-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PANDANGAN DUNIA (WORLD VIEW) EDI KUSWANTONO TERHADAP SOSOK IBU

Rabu, 05 Desember 2018 | 11:45 WIB Last Updated 2018-12-05T04:45:17Z
(Gambar dari google)

Oleh: Agung Pranoto

Potret "ibu" di mata penyair atau penulis puisi tidak pernah buram. Ibu adalah segala-galanya dalam perjalanan hidup manusia. Pengorbanan yang dilakukan ibu begitu luar biasa. Ibu tak mengenal keluh meski otot-otot sendinya rapuh. Ibu tak pernah meronta meski air susunya diminum anak-anaknya. Ibu tak pernah merasa suntuk manakala mayoritas waktunya mulai pagi hingga malam untuk keluarganya.

Cara penyair memotret sosok ibu berbeda-beda. Penyair Batang, Sumenep, D. Zawawi Imron, misalnya menganggap "Ibu" sebagai pahlawan yang menduduki urutan pertama. Ibu di mata Zawawi telah melahirkan pengalaman puitik yang begitu penuh makna. Lalu, bagaimana seorang Edi Kuswantono memaknai sosok "Ibu"? Mari kita reguk makna paling dalam melalui puisi di bawah ini agar kita mampu melihat pandangan dunia (world view) Edi Kuswantono terhadap sosok ibu.

SETETES ASI

Karya : Edi Kuswantono

Ibu..! Kau adalah segalanya
Engkau telah memberi semua
Bagi mereka yang butuh menerima 
Adalah harta kasih sayang paling berharga

Asimu adalah hak anak-anakmu
Adalah kewajiban dini hari-harimu
Benih tumbuh melestarikan asamu
Agar dewasa nanti jadi taman surgamu

Setetes asi darimu sebuah kehidupan
Langkah anak-anakmu ke masa depan
kebebasan belenggu dari kematian
Saat buih merampas kemerdekaan
Bagi sang ayah pelindung keteguhan

Ibu ...! Deritamu larungkan segera
Anak-anakmu menunggumu di muara
Karena engkau penuntun di samudera
Tempat asal usul kasih sayang berada

Bwi, 300918

Pandangan dunia (world view) adalah cara penyair memandang, menyikapi suatu objek. Cara pandang ini menyeret adanya pengalaman intuitif yang berbekal pada knowledge of the world atau juga skemata yang dimiliki oleh penyair. Skemata itu berada dalam wilayah deep structure dan tentunya diawali dengan sentuhan yang berbau surface structure.

Puisi Edi Kuswantono di atas, dari sisi proses kreatif khususnya psikologi penciptaannya menunjukkan rasa empati yang sangat tinggi terhadap sosok ibu. Rasa empati itu mendera batin Edi Kuswantono lalu diabadikan dalam sebuah puisi yang ini bisa menggugah hati siapa pun yang selama hidupnya tak begitu mengindahkan sosok ibu.

Dari sisi penggunaan diksi, secara objektif, menurut saya penyair memanfaatkan diksi yang sederhana (diksi untuk komunikasi keseharian). Namun di balik kesederhanaan itu, jika kita tidak serampangan dalam menyibak maknanya, akan kita peroleh makna yang begitu dalam. Caranya adalah baca puisi tersebut berulang-ulang.

Bait satu puisi di atas menyiratkan dan menyuratkan sosok ibu yang melebihi sosok yang lainnya. Frase "Kau adalah segala-galanya" mencakupi sekian banyak nilai lebih sosok ibu. Nilai lebih itu jika mau dijabarkan akan bisa terurai secara panjang lebar. Frase tersebut dipertegas lagi dengan frase berikutnya yakni "telah memberi semua". Apa yang dimaksud frase itu? Tentu pengorbanan ibu untuk anak-anaknya, suaminya, mungkin juga untuk keluarga atau tetangga sekitarnya, tentu kontribusi yang luar biasa. Pengorbanan yang luar biasa itu semua dilakukan secara ikhlas atau tanpa pamrih. Dengan demikian, tepatlah jika akhirnya Edi Kuswantono memandang sosok ibu sebagai "harta kasih sayang paling berharga".

Bait kedua dengan keyword "asimu" sebagai pijakan untuk menjelaskan sosok ibu. Kata "asi" yang melekat pada "payudara" tentu telah menjadi hak orang lain. Orang lain ini tentu "asi" untuk memberikan asupan gizi pada anak-anaknya.
Asi memang memiliki kandungan gizi tinggi dan ini anugrah "dari sononya" atau anugerah dari Sang Maha Agung.

Menyusui anak-anaknya merupakan kewajiban ibu. Saat menyusui pun tak kenal kata mengeluh walau kadang dirasakan "ngrasemi". Kesadaran 'ibu" menyusui tersebut tidak sekadar merupakan kodrat kaum wanita, melainkan air asi jauh lebih bagus daripada susu formula yang lain.

Menyusui anak bagi sosok ibu yang dipotret Edi Kuswantono, tak pernah menjadi ketakutan ibu manakala sekitar puting susunya dari warna merah jambu biji menjadi hitam kelam. Keindahan payudara pun akhirnya dikorbankan secara ikhlas oleh sosok ibu. Semua itu dilakukan ibu demi diraihnya "taman surgamu".

Bait ketiga puisi di atas masih mengulang kata kunci "asi". Pengulangan ini merupakan suatu cara menautkan hubungan pertalian antarbait puisi. Di dalam bait ini, berpijak dari "asi" lalu diharapkan mampu mencerdaskan anak-anaknya. Kecerdasan anak ini dipandang penyair sangat penting dalam rangka menghadapi aneka tantangan ke depan manakala anak-anak memasuki usia dewasa, yang harus berhubungan dengan bermacam-macam sifat atau karakter manusia.

Lalu, pada bait ketiga tersebut, hadirnya baris terakhir "Bagi sang ayah pelindung keteguhan" sebenarnya menjadi hentakan yang luar biasa dalam puisi tersebut. Titik kemenonjolan puisi di atas oleh penyair diletakkan pada bait ketiga. 

Mengapa bait ini merupakan esensi dari puisi di atas? Ide dasar penulisan puisi di atas bermula dari pengamatan yang begitu jeli, penuh rasa, asyik-masuk atas lukisan termahal di dunia yakni seorang ibu menggendong anak bayinya mengunjungi sang ayah yang sedang dipenjara seumur hidup. Siapa pun yang menjenguk  sosok ayah (kakek tua) itu selalu diperiksa ketat oleh sipir dan tidak boleh membawa makanan atau minuman apa pun ke ruang tahanan. 

Sosok ibu yang menggendong anak bayi akhirnya punya akal brilian saat mengunjungi kakek tua (dalam hal ini ayah wanita itu) dengan keikhlasan memberikan asinya kepada bapaknya dengan pikiran yang penting bapaknya bisa hidup walau berbulan-bulan tidak dikasih makan.

Cara memberikan asi pun penuh taktik yakni sosok ibu (perempuan) yang menggendong bayinya memberikan payudara kiri kepada ayahnya untuk diminum dan tangan kiri perempuan itu memegang punggung kakek tua tersebut. Cara seperti ini dilakukan berkali-kali dengan harapan kakek tua (bapaknya) tidak cepat meninggal. Strategi ini pun tidak terdeteksi oleh sipir.

Bait keempat, begitu indah penyair menggambarkan derita ibu yang di hari tuanya mestinya segera usai dan anak-anaknyalah yang akan menggantikan peran tersebut sebagai bakti anak kepada orang tua. Anak menyadari peran ibu telah mengajarkan jalinan kasih sayang dan mendidik ke jalan yang benar.

Puisi di atas secara umum merupakan pengalaman puitik yang diperoleh Edi Kuswantono dalam melakukan pengamatan intens terhadap lukisan yang luar biasa dahsyat nilai seni dan nilai kemanusiaanya.

Demikianlah sekilas pembacaan atas teks puisi "Setes Asi" karya Edi Kuswantono. World view Edi atas sosok ibu semoga mengingatkan kita (para pembaca) agar tidak melupakan jasa-jasa ibu.


Joglo Jaya Sopena
28 November 2018

×
Berita Terbaru Update