-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANTOLOGI PUISI "KOPI" ALA JACK EFENDI

Sabtu, 26 Januari 2019 | 11:59 WIB Last Updated 2019-12-12T12:03:47Z
ANTOLOGI PUISI "KOPI" ALA JACK EFENDI


RITUAL KOPI

Ini senja yang sudah ke tiga ratus enam puluh lima hari
Di tahun yang memeluk kabisat dalam cuaca gelisah
Gamang menukik ke dalam cangkir gelas
Serbuk kopi beraroma luka mendulang kenang
Ada yang tertinggal di endapan gelas
Ampas kopi yang rela melepuh tersiram panas air

Ritual kopi ketika senja semakin tunduk di horison
Gurih robusta mengajariku untuk memilih dan memilah 
sebelum lindap di album kenang

Gurih kopi mengayak butir gula
Memburu manis mengimbangi pahit

Aduhai...
Ritual kopi sebelum senja menjumput sandikala
Seperti mengabarkan tentang sepotong hati
yang pernah tertinggal di perempatan

Olala
Jika saja segelas kopi ini adalah tembok ratapan
Aku cecapkan bibirku di tepi untuk melarungkan nelangsa
Pikiranku kian alum tersundul kepul asap
Sedang kopi masih gagu dalam bisu 
menggendingkan langgam kasmaran
Di dasar gelas masih ada seteguk kopi
Meski pekat dan pahit menjamasi lidah yang anfal menyebut nama

Seumpama endapan kopi lincah menakar lara
Ia menjadi param yang membalur ragaluka

Atau aku yang terlalu terburu buru mereguk pekat kopi
Panasnya mengejutkan ruh yang terbebat lembaran kenang

Meski terhidu aroma gurih yang mengudar
Serupa wangi rambutmu yang berwarna sangrai kopi
Di mana ujungnya adalah ribuan mata pena yang menulis aksara

Ritual kopi di tunggang gunung
Pada musim yang telah sai antara kemarau dan hujan
Setiap sruputnya adalah cerita tentang bibirmu
Dan juga bibirku yang tak pernah bertemu di ujung gelas yang sama

Gresik, 121016

SAKSI KOPI

Seumpama gelisah jiwa yang kian magma
Mampu kusangrai bersama biji kopi
Ia akan menjadi rajah yang menenangkan atma

Biji kopi menamatkan kesaksian yang kian matang
Wangi yang menebar pada tiap tiap irisan waktu
Semakin lentur mengawinkan serbuk gula

Di dasar gelas ia rela mengendap
Pekat hitam mengucap saksi
"Tak ada yang lebih pekat tanpa aroma air mata, 
selain serbuk kopi yang piawai menyaksikan sejarah"

O,
Kepul asap menguar harum kopi
Sepasang bibir yang masih terpoles gagu
Mencoba mencecap kekentalan kopi yang menjadi saksi

Banyak cerita yang semestinya kudengar
Dari irama seduhan bubuk kopi yang menawarkan candu
Kafeinnya semakin teguh menyimpan air mata

Tak ada yang istimewa 
Selain menjamasi lidah dengan ritual hitam kopi
Sebab hanya kopi yang menjadi saksi
Tentang rasa pahit serupa rindu

Centong, 081016

KOPI HITAM

Aroma kopi membawa harum keringat petani
Menjadi tanda bagiku yang berkelana dalam gamang jiwa
Jalan yang berkelok, melindap dalam riuh berita
Sedang kopi kian tegar menguar wangi

Seorang berjalan terarsir gerimis air mata
Meneduhkan ringkih tubuhnya di bawah pohon kopi yang berbuah

"Ini adalah harapan keluargaku ketika panen tiba, 
kaulah biji biji yang teduh mengucap dzikir getir petani"

Ketika malam purnama
Kudapati lelaki setengah baya
Mengheningkan cipta di beranda

Di atas meja tersaji cangkir kaleng berisi kopi
Dan kudapan sederhana sebagai tambul
Senandungnya merekahkan bunga kopi di ladangnya

Dingin singgah di badannya yang makin legam
Sedikit batuk menjadi irama yang ritmis
Di sela obrolan melawan berita

Secangkir kopi tekun menyimak
Tentang percakapan cuaca yang angkuh 

"Musim panen ini, semoga harga kopi segurih rasanya"

Bisik lelaki tua sembari mencecap cangkir yang setia menampung resah

Dlanggu, 21 Oktober 2016

MALAM SEMANIS KOPI

Sayang...
Hujan baru saja menjilat tanah cengkar
Setelah rimbun gelap menghimpun gigil dingin
Kusesap gurih kopi yang kian kental

Adakah kau malam ini menimang rindu untukku?
Ataukah aku semakin tergilas oleh gamang yang tumbuh di kalbumu

Sayang...
Malam ini aroma kopi telah mengudar di ruang sunyi
Pahitnya mengingatkan kesalahanku masa lalu
Yang enggan mencumbu ranum bibirmu ketika kita masih saling butuh
Dan manisnya telah menenggelamkan atma
Pada kenangan silam yang tetap utuh dan sederhana

Biarlah syahdu malam terus mengalun
Serupa tembang balada yang pernah kita nyanyikan di pinggir perempatan

Di dasar gelas yang tinggal ampas
Kutemukan pesan yang sama seperti sajak
"Terkadang Tuhan hanya mempertemukan,
namun tidak mempersatukan. Dan jodoh kita,
belum tentu adalah orang yang kita cintai. Atau
yang kita cintai, belum tentu jodoh kita"

Mojokerto, 12 Januari 2019 

PEREMPUAN PERACIK KOPI
:Sarah Serena, SH.,MH

Masih saja lentik jemarimu lincah menyeduh bubuk kopi
Setelah ribuan gelas kau kawinkan dengan kristal gula
Dan jutaan lidah terjamasi oleh gurih kopi
Kau takhenti memutar sendokmu
Serupa merapal puter giling

"Ini adalah ritual pagi yang sakral untuk perjamuan pada lelakiku yang bermata puisi"

Ada kerendahan hati yang mengayun saat kau purnakan adukan kopimu
Setelah gelas yang siap menampung panas serupa cemburu
Kau kembali membisu dengan tatapan yang tergugu

Di beranda rumahmu yang pernah aku tinggalkan jejak
Kuhidu aroma kopi yang kian jalang
Semestinya racikan kopi yang kau suguhkan
Kucecap dengan seremoni kudus sebagai jamasan

Lalu kutangkap gairah kopi yang perlahan
Menuju kedalaman kalbu yang tak bisa dijinakkan

Mojokerto, 10 Januari 2019 

TENTANG PENULIS

Jack Efendi, (Ponadi Efendi Santoso) lahir di Mojokerto 11 Februari 1982. Beberapa puisinya pernah dimuat di antologi “Ponari for President” Antologi Gempa Padang G-30 S.

Antologi “Sihir Betis Ken Dedes” BMK Bandung. Antologi Negeri Sembilan Matahari. Antologi Puisi BMK Bandung Berkaca pada Waktu. Antologi Indonesia Titik 13, Pengantin Langit" (2014), Jaket Kuning Sukirnanto" (2014), Antologi Puisi “Jejak Tak Berpasar”(2015), 175 Penyari dari Negeri Poci 6 “Negeri Laut”(2015).

Selain menulis puisi, juga menulis cerpen yang pernah dimuat di Buletin “Jejak” Bekasi, Tabloid Serapo Balikpapan.

Dan Antologi Sembilan cerpenis Mojokerto “Tentang Kami Para Penghuni Sorter”, Radar Bekasi, www.kabarBekasi.com www.tintahijau.com  Antologi Puisi LESBUMI Kab. Tegal, www.bekasiinfo.com. Serta Tabloid Media Patriot Bekasi. Antologi 17 Penyair Kepada Bekasi 2013. Antologi Puisi “Aksara Amerta 2018”.

Sekarang aktif sebagai Pendidik di SMK PESANTREN TERPADU DLANGGU – Mojokerto. Tinggal di Dsn. Jatiombo RT.04 RW.04 Ds. Centong Kec. Gondang – Kab. Mojokerto. Nomor HP : 085670843196 – 081248205176

(Gambar dari google)
×
Berita Terbaru Update