-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SEPENGGAL KISAH PHIANK DAN RENI

Jumat, 28 Desember 2018 | 22:19 WIB Last Updated 2019-12-05T10:25:32Z
SEPENGGAL KISAH PHIANK DAN RENI
Ilustrasi dari bali.tribunnews.com

Kapan kita akan memadu rasa dalam satu bendera kasih sayang. Aku mengetuk pintu sukma, tapi engkau masih saja menutupinya. Mengira cintamu akan ku gadai dengan begitu murah di atas harapan palsu.

Dia adalah Reni mahasiswi Universitas Pancasakti Makassar. Aku mengenalnya, ketika mengikuti bazzar salah satu Organisasi kampus yang saya ikuti.

Apalah daya, mata terlalu sengit memandang dan hati terlalu nakal memikat, hingga aku meminta no ponselnya, lewat seorang teman seperjuangan di Organisasi tersebut.

Waktu berlalu, seiring detak jarum jam yang begitu cepat, aku mencoba  mendekati dan mengenal dengannya lebih dekat.

Aku Phiank, kami tujuh bersaudara. Aku putera ke enam, dan terakhir si bungsu. Jujur, aku benar-benar mengaguminya.

Bukan hanya sekedar kagum dengan nya, bukan pula hanya pelarian agar tetap merasakan kehangatan cintanya. Aku memang benar-benar ingin nona menjadi kekasihku, aku benar-benar jatuh cintanya. Hatiku selalu memikat senyumnya dan terus memikirkannya.

Tidak seperti sahabatku yang lainnya, mereka sungguh merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Bukan berati aku tidak bahagia dihari wisudaku, hanya saja kebahagiaan terasa terpenggal, prihal ada rasa cinta yang seharusnya diketahui oleh kedua orang tua.

Rukoh atau rumah yang kami tempati bersama kakak dan istrinya, kini menjadi padat bersama keluarga yang lain, ditambah lagi bapak sama ibu, yang datang ke kota Makassar yang hanya demi mendampingi anaknya wisuda dan melihat anaknya bahagia.

Meskipun seisi rumah begitu ramai, aku seakan tidak bersemangat.
Phiank, apa yang sedang kamu pikirkan nak? Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, atas kesuksesanmu dalam meraih toga,"tanya ibu."

Bu...bikin kaget aja. Aku tidak memikirkan sesuatu, hanya saja perasaan ini masih menyita diriku,"kataku."

Ibu hanya menyimpulkannya dalam senyuman, dan kembali melangkah ke ruangan tengah bercanda dan melanjutkan cerita bersama keluarga yang lainnya.

Hingga di penghujung senja, seusai hujan reda tatkala malam mulai menggambar gulita, wajah nona ibarat hantu yang masih menggelantung di ujung takut.

Padahal, aku ingin sekali mengenalinya dengan kedua orang tuaku. Tapi apalah daya, itu hanya kemauanku sepihak.

Bagi nona mungkin terlalu pagi, untuk melangkah ke tahap pengenalan dengan orang tua, apalagi hubungan yang kami jalani belum memasuki kategori pacaran.

Aku akui, Reni adalah gadis yang elok, cantik nan ayu. Bukan saja kelebihan fisik yang ia miliki, tetapi budi pekerti dan sikapnya yang ramah, membuat mata hati para lelaki merasa jatuh begitu dalam.

Dekat dengannya aku merasa nyaman, dan tingkat percaya diriku naik drastis. Setiap kali aku mengajak dia jalan-jalan, tak ada kata penolakan yang ia ucapkan.

Hingga tiba pada suatu malam, aku bersamanya terjebak hujan di jalan Petarani Makassar. Karena kondisi hujan yang begitu deras, kami memilih untuk berteduh di emperan tokoh di samping jalan.

Untuk memecah kedinginan akibat rintik hujan, aku kembali menanyakan prihal tentang perasaan yang pernah saya ungkapkan kepadanya.

Ia pun, masih memandang ke jalanan, dengan mulut kaku, dan akhirnya memberikan jawaban; kita jalani saja dulu, apalagi aku belum menyelesaikan kuliahku.

Mendengar kata-kata itu yang dilontarkan, aku memilih untuk tidak membahasnya terlalu mendalam.

Setengah jam lamanya, kami berteduh, akhirnya hujan pun reda. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggalnya.

Setelah pulang mengantarnya, aku pun langsung kembali menuju ruko tempat tinggalku. Malam itu aku masih memikirkan tentang kedekatan kami; kedekatan aku dan Reni.

Aku bingung menyimpulkannya dalam perspektif percintaan. Sejauh ini kau dan aku, masih menyimpan kebingungan dan keraguan.

Aku ingin menjadikanmu ibu untuk para generasiku nanti. Aku ibarat sajak yang terkapar di matamu yang mengulum sekelumit rumit menuju sukmamu.

Mencintaimu saja, aku hampir koyah. Engkau barangkali seperti; kalkulus atau mungkin trigonometri. Menyita segala daya upaya. Memintal cintamu, aku nyaris payah.

Sukar dieja mata hati, kendati tanpa jeda. Setabah mimpiku, yang menyita segala pikir. Bila kelender waktu telah menghantarkanmu menuju titik sukses meraih toga, kupinta kau segeralah berlabu didermaga cintaku.

Oleh: Cris Jata
×
Berita Terbaru Update