-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NILAI KULTURAL DALAM PUISI-PUISI DWI RETNO RJ

Selasa, 11 Desember 2018 | 18:46 WIB Last Updated 2018-12-11T11:46:45Z
(Gambar dari google)

Oleh: Agung Pranoto

[1]
Puisi sebagai salah satu genre sastra, untuk mengekspresikan imajinasi, pikiran, maupun perasaan penyair, dengan mempertimbangkan aspek estetik maupun semantik. Di dalam teks puisi (karya sastra), memuat kandungan tentang nilai-nilai kehidupan. Nilai yang ada dalam budaya atau kultur manusia itu beragam. Unger (Wellek dan Warren, 1989:141-142) menjelaskan bahwa masalah yang dibahas dalam sastra mencakup: (1) masalah keagamaan, berupa interpretasi tentang Tuhan, dosa dan keselamatan, (2) masalah nasib manusia yang berhubungan dengan kebebasan dan keterpaksaan dan semangat manusia, (3) masalah alam, yang berupa minat terhadap alam, mitos dan ilmu gaib, (4) masalah manusia yang berupa konsep manusia, hubungan manusia dengan konsep kematian dan konsep cinta, dan (5) masalah masyarakat, keluarga dan negara.

Berdasarkan arah, tujuan, dan fungsi nilai, Hazim Amir (Sukatman, 1992) menggolongkannya ke dalam tiga jenis, yakni (1) nilai religiusitas, (2) nilai sosial, dan (3) nilai kepribadian. Ketiga jenis nilai tersebut disebut sebagai nilai kultural. Pembagian tiga kelompok nilai kultural ini yang digunakan sebagai pijakan dalam kajian terhadap puisi-puisi Dwi Retno RJ. Cultural value ini terkait dengan karya sastra pada hakikatnya dulce et utile (pinjam istilah pemikir Romawi, Horatius).

[2]

Dalam puisi Dwi Retno RJ, nilai kultural (cultural value) yang berhubungan dengan religiusitas di antaranya tersirat melalui puisi “Rindu”. Di dalam puisi tersebut, Dwi Retno membahasakan kerinduan ‘kau’ kepada “Kau”. Kerinduan hubungan dengan “Kau” (Tuhan) hingga digambarkan “serupa jutaan cahaya” dan “rindu Kau tanpa jeda berdepa”. Penggambaran Tuhan sebagai “jutaan cahaya” menurut Rudolf Otto hal tersebut merupakan penggunaan metafora alam atau istilah teknis ilmiahnya disebut sebagai fisiomorfisme. Dalam konteks itu, Tuhan dipandang bukan sebagai sosok yang menakutkan, melainkan meminjam istilah Rudolf Otto sebagai sosok yang “fascinosum”. Tuhan (Yang Ilahi) muncul sebagai sesuatu yang menarik yang memesona, atau biasanya dibahasakan sebagai kebaikan, cinta, penuh belas kasih, keindahan,  keselarasan,  dan harmoni.

Melalui puisinya yang lain, yang berjudul “Ruang Tak Terhingga”, Dwi Retno RJ (Redd Joan), menyuarakan gerak kehidupan yang ujung-ujungnya tak lepas dari doa-doa yang tulus serupa “kapas-kapas beterbangan”, menuju nilai religiusitas yang berpusat pada pencarian “halaman rumah-Nya”. Artinya bahwa kesadaran diri akan tak terpisahkannya dengan Tuhan (Yang Ilahi) merupakan bentuk sekaligus bukti nilai religius yang mengikatkan diri atau yang tergantung kepada sosok yang fascinosum tersebut. 

Atmosuwito (1989:123) mengutip The World Book Dictionary (1980), bahwa "religiosity" berarti "religious feeling or sentiment" atau perasaan keagamaan. Perasaan keagamaan itu merupakan perasaan batin yang ada hubungannya dengan Tuhan. Dicontohkan pula perasaan keagamaan itu misalnya perasaan dosa, rasa takut, kebesaran Tuhan, dan sebagainya. Religiusitas lebih mengarah pada pengikatan diri, penyerahan diri, tunduk, taat dalam artian positif yang berkaitan dengan kebahagiaan seseorang. Kebahagiaan itu seolah-olah manusia memasuki dunia baru yang penuh kemuliaan.

Drijarkara (1978:159) memberikan pengertian yang religi yang berarti "lebih luas". Menurut asal katanya, "religi " berarti ikatan atau pengikatan diri. Sebab itu, kata "religi" lebih personalistis daripada agama. Agama secara harafiah berarti peraturan, ajaran, atau dogma. Religi dikatakan lebih bersifat personalistis, maksudnya langsung mengenai dan menunjuk pribadi manusia. Religi lebih menonjolkan eksistensinya sebagai manusia.

Gambaran manusia yang bereligi berarti manusia yang "menyerahkan diri", tunduk, atau taat. Namun, dengan ketaatan, ketundukan dan penyerahan diri itu, manusia tidak merasa celaka. Sebaliknya, ikatan dan ketaatan itu dialami dan dirasakan sebagi sesuatu yang membahagiakan. Keterikatan dan ketaatan itu yang menurut hati nuraninya adalah benar; dan pengikatan diri kepada Tuhan (Yang Ilahi) telah dilakukan oleh Dwi Retno RJ.

Dekker (1970:38) memberikan definisi religius sebagai hubungan manusia dengan sesuatu kekuatan yang lebih tinggi, dan ia merasa tergantung dan berusaha mendekatinya. Karena manusia merasa tergantung pada-Nya, maka manusia berusaha untuk mendekati-Nya dan berserah diri. Riak getaran jiwa menjurus pada dimensi yang menghubungkan antara manusia dengan "Dunia Atas", Yang Maha Kuasa. Hubungan dengan ”Dunia Atas” ini, mari kita nikmati nilai religius yang terpancar melalui puisi “Kekasih” karya Dwi Retno RJ berikut ini.

KEKASIH

Ikuti kata hati yang sembunyi di alam sadarmu
Ketika kau menyebut ia kekasih pemilik rindu
Tidak perlu membelok
Karena sindiran mendorong dudukmu 
menahan nyeri sampai ke pojok sedikit gelap
Sambil mencari alasan 
Sebab itu bukan wujud tetapi ada
Seolah maksudku adalah dia
seorang kekasih yang kurindu syafaatnya
Kadang di balik rimbun pohon berdaun aksara
Sembunyikan tubuh seseorang
Yang mewarnai ruangan 
Senantiasa bertanding dengan kekasih lainnya
Karena kita masih manusia
Ya!
Mengapa tidak mengakui
ada makhluk bernama kekasih dalam puisimu
Cinta diciptakan
Bersamaan dengan lahirnya manusia
Meskipun lebih dulu tumbuhan dan buah kuldi
Tidak berdosa menyebut dalam doa
Tidak bersalah menyebutnya dalam rangkaian kata
untuk menyempurnakan surga baik di dunia dan akhirat
Dia ada dalam tubuh kekasih
yang ketakutan diakui 
karena rahasia nama
masih tersembunyi pada abjad terpilih

RJ_13617, KL

Puisi “Kekasih” di atas, merupakan wujud keyakinan adanya Kekasih. Kekasih yang dimaksud di sini tidak perlu dibelokkan ke arah yang lain, selain Kekasih yang satu yakni Tuhan (Allah, Yang Ilahi). Kekasih yang ini adalah “yang kurindu syafaatnya”.  Melalui puisi ini pula, Dwi Retno RJ tampaknya juga mempertanyakan tentang penciptaan puisi yang tidak menghubungkannya dengan “Kekasih”. Selain itu, Dwi Retno juga mempersoalkan adanya manusia yang seakan membandingkan antara “Kekasih” (Allah; Yang Ilahi) dengan ‘kekasih’ lainnya. Padahal di antara keduanya tidak bisa diperbandingkan. Atau barangkali dimaksudkan adanya ‘tuhan’ baru yang di-Tuhan-kan oleh manusia karena untuk pemenuhan kebutuhan duniawi yang instan. Kita telah meyakini satu-satunya Tuhan yang tidak beranak dan diperanakkan, yakni Tuhan Allah. Tuhan itu satu, Tuhan yang Mahaesa (tunggal).

Jika kita mencermati puitika yang dirajut Dwi Retno RJ dalam puisi di atas, begitu indahnya ia menyebut “kekasih pemilik rindu”, “bukan wujud tetapi ada” (istilah Rudolf Otto sebagai sesuatu yang ‘misteriosum’), “menyempurnakan surga”, “Dia ada dalam tubuh kekasih”. Ungkapan-ungkapan tersebut menunjukkan bahwa adanya nilai religius yakni suatu pengakuan adanya Tuhan (Allah), sekaligus cerminan bukanlah seorang atheis; atau cerminan yang tidak menduakan Tuhan.

Religiusitas mengarah pada yang lebih dalam, lebih mendasar pada pribadi manusia, rohnya. Jiwa yang religius pada hakikatnya melakukan penjelajahan untuk mencari hakikat hidup. Hakikat akan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Batin selalu berhubungan dengan Tuhan. Salah satu ciri religiusitas adalah penuntunan manusia ke arah segala makna yang baik, yang benar.

Persoalan religiusitas tidaklah identik sama dengan agama. Akan tetapi, sesungguhnya kedua aspek itu satu tetapi dua. Seharusnya memang seseorang yang beragama sekaligus berjiwa religius.  Sebab, pada hakikatnya Tuhan menilai manusia bukan atas dasar fakta manusia memeluk agama tertentu, melainkan pada kualitas kadar religiusnya. Jadi pada dasarnya manusia yang bereligius, sebagaimana pendapat Tilich yang dikutip Budiman (1978:27) adalah mereka yang mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh daripada batas-batas yang lahiriah saja.

Pada puisi ”Kekasih” di atas, selain mengandung nilai religius juga mengandung nilai kepribadian. Nilai kepribadian adalah nilai yang mendasari dan menjadi panduan hidup pribadi setiap manusia. Nilai itu merupakan arah dan aturan yang perlu dilakukan sebagai hidup pribadi manusia (Simorangkir, 1987:14). Nilai kepribadian ini digunakan individu untuk menentukan sikap dalam mengambil keputusan dalam menjalankan kehidupan pribadi manusia itu sendiri. Lebih dari itu, nilai kepribadian juga digunakan untuk menginterpretasikan hidup ini oleh dan untuk pribadi masing-masing manusia (Jarolimek dalam Sukatman, 1992:34). Nilai kehidupan pribadi (nilai kepribadian) diperlukan oleh setiap individu. Nilai itu digunakan untuk melangsungkan hidup pribadinya, untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup yang merupakan prinsip pemandu dalam mengambil kebijakan hidup (Amir dalam Sukatman, 1992:34). Perlunya nilai kepribadian bagi kehidupan individu itu didasarkan pada kenyataan bahwa dalam melangsungkan hidup, manusia memerlukan hal yang bersifat jasmaniah dan rohaniah dengan cara dan tujuan yang benar.

Keyakinan dengan adanya Tuhan (Allah) dan manusia selalu bergantung kepada-Nya mencerminkan kepribadian manusia (Dwi Retno RJ, termasuk kita). Keyakinan adanya Tuhan tersebut sifatnya individualis atau menyangkut soal pribadi masing-masing individu manusia. Tuhan melalui agama yang kita yakini telah menjadi pemandu dan tempat bersandar dalam menjalani hidup ini sehingga hal ini akan diperoleh suatu kebahagiaan duniawi dan ukhrowi masing-masing manusia, sebagaimana kutipan baris puisi berikut: “…/Tidak berdosa menyebut dalam doa/Tidak bersalah menyebutnya dalam rangkaian kata/untuk menyempurnakan surga baik di dunia dan akhirat/…”

Nilai kepribadian, nilai religiusitas, dan nilai sosial juga dapat kita cermati dalam puisi Dwi Retno berjudul “Kasih di Wajah Senja” berikut.

KASIH DI WAJAH SENJA

Mencintaimu Ibu, 
tidak ada alasan untuk mengatakannya mengapa, 
meski telah lupa semua janjiku 
ketika asik bermain dalam kamar hangat perutmu.

Merindukanmu Ibu, 
adalah denyut nadi yang tidak bisa kuhentikan 
dan kucari apabila ia berhenti.

Memelukmu Ibu, 
kehangatan paling manja dalam terik savana 
pun badai padang pasir.

Air matamu, 
bagai pecahan kaca melukai hatiku.

Saat matahari condong ke barat, 
jingganya menyapu keningmu. 
Helai demi helai rambut berubah warna, 
kau jadi seorang putri bermain hujan salju.

Aku tidak ingin waktu membawamu, Ibu. 
Dan aku meneteskan kepiluan 
manakala pejam mata lelahmu 
penuh guratan kisah kerasnya pendakian, 
sedangkan puncak itu adalah kami 
anak-anak cinta yang senantiasa membuatmu resah.

Mari, Bu...
Kita duduk memandang sore 
sambil menikmati puisi yang aku tulis 
sejak kumengerti bahwa engkau 
adalah rumah terindah dari Allah untukku. 

Tertawalah, biarkan aku puas memandangi kerut di wajahmu. 
Karena di sanalah aku menemukan diriku.

RJ_29517, KL

Melalui puisi di atas, nilai kepribadian tampak pada kesadaran diri akan adanya ibu yang melahirkan kita. Oleh sebab itu, kita sebagai anak yang pernah dikandung, dilahirkan, dan dibesarkan, selayaknya memberikan penghormatan dan pengakuan yang luar biasa. Bakti anak kepada ibu juga cerminan nilai kepribadian yang tinggi. 

Perasaan cinta-kasih antarmanusia ini pun juga cerminan nilai sosial dan religius. Hazim Amir (Sukatman, 1992:26) menyatakan bahwa nilai sosial adalah nilai yang mendasari, menuntun, dan menjadi tujuan tindakan dan hidup sosial manusia dalam melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidup sosial manusia. Nilai sosial merupakan norma yang mengatur hubungan manusia dalam hidup berkelompok. Norma sosial itu merupakan kaidah hubungan antarmanusia, yang merupakan kaidah yang melandasi manusia untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan geografis, sesama manusia, dan kebudayaan alam sekitar. Karena kaidah itu melandasi kegiatan hidup kelompok manusia, maka dapat dikatakan nilai sosial merupakan petunjuk umum ke arah kehidupan bersama dalam masyarakat (Suparlan, 1983:142). Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa nilai sosial merupakan pedoman umum dalam bermasyarakat.

Untuk melihat nilai sosial yang ada dalam sastra kita bisa melacaknya melalui kristal-kristal nilai yang berupa tradisi, konvensi dan norma masyarakat yang ada dalam sastra. Seperti dijelaskan oleh Wellek dan Warren (1989:109) bahwa sastra sebagai institusi sosial yang memakai medium bahasa, dalam menyampaikan pesan disalurkan dalam bentuk simbolisme yang berupa konvensi dan norma sosial. 

Dalam puisi Dwi Retno RJ, nilai sosial (social value) melalui puisi “Kasih di Wajah Senja” disuratkan dan disiratkan melalui keterhubungan diri dengan manusia lainnya. Dalam konteks puisi itu nilai social telah mengatur hubungan diri (anak) dengan pihak lain (ibu). Anak secara etis religius memberikan apresiasi positif dan sikap hormat kepada sang Ibu. Sikap semacam ini merupakan nilai kepribadian yang matang, sedangkan hubungan kedekatan antara anak-ibu atau sebaliknya merupakan cerminan nilai sosial yang menyangkut hubungan antarmanusia yang menorehkan toleransi, saling menghargai, saling mencintai, saling membangun kerukunan, saling membangun ukhwah untuk menciptakan dimensi hubungan antarmanusia yang tenteram, damai, dan terjadi keharmonisan-keselarasan. Nilai sosial itu melekat pada diri manusia sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupan ini manusia selalu berdampingan secara damai dan semestinya tidak menginginkan terjadinya disharmonisasi. 

[3]

Sebagai penutup catatan ini, perlu digarisbawahi bahwa dalam teks sastra, misalnya puisi, cultural-value tidak bisa dilepaskan begitu saja. Cultural-value itu sering menyatu dalam teks puisi, baik yang menyangkut nilai religius, nilai sosial, maupun nilai kepribadian. Ketiga nilai ini ada pada puisi yang diciptakan oleh Dwi Retno RJ atau yang belakangan ia “berpoliandri” secara maya dengan Redd Joan.

Rumah Sunyi, 28 Agustus 2017

×
Berita Terbaru Update