-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TINJAUAN KRITIS ATAS PUISI AGUNG PRANOTO

Minggu, 09 Desember 2018 | 12:02 WIB Last Updated 2018-12-09T05:04:18Z


Oleh: Roval Alanov

Ada gelisah menuai kata, memercikkan segelas wacana dalam meja kehidupan. Pemilihan diksinya cukup kental dengan aromatik bahasa tubuh dan persenggamahan angin dan musim-musim, kesan mbling menutupi kepiawaiannya dalam memainkan kata, sungguh menarik puisi-puisinya untuk kita nikmati

Mari kita cermati dua puisinya yang penuh adonan diksi cemerlang, walau nampak kesan spontanitasnya akan tetapi sangat harmoni dianya memainkan kata.

SECANGKIR KOPI

Hentikan sejenak kesibukanmu, Tu(h)an!
Secangkir kopi yang kuseduh mengaroma:
segala riuh-menggemuruh di separuh dadaku yang kukuh

[1]
Pinjami aku mentari
Tanah airmata nestapa dan gulita

Terlalu banyak yang nista
Terpeleset kidung nestapa

[2]
Bimbinglah aku ke jalan-Mu
Resah negeri telah mengerang
Keluhuran budi menggersang
Tikus-tikus terendus
Menggerogoti tumpukan kardus

[3]
Masih layakkah aku memberi suluh?
Pelajaran-Mu telah kusemai di ladang tandus
Hanya menghasilkan tikus-tikus
Penuh trik dan apus-apus
Malu aku! Malu aku!

Surabaya, 30 Juli 2017

USAI SUBUH

Karya: Agung Pranoto

Seperti pagi ini,
mentari masih memulihkan tenaga sengalnya
persetubuhan semalam
dengan berjuta-juta kekasih
memancarkan lelah pelari maraton

Mungkin ia bangun kesiangan
menunggu awan hitam
yang menggantung di ranting bintang terusir angin buritan
sementara semesta seperti ketelanjangan tubuh
memerlukan bara penghangat ruh

Dan DIA pengatur semesta
tempat bersimpuh
mengerti segala keluh
di usai subuh

Surabaya, 29 Juli 2017

Di puisi SECANGKIR KOPI

Hentikan sejenak kebisuanmu, Tu(h)an!

Dalam bait ini sebagai permulaan, sangat terasa tekanannya akan pemberitahuan pada dirinya juga boleh pada umum, bahwa kita ini ada keterbatasan sebagai manusia biasa hingga dia mengatakan Tu(h)an! Tanda kurung mewakili boleh Tuan dan Tuhan, mengandung makna bias supaya kesan halus dalam  satirnya samar siapa yang ditujunya. Tapi sangat bagus polesannya, membuat pembaca pun meraba-raba apa itu?

Dan bait-bait berikutnya hanya merupakan penegasan dari gairahnya dalam mengajak kita sadar akan satu ketidakadilan menuju nasehat yang baik, mengarah pada pencerahan prilaku yang kita namakan moral

Di puisi USAI SUBUH

Seperti pagi ini,
mentari masih memulihkan
tenaga sengalnya
persetubuhan semalam
dengan berjuta-juta kekasih
memancarkan lelah pelari
maraton

Bait ini terkesan mbling walau akhirnya nampak kesamaran, membuat pembacapun hanya bisa merabaraba, inilah salah satu bukti kepiawaiannya dalam meramu diksi, selalu membuat pembaca bertanya-tanya, ada apa ya?

Kesan metaforenya kental, bukan kental kentalnya kopi susu, tapi aroma metafornya kuat

Dan bait berikutnya hanyalah penegasan tentang Tuhan yang harus dipertuhankan, dalam segala persoalan, di hidup dan kehidupannya

Salam sastra

×
Berita Terbaru Update