-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

POTENSI KEPENYAIRAN DIANSI DALAM MAHA SEPI

Selasa, 18 Desember 2018 | 07:37 WIB Last Updated 2019-12-14T14:42:55Z
POTENSI KEPENYAIRAN DIANSI DALAM MAHA SEPI


Oleh: Agung Pranoto

Di tengah derasnya laju teknologi, kehadiran Cybersastra tak bisa dibendung lagi. Justru melalui Cybersastra, geliat literasi, geliat produksi karya sastra, bagai cendawan di musim kemarau.

Dari media inilah tunas-tunas muda semakin meronakan gebyar jagad sastra dunia, termasuk jagad sastra Indonesia; meskipun dari sisi kualitas karya-karya yang terekspos tidak semuanya menampakkan kekuatan literer sebagaimana yang diharapkan.

Artinya ada sebagian di antara penggiat di Cybersastra yang menampakkan ke arah kematangan dalam berkarya.

DianSi adalah salah satu dari ribuan penggiat Cybersastra yang karyanya dapat kita nikmati di wall-nya dan di beberapa grup sastra yang memanfaatkan sarana facebook.

Sebagai pencipta puisi, ia tidak sekadar menuliskan puisi yang bersifat ‘klangenan’, melainkan ia memiliki wawasan atau pemikiran ke arah masa depan perkembangan perpuisian di Indonesia. DianSi menulis sebagai berikut.

KAMI YANG MUDA WAJIB KE LANGIT BERSAMA PUISI

Saya berpikir bahwa dunia per”PUISI"an Indonesia masih betah berjalan kaki, bila penyair-penyair muda tidak dibuat terbang dengan alasan muda dan minim pengalaman.

Sebab pada faktanya, usia tidak menentukan pengalaman dan spiritual. Usia bukan penentu karya yang mumpuni.

Tetapi pengalaman dan kemelesatan wawasan dan cara pandang. Puisi adalah anak-anak rohani, di mana ia lahir dari tempaan, rasa, pandangan, dan berita. Berfungsinya pancaindera mendatangkan pengalaman yang berakhir pada titik spiritual.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ada kegelisahan dalam diri DianSi ketika mengamati perkembangan penulisan puisi penyair muda.

Amatannya terhadap perpuisian Indonesia yang ditulis oleh penyair muda masih ‘betah berjalan kaki’; perkembangan dari sisi kualitas amat lambat.

Untuk itu, ia menggugah hati penyair muda “wajib (terbang) ke langit bersama puisi”. Frase “wajib ke langit” tersebut perlu mendapatkan penjelasan lebih lanjut ke arah mana perpuisian Indonesia setelah Angkatan 2000 ini.

Apakah pemikiran yang dimaksud menuju pada gebrakan baru yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai wujud kreativitas baru dan tidak di bawah bayang-bayang (epigon) angkatan sastra atau penyair-penyair sebelumnya? Ciri-ciri estetik puisi yang seperti apa yang harus diperjuangkan? 

Yang pasti Chairil Anwar yang mati di usia yang sangat muda telah memberikan contoh bahwa ia mampu “hidup seribu tahun lagi”.

Chairil Anwar yang namanya hingga kini tetap melambung itu, dalam perjalanan kepenyairannya juga penuh liku, penuh onak dan duri, serta  terpengaruh oleh penyair Eropa seperti Hendrik Marsman, Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.

Di luar itu, tidak semua puisi yang diciptakan Chairil Anwar ditulis secara instan, melainkan melalui pengeraman (pengendapan) yang cukup dengan beberapa kali dilakukan penyuntingan (editing).

Dari sini dapat dinyatakan bahwa keberhasilan penyair Angkatan 45 ini memerlukan proses yang panjang.

Di mata DianSi, usia tua bukanlah ukuran untuk menghasilkan puisi yang berkualitas. Jika penyair yang muda memiliki “pengalaman dan kemelesatan wawasan dan cara pandang”, tidak menutup kemungkinan akan mampu menciptakan puisi yang memiliki kualitas literer. Pemikiran tersebut logis dan benar adanya.

Namun, harus dipahami bahwa untuk menghasilkan puisi yang berkualitas perlu proses yang panjang dan harus didukung oleh wawasan yang baik terhadap berbagai indikator puisi yang  dinilai berkualitas.

Sebenarnya ia menyadari bahwa untuk mencapai gagasan yang ia harapkan perlu “tempaan” dan kepekaan dalam memanfaatkan “pancaindera” terhadap berbagai fenomena yang ada di sekitarnya dan atau yang (mungkin) terjadi/dialami oleh diri sendiri penyair muda itu. 

Kepekaan terhadap moment puitic, sebenarnya merupakan kunci awal untuk menulis puisi. Namun harus disadari bahwa tidak semua pencipta puisi memiliki kepekaan yang baik.

Tidak semua penulis puisi di Cybersastra memiliki bakat alam dan intelektualisme serta talenta yang sama.

Selain itu, mereka menulis puisi juga banyak yang tidak berharap menjadi “penyair”.  Oleh karena itu, waktulah yang akan menyaring di antara ribuan penyair muda tersebut melambung tinggi, eksis, atau justru banyak yang tenggelam dan atau terkubur tanpa meninggalkan jejak/nama.

Antologi puisi tunggal DianSi berjudul Maha Sepi memuat puluhan puisi naratif yang terbagi ke dalam dua bagian, yakni (a) puisi panjang dan (b) puisi pendek. 

Beyond imagination (di balik yang tersirat dan yang tersirat)  dalam puisi-puisi di antologi Maha Sepi ini berpusat pada ‘rindu’.

Kerinduan yang menempati ruang psikologis penyair, senantiasa bergejolak tak henti-henti, dan hal ini melarut dalam psikologi penciptaan puisi.

Artinya proses kreatif penciptaan puisi di antologi puisi ini memanfaatkan moment puitik yang senantiasa bergelayut atau berkelebat.

Keterhanyutan penyair terhadap pengalaman puitik, akan mempengaruhi kejiwaan penyair. Kejiwaan terkadang berada pada situasi sadar (conscious) dan kadang pada situasi setengah sadar (subconscious).

Hal ini senada dengan gagasan Wellek (1990) dan Hardjana (1985) bahwa kondisi kejiwaan penyair mempengaruhi proses kreatif. Keterhanyutan penyair tentang ‘kerinduan’, dapat kita cermati, salah satunya, puisi berikut.

MEMAHAT RINDU

Setiap hari aku menggali satu lubang kecil di dinding kamarku untuk menyimpan rindu.
sudah 70 lubang berbentuk hati berjejer di sana.

70 lubang lagi aku butuhkan, untuk membentuk wajahmu.
lalu aku tidak akan ke mana-mana, selain aku sudah melihatmu saat terbangun dan menjelang tidur.

Dan kau tahu, aku selalu setia menunggu Tuhan bekerja.
semisal membawaku datang menemuimu, dengan airmata yang sudah tersulam rapi sebagai tangis bahagia memilikimu.

010718

Puisi “Memahat Rindu” di atas, dapat kita rasakan atmosfir kedalaman rindu si aku lirik kepada seseorang. Seseorang yang dirindukan itu saya sebut sebagai ‘kekasih’ (kata ‘kekasih’ dalam konteks ini bermakna luas).

Mengapa ‘kekasih’? Bait 1 puisi di atas, khususnya baris “/sudah 70 lubang berbentuk hati berjejer di sana/” penyair menghadirkan frase ‘lubang berbentuk hati’ sebagai tanda/lambang atau simbol tentang “cinta”.

Angka “70 lubang berbentuk hati” itu bukanlah jumlah yang sedikit; yang dapat diinterpretasi sebagai kerinduan pada kekasih oleh penyair diekspresikan sangat mendalam.

Bait 2 semakin menegaskan tentang rindu itu sebagaimana baris 1 tertulis “/70 lubang lagi aku butuhkan, untuk membentuk wajahmu/”.

Hal ini menunjukkan bahwa begitu luar biasa kerinduan itu mendera hingga imajinasi penyair mengarah pada pelukisan “70 lubang” membentuk wajah kekasih. 

Aktivitas membentuk “140 lubang” ini setidak-tidaknya merupakan imajinasi yang begitu liar dihadirkan penyair.

Lebih-lebih liarnya imajinasi itu dilebarkan lagi sayapnya dengan hadirnya frase “aku selalu setia menunggu Tuhan bekerja” (bait 3). Ada suatu harapan (suatu pengandaian) si aku lirik, jika misalnya,  Tuhan mewujudkan pertemuan dengan kekasih, si aku lirik telah menyiapkan airmata sebagai tanda kebahagiaan.

Agaknya, puisi di atas merupakan manifestasi tentang jarak rindu. Manifestasi jarak rindu juga tampak pada puisi pendek di bawah ini.

SEPOTONG MIMPI

Aku melihat senja membias di matamu, hendak sampaikan nestapa jarak.
dan masih saja, dua cangkir kopi melarutkan mimpi dalam pahitnya.

090817

Namun, pada puisi yang lain, deraan kerinduan itu tampaknya tidak menemukan keselarasan. Antara das sein dan das sollen tidak sinergi, sebagaimana diekspresikan penyair melalui puisi berjudul “Silang”:   “//dengan baik aku menyimpan kau, pada tingkat paling atas hatiku/tetapi aku temukan, kau tidak mengimbangi itu /aku bahkan terkurung sedih, ketika pahami bukan aku sepenuhnya dalam hatimu, tetapi masa lalu//” (bait 1).

Bait puisi tersebut secara eksplisit digambarkan tidak gayung bersambutnya antara keinginan yang kuat di dalam hati dengan realitas imajinatif yang diharapkan. Dalam konteks puisi ini, kerinduan si aku lirik terkesan sepihak. 

Hasrat rindu yang berkepanjangan dan serasa melelahkan, akhirnya menyeret si aku lirik pada kesadaran untuk senantiasa tabah dalam menjalani liku-liku kehidupan.

Ketabahan itu merupakan pengejawantahan kesadaran pada “rindu yang sepertinya sudah berlalu”, sebagaimana terekspresikan dalam puisi “Menjalani Tabah” di bawah ini.

MENJALANI TABAH

Hari ini tidak ada kopi di meja dan juga senja yang bersandar di tembok rumah.
Aku memilih diam dan tidak menikmati apa-apa, selain rindu yang sepertinya sudah terlalu.

300717

Di dalam antologi puisi Maha Sepi, mayoritas puisi DianSi berpijak pada kata ganti persona “aku”. Dalam pandangan dunia romantik, “aku” selalu menjadi pusat; sehingga yang diutamakan  adalah perasaan, reaksi, dan persepsi. Si “aku”, memberikan gambaran baru tentang dunia; ia menciptakan kembali dunia berdasarkan daya khayalnya.

Peniruan kenyataan diganti dengan pengungkapan pandangan diri sendiri. I describe what I imagine (aku menggambarkan apa yang aku khayalkan), demikian pernyataan penyair Inggris Keats (Luxemburg, 1989:166 ).

Puisi romantis ditandai dengan ciri ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang. Ungkapan perasaan cinta, kasih, dan sayang sangat kita rasakan puisi penyair DianSi tidak tergelincir pada sifat puisi sentimentil yang mengabaikan konvensi puisi, melainkan ia mampu mengontrol diri dengan menghadirkan puisi-puisi yang kaya metafora, puisi-puisi yang kaya citraan.

Lalu, bagaimana kualitas puisi dan kepenyairan DianSi yang tercermin dalam puisi-puisi di antologi Maha Sepi ini?

Untuk menjelaskan kualitas puisi DianSi dalam hubungannya dengan  puisi sebagai teks literer atau cipta seni yang indah, mari kita nikmati puisi berikut ini.

BAIT MAHASEPI

Aku menempuh jalan sunyi
Sejak sajak-sajak jingga memilih redup di bibirmu 
Bahkan, aku hampir saja lupa
Caramu menciumi rambutku

Sepanjang malam nyaris tak ada mimpi
Setelah diam-diam, di ujung jalan
Aku dapati, sebuah sajak kau tulis di tubuh lain

Aku sebenarnya rindu, pada segala cara kau menyayangiku
Tapi angin yang lewat di jendelaku, mengabarkan pilu

Aku diam dalam sakit
Di mana lukanya sedang aku rawat

Bila malam esok, sajak tidak juga memberi wangi
Maka biarkan saja aku kembali
Menyulam bait-bait maha sepi.

21/09/2017

Mencermati puisi naratif berjudul “Bait Mahasepi” di atas, meskipun digunakan diksi yang lazim kita dengar/baca sehari-hari, namun mampu membungkus keutuhan makna puisi dan puisi-puisi DianSi tidak terjebak pada bentuk ungkap yang diafan.

Diksi denotatif-konotatif jalin-menjalin membentuk korespondensi yang apik dan menumbuhkan asosiasi pemaknaan yang melebar (meluas) sebagaimana yang menjadi tuntutan kualitas puisi itu multitafsir.

Korespondensi yang apik itu dibuktikan oleh hubungan antarbaris dan antarbait untuk membangun keutuhan makna.

Selain aspek keutuhan makna, stuktur lahir (surface structure) dan struktur batin (deep structure) puisi terbangun dengan komposisi yang seimbang. 

Mencermati puisi-puisi DianSi setidak-tidaknya dapat ditarik ciri estetik (1)  menggunakan bahasa kias yang dikombinasikan dengan bahasa denotatif, (2) makna puisi memungkinkan membias atau bisa ditafsirkan lebih dari satu makna (3) kadang muatan puisi didasarkan pada imajinasi penyairnya yang bukan atas dasar pengalaman faktual, (4) cipta puisi digunakan penyair sebagai sarana berpikir kreatif karena tampil dengan citraan intelektual, (5) isi puisi mengandung perenungan dalam usaha mencari makna dan tujuan hidup,  (6) tidak mengandung prasangka pada orang lain atau golongan, (7) puisi-puisi ciptaannya cenderung naratif, (8) puisinya sering menunjukkan lompatan imajinasi, dan (9) imajinasinya kadang tampak liar (dalam arti positif).

Kepenyairan DianSi, meski puisi-puisinya bertebaran di sastra maya, tampaknya perlu mendapatkan perhatian khusus.

Sebab, ada warna lain yang dapat kita temukan dalam “bentuk pengucapan” DianSi. Sebagai perempuan penyair, DianSi telah memiliki karakteristik berpuisi, yang tidak ditemukan pada penyair mapan sekali pun.

Kekhasan “bentuk ucap” itu merupakan karakteristik DianSi. Namun, amatan saya terhadap DianSi, ia masih memiliki potensi yang belum dimaksimalkan.

Potensi tersebut, seiring dengan perjalanan waktu, memungkinkan akan menghasilkan puisi-puisi yang menggelegak yang menghasilkan pergeseran wawasan estetik baru, yang tidak pernah dilakukan sekian generasi perpuisian di Indonesia.

Tentu hal ini sebuah tantangan kreativitas yang layak untuk direnungkan, dipikirkan, dan diwujudkan.

Surabaya, 16 Oktober 2017

(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update