-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Antologi Puisi Edi Kuswantono

Senin, 21 Januari 2019 | 22:16 WIB Last Updated 2019-12-12T20:24:08Z


Oleh: Edi Kuswantono

BOCAH PESISIR

Bocah kala itu bernyanyi riang
Seperti geriap tarian riak gelombang 
Di atas hamparan pasir buih menjelang
Berlari-lari riang selayang pandang

Ketika mentari bersujud rindu 
Merah tembaga membias sendu
Di atas ufuk warnamu berpadu
Bersembunyi saat malam terbang berlalu
Antara kepak harapan dan sayap kenangan lalu

Pahit getir bocah didera di atas gelombang samudera
Menggigil terselimuti angin meronda
Gemuruh jantung hati bocah selalu bergema 
Bagai debur ombak menerjang karang asa

Tujuan hidup bocah di lipatan gelap dan terang 
Jauh jeram penuh tipu daya menghadang
Kadang-kadang isarat riak menggeriap terang
Tanda tak dalam sebelum hidup dalam membentang

Kini roh bocak pesisir tumbuh tak mengenal duka
Sebab bibit nestapa menjulur jauh di sana
Nafas bocah hidup di bawah langit berawan ceria
Lalu, jiwanya bergayut di bibir pantai selamanya
Dan sukmanya selalu berpagut di dalam samudera 
Engkau adalah bocah pesisir !?

BUDI PEKERTI LUHUR

Sayang...!, jika punya kemampuan tidak bisa memberikan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain, dan sayang mencapai kesuksesan dengan cara tidak terhormat dan tidak etis, senantiasa menebarkan kebohongan dan rasa kebencian ..! 

Kita ini bukan anjing binatang percobaan dalam mempelajari semua persoakan bangsa. Telah lama leluhur kita dan  para wali Allah meninggalkan ajaran kepada kita untuk berbudi luhur, sebab Agama memerintahkan untuk selalu berbuat kebaikan kepada siapapun, bahkan kepada lawan atau musuh sekalipun.

Sedangkan tugas kita adalah tidak berbuat kebohongan dan menebarkan kebencian, dan Agama manapun telah melarang umatnya untuk berbuat kejahatan terhadap sesamanya.

Bagi seorang muslim dan mengakui keislaman tentu tindakannya penuh dengan kerendahhatian, sebab hal itu merupakan "saka guru" dalam menjiwai keislaman.

Dan kita semua ada keterbatasan untuk menjadi insan sempurna. Betapa malunya diri kita ini bila masih membela sesuatu yang jelas  tidak ada apa-apanya.

Memang tidak bisa dipungkiri, atas kehadiran ilmu teknologi modern yang memiliki tujuan alternatif kebijaksanaan secara praktis dapat mencapai tujuan.

Tetapi kenyataan ilmu tersebut berjelma menjadi penjajah bagi karakter generasi, sampai saat ini nyata tidak bisa menjawab tantangan membentuk suatu karakter generasi dalam suasana "damai sejahtera" bagi kita semua, sehingga kecemerlangannya justru memendam dan kontradiksi terhadap nilai-nilai luhur kebijaksanaan itu sendiri.

Potongan ilustrasi keadaan bangsa saat ini begitu memprihatinkan, metode yang dipakai belum menunjukkan tradisi kebudayaan bangsa kita, mungkin butuh waktu singkat untuk membuat bukti lengkap kepada generasi, setelah melihat murat maritnya keadaan karakter bangsa ini. Keadaan ini akibat ulah ambisi pribadi terhadap kekuasaan, keangkuhan, keserakahan, oleh kaum inteletual yang merasa bangga menimba ilmu pengetahuan bersumber dari budaya mata asing. Mungkin bisa jadi pula demi menutupi mata memandang atas kakek moyangnya yang biadab.

Kita tidak bisa lagi dikelabui oleh hal-hal busuk seperti ini, kerendahhatian seorang muslim sejati harus kembali kepada kitab suci dasar petunjuk hidup dan kehidupan, bahwa Al-quran merupakan sumber inspirasi semua ilmu, sebagaimana budi pekerti luhur pernah dibudayakan oleh leluhur kita. Kenapa kita tidak kembali kesana ...?

Kita semua berharap generasi menerus atau anak-anak kita dapat melanjutkan cita-cita mulia para leluhur kita. tetapi jangan menyesal dan jangan salahkan bila pada masanya nanti mereka dewasa, meminta hasil dari apa yang kita tanam saat ini, karena gambaran nyata kepribadian generasi dan anak-anak kita setelah dewasa nanti, hasilnya akan sama seperti apa yang kita tanam saat ini. Oleh karena itu, bagi mereka yang mempunyai generasi atau  anak, masih dalam kapasitas berpikir anak-anak, janganlah berlagak tahu segalanya, merasa suci dari lainnya, atau lebih benar dari lainnya.

Membangun "Keadilan sosial" bagi bangsa, bukan seperti gerakan membangun sebuah partai dengan memilih menghalalkan segala cara untuk berdirinya. Tetapi membangun kesejahteraan bangsa dilakukan dengan penuh rasa kecemerlangan akal pikir mulia, kerendahhatian, serta dengan prilaku luhur, itulah yang disebut "budi pekerti luhur", dan itulah manusia bermanfaat. Semoga generasi dan anak-anak kita kembali ke jalan yang benar agar bermanfaat.

BURUNG RANTAU

Ketika malam tiba sepi sarat pertikaian, rindu senantiasa menyingkap rasa keheningan, pada setiap gejolak jalan menuju kebenaran, dan cinta selalu hadir menyelinap dibalik kegelapan.

Burung-burung malam bersiul isarat melakukan perjalanan, kepak sayap membentang dilumuri cahaya kerinduan, ia berbisik tanpa suara "Aku adalah hakekat diri, semua dirangkum pada alam semesta, tidak ada sesuatupun selain Aku, meskipun terpecah dalam keadaan raga dan terbenam manakala berbicara jiwa".

Penglihatan burung malam itu terus menatap tajam, dan pendengarannya melenyapkan gemerisik dedaunan dan suara ranting kering patah, menyatu dalam sunyi senyap, lalu terbang tinggalkan kerapuhan batang hidup, dan kehidupan itu sekejap telah sampai pada ujung kegelapan. 

Kemudian di sana berkata "Aku lahir pada setiap zaman, ketika kebenaran terancam masa, keadaan tak kunjung putus asa, teruslah melakukan kewajiban, melucuti ikatan yang membelenggu keadaan diri". 

Aku adalah kebatilan itu juga, keangkuhan dan kesombongan.
Tetapi jangan takut, aku hadir  memberi perlindungan dan kebenaran akan tegak berwibawa. tetaplah teguh dalam perlindungan-Ku untuk semua hak, angkatlah senjatamu menumpas si angkara murka, sebagai rasa mengabdi kepada kebenaran, menjunjung rasa kemanusiaan, menyongsong keadilan sosial bagi sesamanya.

Engkau adalah burung rantau, terbang keangkasa menembus kepekatan malam, pergi nan jauh menuju jalan kembali ketempat asal mulanya, keberadaannya ada sejak dulu hingga kini, berada dalam lingkaran keabadian, bakal lahir seperti harum aroma putik bunga kusuma bangsa. 

ANAK PANAH ZAMAN

Lahirnya anak panah zaman
Sejak orde lama berjalan
Dalam belaian menutup keadaan
Akhirnya terlepas tanpa tujuan

Sampai kini tidak pernah menggali akar bangsa
Sejarawan hanya menggali akar benalu semata
Generasi berkaca pada cermin lain bangsa 
Budi luhur warisan leluhur bernasib merana

Kini sejarah menjadi super samar
Anak panah zaman kabur tanpa busur
Baik buruk melesat bercampur baur
Pembetontak dan penghianat terus menjulur

Ketika sang jelata duduk di puncak negeri
Banyak harimau tersengat mentari
Rakyat lainnya merasa terpanggang hari
Seperti ikan lemuru terbelalak tak mengerti

Sengkuni menyatu menggiring penghianat
Hidup lepas tanpa punya rasa hormat
Anak cucu diajari cara lidah bersilat 
Nyatanya telah biadab prilaku bangsat

Aku melihat dirimu tidak punya niat apa-apa
Hanya bibir tersenyum pasi oleh karena dirimu buta
Baik buruk tidak bisa membedakan warna
Agama kesatuan pun hilang dari kesadarannya

Kita ini ummat paling muliya tercipta
Rasul terakhir mempunyai ahklak muliya
Sungguh dinanti prilaku muliya bagi pewarisnya 
Bukan hanya mengaku ahli dan wakil semata


×
Berita Terbaru Update