-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

RAIH MIMPI HINGGA DI TITIK FINIS

Rabu, 19 Desember 2018 | 17:26 WIB Last Updated 2019-12-05T11:40:46Z
RAIH MIMPI HINGGA DI TITIK FINIS


Jarak masih saja menjadi sekat diantara kita. Rindu masih menjadi perjuangan hubungan kita hingga sampai pada titik jumpa. Meskipun demikian aku tak pernah bosan memberimu kabar lewat aplikasi internet "chatiing". 

Kadang rindu terlalu biadab. Menyeret rupa untuk saling bersua dan memberi bahu untuk saling menyandar.

Pertanyaan yang kadang datang menghampiri "Mengapa harus bertahan" ini yang membuat saya kadang mengerutkan dahi, dan menyita waktu untuk berpikir.

Untuk kesekian kalinya; pada malam itu aku terhanyut dalam lamunan.

Wajah itu selalu menggenang difikiran, dan menyita ingatan. Optimisme akan tetap dipegang teguh, bahasanya kau dan aku akan menjadi kita. Kelak kamu nanti menjadi ibu untuk para generasiku.

Malam semakin kelam. Dingin semakin menohok membebani jiwa dalam kegigilan. Di saat itu pula, wajah ibu kembali terngiang dan menambah luap kantong ingatan.

Antara kamu, ibu dan rindu. Kini kerinduanku diganti dengan wajah ibu, yang seakan ingin sesegera mungkin terbang menuju kotanya. Kesabaran menjadi pilihan disaat rindu dan duka menyengat.

Masih dalam lamunan, tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi chatiing. Segera ku lihat ternyata itu chatiing darimu. "kanda, lagi apa."

Aku tidak sempat membalasnya. Wajah ibu terus melintasi isi kepala. Aku teringat dengan sarung yang diberikan ibu, waktu mau berangkat ke tanah daeng.

Hasil khas tradisional yang ditenun oleh ibu. Aku mengambilnya dari lemari dan mengenakannya. Sedikit menyita pikiran dan membuatku termenung memandang lantai rumah yang sedikit mulai pecah-pecah dan kusam.

Dalam hati aku berkata"ibu, sekarang aku sedikit tenang dan rindu yang melanda dalam diri sedikit bisa ku tepis dengan membalut sarung buatan ibu di tubuh kerdil ini.

"Dawo"merupakan kain tenunan khas tradisional daerahku tepatnya Nagekeo. Kain ini digunakan oleh para kaum hawa dalam segala hajatan. Malam semakin kelam aku masih saja belum bergeser dari posisi duduk sejak tadi.

Aku dikagetkan oleh penjual kue putu keliling yang membunyikan nada klakson dari kejauhan. Kembali mengambil gadget, dan membalas chatting dari fani yang sejak tadi menunggu balasan dari aku.

Meskipun sering berkomunikasi via telepon dan chatiing, rindu selalu memohon ke titik jumpa. Kadang membuat baper, kadang juga bad mood, mengapa harus melewati sekat waktu dan dinding jarak untuk bisa bersua.

Aku kembali teringat dengan pesan ibu "Kejarlah dahulu impianmu nak, jika semua telah kau raih berarti kesuksesan semakin mendekati dirimu.

Jika kelak engkau menjadikan salah satu sosok wanita yang menurutmu cocok dan pantas dijadikan ibu dari para generasimu, hendaknya dia tidak menolak lupa dengan tradisi yang dimiliki.

Begitupun kamu, janganlah sekali-sekali kau gadai dan lupakan tradisi yang menjadi ciri khas daerah kita, demi menggapai cinta para gadis moderen."

Aku termenung seketika, mengingat segala pesan ibu, kala itu. Sejauh ini perjuanganku sudah mencapai titik finis.

Semoga aku tetap menjadi orang di zaman moderen yang tetap memeluk erat pada tradisi dan ciri khas daerah lokal.

Makassar, Rabu,19 Desember 2018
By: Cris Jata
×
Berita Terbaru Update