-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PINTU HATI, PETUAH BUNDA, ELEGI GADIS BERBADAN DUA, BULAN DI MATA BUNDA

Kamis, 13 Desember 2018 | 18:50 WIB Last Updated 2019-12-15T01:47:59Z
PINTU HATI, PETUAH BUNDA, ELEGI GADIS BERBADAN DUA, BULAN DI MATA BUNDA

Oleh: Marselus Natar

PINTU HATI 

Tuhan !
Kunci itu telah hilang 
Tiga hari yang lalu 
Petrus menyimpannya di kantong baju
Sementara pintu Surgawi dalam keadaan terkunci
Diluar jiwa jiwa hiruk pikuk di tengah antrian panjang 
Petrus kewalahan 
"Bersabarlah, dalam kesesakan! 
Bukalah terdahulu pintu hatimu, dalam imanmu pintu ini akan terbuka ". Ujar Petrus 
Lalu, terjadilah demikian

Salah satu jiwa dengan lantang menegur Petrus 
Petrus, tiga kali kau menyangkal Tuhan! 
Dengan kami, jangan lebih dari satu kali ! 
Apa yang terjadi pada Maltus, akan terjadi padamu juga !
Murka jiwa itu surut seketika 
Tawar dalam alunan kecapi serta merbak kembang di taman surga
Sementara pintu kembali tertutup 
Dalam keabadian untuk segala hati yang tertutup pula

ELEGI GADIS BERBADAN DUA 

Petang petang benar
Ayahanda tercinta menyusuri gang demi gang, memasuki rumah  warga kampung 
Malam tak pernah mengerti dengan langkah kaki lelaki itu sehingga 
kian larut mengantarnya ke rumah paling ujung sekaligus rumah terakhir di kampungnya
Ada apa gerangan sehingga dengan berani menyibak malam? 
Akh, kemarin ada pergantian bulan

Memasuki bulan tujuh adalah hal yang merepotkan bagi orang tua
Maksud dan tujuan ayahanda mengukur malam adalah untuk 
mengundang warga secara lisan sebagaimana tradisi di sini
Tiga minggu lagi darah dagingnya akan memasuki sekolah menengah atas 
Tradisi telah mewariskan nilai yang tak terbelikan uang, serumpun doa, 
nasihat dan arahan kebaikan terus meluap dari mulut penghulu, 
paman dan orang tua teruntuk gadis kesayangan mereka yang akan 
melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang tinggi 
Aroma sesajian membumbung ke langit teratas 

Dari sanalah tempat segala doa diukur ketulusannya
Pergilah, nak!  Leluhur telah merestui perjalananmu 
Ingatlah akan segala doa, nasihat dan arahan kebaikan yang 
kami himpunkan malam ini dalam nama Tuhan dan leluhur kita
Tiga hari seusai tradisi terlaksana 

Berangkatlah gadis itu dengan parasnya yang lugu nan suci
Senyumannya memanjakan banyak mata 
Tubuhnya seumpama liukan tubuh ballerina 
Tiga minggu waktu berlalu 

Aroma kampung ditubuhnya perlahan menyeruak hilang dalam peradaban kota
Relasinya kian bertambah terhadap sesama 
Doa, nasihat serta arahan kebaikan nampaknya pupus dalam peredaran zaman yang kian tak menentu 
Setelah tiga hari, tiga minggu, tiga bulan gadis itu terombang ambing dalam kekeringan pegangan

Doa, nasihat serta arahan kebaikan hilang tiada membekas dilorong sukmanya
Setelah tiga bulan tiga minggu tiga hari 
Sepucuk surat prihal panggilan 
Tergelatak di teras rumah 

Ayahanda dan ibunda terkasih sedah letih usai menjemur dibawah terik mentari siang tadi
Pagi pagi benar ayahanda membuka isi dibalik amplop itu
Sementara ibunda tengah menjerang air diatas tungku api 
Ibu...! 

Tiga minggu tiga hari anak absen di sekolah 
Pihak sekolah telah mencarinya berhari hari
Ia juga menghilang dari kos persis tiga minggu tiga hari 
Ibunda tiada bersuara lalu merebah didekat tungku api usai mendengar itu
Ayahanda berteriak histeris sejadinya 

Sunyi sepi yang terkenal kental dan sakral di kampung itu mesti pecah dan ternodai ratap tangis lelaki itu
Tepat pukul tiga jiwa ibunda berpisah dari raganya 
Entahlah, tiga jam kemudian gadis itu termangu disamping jasad ibunya 
Parasnya sudah tak dikenal lagi
Senyumnya tiada seindah dahulu 
Tubuhnya telah membuat banyak mata menatap bingung
Usia kandungannya telah tiga bulan

BULAN DI MATA BUNDA  

Bunda
Aku merindukan mata kita
bersua
Seperti sediakala kau dan kau
saling menatap 
Tanpa kata atau isyarat
Teduh sahdu bola matamu 
menenangkanku
Bunda
Ada bulan di matamu
Yang sanggup menerangi remang
jiwaku 

DIHENING KIDUNG SABDA BUNDA  

Anakku! 
Ingatkah kau segala nasihat ibu? 
Entah saat kau berjaga maupun tertidur
Hati dan pikiran ibu selalu tercurah atasmu
Mata pun mulut tak jemu jemu menuntun detak langkahmu Anakku !
Ibu tidak mengharapkan kau sukses 
'Agar kau cukup jadi anak yang baik' demikian 
kalimat yang terkandung dalam hati ibu lalu lahir di mulut dalam wujud terucap 
Ibu tahu nak! 

Kau terkadang jenuh dan jengkel terhadap setiap kata nasihatku
Kau terlalu kecil sehingga setiap kata nasihatku belum kau mengerti 
Aku menyayangimu nak! 
Ibu berjanji untuk selalu menasihatimu sampai kapan pun 
Iya! 
Hingga mulut dan mata tak sanggup berdoa dan mendengar ocehanmu lagi

PETUAH BUNDA 

Anakku! 
Ketika kau masih dalam rahim ibu
Satu harapan yang selalu saja ku dambakan 
Kelak kau harus menjadi guru
Mengapa harus guru, anakku !
Pertimbangan ibu adalah agar kau senantiasa dikenang orang 
Kau akan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
Hanya guru, anakku! 

Pabila kau menginginkan yang lain 
Tebarkanlah jala di lautan 
Atau cangkullah ladang di kebun kita
Jangan pernah bermimpi menjadi politikus 
Kau tahu mengapa? 

Kita ini orang baik baik saja
Ibu tidak ingin keluarga kita di caci maki karena ulahmu seorang diri
Sebab di sana mulutmu banyak mengumbar janji
Yang kosong, gosong dan tentu tiada berisi

Tentang penulis. 
Penuli dengan nama pena Marsel N adalah seorang rohaniwan Katolik. Beberapa cerpennya pernah dipublikasikan di surat kabar harian Pos Kupang,  majalah OIKOS, dan majalah Warta Flob. Sekarang menetap di Komunitas St. Yosep, Maumere. Kopi adalah sumber inspirasinya sebelum menulis.

(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update