-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NASIB NEGERI KITA; ADA APA DENGAN NEGERI KITA?

Rabu, 12 Desember 2018 | 12:08 WIB Last Updated 2018-12-12T05:08:05Z
(Ilustrasi dari google)

Oleh : Edi Kuswantono

Zaman berkelit silih berganti di negeri ini, entahlah..! Orang-orang besar zaman dahulu di negeri ini telah memasuki pikiran kita, impian-impiannya melambungkan semangat, melayang-layang di atas kesadaran pola pikir kesederhanaan, telah merebak bagaikan kabut dan awan menyebar kesegala penjuru negeri. Meskipun perjalanan nasib bangsa tertatih-tatih penuh kesederhanaan, namun riak gelombang tidak menyurutkan rasa nasionalisme dan tidak mengesampingkan budaya berakhlak luhur. Kerukunan antar keturunan Agama, Suku, dan adat istiadat tetap terjalin dengan baik.

Tetapi nasib negeri di tengah perjalanan, ada angin barat berhembus lewat celah ranting-ranting kering tanaman dari wilayah timur, mengipaskan hawa panas terhadap jiwa-jiwa rasa tidak puas terhadap keadaan negeri kita ini. Jiwa mereka karena “IRIAN” memberontak menjelma kerikil tajam gerakan makar saat bangsa mulai menata  perjalanannya. Tetapi selang beberapa waktu tiba-tiba datang atas nama zaman baru menggumpalkan awan mendung gelap pekat seolah-olah ada “Raksasa dunia”, ia mengamuk membabi buta, tidak mau tahu, tidak peduli, melibas seperti badai samudra, mendengus bagaikan lahar gunung merapi kehausan darah segar. Anak-anak bangsa terjebak angin lesus di rantau tidak bisa pulang. Anak-anak bangsa lainnya banyak menyandang yatim, dan ibunya mendapatkan penghargaan dengan status janda. Akankah mereka pergi ke ladang mencangkul lahan di mana tempat tulang belulang ayah dan suaminya ditanam..?. 

Ya.., dengan rasa iba sarat beban perasaan sedih terpaksa berjalan tertunduk menuju ladang kehidupan mereka, dan mentari pagi pun memberikan semangat hidup sabar. Lalu  apa nasib negeri kita ini yang dibawa oleh raksasa itu, ternyata masih tetap masalah kedalaman jantung hati “IRIAN”. Kemudian hasilnya telah membangunkan Istana megah, dihiasi dengan tutur kata sepuhan beraroma pohon cendana. Bedebah angin “Raja singa”  dan Raksasa dunia hidup tentram setelah memporak-porandakan tanaman kehidupan negeri kita ini, dan mencengkeran leher, mencabut roh serta jiwa budi luhur anak-anak bangsa yang tidak pernah tahu punya hati “IRIAN”, tetapi pada akhirnya pohon itu tumbang juga oleh reformasi ahlak mulia daun-daun hijau poli-tikus muda bersemi.

Masihkah negeri Indonesia saat ini berada di atas garis katulistiwa ..?. Reformasi wajah model apa keadaan sekarang ini...? sedangkan wajah-wajah mereka telah berubah keriput kehausan oleh karena terik siang bagai daun-daun kering acuh tak acuh, meneguk air dari sumber tercemari darah. Akankah para pemuji, penyembah dan penyujud masih mau mendengarkan bait-bait nyanyian dan lantunan ayat setan..?, masihkan mereka menari mendendangkan lagu keimanan di atas kursi mashab.?

Tidak saudaraku seiman...! Rasul kita yang muliya tidak pernah memiliki ahlak arogan seperti itu, tidak pernah memberikan contoh mencela, memaki, mengumpat. Apabila kita mengaku sebagai umatnya tentu prilaku ahlak mulia Rasul kita dilaksanakan dalam hidup dan kehidupan kita sehari hari.
Ada apa dengan dirimu, hatimu, jiwamu mengaku sebagai pewaris Rasul Mulia?, tetapi tingkah lakunya seperti Singa, Srigala, saling serang, menghardik mencaci maki kepada sesamanya..? Seharusnya memberikan tauladan melaksanakan ahlak muliya, setidaknya kepada anaknya sendiri.

Sayup-sayup dari kejauhan panggilan Tuhan Allah berkumandang, lalu anak-anak di surau bergegas berjalan menghampirinya panggilan itu, tetapi di dalam benak pikirannya berkecamuk menanyakan tentang keadaan nasip takdir negeri saat ini, sebab pada musim ini cikal bakal badai angin membawa isu panas telah menyebar, “Raksasa mana lagi yang bakal mengepung keadaan kedalaman jantung hati ‘IRIAN’...?”. Sekarang sudah tidak ditemukan lagi nama itu, sudah tidak ditemukan lagi bajak laut minyak bumi, tetapi yang kita temukan kedalamannya adalah “Penyakit Hati Negeri”. Begitu buruknya kualitas hati kita bila membuat “NASIB NEGERI KITA” terjerembab pada tebing yang sama.

Saudaraku sebangsa setanah air...!
Akankah Negara Kesatuan Republik Indonesia kita letakkan antara kandang singa dan srigala dengan kandang babi hutan? atau kita bawa mengangkasa ke sangkar Garuda ? marilah saudaraku yang tidak merenungkan Nasib Negri Kita di bawah Raksana mabuk kekuasaan, yang tega meneguk sumber airmata para janda dan anak yatim, bergandeng tangan kembali kepada rasa sebangsa setanah air. Sebab dunia telah menyisihkan kemanusiaannya kembali kepada kebiadaban, ilmu pengetahuan dan pendidikan moral telah dihancurkan, diganti oleh tehnik mesin penggilas persatuan dalam kebersamaan, serta menjauhkan dari alam lingkungan sekitarnya. 

Kini akulah pendukung teori kang Darwin tentang evolusi, mengisaratkan indentitas wajah-wajah batin mahluk biadap dan Agama kejam dapat berevolusi pada tingkat lebih tinggi melalui nalar rasa kemanusiaannya, setidaknya dapat kembali kepada budaya luhur yang berahlak muliya dari warisan peradaban leluhur kita sendiri, selama ini sudah tidak pernah digali lagi nilai keluhurannya, ibarat lorong menuju rembulan bertaburan bintang, siapa tidak bisa menemukan cahaya bintang selamanya akan tersesat.

Dapatkah para Budayawan, Seniman, Sastrawan, Cendikiawan, Agamawan duduk bersama memikirkan dan menentukan “NASIB NEGERI KITA” ini ....!?

Surabaya, 12 Desember 2018
Panglaras Budi Jaya Soepena

×
Berita Terbaru Update