-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Air Laut di Merak Surut hingga 7 Meter, Hoaks

Rabu, 26 Desember 2018 | 09:43 WIB Last Updated 2019-12-01T16:55:59Z
Air Laut di Merak Surut hingga 7 Meter, Hoaks


Video berdurasi 46 detik yang memperlihatkan pasang surut air laut hingga 7 meter, bertuliskan, "Merak Siaga 1 Laut Surut" dan membuat warga kepanikan itu hoaks.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Edy Sumardi Priadinata membantah informasi tersebut karena sudah ditanyakan langsung oleh Kapolres Cilegon AKBP Rizky Agung Prakoso.

"Saya sudah tanya Pak Kapolres (Cilegon) itu hoaks," ujar Edy kepada Merdeka, Selasa (25/12/2018).

Menurut dia, ombak tinggi yang terjadi di Merak diduga karena cuaca yang saat ini tidak bersahabat.

"Anginkan belakangan ini kencang, jadi ombak juga agak kencang," kata Edy.

Mantan Wakapolresta Pekanbaru ini berharap agar warga lebih waspada usai tsunami pada Sabtu 22 Desember malam. Dia juga meminta agar warga jangan sembarangan menyebar informasi yang meresahkan, seperti video soal Merak tersebut.

"Saya berharap kepada masyarakat jangan sembarang menyebar informasi yang belum pasti kebenarannya, yang nantinya membuat warga panik," pungkasnya.

Sebuah rumah terlihat antara puing-puing bangunan setelah tsunami menerjang kawasan Anyer, Banten, Minggu (23/12). Tsunami menerjang pantai di Selat Sunda, khususnya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan, dan Serang.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan tsunami di Selat Sunda tak lazim. Oleh karena itu, air surut tak lagi menjadi penanda utama.

"Penyebab tsunami kemarin tidak tunggal. Ada beberapa faktor yang memicunya. Peristiwa ini sangat tidak lazim. Tsunami Sabtu lalu tidak disebabkan karena gempa tektonik, sehingga bukan air surut penandanya," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Jakarta, Selasa (25/12/2018).

Menurut dia, penyebab tsunami lalu adalah longsornya tebing Gunung Anak Krakatau karena tremor akibat aktifitas vulkanik. Longsor ini diperparah dengan curah hujan yang tinggi pada daerah tersebut.

"Itu kan dinding digempur terus menerus ya oleh tremor. Lalu cuaca di sana memang sedang tidak bagus. Saya cek memang cuaca sedang buruk. Semuanya tidak mendukung lah," ujar Dwikorita tentang tsunami Selat Sunda.

Sumber: www.liputan6.com
×
Berita Terbaru Update