-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENYAIR SEBAGAI PENYINGKAP KEBENARAN MENURUT MARTIN HEIDEGGER

Jumat, 28 Desember 2018 | 23:45 WIB Last Updated 2018-12-28T16:45:43Z
 
(Ilustrasi dari www.berbagaireviews.com)
…and what are poets for in a destitute time?[1] Demikian Martin Heidegger[2] (1889-1976) memulai kalimat awal essay-nya yang berjudul, What are Poets for. Pertanyaan ini, juga di diajukan oleh seorang penyair  besar Jerman abad 20, yakni Hölderlin,[3] dalam puisinya yang berjudul Bread and Wine. Sebuah pertanyaan menukik yang menyentuh persoalan hakekat seorang penyair. Heidegger menyukai puisi-puisi Hölderlin. Kesukaan tersebut memberi penegasan bahwa ia seorang penikmat puisi. Essay-nya, tentang What are Poets for, memberi ulasan mendalam soal “siapakah manusia itu”? Bagi, Martin Heidegger puisi adalah bahasa tertinggi. Bahasa puisi mampu membawa orang pada pengertian mendalam tentang otentisitas manusia beserta segala sesuatu yang hadir bersamannya dalam kehidupan.

            Pertanyaan Heidegger, “untuk apa para penyair”? bukan pertama-tama mempertanyakan tujuan kehadiran seorang penyair di telinga dan mata para pengagumnya, melainkan mengantar manusia pada jalan ekspolorasi filosofis tentang keberadaannya. Apakah yang dapat menciptakan syair-syair? Rembulan, mentari, bintang, tetumbuhan, angin, ataukah bunga? Tentu tidak. Hanya seorang penyair yang dapat mengungkapkan bahwa rembulan, mentari, bintang, tetumbuhan, dan bunga, bisa berkata dan bersyair. Hanya manusia yang dapat menciptakan syair-syair. Bagi Heidegger, manusia yang dapat menciptakan syair adalah manusia otentik, yang secara eksisitensial berada dalam Destitute time. Namun, apakah manusia  otentik itu?

     Dalam karyanya, Sein und Zeit (Ada dan Waktu), Heidegger mengulas tentang manusia sebagai realitas Ada yang bereksistensi, dalam kemenduniaan dan kemewaktuan. Heidegger menyebut manusia dengan terminologi yang khas, yaitu Dasein. Kata Dasein dalam bahasa Jerman merupakan bentukan dari kata dasar, Da (secara harafiah berarti; di sini/di sana) dan Sein (menjadi/ada)[4].  Problem linguistik ini kerap kali mengakibatkan inkonsistensi dan ketidaktepatan dalam penerjemahan konsep Dasein Heidegger. Term ini secara tepat dapat diterjemahkan dengan “Ada-di-sana”. Sebab, bagi Heidegger, manusia bukanlah seperti yang kita lihat “di sini”. Tetapi manusia adalah dia, yang memiliki segala kekayaan “di sana[5]”. “Di-sana”, tidak merujuk pada suatu tempat. Tetapi memaksudkan makna kedalaman manusia yang tidak terlihat.[6] Keistimewaan manusia (Dasein) dari antara benda-benda (seiendes) adalah kemampuannya untuk mempertanyakan dirinya, dan segala sesuatu yang terlingkup oleh kesadarannya. Manusia “yang bertanya” mengindikasikan sebuah pencarian makna.

Manusia paling otentik adalah manusia yang berada dalam destitute time. Destitute merupakan sebuah karakter situasional ketiadaan uang, makanan, rumah, kepemilikan[7] atau apa pun yang membuat hidup itu bermukim pada zona nyaman. Dalam destitute time manusia mengalami situasi naturalnya sebagai manusia. Heidegger menguraikan destitute time secara radikal dengan menginterpretasi kata abyss, sebagaimana yang telah digunakan Hölderlin. Abyss (abyground) adalah dasar, di mana akar menusuk dan berpijak.[8] Di situlah manusia menemukan kodrat naturalnya. Manusia mengalami eksistensinya sebagai manusia murni, dengan kesadaran penuh akan Ada-nya. Ia mengalami dirinya sebagai manusia yang mencari makna sekaligus lapangan pencarian makna itu[9]. Dan, siapakah seorang penyair dalam Destitute time? Ia adalah figur yang menemukan originalitas manusia yang terjalin secara relasional-eksistensial dengan segala sesuatu yang hadir bersamanya dalam hidup.

Menjadi penyair dalam destitute time artinya menghadirkan/menyingkapkan segala sesuatu untuk menemukan orisinalitasnya[10]. Ia menyingkapkan otentisitas dirinya dan segala sesuatu yang terjalin secara relasional eksistensial dengan dirinya. Ia bernyayi tentang makna keberadaan dirinya dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Musikalitasnya tereksplorasi dalam keindahan kata. Ia adalah figur dewa yang menyingkapkan orisinalitas makna dari realitas “menjadi manusia”. Maka hakekat seorang penyair yakni sebelum dia sungguh-sungguh menjadi seorang penyair, ia berada dalam situasi destitute time. Dalam situasi itu, ia menciptakan sebuah pertanyaan puitis bagi seluruh keberadaan dan panggilannya menjadi penyair[11].  Pertanyaan puitis itulah, yang menjadi sarana penyingkap kebenaran. Dan setiap pertanyaan selalu mengindikasikan adanya pencarian.

Jalan penyingkapan itu ditempuh dengan mengalami sendiri ketersembunyian hakekat segala sesuatu (manusia, benda-benda, peristiwa) dalam bentuk kontemplasi.[12] Dalam kontemplasinya, ia menyingkap ketersembunyian hakekat segala sesuatu menjadi ketaktersembunyian. Lain kata, segala yang tersembunyi akan menjadi tampak dalam kontemplasi.  Setiap syair, merupakan jawaban atas manefastasi dari hakekat manusia beserta segala sesuatu yang ada.  Dan puisi tidak secara langsung menerangkan hakekat dari segala sesuatu yang ada[13]. Ia menerangkan sesuatu melalui simbol, dengan teknik pengunaan diksi yang indah. Namun, hakekat puisi tidak terutama pada diksi, atau pada pesan yang memukau wilayah rasa, melainkan  dialami sebagai sebuah orgasme akal budi. Sebab, in se seorang pemikir itu adalah seorang penyair, demikian pun sebaliknya. Teknik merangkai kata-kata indah juga tak dapat diabaikan. Sebab, menciptakan puisi itu adalah “the work of art.”

Pertanyaannya adalah bagaimana pesan puisi sampai pada pendengar atau pembacanya? Sesungguhnya, pesan orisinalitas puisi tidak akan sampai pada pendengar atau pembacanya, jika pendengar atau pembaca tidak masuk di jalan yang sama dengan sang penyair dalam destitute time-nya. Dengan kata lain, pembaca harus masuk dalam kerangka kontemplasi penyairnya.

Lihat saja, Chairil Anwar tampak menjadi salah satu dari antara beribu tulang berserak antara Kerawang-Bekasi, dalam puisinya Kerawang Bekasi. Ia dengan kesadaran penuh bahwa ada satu titik yang mengakhiri eksistensi manusia. Titik itu mengubah segalanya. Tak ada lagi situasi eksistensial yang menandakan kehidupan. Kegelapan tanpa suara. Sebagai penyair, Anwar bertanya tentang hakekat dari tulang-tulang berserakan itu, yang  akhirnya dapat bersuara, seolah ia ada dalam dunia mereka. Hanya orang sadar sebagai manusia saja yang akan mengalami, menjadi tulang tanpa suara, yang dapat menangkap pesan kematian. Hanya orang yang peka akan situasi ketertindasan yang dapat merasakan bias terror. Anwar mampu menggeledah suara harapan dari beribu tulang yang berserakan antara Kerawang dan Bekasi.

Seorang penyair seperti Hölderlin, Chairil Anwar, adalah penyingkap kebenaran. Jalan penyingkapan itu adalah sebuah usaha untuk menjawab pertanyaan puitis yang mengitari imaginasinya dalam situasi destitute time. Panggilan menjadi penyair adalah panggilan untuk mencari jawaban atas pertanyaan “siapakah manusia?” Dengan sikap kontemplatif atas pengalaman kemenduniaan dan kemewaktuannya, sang penyair dapat menampakan kebenaran tentang realitas dirinya sebagai manusia, segala benda dan peristiwa yang terjalin secara relasional eksistensial dengan dirinya.***

Sumber Tulisan:
[1] Martin Heidegger, What are Poets For? dalam Poetry, Language, Though, New York: Harper Perennial Classic, 2001, hlm 89.
[2] Martin Heidegger, filsuf besar abad 20 asal Jerman. Pada 1923 ia menjadi professor di Universitas di Marburg. Pada 1927 ia menerbitkan karya besarnya berjudul Sein und Zeit (Ada dan Waktu). Gagasan filsafatnya banyak mempengaruhi berbagai bidang penelitian yang luas. Tradisi filsafat yang digeluti dan diwariskannya: Fenemenologi, Eksistensialisme, dan Hermeneutika. Dalam bidang Fenomenologi ia banyak berguru pada Edmund Husserl. Dalam bidang Eksistensialisme ia banyak berguru pada Nietzche dan Sorren Kierkegaard. Murid-muridnya yang menjadi filsuf terkemuka antara lain; Hanna Arendt, Hans Gadamer, Hans Jonas, Emanuel Levinas, Jacques Derrida, Jean-Paull Sartre, Leo Strauss, dll. Selain, karya besar Sein und Zeit, ratusan essay filsafat ditulisnya, termasuk beberapa diantaranya berkaitan dengan puisi (The Thinker as Poet, What are Poets for?, Language, Poetically Man Dwells).
[3] Johann Christian Freiderich  Hölderlin (1770-1843), penyair besar Jerman, kerap dikelompokan dalam aliran Romantisme.
[4]Bdk. Magda King, Heidegger’s Philosophy: A Guide To His Basic Thoght, New York:The Macmillan Company, 1964, hlm 66.
[5]Prof. Dr. Eko Armada Riynto, CM, Berfilsafat Politik, Yogyakarta: Kanisius, 2011, hlm 41.
[6]Ibid.
[7] Bdk. Cambrige Advanced Learner’s Dictionari, third edition.
[8] Martin Heidegger, Op. Cit., hlm 89.
[9]Ibid.
[10] Bdk. Martin Heidegger, Op. Cit., hlm 90.
[11] Bdk. Martin Heidegger, Op. Cit., hlm 91.
[12] Bdk. Martin Heidegger, Op. Cit.,hlm 93.
[13] Bdk. Martin Heidegger, Op. Cit.,hlm 95

Oleh: Elfridus Silman, S.S
Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
Tulisan ini sudah dimuat di indonesiasastra.net
×
Berita Terbaru Update