-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENYUSURI PUISI ESSAY ON MAN ANI KZT

Kamis, 13 Desember 2018 | 19:33 WIB Last Updated 2019-12-15T00:44:46Z
MENYUSURI PUISI ESSAY ON MAN ANI KZT

Oleh: Eko Windarto

Filsafat secara harfiah adalah kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran dan bahasa.

Secara historis filsafat mencakup inti dari segala pengetahuan. Pada era modern, filsafat telah menjadi disiplin akademik seperti psikologi, sosiologi, linguistik, dan ekonomi, seni, sains, dan politik.

Bidang filsafat akademik diantaranya metafisika, epistemologi tentang asal muasal dan bidang pengetahuan etika, estetika, logika, filsafat ilmu, dan sejarah filsafat.

Jika mengikuti sejarah ideal tentang filsafat, tentu tulisan atau puisi filsafat yang akan dihasilkan membutuhkan perenungan dan waktu.

Dalam puisi Ani Kzt terlihat sekali menguasai sejarah filsafat dengan budaya, sains, pengetahuan metafisika, dan pengetahuan tentang alam semesta merasuk dalam karakter-karakter dasar filsafatnya.

Memang puisinya cenderung menunjukkan kontinuitas berfilsafat. Mari kita telusuri puisinya di bawah ini.

ESSAY ON MAN
Oleh: Ani Kzt

Jika Engkau melihat
Hukum-hukum Tuhan dengan pikiran yang bersih
Hukum-hukum itu nampak di langit 
Di mana bintang- bintang bercahaya dalam ketenangan yang tidak menyilaukan 
Matahari  yang memancarkan api 
Tiada menghentikan saudara perempuannya
Dalam gelombang lautan yang menyembunyikan sinarnya
Meski ia meminta
Bintang- bintang lain meringkuk 
Tetapi ia terus berputar 
Di atas langit ,lautan tiada pernah menyentuhnya 
Cahaya senja 

Dengan rona merah yang nampak 
Datangnya malam yang teduh 
Dan penerang sebelum hari berlalu
Cinta dua arah 
Mengabadikan semua semesta 
Dan dari kumpulan bintang langit 
Terjadilah semua perang dan pertengkaran 
Keterpaduan yang manis ini 
Dalam keseimbangan yang tak tergoyahkan 

Hakikat dari semesta 
Hingga benda-benda subur menjadi kering dan layu 
Dingin yang menggetarkan 
Dengan api yang mengikat persahabatan 
Api yang menggetarkan tempat tertinggi 
........
Dan bumi yang tenggelam dalam kedalaman 
Tahun berkembang 
Aroma menyerbak di musim semi 
Musim panas yang menyengat tak tertanggungkan
Buah-buahan musim gugur dari pohon-pohon .
Hujan yang mengguyur 
Embun di musim dingin 

Hukum-hukum ini berkembang dan berjalan abadi 
Semua makhluk yang hidup di bumi 
Ketika mati 
Maka kematian mengakhiri kehidupan mereka 
Sedangkan Pencipta bertahta di ketinggian 
Yang kekuasaannya tiada seorangpun di dunia bisa mencegahnya
Ia adalah raja manusia 
Mengatur manusia dengan kehendak- Nya 

DariNya mereka tumbuh ,berkembang ,dan bersemi 
Ia adalah hukum manusia dan yang menghakimi manusia 
Semua yang ada di dalam semesta 
Berjalan ,berganti 
Kehendak-Nya tiada kekuatan yang bisa mencegahnya 
Dan tiba-tiba berhentilah gerakan mereka
Kecuali kekuatannya 

Kekerasan manusia mesti dihentikan 
Atau semuanya akan semakin merajalela 
Memutar arah perputaran semesta 
Dekrit yang kokoh 
Yang sekarang tiada semerbak 
Segalanya akan terlepas dari awal kelahirannya 
Cinta yang kuat ini 
Milik semua orang 
Yang menggerakkan kehendak berbuat baik 
Kembali ke musim semi, asal dari mereka jatuh pertama kalinya 
Tidak ada dunia 
Yang bisa melanjutkannya 
Kecuali cinta membawanya kembali 
Ke jalan yang melahirkan esensi pertama kali.

Puisi ini sangat komplit mengenai segala aspek kehidupan: mulai dari hukum, sejarah filsafat, teologi, astronomi, budaya, sains, dan apa yang ada di alam semesta ini.

Saya yakin sekali bahwa penulisnya mempunyai pandangan terutama teologi dan filsafat. Jika bukan orang yang menguasai teologi dan filsafat mungkin tidak bisa menulis puisi sekomplit ini. Terus terang saya masih harus belajar dan belajar biar menjadi profesor ilmu yang tak bertepi.

Memang puisi ESSAY ON MAN ini menarik untuk kita kaji kedalamannya. Kalau melihat atau membaca pembukaan bait pertama kita seakan-akan dibawa pengaruh hipnotis makna di dalamnya. / Jika Engkau melihat/ Hukum-hukum Tuhan dengan pikiran yang bersih/ Hukum-hukum itu nampak di langit/ Di mana bintang-bintang bercahaya dalam ketenangan yang tidak menyilaukan/.

Sang penyair bercerita bahwa hukum-hukum Tuhan akan bercahaya dan bersih pada seseorang yang mempunyai hati dan pikiran yang jernih dan bersih. Itu terlihat dari diksi dan metafora PIKIRAN YANG BERSIH, BINTANG-BINTANG BERCAHAYA DALAM KETENANG YANG TIDAK MENYILAUKAN.

Nah, dari situlah diksi dan metaforanya saling bertautan seperti / Matahari yang memancarkan api/ Tiada menghentikan saudara perempuannya/ Dalam gelombang lautan yang menyembunyikan sinarnya/ Meski ia meminta/ Bintang-bintang lain meringkuk/ Tetapi ia terus berputar/ Di atas langit, lautan tiada pernah menyentuhnya/.

TIADA MENGHENTIKAN SAUDARA PEREMPUAN adalah simbolis yang sangat kuat dalam menggambarkan kekuatan panas dari cahaya matahari yang bisa memantul saat sinarnya bertabrakan dengan gelombang lautan.

Jelas sekali dia melukiskan laut yang tak akan bisa mengikuti rotasi bumi. Kembali sang penyair menyuguhkan metafora CAHAYA SENJA, yang mana bisa diartikan sore hari bisa juga umur yang sudah senja.

Tapi, jika merunut kata-katanya, DATANGNYA MALAM jelas dia menceritakan di ambang sore. CINTA DUA ARAH adalah simbolis yang menggambarkan cinta kebaikan dan cinta keburukan yang akhirnya bisa membuat PERANG DAN PERTENGKARAN yang menjadi KETERPADUAN YANG MANIS DALAM KESEIMBANGAN YANG TAK TERGOYAHKAN.

Itulah gambaran hidup di dunia ini: ada hitam dan ada putih. Ada siang dan ada malam. Semua itu sudah menjadi ketetapan Allah SWT.

Pada bait kedua, penyairnya bercerita tentang rotasi bumi yang setiap detik, setiap saat terus berputar mengikuti siklusnya. Ada musim semi dan musim gugur.

Terlihat dari larik-larik seperti ini, / Dan bumi yang tenggelam dalam kedalaman/ Tahun berkembang/ Aroma menyerbak di musim semi/ Musim panas yang menyengat tak tertanggungkan/ Buah-buahan musim gugur dari pohon-pohon/ Hujan yang mengguyur/ Embun di musim dingin/.

Lalu dia lanjutkan dengan menceritakan hukum alam yang juga sebagai ketetapan dariNya. Bumi akan terus berputar, sementara semua mahkluk di bumi ini akan mengalami kematian, dan akan lahir mahkluk-mahkluk baru yang diciptakan oleh Sang Pencipta Yang Maha Tinggi, serta tak seorangpun bisa mencegahnya.

Sang penyair menceritakan bahwa / Ia adalah raja manusia/ Mengatur manusia dengan kehendakNya/.

Begitu jelasnya ia menggambarkan kebesaran Allah SWT melalui puisi. Ia juga telah begitu komplit meceritakan kehidupan yang keras penuh tantangan.

Baris terakhir pun ia lukiskan dengan metafora CINTA yang bisa buat perenungan bagi kita semua untuk kembali pada esensi cinta itu sendiri. Betul-betul puisi yang apik dan menarik untuk kita kaji bersama.

Batu, 1382018
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update