-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SUCI DAN TAK BERCACAT

Minggu, 09 Desember 2018 | 00:24 WIB Last Updated 2018-12-08T17:24:57Z
(Gambar dari google)

Bacaan-bacaan dan renungan Sabda Tuhan Hari Minggu Adven II, 9 Desember 2018

Tema renungan kita pada hari Minggu kedua masa Adven ini ialah: Suci Dan Tak Becacat. Ada dua orang bapak setengah baya berteman akrab. Orang-orang disekitar mereka menganggap bahwa mereka bersaudara, padahal tidak ada hubungan darah di antara mereka. Mereka sama-sama sebagai aktivis Gereja. Pernah mereka bersama-sama sebagai prodiakon. Waktu dan tenaga mereka untuk Tuhan dan sesama, dan mereka sangat dikaguni oleh sesama umat paroki.

Aspek kesucian dapat terlihat dalam diri mereka. Berdoa, pelayanan, beribadat, kesalehan, dan rutin menerima sakramen tobat, merupakan contoh-contoh praktek kesucian mereka. Banyak umat Kristen juga, jika ingin nampak suci mereka memperbanyak porsi doa, meningkatkan pelayanan, ambil bagian dalam tugas liturgi, atau menjadi panitia dalam suatu event. Ini sama saja dengan imam atau biarawan dan biarawati, dengan pola hidup mereka yang rutin dan ditambah busana mereka yang bersih, rapi dan seragam, tampak dari luar ialah sebuah kesucian. Jadi kesucian itu sebenarnya bisa dirancang dan disiasati. 

Tapi ternyata kedua bapak tadi memiliki satu perbedaan yang mencolok kalau masing-masingnya dilihat dengan teliti. Si A sering bertengkar dengan isterinya, dan penyebab utamanya ialah karena konon ia selingkuh dengan anak buahnya di kantor. Sedangkan si B sangat setia kepada perkawinan dan membangun keluarganya dengan sangat bertanggung jawab. Seorang teman mereka pernah memberikan sebuah rekfleksi begini: kedua sahabat itu memang kelihatan suci melalui praktek beragama dan beribadahnya. Si A memang suci, tetapi ia ber-cacat. Sedangkan si B adalah seorang yang suci dan tidak bercacat.

Surat rasul Paulus kepada jemaat di Filipi dalam bacaan kedua berisi doa Santo Paulus supaya di dalam masa Adven ini, kesempatan kita untuk menempah diri menjadi suci dan tidak bercacat tidak berlalu atau pergi begitu saja. Orang-orang Farisi dan para ahli taurat nampak suci dan saleh. Namun mereka adalah orang-orang yang bercacat dalam perbuatan-perbuatan mereka seperti kejahatan diskriminasi, pemerasan, korupsi dan asusila. Jika prakter beragama kita sebagai anggota Gereja hanya pada kesucian seperti demikian, kita akan dipandang hampa dan tidak berguna untuk sebuah masa Adven yang punuh rahmat ini.

Maka Yohanes Pembaptis yang menyerukan dengan suara lantang tentang lembah ditimbun, gunung-bukit diratakan, jalan berliku-liku di luruskan, sebenarnya yang dimaksudkannya ialah cacat cela manusia yang sudah memiliki iman dan selalu mengungkapkan imannya. Kitalah orang-orang yang dimaksudkan. Kitab nubuat Barukh menjamin bahwa jika diri kita masing-masing, keluarga, dan persekutuan kita tidak bercacat, kita pantas berhiaskan kemuliaan Allah untuk berbagi suka cita dan kebenaran Allah kepada dunia. Amin.

(SDB Indonesia)

×
Berita Terbaru Update