-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

REPRESENTASI “ALAM” DALAM SAJAK EKO WINDARTO: PERSPEKTIF EKOKRITIK

Selasa, 11 Desember 2018 | 19:03 WIB Last Updated 2019-12-05T12:10:40Z
REPRESENTASI “ALAM” DALAM SAJAK EKO WINDARTO: PERSPEKTIF EKOKRITIK


Oleh: Agung Pranoto

Lingkungan sekitar merupakan objek yang tidak habis-habisnya digali oleh penyair (sastrawan) sebagai bahan penulisan puisi (karya sastra).

Karya sastra memang cerminan dari fenomena yang terjadi di sekitar sastrawan.

Hal ini seiring dengan paradigma teori mimetik yang memiliki asumsi dasar bahwa kesusastraan memiliki keterkaitan dengan kenyataan.

Keterkaitan antara karya sastra dengan kenyataan sering dengan pandangan Plato melalui teori mimetic, yakni “karya seni dan sastra hanya tiruan dari kenyataan”.

Jika karya sastra hanya merupakan tiruan maka nilainya cenderung lebih rendah daripada kenyataan itu sendiri.

Apa yang digagas Plato tampaknya dibantah oleh Aristoteles bahwa “Mimesis pada seniman tidak semata-mata menjiplak, melainkan sebuah proses kreatif”.

Gagasan Aristoteles itu tentu logis karena di dalam penciptaan seni (sastra) ada kreativitas berupa pengolahan baru seiring dengan imajinasi seniman.

Dalam perkembangan teori sastra mutakhir, era posstrukturalisme di antaranya adalah hadirnya teori ekologi yang digabung dengan teori sastra, yang orang menyebutnya dengan istilah ekologi sastra.

Di dalam teori ekologi sastra, penciptaan karya sastra yang merambah pada hubungan manusia dengan lingkungan hidup: tumbuhan, hewan, laut, dan sejenisnya kini menjadi salah satu perhatian menarik.

Greg Garrard (2004) misalnya menyatakan bahwa ekokritisisme (ekologi sastra) mengeksplorasi tentang gambaran hubungan antara manusia dan lingkungan dalam segala bidang hasil budaya.

Ekokritisisme terinspirasi dari gerakan-gerakan lingkungan modern.

Greg Garrard menelusuri perkembangan gerakan itu dan mengeksplorasi konsep-konsep yang terkait tentang ekokritik, sebagai berikut: pencemaran, hutan belantara, bencana, perumahan/tempat tinggal, binatang, dan bumi (Fatchul Mu’in, 2013).

Ekokritisisme sebagai kajian tentang hubungan antara karya sastra dan lingkungan fisik (Glotfelty, dalam Greg Garrard (2004).

Secara ekplisit disampaikan dengan menggunakan sejumlah persoalan dalam puisi.

Seperti representasi alam dalam puisi, nilai-nilai yang diungkapkan dalam sebuah puisi dilihat dari konsistensi dengan kearifan ekologis (ecological wisdom).

Metafor-metafor tentang daratan (bumi) mempengaruhi cara kita memperlakukannya,  karakterisasi tulisan tentang alam sebagai suatu genre (sastra)  cara-cara apa dan pada efek apa kritis lingkungan memasuki sastra.

Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan yang mempertimbangkan hubungan antara alam dan sastra (Fatchul Mu’in, 2013).

Alam menurut paradigma teori ekologi telah menjadi bagian dari sastra.

Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya sastrawan, khususnya dari kalangan penyair, yang menggunakan diksi hutan, laut, pohon, dan lain-lain dalam karya mereka.

Namun seiring perkembangan, sastra telah banyak mengalami perubahan, begitu juga alam. Antara sastra dengan alam seakan dua sisi mata uanga yang tak terpisahkan; atau seakan  berjalan beriringan.

Sastra membutuhkan alam sebagai inspirasinya, sedang alam membutuhkan sastra sebagai alat konservasinya (Fatchul Mu’in, 2013).

Cheryll Glotfelty dan Harold Fromm (1996) memaparkan gagasan tentang ecocriticism atau ekokritik, lewat eseinya yang berjudul “The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology”.

Mereka berkeinginan kuat untuk mengaplikasikan konsep ekologi ke dalam sastra. Pendekatannya dilakukan dengan menjadikan bumi (alam) sebagai pusat studinya. 

Menurut sejarahnya, ekokritisisme  muncul di Amerika Serikat pada akhir 1980-an dan di Inggris pada awal 1990-an, dan masih ada suatu gerakan yang perlu dicatat.

Selain itu,  Glotfelty yang juga salah satu pendiri The Association for the Study of Literature and Environment (ASLE), menerbitkan Jurnal ISLE (Interdisciplinary Studies in Literature and Environment) pada 1993 sebagai  upaya untuk mengkampanyekan gerakan itu.

Namun, ekokritisisme ini berbeda bentuk pendekatannya dengan kritik-kritik yang muncul sebelumnya.

Ekokritisisme dikenal secara luas sebagai serangkaian asumsi, doktrin, atau prosedur yang tampaknya muncul dalam batas-batas akademis (Fatchul Mu’in, 2013).

Itulah sebabnya mengapa ekokritisisme tampak menjadi gerakan terkuat di universitas-universitas di Wilayah Barat Amerika Serikat, keluar dari kota-kota besar, dan dari pusat-pusat kekuatan akademis di Wilayah Pantai Timur dan Barat (Barry, 2002).

Dalam tulisan ini, dicoba untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan ekokritisime dalam sastra.

Perhatikan puisi Eko Windarto yang berjudul “Sepucuk Padi Mendaki Warna Kuning” berikut.

SEPUCUK PADI MENDAKI WARNA KUNING

Bergumul di tengah rimbun kuning padi
kicau burung burung seperti seruling pagi
menanti senja melingkari sepi

sepoi angin bertiup menjaga siang mendaki
sementara jiwa jiwa anak gembala meneriaki 
padi yang belum terbeli

Ketika aku melingkari ladang jagung
kutemukan daun ketela menjalar di sisi pematang
menawarkan tekstur hijau daun pada hati yang petang

sambil merumuskan hatiku yang sedang melupakan
rembang petang
sepucuk padi mendaki warna kuning

Sekarputih, 2022017

Pembacaan sekilas atas puisi Eko Windarto tersebut, dapat kita catat adanya penggunaan diksi: padi, rimbun kuning padi, kicau burung, sepoi angin, ladang jagung, dan daun ketela.

Penggunaan diksi tersebut merupakan bukti keterlibatan penyair dengan lingkungan alam.

Diksi lingkungan alam tersebut oleh penyair sebagai sarana atau bentuk pengucapan (ekspresi)
ide/gagasan ke dalam karya sastra berupa puisi.

Dari sini jelas bahwa alam telah direpresentasikan Eko Windarto ke dalam puisi.

Selanjutnya, nilai-nilai yang diungkapkan dalam sebuah puisi Eko Windarto dilihat dari konsistensi dengan kearifan ekologis (ecological wisdom) dapat dipaparkan sebagai berikut.

Pada bait ke-1 puisi tersebut dapat kita maknai. Nilai-nilai yang diungkapkan penyair yang dihubungan dengan kearifan ekologis.

Bahwa petani senantiasa memanfaatkan sebaik-baiknya tanah sawah untuk ditanami padi hingga padi itu tumbuh subur (rimbun) membuahkan padi yang menua (menguning).

Hal ini terwakili dalam baris 1 (bait 1): “bergumul di tengah rimbun kuning padi”.

Kata “rimbun” menandakan bahwa tanaman padi tampak subur sebagai tanda bahwa tanaman tersebut dipupuk dengan baik.

Peristiwa pemupukan itu sebagai bentuk keseriusan petani yang dalam hal ini dapat dibaca sebagai kearifan ekologis.

Selanjutnya kata “menguning” menandakan bahwa praktik kearifan ekologis itu membuahkan hasil yang sesuai dengan keinginan, tentu ini sangat melegakan bahwa petani akan menyongsong panen tiba. 

Pada baris 2 (bait 1) tertulis “kicau burung burung seperti seruling pagi”, dapat kita pahami.

Bahwa kehadiran burung yang berkicau di rerimbunan padi sebagai bukti bahwa kearifan ekologis yang ada yakni harapan adanya tanaman padi telah memasuki masa tua dan tak lama lagi bisa segera dipanen.

Burung memang termasuk salah satu musuh petani padi. Burung dalam kelangsungan hidupnya membutuhkan makanan berupa biji padi.

Oleh karena itu, burung yang memakan padi itu bukti adanya keinginan untuk mempertahankan hidupnya.

Pada baris 1 dan 2 (bait 2), penyair Eko Windarto menulis: “ketika aku melingkari ladang jagung /kutemukan daun ketela menjalar di sisi pematang”.

Dari data tersebut, menyiratkan adanya konsistensi kearifan ekologis, yakni area persawahan dan sekitarnya telah dimanfaatkan sebaik-baiknya, yakni ditanami tanaman yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Kehadiran tanaman jagung dan juga tanaman ketela yang menjalar bukti adanya pemaksimalan ladang di sekitar area persawahan.

Kearifan ekologis itu direpresentasikan dengan tidak diinginkannya ada tanah/pematang yang tidak tertanami.

Artinya bahwa lahan kosong dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk perolehan hasil bumi. 

Pada tataran ini, tampak jelas bahwa masih terkait dengan baris 1 dan 2 (bait 2), tidak terbantahkan lagi tentang adanya perlakuan petani untuk memanfaatkan metafor-metafor  tentang daratan.

Pematang yang posisinya lebih tinggi dari sawah mempengaruhi pola piker manusia untuk dimaksimalkan dengan menghadirkan tanaman-tanaman yang tidak terlalu suka dengan genangan air.

Jagung dan ketela rambat sangat cocok jika ditanam di area pematang.

Dengan telaah tersebut, alhasil, penyair Eko Windarto telah menunjukkan adanya penulisan puisi yang mengarah pada karakterisasi tulisan tentang alam sebagai suatu genre (sastra).

Puisi Eko Windarto hanyalah salah satu contoh apa yang dimaui oleh teori ekokritik, yakni alam sebagai objek dalam penggarapan puisi (sastra).

Bila kita mencermati puisi Eko Windarto yang berjudul “Sepucuk Padi Mendaki Warna Kuning”secara utuh memang terjadi kontradiksi antara harapan dengan kenyataan.

Harapan petani tentang tanaman padinya menghasilkan panen yang baik, namun kenyataannya panenan yang memuaskan itu masih menimbulkan gura-gurat kening petani karena padinya belum terjual.

Hal ini tampak pada baris “sementara jiwa jiwa anak gembala meneriaki  padi yang belum terbeli” dan “menawarkan tekstur hijau daun pada hati yang petang”.

Frase “padi yang belum terbeli” secara denotatif menyuratkan makna yang mudah kita pahami.

Sedangkan frase “hati yang petang” secara kias menunjukkan kepada kesedihan karena padi hasil panen belum laku.

Kata ‘petang’ secara semantic berarti gelap, dan secara kontekstual sebagai symbol kekurangsenangan.

 Demikian telaah tentang “alam” dalam puisi Eko Windarto dari perspektif ekokritik. Semoga telaah singkat ini bermanfaat bagi pembaca. 

Surabaya, 21 Februari 2017

Salam Sastra

(Ilustrasi dari Google)
×
Berita Terbaru Update