-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETIKA PONDIK MATI SURI

Sabtu, 05 Januari 2019 | 18:10 WIB Last Updated 2019-12-05T08:02:27Z
KETIKA PONDIK MATI SURI


Oleh: Marsel Natar

Hari mulai malam. Orang-orang yang seharian berkebun, kini duduk manis dalam rumahnya masing-masing. Cahaya lampu dan kepulan asap rokok terlihat jelas dari celah bilik rumah.

Ibu - ibu dan putri mereka hiruk pikuk menjalankan tugas di dapur. Itulah sekilas kisah yang terjadi di kampung itu bila anda melintasinya kala malam sejenak melepaskan petang. 

Di ujung kampung itu, anda akan melihat sebuah rumah berwarna hijau. Rumah itu milik keluarga Pondik.

Pondik sendiri adalah sosok yang paling disegani masyarakat kampung oleh karena kecerdasan dan kehebatannya dalam mengatasi semua jenis persoalan yang terjadi. 

Di tangan Pondik, semua persoalan akan terjawab, bahkan dikupas tuntas hingga ke akar-akarnya. Akibat kecerdasan dan kehebatannya itu, ada banyak kaum ibu dan gadis-gadis ingin berada di sampingnya sekedar mencurahkan apa yang menjadi pergolakan hati mereka.

Apa yang terjadi nampaknya tercium oleh istrinya sehingga menimbulkan kecurigaan yang berujung pertikaian. Berkali-kali Pondik menjelaskan kepadanya tentang kejadian yang sebenarnya, namun sang istri tetap membantah dan menuduhnya serong. 

Suatu pagi, Pondik kesal dan naik pitam terhadap sikap curiga dari istrinya, lalu menegurnya dengan keras.

Lantaran merasa dilecehkan sang suami, istrinya pun diam-diam menggendong anak semata wayang mereka lalu pergi ke rumah saudaranya yang separuh jam jaraknya dari rumah mereka itu. 

Hari, minggu, bulan dan tahun kian berlalu sedangkan sang istri dan anak mereka tak kunjung pulang. Dalam waktu itu, Pondik pun ibarat hidup menduda.

Masak sendiri, makan sendiri, tidur sendiri bangun pun sendiri, semuanya serba dilalui sendiri. 

Sampailah pada suatu kesempatan, kepala Pondik yang berkelana lama dalam kesunyian, tiba-tiba diilhami inspirasi yang luar biasa.

Ia berinspirasi tentang bagaimana kalau dirinya pura-pura meninggal, apakah yang akan terjadi? Inspirasi itu pun ia demonstrasikan dalam tindakan yang nyata.

Namun sebelumnya, ia mengajak beberapa pemuda untuk ambil bagian dalam dramanya itu. 

Beberapa jam kemudian, pemuda-pemuda itu mulai menjalankan tugasnya masing-masing yaitu menyebarkan atau menyampaikan kabar duka cita ke segenap pelosok kampung.

Sementara jenazah Pondik terbaring kaku di muka rumahnya, berselimutkan kain kafan, beberapa potong pakaiannya menggunduk disampingnya.

Apa yang di lakukan pemuda-pemuda itu nampaknya berhasil dengan baik. Tidak pelak, telinga sang istri pun mendengarkan kabar duka cita itu.

Dengan sangat sedih yang mana tersirat dalam derai air mata tak terhingga tetesannya, sang istri pun berangkat melayat jenazah sang suami tercinta. 

Sesampainya di rumah duka, ia menangis sejadinya, suaranya bak gemuruh guntur di cakrawala. Di tengah ratapanya yang histeris itu, secara mengejutkan jenazah pondik bergerak seperti mau membalikkan badannya.

Sidang duka sejenak diam dalam ketakutan. Secara perlahan, jenazah itu membalikan badannya lalu berusaha untuk duduk. Melihat itu, sang istri menepiskan rasa sedih dan ketakutannya lalu membantu jenazah sang suami dengan pelukan mesra untuk duduk.

Tidak lama kemudian, Pondik angkat bicara. Bahwasanya, ia dapat hidup kembali justru karena Tuhan menaruh belas kasihan terhadap suara isak tangis dari mulut istrinya. Lalu, mereka kembali merajut bahtera rumah tangga mereka dengan cara pandang yang baru.

Ilustrasi dari http://palembang.tribunnews.com
×
Berita Terbaru Update