-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PEJUANG TOGA

Jumat, 28 Desember 2018 | 11:31 WIB Last Updated 2018-12-28T04:31:09Z

Hari ini adalah puncak dan akhir dari sebuah proses.Semesta telah melukiskannya di atas bumi pertiwi. Tentunya ini merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka yang sangat kita cintai yaitu, kedua orang tua. Kepuasan bisa terlihat lewat raut wajah mereka. Meskipun dibalik umur yang mungkin tidak muda lagi dan semakin tua; senyum dan tawa mereka tetap manis dan elok di mata anak-anaknya. Mereka merasa bahagia. Segala usaha dan jeri payah mereka membuahkan hasil. Melihat kita diwisudakan dan akan dikukuhkan menjadi seorang sarjana muda; hati mereka sudah mencapai kesenangan yang luar biasa. Kesuksesan kita dalam perjuangan merebut toga, telah menambah aset kekayaan keluarga. Meskipun nanti kita harus berjuang untuk memperoleh pekerjaan. Hal tersebut bukan menjadi kecemasan bagi mereka.

Sejarah telah melukiskan perjuangan kita selama kurang lebih empat tahun atau delapan semester.Sungguh suatu perjuangan yang luar biasa demi mencapai titik kesuksesan "tak kenal lelah kita menggali ilmu meski menaklukan malam dengan begadang. Kini kita tidak seimut dulu, tapi otak kita sudah setajam silet. Dulu jarang dan bahkan tidak sekalipun menikmati kopi hitam, namun dalam kebersamaan, kita diajar           tentang hal baru, kita pun menyeruputi kopi hitam dalam nuansa teman seperjuangan. Meskipun secangkir dilumati bergantian tapi kepuasan dan ketulusan tetap terlukis dibibir nikmat. Tak jarang kita hanya berbekal kopi hitam dan sebungkus rokok, kita pun mulai berlayar dari senja menjemput malam hingga pagi tiba. Sering diskusi, bedah buku, semuanya bervariasi dari sudut pandang perspektif yang berbeda. "Itulah kita, jadi jangan heran ketika daya kritis kita setajam pisau atheis."

Kini kita sudah secerdik ular. Mungkin kita nanti akan ditawarkan dengan berbagai kemolekan dan keindahan dunia. Daya nalar kita diuji. Dengan melontarkan berbagai macam kronologi, dengan maksud kita memberikan solusi dan menemukan alternatif positif. Apakah kita sama seperti dengan mereka yang sudah-sudah? Terkadang IPK terdampar di altar ilusi. Lantas kemampuan dalam hal perbuatan menjadi jembatan menuju lokasi lapangan pekerjaan.

Hal ini menjadi tolak ukur integritas diri kita. Sebelumnya kita dihadapkan pada empat orang penguji, namun kini kita dihadapkan pada kelompok masyarakat yang dalam jumlah banyak. Terkadang kita merasa kaku, memulainya dari mana. Mungkin membutuhkan banyak kosa kata dan majas.

"Begitulah secuil gambaran singkat yang akan kita hadapi setelah kita menjadi sarjana muda."

Kembali lagi, ketakutan menjaring isi kepala. Bukan soal mundur dalam hal berkompetisi mencari pekerjaan, melainkan takut pada kehilangan teman-teman seperjuangan."Akankah kita bertemu lagi?" Pertanyaan ini yang kadang mengantongi isi kepala. Kebersamaan yang sudah kita lewati bertahun-tahun entah itu dalam dunia kemahasiswaan, ataupun pergerakkan tentunya bukan hal yang mudah untuk ditepis.

Kebersamaan dengan sahabat, memang sukar untuk digantikan dengan kemewahan duniawi lainnya. Jangan heran, mungkin orang-orang di luar sana merasa kagum melihat barisan kita. Dari kita masih lugu dan polos, hingga kini kita menjadi agitasi licik. Namun, kebersamaan masih kita kantongi di atas semesta ini.

Perjuangan kita dalam merebut toga, sudah mencapai titik finis. Hari ini kita akan dinobatkan menjadi seorang sarjana muda. Kita kuat dalam perjuangan sampai sejauh ini, karena kita bersatu. Sehingga kampus tidak menjelma menjadi sangat horor, melainkan tempat bagi kita untuk bermuara dan berlabuh menapaki dan memperoleh dalamnya ilmu pengetahuan.

Meskipun nanti, setelah semua ini usai dan kita kembali ke tanah kelahiran kita masing-masing. Harapannya kabar dan sapaan "bung dan jendral atau kanda dan dinda" tetap terpatri di atas kanvas langit kenang.

Hari ini; Kamis 27 Desember telah menjadi hari kemenangan kita. Hari di mana kita melihat kedua orang tua kita tersenyum. Semuanya tampil dengan dandanan yang begitu indah dan elok mewarnai hotel Claro Makassar. 

Oleh: Chris Jata

×
Berita Terbaru Update