi langkah pemuda-pemudi sampai sejauh ini, pelajaran yang sederhana menjadi pedoman perjuangan dalam meniti hidup dan kehidupan. Banyak hal yang dapat dipetik dari kesederhanaan itu, sekalipun tidak pernah melihat hijau dedaunan, nyiur yang melambai-lambai, namun ia tetap teguh menjalankan kehidupan. Ada yang tersembunyi di dalam hatinya, tentang tumbuhnya hakikat makna kehijauan, bahwa karakter kehijauan tumbuh dilihat dari sifat yang tidak mengenal keluh kesah derita hidup, tidak berselisih maupun bertentangan terhadap siapa saja.

Serpihan debu sepanjang jalan oleh hentakan ujung tongkat “Man Juwa”, melambung tinggi terhempas angin yang menyisiri lorong-lorong sempit Desa Ambunten, sebatang bambu melintang melekat di bahu, memikul keseimbagan dua pikul air minum, memenuhi pesanan orang yang membutuhkannya. Tidak  pernah salah dan sumbang ketukan nada tongkatnya, membimbing sampai di depan pintu masuk dan  menuangkan air pesanan para pelanggan persis ke tempat yang disediakan. Tiap hari tongkat setianya menjadi mata ketiga, nada iramanya menjadi  pendengaran dan gerakannya menjadi dendang kehidupan, penglihatan dan pendengaran ketiganya seimbang sebagai harmonisasi hidup dan kehidupannya. Ketukan nadanya adalah detak urat nadi yang menjalar bergema pada dinding jantung, mendengungkan suara hati, dalam diamnya seakan akan membacakan bait bait puisi menuturkan keadaan diri sendiri.

Siang malam aku harus menyantuni
Siapa gerangan yang harus didekati
Yang tak berbapak dan tak beribu?
Atau yang tak beranak dan tak beristri?

Tahukah engkau siapa gerangan ini
Kau tak kan tahu keadaan yang pasti
Bukalah sorban penutup hati
Agar ilmu membuka akal hakiki

Kau seringkali berbicara dunia
Berkilah akhirat lewat pintu sana
Walaupun melekat tiada menyapa
Sebab hatinya senang bersama

Sanjung dan pujian amat senang
Umat dunia mudah ditebang
Kaum papa menjadi penghalang
Sebelum mati terasa mengejang

Itulah kenyataan sering dialami
Mestinya tidak culas bicara ini
Agar dapat hikmah makna hakiki
Sekalipun sering menjadi tirani

Tongkatku ini banyak mengerti
Merasakan begawan tidak peduli
Hatiku memang buta dunia hari ini
Tetapi esok hari bakal terang abadi

Renungkanlah lebih sunyi lagi
Jangan angkuh wahai para santri
Tak kan bisa gait bintang tinggi
Apalagi rembulan jatuhkan belati

Ketika purnama tertunduk sepi
Lepaskan juba dan sorban diri
Itulah kenikmatan yang meracuni
Kesombongan menikam pribadi

Percaya itu jalannya amat jauh
Pengetahuan dan ilmu ada jarak tempuh
Siapa yang beriman kan menempuh
Rahasia terbuka bagi yang bersungguh-sungguh

Wahai saudara generasi Ambunten!

Saat hati sedang mentafakkuri
Tunjukkan keteguhan diri sendiri
Menjelang esok mengurangi hari
Supaya pasti menempati surgawi

Segera songsong peradaban baru
Biarkan onak nan lalu menjadi debu
Tuntun generasi mengetahui ilmu
Agar kelak jalannya tidak kelabu

Oh, Tuhan kami!
Bimbing kami jalan yang benar
Kesombongan kami menjadi sumber
Keangkuhan bentuk sebuah karakter
Gila sanjung mengikuti birahi gender
Akhirnya menutupi jalan senter

Kerat pahatan di kening itu
Siap mengukir rasa cemburu
Bila saja kita dapat memburu
Pastilah diri akan bercumbu

Kau tentu tahu telunjuk itu
Pastilah bakal selalu keliru
Di sinilah ada dalam hatiku
Kiblat tertunduk rasa malu

Tancapkan tombak waktu
Di dalam dada tiap serdadu
Walau sesak tetapi membiru
Cahaya kalbu membias selalu

Tak perlu sibuk memandang
Belukar ladang milik orang
Gilas perangai batu karang
Redupkan sanjungan gemilang

Sambutlah hinaan di pintu gerbang
Masukan baik orang terpandang
Agar diri terang menderang
Remukkan hati yang seimbang

Hindari berpihak di muka dan belakang
Tekatkan diri untuk layar berkembang
Segera tancapkan surut berpantang
Agar hati senantiasa hidup terang

Akhirnya karena niat untuk menggapai akhirat jualah semua kebaikan wajib dilakukan, dan akhirat adalah makhluk yang tinggal di tempat yang paling jauh, di mana keberadaannya susah dijangkau, dan belum tentu cukup umur kita untuk dapat menancapkan tiang bendera dan mengibarkannya di sana. Namun jangan patah arang atas apa yang dijanjikan Tuhan, karena di situlah kebahagiaan berada di dalamnya, “siapa saja yang telah mencapainya di dunia ini, maka tidak akan buta mata hatinya esok hari”. Oleh karena itu siapa yang ingin mencapai ke sana, maka bukalah lebar-lebar mata hatinya kepada siapa saja yang memberi petunjuk kebenaran, ciri buta mata hati apabila tersinggung hingga menolak kebenaran datang dari siapa saja, dan jangan lupa terus bertanyalah “seperti apa diri ini”, dan jangan lengah menjinakkan keliaran diri sendiri.

Surabaya, 09 Desember 2018

Panglaras Budi Jaya Soepena

×
Berita Terbaru Update