-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SETELAH HUJAN REDA, MASIH SAJA, AKU TUA

Kamis, 13 Desember 2018 | 22:26 WIB Last Updated 2019-12-15T00:38:33Z
SETELAH HUJAN REDA, AKU TUA

AKU TUA 

Laju usia dipucuk senja
menerjang hidup tanpa gentar
mengais harapan penuh semangat
tanpa jeda melawan waktu

Meski...
Putih rambut dihinggapi uban
semangat juang tak pernah surut
memilih berkelana
meninggalkan kenangan
bagi mereka yang
masih pagi menjelaja

Syukur...
Meski keriput kulit digoreng mentari
problema silih berganti menghampiri
tabah hati tak jua sirna
demi mencari hidup lebih berarti

Namun...
Usia kini dipenghujung masa
api semangat masih membara
nyala membakar
menghanguskan para generasi untuk
memilih mati terbakar oleh api kemalasan
atau bangkit berlari melawan kemalangan

Makassar
Sabtu,19-10-2018

By: Cris Jata


MASIH SAJA 

Aku; adalah sajak yg terkapar di matamu dengan
mengulum sekelumit rumit di ujung pena menuju-Mu.

Malam semakin kejam
membuat rentan jarak jadi alasan
angin masih saja biadab
membisikan tentang memoar lusu

Dua pasang mata hanyut dalam kekalutan
Terkamuflase dengan riuh angin
Aku masih terbaring lemas;
jantung berdebar kencang
mulut gagu mengunyah kata

Aku baru sadar, ternyata belum ngopi sore.
Hingga akhirnya,secangkir "kopi hitam"
memecah kegelisahan yang bertengger dalam dada.

Chris Jata

SETELAH HUJAN REDA

Kau menghubungi aku
Hujan bulan November datang lagi
membasahi jiwa yang kering
menyirami hati yang gersang

Bunga-bunga di taman memekar riang
Katamu, itu ibarat cinta kita.
Meskipun sudah layu dan akan rapuh
Semuanya akan  kembali bermekar riang

Maaf Puan, ini hati.
Bukan Bunga!

Lantas kau gadai dengan murah kesetiaan itu
setelah semuanya menjadi lupa
kau datang dengan alasan rindu
Sebagai dalih untuk menebusnya.

Meskipun kau dan aku
Pernah menjadi kita,
Bukan berati rindu adalah milikku juga.

Biarlah semuanya berlalu
Ibarat kotoran dan sampah
Yang tak pernah membenci hujan
Yang dengan ganas menyeretkan mereka.

Jangan memikirkan aku,
Aku tanpamu itu biasa
semuanya telah beda
Ketika rindu kala itu tak lagi terdengar,
dan sayang tak lagi menyengat,

Aku memilih untuk menjadi candu kopi
Sebab kehangatan dan kenikmatan rasanya,
tak pernah membawa luka dan duka.
Aku takkan sedih apalagi kesepian
Karena secangkir kopi akan selalu hadir,
dan aku mencumbui dan melumat di setiap bibir cangkirnya,
dengan penuh kehangatan.

Dan jika rupa tak sempat temukan kita,
Maka kalender masa, akan
mempertemukan kita dipucuk senja.

Makassar,
Senin, 26 November 2018

By : Cris Jata
(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update