-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SEBUAH GARIS WAKTU TENTANG KITA

Selasa, 18 Desember 2018 | 21:05 WIB Last Updated 2019-12-05T12:06:36Z
SEBUAH GARIS WAKTU TENTANG KITA


Oleh: Dolin Anang

“Untuk kalian yang jauh di sana yang pernah menjadi kita”

Kita memang beda dalam jalan dan pilihan kita, namun kita tetap satu dalam ikatan persahabatan yang telah kita rajut.

Mungkin kalian tidak akan pernah tahu tentang aku hingga pada saat ini, jika aku tidak memulainya dari kita.

Aku telah hilang terlalu jauh dari kalian hingga aku lupa bagaimana kita dulu, dan mengapa aku bisa berdiri di sini sampai pada saat ini.

Semuanya itu akan kuceritakan pada saat ini. Aku hampir lupa raut muka kalian ketika aku lebih mencintai egoku. 

Ketika aku fokus pada arah yang menuntunku saat ini. Ketika aku dan kalian tak lagi pada tempat yang sama, tak lagi nongkrong bersama.

Namun, justru pada saat-saat itu, kesepian mengundangku untuk melihat kabar kalian pada dinding kronologi facebook kalian masing-masing.

Aku ikut bergembira ketika aku melihat kalian begitu bahagia dengan hidup kalian sekarang. Aku sampai tertawa sendiri ketika kalian yang dulu penuh dengan ketakutan dan keraguan, kini menunjukkan keberanian.

Perlahan, aku melihat rekam jejak kalian, hingga aku temukan bahwa kita pernah bersama, tertawa bersama, kita pernah mengekspresikan suka dukanya dunia secara bersama.

Kita pernah rekam jejak bersama dalam perjalanan hidup kita. Tidak sekedar itu, jejak-jejak pahit yang kita lalui masih juga terpampang di sana. 

Ketika kita pernah berbeda pendapat, bertengkar, bahkan pada saat kita pernah mencoba berjalan sendiri-sendiri.

Aku menemukan semua itu dalam dinding kronologi kalian, dinding kronologi kita. Semua itu meninggalkan tapak-tapak jejak yang membuat kita perlu untuk melihatnya kembali.

Ketika kita berada pada suatu titik yang membuat kita resah dan bersedih, kita perlu menoleh pada semuanya itu. 

Pada suatu saat, saya coba mengunjungi salah seorang penceramah yang terkenal, aku menanyakan soal keadaan kita yang penuh kerinduan.

Dengan jawaban yang persis sama, penceramah itu berkata, “Perasaan-perasaan sedih dalam hidup pernah dialami semua orang. Tetapi ingatlah, semua itu hanya menguji kesanggupan kita, sejauh mana kita bertahan.

Saat-saat itu mengundang kita untuk kembali ke Galilea, tempat di mana kita pernah menoreh kebahagiaan, yang membuat kita nyaman dalam kehidupan kita, saat di mana kita merasa bebas, saat kita tidak merasa tertekan dan terbebani.

Kembalilah pada saat-saat itu, dan tertawa gembiralah, sebab engkau telah menemukan dirimu kembali dalam kebahagiaan.” Memang benar, apa yang dikatakannya, bahwa kita mesti berbenah, kita mesti berkontemplasi dan menemukan diri kita. Tahukah kalian?

Bahwa semua itu ada pada kita yang dulu, pada kisah-kisah itu. Alasan-alasan itulah yang membuatku kembali pada saat-saat itu, meskipun harus kuakui semuanya tidak sesempurna seperti yang kita bayangkan.

Tetapi aku tertarik untuk merangkainya kembali hingga menjadi suatu garis yang menghantar kita menjadi manusia yang sekarang ini. Saya merasa bahwa semua ini indah untuk dikenang.

Kini, semua itu kembali hidup dalam pikiranku. Aku kembali terobsesi oleh kisah kita yang dulu. Aku sempat bersedih bahkan sampai mengairi pipi ketika keadaan kita sekarang tak seperti yang kita ekspresikan ketika itu.

Aku juga sempat marah, ketika hal-hal yang menyakitkan itu muncul kembali dalam benakku. Pada saat ini, aku sempat berpikir, jika kita kembali pada kenangan itu, mungkin kita bisa membuatnya sesempurna mungkin.

Memperbaiki yang salah, menambahkan yang kurang, melengkapi yang rumpang dalam cerita kita. Namun, aku sedikit gila, karena mustahil kita bisa hidup kembali pada masa lalu yang kini hanya perlu untuk dikenang. Ha..ha..

Aku gila sendiri dengan semua ini. Tetapi aku cukup bersyukur, karena kita telah melukisnya secara bersama. Kini, aku cukup senyum tersipu ketika melihat jejak kita hingga menjadi kita yang sekarang.

Aku hanya berharap bahwa kita akan tetap seperti kemarin dalam harapan dan cita-cita kita karena inilah Galilea kita yang membuat kita nyaman meskipun sekarang kita pergi dan mencari jalan yang berbeda.

Tidak sekedar itu, yang lebih penting bagiku adalah bahwa  aku yang sekarang terbentuk dari kalian yang pernah menjadi bagian dari hidupku.

Aku sangat bangga dengan kalian karena tanpa kalian, aku mungkin tidak pernah ada dalam narasi hidup kalian, begitu juga sebaliknya.

Aku sangat berterima kasih kepada kalian karena aku yang sekarang menjadi tidak mungkin tanpa kalian, tanpa kita. 

Sekarang, meskipun kita pada jalan yang berbeda, tetapi percayalah bahwa kita masih bersama dalam rasa yang menyatukan kita.

Aku hanya berharap, semua ini tidak akan berhenti oleh karena apapun sebagaimana selayaknya kita jalani dulu. Lebih dari kebanggaan dan harapanku lagi, ketika suatu saat ada yang baru di antara kita.

Entah itu kesuksesan, karir, maupun orang baru yang hadir dalam hidup kita, dalam dunia persahabatan kita.

Semuanya itu akan menjawab kegelisahan dan kesepian kita yang sekarang. Melangkahlah dengan pasti untuk harapan itu dan temukan Galilea dalam hidup kita, hingga pada waktu kita pulang, kita akan menceritakan kembali semua tentang kita.

Garis waktu ini mengajarkan kita untuk merajut titik-titik dalam kehidupan kita hingga menjadi sebuah garis yang indah dan penuh kenangan.

(Ilustrasi dari artikel.harizpromosi.com)
×
Berita Terbaru Update