-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

METAFORA: PEMADAT KALIMAT YANG SARAT MAKNA PADA TIGA PUISI AGUNG PRANOTO

Minggu, 09 Desember 2018 | 08:51 WIB Last Updated 2018-12-09T01:51:29Z
(Gambar dari google)

Oleh : Achmad Nasihi Mumtaz Tamadyan (Achnas J.  Emte)

Terkadang kita kesulitan mengungkapkan perasaan melalui puisi yang singkat dan padat serta lugas tapi tetap melahirkan pesona keindahan dan menebarkan berlaksa makna. Dengan menghadirkan metafora-metafora yang sederhana dan diksi yang akurat pada tiga puisinya,  seolah Agung Pranoto ingin membongkar stigma di atas sekaligus membuktikan bahwa kalimat yang terbatas bisa bermakna luas,  diksi yang akurat akan membuat intonasi puisi mampu bergerak ritmis menuju hakikat makna yang tidak hanya bisa dipahami penulis tapi juga bisa diselami oleh pembacanya, betapapun sangat mungkin terjadi pemaknaan yang berdiametral.  Hal yang lazim terjadi dalam sebuah penafsiran sebuah teks puisi karena ketika ia dipublikasikan, terlebih dengan suguhan metaforanya,  sebuah puisi akan menjadi santapan imajinasi halayak dan makna-maknanya akan  berpolarisasi secara mondial berdasarkan logika liar yang khas dari para penafsir. 

Berikut teks lengkap puisi yang berjudul ZIARAH. 

ZIARAH

Kutaburkan bunga kenanga,
mawar, dan gading di tidurmu
Malam itu putih kamboja
terjatuh di kepalamu
kau pun tak mengaduh

16 juni 2017

Dalam puisi Ziarah, Agung Pranoto membuat metafora dan diksi yang tidak mudah ditembus maksudnya dan diselami hakikat maknanya. Tapi metafora yang disuguhkan cukup memadai untuk memaknai teksnya menuju kontekstualisasi kejiwaan penulis yang sedang menenangkan dirinya dalam "tidur" yang nyenyak sebagai upaya -aku lirik-untuk membebaskan dirinya dari belenggu masalah. Ia segaja menjenguk batinnya dan menghiburnya dengan caranya, seperti terungkap dalam larik puisinya : /kutaburkan bunga kenanga,  mawar dan gading di tidurmu/. Dalam tidur, aku lirik ingin mengasingkan diri dari hingar bingar dunia yang melingkupinya. Ia ingin menenangkan diri dari sesuatu yang membuatnya gelisah dengan menyepi. Ia ingin terlelap dengan damai sehingga untuk sementara waktu bisa melupakan semua persoalan dengan bermuhasabah dan menghibur diri dengan mengkiaskan bunga dan gading sebagai dzikir, doa dan pengharapan  seraya mencari jalan terbaik. Sehingga,  andaipun beban derita sampai di titik nadir, ia tidak akan mengeluh,  seperti terungkap dalam baris berikutnya : /Malam itu putih kamboja/terjatuh di kepalamu/kau pun tak mengaduh.

Dalam "Ziarah" ada tiga pesan yang ingin disampaikan secara monolog dari aku lirik ke "kamu" yang tak lain adalah dirinya sendiri. Pertama,  untuk memguatkan diri yang paling penting adalah dengan memotivasi diri dari, oleh dan untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun motivasi instrinsik lebih kuat untuk menjadi pembangkit jiwa raga.  Kedua,  kadang perlu waktu untuk menyelesaikan persoalan dengan cara bermuhasabah atau perenungan diri secara totalitas sehingga ia memahami diri secara utuh. Pemahaman terhadap jati diri inilah yang menjadi entry point atau modal agar ia menemukan jalan keluar dari persoalan yang menindihnya. Ketiga, beban persoalan betapapun beratnya,  sejatinya tidak dikeluhkan karena meratapi penderitaan hanya akan membuat ia semakin terpuruk. 

Pada puisi kedua yang berjudul Kisah, Agung Pranoto, seolah sedang melakukan tahapan ke-2 untuk membebaskan diri dari belenggu masalah yang melingkupinya. 

Berikut teks lengkap puisinya :

KISAH

Angin laut
menabrak daun
batu dan tembok
atau karang

Angin bukan eksakta
harapan tetap menyala
matematika ditolak DIA

Bukanlah laut
jika tak beriak dan berombak
bukan pohon tinggi menjulang
jika tak goyang

Aku hanyalah sebutir pasir
di padang gersang
diam itu emas: terbuang


17 Juni 2017

Bait pertama pada "KISAH" ini medeskripsikan bahwa ada persoalan yang menyerang dan  menghantam dirinya,  meski sebatas metafora "angin laut", bukan badai,  artinya masalah itu tidak terlalu besar tapi sempat membuat ketenangannya terusik.

Selanjutnya,  pada bait kedua, aku lirik mencoba bertahan dan membentengi dari serangan, cemoohan bahkan mungkin hujatan yang menurutnya berlebihan. Tapi dia tetap bereaksi dengan memberikan alasan atau argumentasi yang logis dan pasti, meskipun banyak yang menolaknya. 
Pada bait ketiga,  aku lirik menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak akan lepas dari permasalahan : /bukanlah laut/jika tak beriak dan berombak/, demikian metafora "laut" sebagai tempat hidupnya yang tak akan lepas dari konflik,  guncangan dan permasalahan. Laut,  yang dalam Hastabrata,  dikiaskan oleh Ronggowarsito sebagai tempat untuk membuang kotoran,  menumpahkan limbah dan tempat memendam segala keburukan sangat linier maknanya dengan laut versi Agung Pranoto. Pada baris berikutnya, Ia menyadari posisinya yang menjadi "pusat perhatian" dari orang-orang yang banyak berharap padanya,  tapi ia sendiri memahami bahwa kadang ia sendiri tidak sehebat yang dikatakan banyak orang,  bisa sesekali goyang. Sampai kemudian muncul kerendahhatiannya laksana "sebutir pasir di padang gersang" dan tak lagi harus banyak bicara untuk menjelaskan tentang sebuah kebenaran,  hingga akhirnya dia memilih diam, sikap yang terbaik menurutnya. Cerminan dari seseorang yang berjiwa besar. 

Pada puisinya SOLILOKUI, Agung Pranoto menjalani tahap ke-3 dalam pencarian akhir solusi masalahnya.

Berikut keseluruhan teks puisinya :

SOLILOKUI

Tak ada kecemasan ketika kupetik gitar
di pojok ruang tamu
Lalu kunyanyikan kitabku dengan suara
merdu mengiringi ramadhan
Angin pun membantu nalas-napas tanpa terengah
Syair-syair merekah menggenangi jiwa
yang gundah
Nenyatu dalam kebeningan embun

2017

Mungkin ini sebuah kebetulan,  saat ia mulai menemukan cahaya dalam permasalahan yang masih samar,  Agung Pranoto sebagai aku lirik akan didatangi tamu agung,  yakni Ramadhan. Hatinya yang resah akan bertautan dengan ruang pemusnah gundah. Betapa bahagianya ia hingga berdendang menyambutnya, dibacakannya kitab (Al-Quran) yang ia pahami sebagai obat hati hingga kedamaian merekahkan bunga-bunga di jiwanya dan basahlah kelopak matanya dengan air mata suka cita, sebening embun. 

Saya meyakini,  tiga puisi Agung Pranoto,  meskipun tersuguh dalam tiga judul yang terpisah tapi tetap menjadi serangkaian kisah estafeta yang utuh. Yang paling menarik adalah pemanfaatan metafora yang tepat bisa membuat puisi yang sangat ekonomis dan tidak harus menggunakan kata penjelas yang berlebihan, tetap indah dan sarat makna. Sementara,  di sisi lain metaforanya yang kental membuat puisi-puisi tersebut sangat prismatik.  Siapapun yang berusaha menyelami kedalaman maknanya seolah dia sedang berwisata di lautan aksara yang sarat dengan butiran mutiara.

×
Berita Terbaru Update