-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENDERITAAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN

Jumat, 07 Desember 2018 | 13:22 WIB Last Updated 2019-12-05T14:15:38Z
PENDERITAAN BERUJUNG KEBAHAGIAAN


Oleh: Atin Supartini

Di suatu desa terdapat sebuah keluarga sederhana, yang di dalamnya terdiri dari seorang ayah, ibu dan dua anak kembar. 

Saudara kembar itu bernama Elo dan Eli. Mereka berusia tujuh belas tahun, dan sebentar lagi mereka lulus dari SMA. Cita-cita mereka ingin kuliah, terasa terganjal dengan keadaan ekonomi orang tua.

Kedua anak kembar itu merenung, apabila mereka terus-terusan terdiam maka nasib pun tak akan berubah. 

Di senjanya hari, di ruangan kecil saudara kembar itu berkumpul dengan orang tuanya. Tiba-tiba, timbul pertanyaan dari sang ayah, "Lo, Li, apakah kalian ingin kuliah?"

"Sebenarnya kami ingin kuliah Pak, tetapi melihat keadaan kita sekarang rasanya tidak mungkin," jawab Elo terus terang.

"Benar Pak, kami kasihan pada Bapak dan Ibu," tambah Eli.

"Anak-anakku, maafkan Bapakmu ini. Bapak belum bisa membahagiakan kalian. Bapak berharap kalian dapat kuliah," tutur sang ayah.

"Iya, nak. Maafkan ibu juga. Nak, ibu berharap kalian bisa menjadi orang yang berhasil dan menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain. 

Namun, ibu berpesan tatkala kelak kalian berhasil, janganlah kalian tinggi hati," nasehat sang ibu sembari mengelus kedua anak kembarnya.

"Aamiin, Bu" ucap kedua anak kembar serentak.

Suasana ruangan kecil itu mendadak hening sejenak, lalu Elo berkata, "Pak, Bu, kalian tidak salah mungkin ini sudah guratan hidup kita. Kita berjanji suatu saat nanti akan membahagiakan Bapak dan Ibu."

"Iya Pak, Bu, kami minta do'a terbaiknya saja," lalu ibunya menimpali "Iya, nak. Ibu dan Bapak pasti akan selalu mendo'akan kalian."

Malam pun tiba, suasana desa pun menjadi sepi sunyi. Bintang-bintang yang gemerlap menghiasi kelamya malam.

Keesokan harinya, sang ayah seperti biasa pergi mengemudi sepeda tuanya untuk menuju ladang kecilnya. 

Di sana sang ayah melakukan berbagai aktivitas, seperti menanam sayur, membersihkan rumput-rumput, dan sebagainya. 

Pendapatan sang ayah tak seberapa, untuk kebutuhan sehari-hari pun masih kurang. Sayur-sayur yang didapat, sebagian ia jual, dibagikan kepada tetangga dan sisanya ia makan bersama keluarga. Elo dan Eli sering sekali membantu ayahnya.

Kedua saudara kembar itu, di kala sepulang sekolah suka mencari penghasilan tambahan, yakni dengan mencari barang-barang bekas, lalu mereka jual. 

Teman-teman lain sepulang sekolah bisa santai-santai di rumah, tetapi berbeda dengan mereka. 

Mereka harus memulung barang-barang bekas terlebih dahulu. Penghasilan mereka yang tak seberapa, tak menyudutkan semangatnya. 

Penghasilannya itu sebagian mereka berikan pada sang ibu, dan sisanya mereka masukkan pada celengan ayamnya.

"Kak, kenapa ya hidup kita seperti ini, harus melewati rintangan seberat ini?" tanya sang adik, Eli.

"Iya Li, mungkin ini sudah jalan hidup kita. Keadaan hidup setiap orang sudah Allah takar. Kita harus semangat menjalaninya. 

Percayalah bahwa cita-cita kita bisa terwujud dengan kerja keras dan do'a. Semangat, Li!," nasihat sang kakak sambil menepuk pundak adiknya.

"Iya kak..." ucap Eli.

Suatu hari seperti biasa sepulang sekolah kedua anak kembar itu mencari barang-barang bekas di pinggir jalan. 

Tiba-tiba, ada sebuah mobil mewah yang berhenti di dekat mereka. Terbukalah kaca mobil itu, dan ternyata di dalam mobil ada teman mereka yang terbilang sombong.

"Hahaha... Si Pemulung Kembar. Nih gue kasih buat kalian.." lontar teman yang sombong sambil melemparkan botol aqua kosong ke depan mereka.

"Astagfirulloh aladzim.." ucap Elo kaget.

"Kasihannya kalian harus panas-panasan mencari rongsokan. Lihat dong gue enak, hidup jadi orang kaya, naik mobil tidak seperti kalian jalan kaki. Hahaha.." tutur si sombong.

"Ya Allah, tabahkanlah hati kami. Lihatkah nanti kami pasti jadi orang SUKSES," gerutu Elo dalam hati.

"Kenapa kalian diam saja, ayo dong ngomong, kalian kaya patung. Ya udah, gue tinggalin aja. Selamat menikmati hidup susah." tutur Deni sambil menutup kaca mobil dan kembali melaju.

"Kenapa ya dia tega berbicara seperti itu kepada kita?" tanya Eli.

"Biarlah dia mau bilang apa, kita harus sabar menghadapinya. Kita harus buktikan padanya kelak kita bisa sukses," jawab Elo.

"Iya kak, kita harus tetap semangat dalam menggapai mimpi kita." ucap Eli.

Kemudian, saudara kembar itu kembali mencari barang-barang bekas. Satu bulan kemudian, saudara kembar itu telah lulus dari SMA dan ternyata mereka memperoleh hasil yang gemilang, mereka itu siswa yang mendapat nilai paling tinggi di sekolahnya. 

Siswa-siswi dan para guru kagum melihat keberhasilan mereka. Pantaslah mereka mendapatkannya, karena mereka itu rajin belajar.

"Alhamdulilah..." ucap saudara kembar bahagia.

"Tidak pantas si pemulung kembar mendapatkan predikat itu, seharusnya aku yang mendapatkannya, ini tidak adil," gerutu teman yang sombong dalam hati.

Kemudian, kepala sekolahnya itu memberikan sesuatu pada mereka dan memberitahu bahwa mereka mendapatkan beasiswa kuliah ke UPI dan UNPAD.

Betapa bersyukur dan bahagia mereka, sampai sujud syukur mereka lakukan.

Seluruh siswa-siswi dan guru-guru memberikan tepuk tangan pada mereka. Impian mereka untuk kuliah terwujud. Setelah itu, kepala sekolah dan guru-guru memberi ucapan selamat pada mereka berdua.

Selepas itu, mereka pulang mengantongi kebahagiaan. Sesampainya di rumah mereka langsung memeluk kedua orang tuanya dengan menangis. Sang ibu pun menitikan air mata dan bertanya, "Ada apa?"

"Pak, Bu, kami punya kabar gembira," jawab Elo. "Apa itu, Nak?" tanya sang ayah penasaran. "Kami...kami mendapat beasiswa kuliah ke UPI dan UNPAD, Pak, Bu.." tutur Eli bahagia.

"Yang benar saja kamu Li?" tanya sang ayah memastikan. "Benar Pak, ini buktinya.." jawab Eli sembari menyodorkan sertifikat.

Kemudian, sang ayah dan ibu melihat sertifikat itu. Setelah selesai membaca, sang ibu berkata," Alhamdulilah Lo, Li kalian mendapat beasiswa ini, ibu bangga pada kalian."

"Iya, bapak juga bangga punya anak seperti kalian," tambah sang ayah.

"Pak, Bu, kami ingin mengangkat harkat dan martabat kalian. Kami ingin melihat Bapak dan Ibu bahagia," tutur Eli.

"Ya, Pak, Bu, dulu Ibu dan Bapak mengurus kami dari kecil, lalu sekarang giliran kami." tambah Elo.

"Ibu dan Bapak, pasti do'akan yang terbaik untuk kalian," ucap sang ibu.

Satu minggu kemudian, saudara kembar itu telah siap berangkat kuliah, mereka tak lupa pamitan dan meminta do'a restu pada kedua orang tuannya.

"Pak, Bu, kami pamit dan minta do'anya," ucap Elo sedih harus meninggalkan orang tua.

"Iya Pak, Bu, do'akan kami agar dapat berhasil. Kami juga akan selalu mendo'akan Bapak dan Ibu di sini," tambah Eli.

"Pasti, Ibu do'akan yang terbaik buat kalian," ucap sang ibu penuh kelembutan. "Semoga kalian berhasil, jaga baik-baik diri kalian dan belajarlah yang benar," nasihat sang ayah.

Kemudian, saudara kembar itu melangkahkan kaki sambil mengucap," Bissmillahirrah
manirrahim..."

Mereka berangkat naik bus. Sesampainya di tujuan, mereka langsung menuju kontrakan masing-masing yang telah dicari pihak sekolah.

Kemudian, mereka mulai menjalani kuliah dengan tekun. Elo berkuliah di UNPAD dan ELI berkukiah di UPI. Di kampusnya mereka punya banyak teman yang mengasihinya.

Beberapa tahun kemudian, akhirnya saudara kembar itu jadilah sarjana dengan gelar Coum Laude. Elo kini menjadi seorang guru dan Eli menjadi seorang dokter. Mimpi mereka kini menjadi kenyataan. Mereka pulang ke desanya dengan menggunakan mobil pribadinya.

Di halaman rumah sang ayah, ibu dan tetangganya menyambut kedatangan mereka. Sesampainya Elo dan Eli di desa, masyarakat sangat antusias menyambutnya. Saudara kembar itu tetap rendah hati, mereka bersalaman kepada tetangganya.

"Pak, Bu, kini kami telah berhasil," ucap Elo. "Iya nak, Bapak dan Ibu sangat bangga pada kalian," tutur sang ayah penuh kebahagiaan.

Akhirnya, saudara kembar itu sukses. Mereka membangun rumah untuk orang tuanya. Eli kini menjadi guru di sekolahnya dulu dan Elo menjadi dokter di puskesmas desanya. 

Sedangkan Deni, temannya yang dulu sombong dan mengina mereka kini hidupnya meralat, dia hanya menjadi pengangguran dengan sebatang rokok yang selalu mengepul. 

Mulai dari sekarang, hiduplah dengan semangat. Yakinlah cita-cita kita pasti terwujud, selama kita berusaha dan berdo'a. Ingatlah! Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan
Selesai

-Bungbulang, 6 Desember 2018








×
Berita Terbaru Update