-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“SULAMAN RINDU” KARYA ACHMAD NASIHI MT: PSYCHOPOETRY/POETRY THERAPY DALAM NAUNGAN SUFI

Selasa, 18 Desember 2018 | 08:16 WIB Last Updated 2020-04-01T06:55:12Z
“SULAMAN RINDU” KARYA ACHMAD NASIHI MT:   PSYCHOPOETRY/POETRY THERAPY    DALAM NAUNGAN SUFI


Oleh: Agung Pranoto

[1] Mencermati puisi-puisi yang diciptakan oleh Achmad Nasihi MT, yang bertebaran di beberapa grup sastra maya, tampaknya ia termasuk pencipta puisi yang memiliki talenta bagus.

Artinya kurang-lebih 3 bulan saya mengenal Achnas dengan beberapa puisinya, menunjukkan progres yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Progres yang semakin membaik itu tidak semata-mata dilihat dari substansi muatan isi atau pesan yang disampaikan melalui puisi, melainkan kemampuan merajut diksi yang menuju pada arah ‘kekentalan’ (baca: pekat), semakin menyublim, dan aspek keindahan puisinya pun menjadi titik perhatian pula.

Rupanya, ia mau terus belajar, mau menerima koreksi atau saran/masukan baik dari para admin grup sastra maya maupun sesama member (anggota) grup.

Berdasarkan atas pertimbangan tersebut, tidak terlalu salah jika saya sebagai owner (penangung jawab) grup memberanikan diri secara khusus membuat kajian atas puisi-puisi yang ia ciptakan dan diwadahi dalam buku antologi tunggal ini. Seperti apakah puisi-puisi yang diciptakan penyair ini?

[2] Antologi puisi “Sulaman Rindu” (2017) merupakan kumpulan puisi Achmad Nasihi MT atau di sastra maya ia menggunakan nama Achnas J. Emte (selanjutnya dalam tulisan ini saya menyebutnya: Achnas).

Menikmati puisi-puisi Achnas dalam buku puisi tersebut, ada tiga hal yang menonjol, yang menjadi fokus tulisan ini, yakni: (1) psychopoetry atau poetry therapy [terapi melalui puisi]; (2) dimensi puisi sufistik-transendental; dan (3) literer teks puisi yang bernilai sastra.

Kajian terhadap ketiga persoalan tersebut, tidak dilakukan secara serampangan, melainkan berpijak dari kerangka teoretik yang terkait. Fokus 1, kajian dilandasi teori tentang psychopoetry atau poetry therapy.

Fokus 2, dilandasi oleh pemikiran tentang keberadaan sastra sufistik atau sastra transcendental sebagaimana telah dirintis oleh Jalaluddin Rumi dan pengikutnya.

Fokus 3, kajian berpijak pada teori-teori puisi, seperti teori struktural dan yang terkait, yang menempatkan puisi yang bernilai sastra dan bukan puisi sebagai produk budaya.

Oleh sebab itu, untuk fokus 3, tidak menggunakan teori-teori social seperti sosiologi sastra, maupun teori abad 20 seperti cultural studies (kajian budaya), dekontruksi, hegemoni, dan lain-lain. 

[3] Pada bagian ini, penataan urutan telaah/pembahasan, agar lebih runtut, dipilah menjadi 3 aspek.

Pemilahan itu sesuai dengan urutan yang terdapat pada bagian sebelumnya yakni fokus kajian. Ketiga aspek tersebut dengan urutan sebagai berikut (1) psychopoetry atau poetry therapy [terapi melalui puisi]; (2) dimensi puisi sufistik-transendental; dan (3) teks puisi yang bernilai sastra.

[3.1] "Sulaman Rindu” sebagai Psikopuisi (Psychopoetry) 
atau Terapi Puisi (Poetry Therapy)

Sejarah terapi melalui puisi dapat dipaparkan sebagai berikut. Pada tahun 1950-an Eli Greifer seorang penyair, ahli obat-obatan dan pengacara memulai sebuah kelompok terapi puisi di Creedmore State Hospital di New York.

Tahun 1959 di rumah sakit Cumberland, Brooklyn, dengan difasilitasi oleh Dr. Jack J. Leedy dan Dr Sam Spector. Dr Leedy menerbitkan buku pertamanya tentang terapi puisi, Poetry Therapy (1969), yang mencakup kumpulan esai dari banyak pelopor terapi puisi.

Arthur Lerner, Ph.D. di Los Angeles yang mendirikan Poetry Therapy Institute tahun 1970-an di Westcoast.

Tahun 1980, diadakan pertemuan untuk mengumpulkan orang-orang yang aktif di bidang ini yang bekerja di seluruh penjuru negara untuk menyusun panduan pelatihan dan sertifikasi terapi puisi serta mendirikan National Association for Poetry Therapy (Lathi H dkk., 2013).

Schloss (1976) menyatakan  bahwa “puisi atau sajak menjadi sarana untuk penyehatan jiwa”.

Senada dengan itu, Soebagio Sastrowardoyo, penyair dan budayawan, dalam sebuah kesempatan menyebut psychopoetry segolongan dengan terapi lain lewat seni, yang bisa dimanfaatkan para psikiater untuk penyembuhan jiwa (Intisari.Online, diakses 5 Agustus 2017).

Proses kreatif sebuah puisi adalah manifestasi penyair (pemuisi) dari kecemasan yang ada di pikiran bawah sadar.

Puisi, baik yang mengungkap tentang kehidupan sosial maupun transendental, pada hakikatnya merupakan cara yang ampuh untuk mengurangi kegelisahan.

Selain sebagai karya sastra, puisi juga memiliki nilai kuratif dalam bidang psikoterapi. Terapi ini lebih dikenal dengan psychopoetry atau poetry therapy (Ubudiyah, 2015).

Bolton (1999) menjelaskan bahwa puisi atau cerita adalah terapi untuk tubuh dan jiwa. Salah satu nilai kekuatan terapi puitik menulis puisi adalah membantu penulis menemukan tatanan pengalaman (order of experience).

Puisi memiliki efek menenangkan dan menenteramkan untuk orang yang sakit dan mengalami tekanan batin.

Baker & Mazza (2004:143) mendefinisikan terapi puisi adalah “the use of the language arts in theraupetic capacities”.

Lebih lanjut, mereka mengembangkan model terapi puisi menjadi tiga komponen. Pertama, komponen reseptif/perspektif, termasuk memperkenalkan karya sastra dalam klinis atau aktivitas kelompok.

Kedua, komponen ekspresif/kreatif, termasuk penggunaan tulisan oleh klien dalam klinis atau aktivitas kelompok.

Ketiga komponen simbolik/seremonial, termasuk penggunaan metafora, ritual, dan mendongeng dalam klinis atau aktivitas kelompok.

 Berdasarkan beberapa pendapat di atas, puisi dapat dijadikan sebagai terapi. Puisi dapat digunakan sebagai sarana penyembuhan manusia terhadap sakit yang dideritanya.

Apakah hal ini juga dirasakan oleh Achnas? Untuk itu, mari berenang pada kedalaman makna puisi Achnas yang berjudul “Syair Penawar Luka” yang teks utuhnya sebagai berikut.

SYAIR PENAWAR LUKA

Jika sakit adalah ujian
biarlah aku menjalani ujian yang terindah 
untuk menemukan syukur tumpah ruah

Jika sakit, wujud kasih sayangNya
betapa ingin kusulam rindu padaNya
dengan benang syair bening 
dzikir tak pernah kering

Kudekap syair-syair bernada
ia terbang membawa rasa
menuju bahasaNya
pelipur segala lara
obat segenap luka

Pada setiap puisi
kutandai kitab suci
rindu padaNya bertepi
sirna semua gundah hati

Bekasi, 23/07/17

Puisi di atas menyiratkan kesadaran si aku lirik tentang sakit yang diderita itu sebagai ujian hidup, sebagai suatu cara untuk menemukan rasa syukur.

Sakit dimaknai  Achnas sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya.  Menyadari akan hal ini maka si aku lirik semakin mendekatkan diri dengan Sang Khaliq.

Ada semacam kerinduan Achnas kepada Allah dan kedekatan itu merupakan cara dia melakukan katarsis.

Bagi Achnas, melalui bait 3 puisi di atas, menyiratkan pengakuan bahwa tidak ada obat yang paling mujarab, kecuali kedekatan kepada-Nya. Hanya dengan cara tersebut: “pelipur segala lara/obat segenap luka”.

Bait 4 puisi di atas, menandaskan bahwa puisi justru oleh Achnas sebagai media untuk menuangkan ekspresi tentang kerinduan kepada-Nya dan dengan cara tersebut “sirna semua gundah hati”.

Dalam “Hantaran Penulis”, Achnas membuat pengakuan sebagai berikut:
“Ketika aku membaca dan menghayati puisi-puisi yang menemani sakitku dalam dua tahun terakhir, aku tidak sekedar menemukan keindahan, tapi juga seolah sedang berwisata di lautan aksara yang sarat dengan butiran mutiara hikmah, penyembuh duka lara.

Maka aku pun mencoba untuk menulis sendiri syair-syairku yang berkelindan di antara rasa sakit, harapan dan doa-doa yang kupanjatkan.

Ketika dalam setiap syair kuberi tanda kitab suci, syair pun terbang membawaku menuju bahasaNya. Ia menjadi pengobat hati dan perlahan menjadi "syariat" diangkatNya penyakitku dan hilang bersama badai yang berlalu.

Sehingga aku hanya pantas untuk bersyukur dan menutup diri dari semua keluhan yang hanya akan melanggengkan keterpurukan dan menciderai keikhlasan.”

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dijelaskan bahwa puisi menjadi teman setia ketika selama dua tahun Achnas menderita sakit.

Puisi digunakan sebagai sarana penuangan rasa syukur kepada-Nya. Oleh sebab itu, puisi-puisi yang diciptakan Achnas selalu dibawa ke dalam bahasa-Nya.

Dengan cara seperti ini, disadari Achnas sebagai pengobat hati.

Puisi Achnas di atas menampakkan ekpresivitas yang tinggi. Ada semangat yang tinggi untuk sembuh dari sakit.

Dengan semangat yang menyala itu dan semangat tersebut dihubungkan dengan kedekatannya kepada Allah maka hidup menjadi lebih indah.

Kesadaran yang menarik dalam diri Achnas adalah menghapus semua yang berurusan dengan keluhan.

Bagi Achnas, keluhan itu akan semakin melanggengkan keterpurukan. Pernyataan ini sungguh luar biasa. Sebab, mayoritas manusia itu sulit untuk tidak mengeluh. 

Selanjutnya, kita nikmati puisi Achnas berjudul “Penikmat Luka”. Dari sisi judul tampaknya ada kejanggalan makna.

Tetapi hal yang aneh seorang Achnas justru senang sebagai ‘penikmat luka’. Penikmat luka yang seperti apakah? Mari kita menyelam secara mendalam melalui puisi berikut.

PENIKMAT LUKA

Luka itu tak mesti duka
kutandai setiap guratannya,
jalan-jalan cahaya
pintu-pintu kesadaran

Jika getir menghadirkan dzikir
jika kumat kualamatkan pada nikmat
jika rintih menjadi doa-doa lirih
aku semakin mengagumi luka,
pelahir mahakarya syukur
penghela kufur

Jika luka menggores
tak kutampik keluh
jiwa melepuh
tapi kepasrahan dalam deru ikhtiar
kerap melukis pesona luka
pertanda bahagia di baliknya

Saat tawakalku
mencumbui semua luka
kebahagiaan pun berereksi sempurna

Bekasi, 18/06/17

Bait 1 puisi di atas betapa indah dan luar biasanya Achnas dalam menyikapi ‘luka’. Kata ‘luka’ itu jika dihubungkan dengan puisi sebelumnya, dalam teori intertekstual memiliki hubungan yang jalin-menjalin.

‘Luka’ merupakan kata/diksi yang menggantikan rasa ‘sakit’. Bagi Achnas, ‘luka’ itu tidak dirasakan sebagai kesusahan, kepedihan, kesengsaraan, melainkan begitu indahnya ia memandang ‘luka’.

Bagi Achnas ‘luka’ bukanlah “duka” melainkan sebagai “jalan cahaya” menuju “pintu-pintu kesadaran”.

Bait 2, si aku lirik semakin mengagumi ‘luka’, sebab ‘luka’ sebagai “pelahir mahakarya syukur” dan “penghela kufur’. Bait 3, ‘pesona luka’ justru sebagai “pertanda bahagia di baliknya”.

Dan bait 4 begitu luar biasanya si aku lirik ketika “mencumbui semua luka” maka diraihnya suatu kebahagiaan dengan ungkapan “kebahagiaan pun berereksi sempurna”.

Puisi “Penikmat Luka” oleh Achnas selalu ditarik ke dalam bahasa-Nya. Dengan cara inilah maka puisi berhasil menyembuhkan ‘luka’ (sakit) Achnas.

Puisi mampu menjadi media penyaluran ekspresi yang akhirnya diperoleh semacam ketenangan psikologis dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di dunia yang barangkali tak sesuai dengan harapan.

Kehancuran dalam bidang bisnis yang digerakkan, bisa membuat manusia secara psikologis terguncang.

Namun jika peristiwa itu ditarik ke dalam bahasa-Nya niscaya akan diperoleh suatu kedamaian atau diperoleh obat yang mujarab untuk mengatasi derita; dan melalui puisi yang berdimensi sufi inilah Achnas memperoleh obat yang manjur. Dengan cara inilah puisi bertindak sebagai terapi.

Untuk melengkapi keutuhan pemahaman kita tentang puisi sebagai terapi, mari kita nikmati sajian Achnas melalui puisi berjudul “Jihad Puisi”.

JIHAD PUISI

Pada puisi
aku bisa mencuri kedamaian 
karena ia bisa membuat benih-benih kegaduhan sebagai janin kesunyian
riak ritmis ombak mampu menabuh kehampaan
menjadi suara-suara bernada lantang
aneh memang,
tapi itulah bahasa pada lubuk jiwanya menembusi ketidakmungkinan
pada puisi kutemukan langit hati
yang cenderung menancapkan tiang-tiang kebenaran

Betapapun badai kelabu kadang meruntuhkannya
dalam pertaruhan nafsu yang tak pernah usai
saat kurajuk ayat-ayatNya untuk menyetubuhi setiap bait,
puisi membentuk larik-larik munajat sebentuk sirath menuju arasyNya
menerpa kebekuan awan, agar menghujankan kebeningan rasa pada keruhnya dosa
menjadi cahaya, tidak hanya pada lorong kehidupan yang kelam
bahkan pada matahari yang bisa saja redup setiap saat

Hai kau, sudikah menjadi sahabat puisi yang akan meraga dalam kehidupan nyata? 
agar jemari aksaramu menyentuh lubuk kalbu untuk meriakkan yang terpendam di palungnya
menghidupkan asa yang sekarat di antara denyut-denyut syair yang kian bernyawa
meranum sebentuk bunga di singgasana yang dilapuki busuknya para durja
atau kau hanya mengalungkan batin puisi dalam kehambaan diammu pada Tuhan
tapi tetap menyalakan tungku-tungku kebijakbestarian

Bekasi, 13/06/17

Puisi berjudul “Jihad Puisi” tersebut menyiratkan ekspresi keriangan Achnas bahwa melalui puisi dapat ia temukan “kedamaian”, “kutemukan langit hati”, “lorong cahaya”, bisa “meriakkan yang terpendam di palungnya”.

Jadi pada hakikatnya manusia memerlukan tempat untuk mencurahkan isi hati agar tidak menjadikan rasa sakit.

Achnas telah berhasil menemukan cara berekspresi melalui puisi: puisi menjadi media curahan hati. Dengan cara itulah ia sembuh dari sakit yang diderita selama kurun waktu 2 tahun. 

[3.2] “Sulaman Rindu”: Dimensi Puisi Sufistik-Transendental

Mencermati puisi-puisi Achnas, ada pengalaman yang menarik yang perlu kita ungkap, yakni pengalaman sufistik-transenden yang tercermin dalam karyanya.

Sebagai aliran di dalam tradisi intelektual Islam, sastra sufistik menurut Amien Wangsitalaja (tt:1) dalam salah satu esainya “Kuntowijoyo Sastrawan Profetik” dapat disebut juga sebagai sastra transendental.

Karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transendental, seperti ekstase, kerinduan, dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman ini menurut Abdul Hadi WM (1999) berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis.

Menyoal sastra transendental, kita tidak bisa melupakan sastrawan Islam dari Persia, yakni Jalaluddin Rumi (1207-1273).

Salah satu karya Jalaluddin Rumi adalah Diwan-i Syams Tabriz yang berupa 33.000 bait puisi berbentuk lirik.

Puisi-puisi ini pada awalnya adalah lontaran spontan yang muncul dari mulut Jalaluddin Rumi ketika ia berada dalam situasi ekstase.

Lontaran-lontaran itu kemudian dicatat oleh para murid yang mengelilinginya. Puisi-puisi dalam Diwan-i Syams Tabriz ini berisi renungan-renungan ilahiyah dan persatuan mistikal.

Selanjutnya, Muhammad Iqbal (1873-1938) dari Pakistan merupakan sosok lain dari sastrawan transendental dalam tradisi sastra Islam.

Puisinya menampakkan kekentalan permenungan filsafat, ini tampak di antaranya dalam kumpulan puisinya yang berjudul Asrar-i Khudi.

Muhammad Iqbal juga adalah pengagum Jalaluddin Rumi dan menganggapnya sebagai guru spiritualnya (Wangsitalaja, tt: 1).

Dalam sastra Indonesia modern, sastra transendental dapat kita jumpai dalam karya-karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, Kuntowijoyo, K.H. Mustofa Bisri, Ehma Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Mustofa W. Hasyim, Mathori A. Elwa, Amien Wangsitalaja, Acep Zamzam Noor, Abidah el Khalieqy, Roval Alanov (Al. Rov), Sofyan RH Zaid, Ghout Misra, Husain Toib, Romy Sastra II, dan lain-lain.

Kali ini kita menjelajah jejak sufistik-transendental dalam buku puisi Sulaman Rindu karya Achnas. Teks puisi perlu ditafsirkan untuk memperjelas maknanya.

Interpretasi adalah penafsiran karya sastra, yang berisi penjelasan tentang makna bahasa sastra (puisi)  terutama pada kegelapan, ambiguitas, atau bahasa kiasnya.

Di bawah ini dapat kita cermati sisi transendental puisi-puisi Achnas. Kita awali dengan puisi berjudul “Mozaik Rindu” berikut.

MOZAIK RINDU

Berkaca padamu, Rabiah Adawiyah
Telanjang tanpa jubah
Menelisik ketulusan rindu
padaNya

Kau tepis
Rajukanmu pada syurga
Takutmu pada neraka
jadi bias berhala

Kau hanya rindu padaNya
agar wajahmu wajahNya
bertatapan cinta

Bekasi, 27/07/17

Memahami puisi tersebut, matrix atau kata kuncinya terletak pada baris pertama “Berkaca padamu, Rabiah Adawiyah”.

Mengapa baris puisi itu sebagai kunci utama dalam memahami puisi tersebut? Sebab di sini jelas, Achnas menyebut nama Rabiah Adawiyah.

Siapakah Rabiah Adawiyah? Apa yang dilakukan oleh sosok Rabiah Adawiyah? Rabiah Al-Adawiyah merupakan salah satu wanita, tokoh sufi, kelahiran Bashra. Nama lengkapnya Ummu al-Khair bin Isma’il Al-Adawiyah Al-Qisysyiyah.

Rabiah secara gamblang menunjukkan cinta keillahian. Ia telah memasuki laku pada tingkat makrifat, yang mampu melepaskan diri dari urusan kebendaan (urusan duniawi).

Rabiah hidup untuk menjauh dari kesenangan dunia dan kekayaan, serta lebih memilih jalan sufi untuk mendekatkan diri dengan Allah.

Aliran sufi yang dipilih Rabiah Adawiyah yakni ia menjadi pelopor tasawuf mahabbah: penyerahan diri total kepada “kekasih” (Allah).

Hakikat tasawufnya adalah habbul-ilah (mencintai Allah SWT). Ibadah yang ia lakukan adalah terdorong oleh rasa rindu (syauq) pada Tuhan untuk menyelami keindahan-Nya yang azali.

Cinta Rabiah kepada Allah merupakan cinta sipiritual (cinta qudus), bukan cinta al-hubb al-hawa (cinta nafsu).

Bercermin pada Rabiah Al-Adawiyah, Achnas secara terang membawa prinsip hidupnya kepada jalan sufi.

Puisi “Mozaik Rindu” itu menggelorakan cinta ketuhanan dan semangat profetik yang bermuara pada intensitas transendental. Kita nikmati puisi Achnas yang lain, yang berjudul “Memanggil Rindu Untuk-Nya”.

MEMANGGIL RINDU UNTUK-NYA

Sejak kehilangan rindu pada-Nya, 
asap-asap dunia telah mengaburkan ma'rifat
sajadah di ruang suci mulai berdebu 
merabunkan jiwa

Tuhan tampak berbayang di persimpangan,
harta
tahta
wanita
sosialita,
hingga bimbang arah kiblat yang dituju
bahkan butiran wudlu tak mampu membasuh hadats yang mengabu
gerak shalat tak lagi ritmis
serupa dewa mabuk yang pulas dalam satu detik, 
dan desah dzikir tak ubahnya kikrikan jangkrik
bersu ara tapi tertidur, serupa igau yang mencekik

Kemana lagi harus kupanggil rindu Pada-Nya, 
jika disiratNya sudah kujejalkan tuhan-tuhan kecil hingga ruas-ruanya tertutup rapat?
saatnya kudekap syariat setiap kutambatkan niat yang tersurat
kutepis kemegahan materi pada zuhud agar tak tersesat
kusudahi ketamakan pada luasnya qonaat

Kutiti kegamangan syubhat dalam wara' yang tepat
kujelajahi takdir dalam kesabaran kasab dan munajat
di mana kedamaian merindu-Nya 
utuh berlabuh tanpa sekat

catatan :
syariat : hukum, aturan
zuhud : menyepi dari urusan dunia
syubhat : belum jelas halal dan haramnya
Wara : mawas diri, hati-hati memilih
qonaat : merasa cukup

Bekasi, 19/07/17

Puisi tersebut merupakan bentuk kesadaran Achnas; yakni kesadaran perlu kembali merindukan Allah.

Melalui puisi tersebut, ia sadari bahwa harta, tahta, wanita, dan sosialita telah “mengaburkan ma’rifat”, “bimbang arah kiblat yang dituju”,  “gerak shalat tak lagi ritmis”, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, kesadaran akan rindu pada Allah yang membuat hati gundah menjadi lebih tenang dan lebih damai, maka urusan duniawi mulai ditinggalkan dan menuju: “kujelajahi takdir dalam kesabaran kasab dan munajat/di mana kedamaian merindu-Nya/utuh berlabuh tanpa sekat”.

Pengalaman dan penghayatan estetik dalam usaha mencapai Tuhan, termasuk yang diekpresikan dalam karya sastra, pada puncaknya berimplikasi pada intensitas religiusitas. Ekspresi religiusitas itu menyentuh dunia spiritual dan transendental.

Hal ini dapat dipahami jika dikaitkan dengan hadits, “Tuhan itu Mahaindah, dan Dia mencintai keindahan”.

Adapun pengalaman estetik bertalian dengan keindahan yang sifatnya spiritual dan supernatural yang pada klimaksnya akan mampu menghubungkan makhluk dengan Sang Khalik (Al-Ma’ruf, 1990:72).

Membaca puisi-puisi sufistik, seakan-akan kita menyenandungkan cinta kepada Tuhan dalam pesona transendental.

Pada gilirannya, cinta itu akan membawa pemahaman kepada hakikat kehidupan dan mengenal lebih dekat kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa kemanusiaan.

Pada Ilahi, penyair sufistik melabuhkan cintanya. Sebab, cinta kepada Tuhan bagi mereka terasa sebagai yang terdalam dan paling merasuk dari segala jenis perasaan (Al-Ma’ruf, 2012:106).
Selanjutnya, kita nikmati puisi Achnas yang berjudul “Khalwat”.

KHALWAT

Atas nama sepi
raga kudamparkan pada ritus-ritus sunyi
doa-doa lirih yang terhimpit pedih
tafakur yang menangisi kufur
tapi lamunan begitu gaduh memahat segala bayang
laku lampah yang tertinggal
maka kusemaikan butir-butir tasbih
di hamparan arasyMu
menuaikan bunga-bunga dalam rekah jiwa kesucian
meranumkan buah fikir pada ranting-ranting dzikir
hingga dapat kuhadirkan wujudMu
di antara pohon-pohon syukur

Atas nama sepi
kuseka buih-buih berhala
di samudra doa

Bekasi, 07/06/17

Puisi “Khalwat” di atas, lagi-lagi Achnas menyuarakan soal kemenghambaan kepada Allah. Kemenghambaan seperti ini terjadi manakala manusia sudah meletakkan urusan duniawi.

Pengejaran terhadap materi tak akan bermakna apa-apa jika manusia lupa akan kewajiban kepada-Nya. Kekayaan yang bersifat material di dunia sifatnya nisbi dan semuanya akan fana.

Selain itu mengejar soal material semacam itu akan membuat manusia menjadi pongah, lupa diri.

Oleh sebab itu, upaya kembalinya hamba merindukan Tuhan-Nya adalah suatu langkah positif yakni adanya manusia karena Allah dan kelak kembali pula kepada Allah.

Sebelum ajal menjemput maka kesadaran diri Achnas untuk memasuki tataran tasawuf guna mencapai dimensi makrifat merupakan arah yang tepat.

Puisi di atas mencerminkan liku-liku kerinduannya kepada Allah. Kerinduan perncarian itu  “hingga dapat kuhadirkan wujudMu/di antara pohon-pohon syukur”. 

[3.3] Menyibak Kualitas Literer Puisi dalam “Sulaman Rindu”

Mencermati sejumlah puisi yang terkumpul dalam Sulaman Rindu, dari sisi kualitas literer puisi ciptaan Achnas menampakkan kualitas penciptaan puisi yang layak kita perhitungkan.

Dia tidak terjerumus ke dalam penciptaan puisi yang asal-asalan meskipun didorong kuat untuk mengekspresikan apa yang menggejolak di palung hatinya.

Achnas mampu memoles puisi-puisinya ke dalam diksi yang pekat, sublime, dengan cara mengembalikan pada penulisan puisi ‘kembali ke akar, kembali ke sumber’ (pinjam istilah Abdul Hadi WM).

Allah sebagai pusat pencipta segala ilmu pengetahuan, dibahasakan ke dalam mayoritas puisi-puisi ciptaan Achnas.

Dari sisi teori structural, bahwa karya sastra (termasuk puisi) terbangun atas beberapa unsur, mulai dari tema, diksi, rima dan irama, citraan, gaya bahasa, tipografi, enjabemen, pesan, dan lain-lain.

Di dalam puisi Achnas, unsure-unsur tersebut terbangun secara baik sehingga larik-larik yang dibangun mampu membentuk korespondensi yang apik dalam setiap puisi yang ia tuliskan.

Jadi antara deep structure dengan surface structure puisi memiliki keterjalinan yang saling mendukung. Berikut ini dikutipkan secara utuh salah satu puisi Achnas.

DUA BAIT AIR MATA

Kuharap air matamu 
mengalirkan doa-doa mustajab
menjadi samudra 
yang melabuhkan perahuku 
di dermaga impian

Air matamu menjadi tinta
atas semua risalah cinta yang tertulis
meski setiap koma meliukkan jalan
di luar hayalan
tapi penaku menemukan titikmu
di rekah senyum kepastian

Bekasi, 19/07/17

Puisi “Dua Bait Air Mata” merupakan puisi yang prismatic. Baris-baris puisinya begitu kental (padat kata), dan menghadirkan makna-makna yang dalam serta menghadirkan berbagai kemungkinan penafsiran.

Diksi yang digunakan untuk merajut baris/larik puisi pun ia hadirkan diksi yang merenda makna konotatif meski dikombinasi dengan diksi yang denotative.

Namun secara utuh, korespondensi terciptanya puisi tersebut terjalin dengan baik dan indah.

[4] De mikianlah sekilas tentang antologi Sulaman Rindu karya Achnas. Semoga tulisan pengantar ini bisa membantu membukakan cakrawala pandang para pembaca ketika akan menikmati puisi-puisi Achnas.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa tulisan ini bukanlah suatu argument yang harus diikuti secara penuh dalam penafsiran teks puisi. Sebab, puisi pada hakikatnya multitafsir.

Secara keseluruhan, puisi-puisi Achnas memang berdimensikan sebagai puisi religius yang dibawa ke dalam ranah sufi. Hal ini seiring dengan kedalaman ke-Islaman yang selama ini ditekuni Achnas.

SUMBER RUJUKAN

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 1990. “Dialog Religius dalam Sajak ‘Nyala Cintamu’ Karya Anshari (Persia) dan Sajak ‘Anak Laut, Anak Angin’ karya Abdul Hadi WM” dalam Rethoric, Nomor 1 Tahun 1990.
Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2012. “Dimensi Sufistik dalam Stilistika Puisi ‘Tuhan, Kita Begitu Dekat’ Karya Abdul Hadi WM”. Dalam TSAQAFA, Jurnal Kajian Seni Budaya Islam, Volume 1 Nomor 1, Juni 2012.

Bolton, G & Latham, J. 2004.”Every Poem Breaks A Silence That Had to Be Overcome: The Therapeutic Role of Poetry Writing”. Dalam Bolton, G. Howlett, S., Lago, C & Wright, J.K. (ed.). 2004. Writing Cures, An Introductory Handbook of Writing in Conseling and Psychoterapy. New York: Brunner—Routledge.

Hadi WM, Abdul. 1999. Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik. Jakarta: Pustaka Firdaus

Intisari.Online. http://intisari.grid.id/Wellness/Psychology/ Psychopoetry-Terapi-Lewat-Puisi. Diakses 5 Agustus 2017.

Kathleen Connolly Baker dan Nicholas Mazza, “The Healing Power of Writing: Applying the Expressive/Creative Component of Poetry Therapy”, dimuat di Journal of Poetry Therapy, Vol. 17, Nomor 3, 2004, hal. 143.

Lathi H, Rinata. 2013. Poetry Therapy. Makalah tidak diterbitkan. Semarang: Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro.

Nasihi MT, Achmat. 2017. Sulaman Rindu. Jakarta:….

Schloss, Gilbert. 1976. Psychopoetry: A New Approach to Self-Awareness Through Poetry Therapy. Publisher: Grosset & Dunlap.

Ubudiyah, Farikhatul. 2015. Terapi Puisi. http://diaryfarikha.blogspot.co.id/2015/ 06/terapi-puisi.html. Diakses 8 Juni 2015.

Wangsitalaja, Amien. tt. “Kuntowijoyo Sastrawan Profetik”.

Ilustrasi diambil dari akun twitternya Tj. Cahyowib
×
Berita Terbaru Update