-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TUGU TUA, HANG TUAH, ANTOLOGI PUISI ALVIN SHUL VATRICK

Minggu, 09 Desember 2018 | 14:47 WIB Last Updated 2019-12-13T00:34:57Z
TUGU TUA, HANG TUAH, ANTOLOGI PUISI ALVIN SHUL VATRICK


Oleh: Alvin Shul Vatrick

TUGU TUA

Pada sebuah tugu tua di kotaku
terpampang semboyan leluhur tana luwu
“tebbakke tongeng nge” 
tak akan tumbang sebuah kebenaran! 

Namun, sayang seribu sayang
semboyan itu kini tergerus peradaban
kebenaran telah tumbang oleh ambisi takhta
gelinding roda zaman melindas nurani 
seteru dan sengketa kekuasaan
kecamuk di tanah kita

Ke mana hilangnya kesejatian wija to luwu
apakah disembunyikan di dalam laci meja tuan
atau terlipat bersama saputangan di saku baju safari itu?

Satu per satu pemimpin silih berganti
satu per satu tetes air mata negeri berjatuhan
semboyan itu hanya penghias tugu tua
semata terbaca tanpa perenungan
dan mungkin suatu saat nanti
tugu itu rebah tak berarti
bersama hilangnya kejayaan tana luwu
karena ulah anak cucu sendiri

Luwu, 1 Oktober 2018

HANG TUAH

Dalam legenda tersebut kisah
seorang pemberani gagah perkasa
pembela kebenaran di tanah Malaka 

Alkisah di pulau bintan tanah melayu
masa kuasa sang maniaka putra sang sapurba
yang bermahligai di bukit Siguntang
lahirlah seorang anak bernama hang tuah
kelak menjadi lelaki gagah perkasa

beranjak remaja hang tuah berlayar 
bersama empat lelaki sahabatnya
mereka menaklukkan lautan
menumpas gerombolan lanun
tak gentar bertaruh dengan maut
darah ksatria mengalir di tubuhnya

Tersiarlah kabar di istana sang raja
tentang keberanian lima lelaki tangguh
yang begitu lihai dalam bertarung
digjaya di hadapan musuh

Dipanggilnya hang tuah dan sahabatnya
atas perintah baginda raja syah alam
jadilah mereka pengawal raja

Konon di suatu ketika
sang raja hendak meminang dara jelita
putri semata wayang sri betara majapahit
raja diraja tanah jawa
namun pinangan tak hendak begitu saja
sebuah ujian yang mesti dilalui
pertarungan maut hidup mati
antara dua pendekar sakti
hang tuah utusan melaka
taming sari si tuan rumah

Berpuluh jurus keduanya tangguh
ujung keris meliuk mengincar tubuh
keringat mengucur deras pada dua raga
mempertaruhkan nyawa dan muruah
pada akhirnya tumbanglah taming sari
dengan dada terhunjam keris sendiri
roboh bermandikan darah di tanah lahir

Hang tuah kian tersohor ke penjuru negeri
oleh sang raja digelarnya laksamana
keris taming sari digenggaman
pahlawan sejati negeri melaka
ulung di laut sakti di darat

Kebaikan selalu dimusuhi keburukan
hang tuah tertimpa fitnah zina
penyebab murka sang raja 
jatuhlah hukuman mati

Akan tetapi …
kebaikan tak hilang begitu saja
pembesar istana suruh sembunyi di tanah asing
bukanlah maksud menipu sang raja
bersebab hutang budi dibawa mati
orang melayu pantang lupa diri
taming sari pun pindah tangan
hang tuah dianggap telah tiada
di hulu negeri ia berkhalwat
mengelus dada yang tak bersalah

Bijaklah petuah leluhur dahulu
“karena takhta, kawan jadi lawan”

Selepas hang tuah di pengasingan 
hang jedah diangkat sebagai laksamana
meneruskan tugas menjaga negeri malaka
namun, perangai tak seelok yang digantinya
takabur dan sombong mabuk kekuasaan
kesewenangan menimpa rakyat jelata
ketakutan mencekam ke sudut desa
sesal kemudian apalah guna
sang raja murung negerinya kacau
untung pembesar istana tak tinggal diam
dipanggilnya hang tuah dari hulu tanah malaka
demi mengembalikan ketenteraman 
dua sahabat pun menjadi musuh
dengan jurus pamungkas menghentak bumi
kepalan tangan mengutuk amarah
satu dua jurus mereka imbang
hang jedah serupa penari
taming sari dihunusnya
pada hentakan berikutnya, hang tuah geram
keris purung sari tak kalah pamor
debu-debu beterbangan pada setiap pijakan
daun-daun digugurkan dua kelebat angin
pada sebuah kesempatan hang jedah lengah
ujung runcing purung sari menukik jatuh
dari sebuah terjangan tepat arah 
menganga lubang kucurkan darah
tumbang rebah tubuh durjana
merah luka di dada hang jebat
mati sebagai pengkhianat
taming sari tergeletak di daun kering
bersimbah percik darahnya
sorak sorai penjuru istana
pertanda kemenangan hang tuah
mengembalikan kesahajaan negerinya
bergelar laksamana yang tak tertandingkan
pahlawan teladan dari tanah melayu

Luwu, 16 Oktober 2018

LEMBATA TANA LUWU

Meski jauh di rantau asing
terkenang selalu negeriku
tanah luwu bumi sawerigading
tanah pijakan sang batara guru

Indah permai padi menguning
berbatas pematang berliku-liku
bila kilau pagi menyingsing 
anak petani girang berseru
meniup puput bermain suling
di atas lekuk punggung lembu
selepas siang beradu gasing
berteduh rindang pohon jambu

Jelang senja awan beriring
kutatap hijau punggung latimojong
awan-awan berpendar di lembahnya
bening air sungai mengalir tenang
membasahi akar-akar pohon cengkeh
tanah nan subur petani pun makmur
lembata tana luwu tanah kelahiranku

Siapa ‘kan ingat di timur sana
tersebut negeri tua bertuah
dari singgasana langit tertinggi
bersemayam raja datu patoto’e
mengutus anaknya ke bumi
batara guru mendaratkan kereta kencana 
di atas aliran tenang sungai ussu
membawa peradaban bagi manusia
yang tengah dilanda kekacauan
bagai kuasa hukum rimba

Dari palung terdalam lautan 
tersiar pula kabar penguasa bawah air 
bergelar guru ri selleng di peretiwi 
mengutus dara jelita, putrinya
we nyili timo bertakhta di atas buih putih
adalah istri sang batara guru

Lahirlah putra penguasa tana luwu
setelah dewasa dalam berbagai hal
batara lattu menggantikan ayahnya
meneruskan peradaban dan adat istiadat
dipersuntingnya we datu sengngeng 
dara tercantik jelita di tompotikka 
ibunya setara bulan bernama we padauleng
ayahnya ksatria bergelar la urumpassi 

Sepasang anak kembar emas lahir 
dari rahim we datu sengngeng
putra-putri batara lattu
sawerigading dengan saudara kembar
we tenriabeng yang begitu mirip ibunya

Sejarah dalam lontar mencatat
tentang kesaktian sawerigading
yang disegani pada dua alam
menjadi legenda tana luwu
takkan kulupa cerita moyangku
kisah peradaban leluhurku dulu
menjunjung tinggi kehormatan
berani mati dalam kebenaran

Itu dulu, ratusan tahun nan silam
tak lagi seperti yang terjadi kini
telah lahir manusia fakir malu
kepala yang terlupa jejak kaki
hanya tahu kenyangkan perut sendiri
tak peduli mengorbankan siapa saja
asalkan nama besar tegak berdiri 
menancapkan tonggak keangkuhan

Kami rindu
tana luwu yang dahulu
tenteram damai, makmur sejahtera
petinggi negeri yang jujur berbudi pekerti
apakah itu masih mungkin?

Luwu, 1 November 2018

AKU MUAK, IBU

Ibu, bening embun yang jatuh dari ujung ranting 
tak pernah menyesali nasibnya!
lalu, mengapa harus kusesali air mata 
yang jatuh dari ujung matamu? 
karena engkau ibuku juga ibu mereka, ibu pertiwi!
ibu dari negeri yang dulu rukun dan damai
sebelum rakyat hilang percaya
kepada bapak yang gemar onani
memuaskan nafsu sendiri

Kemudian sejarah mulai mencatat
tentang negeri yang menghormati penyamun
tentang negeri yang bersahabat penjajah
tentang negeri penuh kutuk tak bermakna
petani makan nasi bukan dari padi hasil sawahnya
karena sawah digerogoti koloni tikus-tikus rakus
piawai mengubah wujud menjadi kucing jinak
pandai menjulur lidah jilati tubuh sendiri

Ibu, kutahu betapa nelangsanya engkau!
serigala tak lagi di dalam hutan belantara
mereka lebih senang di kota-kota
dalam gedung yang begitu mewah
dan hanya tahu makan, tidur, mencuri!
selebihnya … mereka bermain-main
mempermainkan saudaranya yang bernasib sial
sebab tak mau menjadi serigala seperti mereka

Serigala itu ada yang menjadi badut
menjadi boneka, ada juga menjadi aktor
tapi, serigala tetap serigala walau berbulu domba
apalagi jika menjelang purnama
yang terbit setiap lima tahun sekali
serigala-serigala itu sembunyikan taring dan cakar
lalu pura-pura menjadi lembu yang bego dan baik hati
agar banyak kawan katanya! 
setelah purnama berlalu, mereka mendadak pikun

Aku muak, ibu! 
negeri ini seperti pewayangan
serigala adalah dalangnya

Ceritanya hanya dongeng melulu
wayang dimainkan lalu disimpan dalam peti

Aku muak, ibu!
negeri ini seperti tak bertuhan
agama pun dipermainkan 
mesjid dan gereja dibenturkan hingga keduanya hancur
lagi-lagi serigala muncul seolah penyelamat

Aku muak, ibu! 
negeri ini seperti tanah jajahan
rakyat ditindas kuasa serupa tirani
pengangguran semakin bertambah
sebab lapangan kerja hanya untuk orang asing

Akankah hilang kebesaran namamu, ibu?
ditelan keserakahan mereka
yang lahir dari rahim putihmu!

Luwu, 13 Oktober 2018

TANAH LUKA

Di bawah terang bulan utuh wajah 
jejeran padi kuning emas menghiasi sawah
ikan-ikan berenang di bening sungai tanpa limbah
rimba raya menghijau dari gunung hingga ke lembah 
di atas batu tua bulan kian redup dan malam kian rebah
pepohonan tak menduga prahara angin gundah
daun kekeringan seiring gugurnya akidah 
lahirlah tunas-tunas yang bedebah

Hingga kini akal-akal bulus bertamu di otak para kepala
tak peduli kepada tanah air yang menanggung luka
Toba, Lombok, dirundung bencana dan derita
tapi rintihan mereka tak sampai ke istana
tambang-tambang di sana semakin bising
ladang gambut sebelas ribu tenaga kerja asing
sementara anak negeri menelan keringat bau pesing
tuan-tuan di negeri amplop sama sekali tak ambil pusing 

Rakyat kelaparan mempertanyakan nasib bumi persada
dijawab dengan penarikan subsidi di mana-mana
terjual sudah satu per satu aset milik negara
hutang kian membengkak tak terkira

Kemerdekaan tumbang sebelum mencapai gapura
daendels-daendels beranak pinak berganti-ganti rupa
mengeruk harta dari perut ibu pertiwi yang tak berdaya
Indonesia kini tanah luka
siapa ‘kan peduli selain kita? 
mereka yang duduk di kursi sana?
mereka tak tahu bagaimana rasa derita
hanya pandai menyanyikan lagu dusta
mata, telinga, dan hatinya telah buta
terhalang oleh kuasa juga harta
mendengkur di balik istana

Di remang cahaya bulan pecah
tangisku pilu dalam dada yang buncah
menatap tanah air pusaka kembali terjajah
menyaksikan bangsa kita cerai berai terpecah belah
Pancasila menjadi pajangan di kantor sang bedebah
undang-undang dasar diobrak-abrik cari celah
untuk kepentingan kaum kotor lidah
mereka yang bermartabat rendah
oh, tanah tempat lahir beta
tempat penyamun berebut takhta
kepada siapa kami hendak percaya? 

Tanah Luwu, 27 Agustus 2018

Alvin Shul Vatrick, lahir 18 Oktober 1977 di Keppe, Luwu, Sulawesi Selatan.  Sementara berproses mengenali diri untuk mengalami keberadaan-Nya yang luput dari upaya pencarian-Nya.

Penulis aktif berkarya serta mengikuti kegiatan-kegiatan sastra dan budaya. Ketua Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia wilayah Sulawesi, Koordinator FAM Cabang Luwu.

(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update