-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

POLITIK SANTUN; MEMFAKSINASI KEBOBROKAN POLITIK NKRI

Jumat, 04 Januari 2019 | 13:07 WIB Last Updated 2019-01-04T06:07:35Z

Oleh: Vinsensius Indra Servin
(Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo)

Pemilihan umum (pemilu) 2019 mendatang merupakan pemilu serentak pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia. Pemilu ini dilansungkan dalam waktu yang sama untuk memilih presiden dan wakil presiden, serta anggota DPD, DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/kota. Menjelang  pemilu berlansung, setiap elite politik (politisi) mempersiapkan segala sesuatu dalam mewujudkan impiannya untuk menduduki  kursi  kepemerintahan.  Tidaklah heran jikalau semua politisi mulai melakukan siasan untuk memenangkan pemilu ini dengan berbagai usaha. Dan yang paling gencar dilakukan saat ini adalah persaingan kedua kubu pilpres. 

Kedua kubu pilpres yang akan bertanding kini mulai merekrut  oknum tertentu untuk menjadi backing dalam mengakomodasi suara rakyat. Dengan menggunakan metode dan teknik masing-masing diharapkan untuk bermain lebih baik dalam mengarahkan suara rakyat. Menurut Iswara  (1974:57) bahwa metode dan taktik yang dilakukan harus mampu menjernihkan substansi, memisahkan khayalan dari kenyataan. Semakin tepat metode dan teknik itu dipergunakan, semakin dekat ilmu akan kebenaran. Atau dengan kata lain semakin tepat metode dan teknik dipergunakan maka semakin dekat pula keberhasilan yang diharapkan. 

Melalui pemikiran Iswara, penulis dapat mengakomulasi kritikal politik praktis yang sedang bergiring dan berputar di bumi Indonesia ini yang telah mereduksi nilai-nilai persaudaraan, kerukunan dan bahkan menghilangkan moralitas bangsa.  Metode dan taktik yang digunakan para politisi sepertinya sebagai sebuah euforia. Perasaan gembira yang berlebihan ini menimbulkan argumentasi yang bersifat anomali, bawasannya para politisi sudah mengalami selfcontrol yang kontra produktif. Sehingga public menilai bahwa sikap dan perbuatan para politisi tersebut sebagai penampakan kesombongan pribadi  atau upaya mengaktualisasikan diri (self actualization) yang  membuat orang lain tidak nyaman. 

Realita Politik di Indonesia

Praktek politik di Indonesia hingga saat ini masih belum mencapai kualitas politik santun. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya politisasi agama, politisasi sara dan praktik politik lainnya yang sifatnya menguburi sopan santun dan tata kerama dalam perpolitikan itu sendiri. Ditambah lagi praktek kampanye hitam yang mungumbarkan hoax, kebencian dan saling menjelekan yang dilandasi dengan statemen keliru yang dapat memecahkan persatuan dan kesatuaan Negara kesatuan rebublilk Indonesia. Misalnya,  kini lagi ashyknya gerakan ganti presiden, kemudian berpuncak pada hoaks mengaku digebukin dan diakhiri dengan munculnya politik sontoloyo. 

Semua peristiwa ini menjadi profil perpolitikan indonsia yang  tidak mengajarkan kebaikan dan cinta tanah air untuk memenangi persaingan dalam perpolitikan . Citra bangsa kini dinodai bukan oleh orang biasa dan bukan pula dalam kitaran konteks biasa tetapi  oleh para elite politik yang menentukan nasip bangsa indonesia. Hal ini mau menunjukan bahwa konsepsi praktis politik masih jauh dari tujuan politik itu sendiri. Maka berkaca pada problem ini muncul dalam benak penulis “Apa sih politik itu?”

Kata politik itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu politika dengan akar katanya (polites-warga Negara) dan (polis-Negara kota).  Maka secara etimologi kata politik berkaitan dengan kebijakan dalam suatu negara. Hal ini juga diinterprestasi oleh Franz magnis suseno yang mengatakan bahwa politik sebenarnya adalah suatu aktifitas manusia yang berorentasi kepada masyarakat secara keseluruan atau yang berorentasi kepada Negara. Atau dapat ditrasformulasi menjadi suatu system pengaktualisasian kebijakan suatu negara untuk mensejahterakan masyarakat dan negara itu sendiri. 

Kemudian  pengertian ini digabungkan menjadi satu defenisi dan membentuk hakekat politik yang dikenal dengan politik praktis. Maka secara umum politik boleh diartikan sebagai sebuah prilaku atau kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan segala macam kebijakan dalam tatanan negara agar dapat merealisasikan cita-cita dan tujuan bangsa, sehingga mampu membangun  negara sesuai aturan agar mencapai kesejahteraan bersama (bonum komune)

Tetapi jika penulis mengecap politik praktis yang sedang dilakoni, bahwa politik di negri ini masih bersifat paradoksal terhadap tujuan dan cita-cita luhur politik itu sendiri. para politisi pada umumnya telah menegasikan nilai moral yang tersirat dalam perpolitikan. Realita menunjukan bahwa menjelang pesta demokrasi, Indonesia kini dibanjiri dengan brita hoax, mengubarkan kebencian terhadap sesama paslon, dan masih mengunakan politisasi agama dalam menggebu suara rakyat. 

Masyarakat sudah muak dengan perhelatan politik basi yang menginstruksikan publik  mengalami  diare dan penyakit-penyakit lainnya. Kelumlahan ini tentunya menjadi kebingungan  public dalam memilih pemimpin yang berintegritas, cerdas dan punya orentasi masa depan. 

Politik Santun; Mengfaksinasi Kebobrokan Politik NKRI

Politik santun bukanlah hasil imajinasi (pikiran dan perasaan) yang  merupakan dasar manusia bertindak. Tetapi politik santun harus bersifat kontekstual yang mampu menjernihkan kode-kode pikiran ke dalam bahasa santun dengan cara yang santun pula. Budi bahasa  dan cara yang santun menjadi pratanda bahwa para elite politik punya kepribadian yang  rendah hati dan berjiwa santun.  Walaupun politik pada hakekatnya adalah suatu rangkaian cara untuk menuju arah pembangunan dan modernisasi suatu masyarakat dengan menempuh jalan yang berbeda antara satu elite politik dengan elite politik yang lain. Tetapi tidak boleh menghilangkan kesantunan dalam perpolitikkan itu sendiri.

Faktor politik santun dapat membentuk aspirasi, harapan, preferensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang ditimbul oleh perubahan sosial politik. Sehingga pada gilirannya politik santun dapat membawa Negara ini menuju Indonesia baru, dengan beberapa refrensi. Pertama setiap politisi atau elite politik harus menanamkan suatu kesadaran bahwa politik yang sedang diperjuangkan bukan semata politik kekuasaan, melainkan suatu panggilan Allah demi mensejahterakan masyarakat luas, dialetika antara partai-partai dan politikus serta masyarakat yang kritis. 

Kedua, politik santun perlu melekat dalam diri setiap politisi, sehingga dapat menjauhi sikap dan perbuatan yang dapat merugikan bangsa Indonesia. Sebab hal ini menjadi Kegaduhan politik di Indonesia menjelang pesta demokrasi saat ini. Kegaduhan ini tidak jarang memberi rasa jengah karena seringkali para pihak yang berkepentingan menebar kebencian terhadap paslon oposisinya, sehingga menimbulkan kebencian, amarah dan fitnah terhadap paslon oposisi. 

Ketiga, setiap paslon harus mampu menjaga moralitas bangsa dengan menunjukan sikap jujur, sportifitas, berjiwa besar dan siap melayani dalam permainan politik. Sebab seyogianya nilai kesantunan dalam perpolitikan itu sudah mengalami kebablasan. Karena para paslon tidak lagi melihat momentum ini sebagai jembatan untuk mensejaterakan masyarakat tetapi melihat  kesempatan ini sebagai ajang untuk mencari perhatian publik. 

Oleh karena itu, tidak sala jika beberapa waktu yang lalu presiden Joko Widodo mengharapkan agar pesta demokrasi ini menjadi momentum untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas dengan meninggalkan ujaran kebencian, hoax bahkan fitnah di media sosial (kompas, 5/11/2018, hal 5).Sehingga kontentestasi politik diharapkan tidak sampai mengingkari  metode dan teknik politik santun tetapi menjunjung tinggi kerukunan, persaudaraan dan persatuan bangsa.

×
Berita Terbaru Update