-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PIKIRAN, PERASAAN, DAN IMAJINASI DALAM PUISI REDD JOAN DWI RETNO

Jumat, 21 Desember 2018 | 08:30 WIB Last Updated 2019-12-14T01:02:47Z
PIKIRAN, PERASAAN, DAN IMAJINASI  DALAM  PUISI REDD JOAN DWI RETNO


Oleh: Eko Windarto

Perasaan
Perasaan dalam puisi adalah perasaan penyair. Perasaan dapat ditangkap dengan mendeklamasikan puisi tersebut atau dibaca secara menghayati. Perasaan itu bisa gembira, sedih, sombong, terasing, dan lainnya.
Contoh   : meja sederhana ini, kursi tua…(keadaan yang serba pas-pasan, sedih)

Pikiran
Pikiran adalah pola pikir hal yang ingin disampaikan penyair, seperti: kritik, kegelisahan, dan kekaguman.  

Imajinasi       
Imajinasi merupakan ciri khas sastra dan merupakan penggambaran sesuatu yang tidak terserap oleh pengindraan.         
Contoh: “dedaunan menderu…” deru aktivitas manusia di malam hari.

KOPI GRANAT
Oleh: Dwi Retno RJ

Bayangkan secangkir kopi
dibubuhi butirbutir pecahan granat
pasti letup-letupnya
terasa clekit di leher
riuh di dada
mata membeliak
seperti melihat 
perempuan rambut digelung
susuk kembang kenangan
kebaya merah renda hitam
di punggungnya sebakul botol
berisi kopi granat aneka rasa
persis penjual jamu gendong
Sambil goyang pinggul
nyanyi suwe ora ngopi
lelaki lelaki algojo
juga yang berdasi
sebubar orasi 
semua berlari 
berebut bokong 
arahkan moncong

Hari ini laku keras, jeng
setiap kali jalan di sana
tempat seragam berhamburan
dengan pikiran abu abu
teruskan, jeng
tambah granatnya
jangan sampai kau terminum 
karena hausnya begitu dahsyat 

Aku duduk tersenyum
angkat segelas Hot Lemon Tea
aku butuh Honey, jeng
bukan kopi (granat)mu

RJ_ 190116

Saya mencoba membayangkan metafora-metafora puisi Dwi Retno RJ di atas sungguh menggetarkan dan sekaligus membuat bergidik.

Betapa tidak, /Bayangkan secangkir kopi/ dibubuhi butirbutir pecahan granat/. Dari situ pembaca disuguhi  bayangan teroris membuat granat di cangkir-cangkir kehidupan yang sedemikian hitam putih.

Kadang tak bisa dijangkau akal pikiran. Sang pengintip kehidupan mencoba meletakkan apa yang dia lihat lewat sebuah puisi yang mampu membuka ruang bagi pembaca.

Meletupkan suara hatinya lewat kegetiran yang dia lihat. Satir yang terbungkus rapi.

Lewat metafora-metafora / perempuan rambut digelung/ itu saja bisa tertangkap betapa wanita selalu dibatasi dan dipotong geraknya oleh laki-laki.

Lelaki hanya membutuhkan wanita dikala membutuhkan. Ironis sekali kehidupan ini. Mungkin dengan gaya bokong semoknya wanita diperhitungkan lelaki hidung belang yang suka minum jamu di luar.

A netter democracy is a democracy where women do not only have the right to vote and to elect but to be elected.

Kelompok rentan dan marjinal seperti perempuan, buruh, petani, masyarakat adat, dan kelompok miskin lah yang paling jelas terpinggirkan identitas dan kepentingannya untuk bisa hadir di parlemen.

Pemilu tidak akan pernah bisa menghasilkan representasi politik yang utuh dari ragam identitas, kelas dan kepentingan dari seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Ann Philips, tindakan afirmatif akan mendorong keadilan dan kesetaraan serta mendorong hadirnya kepentingan perempuan, juga membuat perempuan bisa mengakses sumber daya untuk didistribusikan bagi kebaikan seluruh masyarakat.

Aku lirik bertanya pada penjualan jamu yang dikerubuti lelaki berpikiran abu-abu seperti mendung yang menggantung menutup hati matahari. Lagi-lagi aku lirik di bait akhir tersenyum kecut atawa senang melihat keadaan sekitarnya.

Itulah sekelumit kisah sebuah puisi seorang perempuan Dwi Retno RJ. Semoga bermanfaat. Salam takzim.

Batu, 2072017
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update