-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Angin Memimpin, Sepotong Lilin Malam, Hujan Kekacauan, Rembulan Legam, Wanita Dalam Kaca

Jumat, 11 Januari 2019 | 22:30 WIB Last Updated 2019-12-12T20:50:22Z
Bertumpuk mati  di antara kehidupan-kehidupan  tak sudah mencakar-cakar langit  jibaku mengeruk-ngeruk bumi  keruhkan lautan-lautan  tumpahkan arak keserakahan  di pesta padam lampu penerangan    Bertumpuk hidup  di antara kematian-kematian  yang bertengger di gedung-gedung  bergelantungan di pasar kekuasaan  di antara bangkai-bangkai berjalan  merobek-robek kitab suci  membakar ideologi  dengan kursi tanpa kaki


ANGIN MEMIMPIN

Bertumpuk mati
di antara kehidupan-kehidupan
tak sudah mencakar-cakar langit
jibaku mengeruk-ngeruk bumi
keruhkan lautan-lautan
tumpahkan arak keserakahan
di pesta padam lampu penerangan

Bertumpuk hidup
di antara kematian-kematian
yang bertengger di gedung-gedung
bergelantungan di pasar kekuasaan
di antara bangkai-bangkai berjalan
merobek-robek kitab suci
membakar ideologi
dengan kursi tanpa kaki

Aku ada pada hidup mati
berdiri padamkan api
tetapi tak jua hilang
kecuali jibun orang-orang
memakan arang

Lantas inikah disebut zaman abu
ketika angin memimpin peradaban
dan badai entah kapan usai

SEPOTONG LILIN MALAM

Kuketuk jauh pintu subuh
tanganku begitu rapuh
merangkak menghitung silam
gulita di atas ranjang
jiwa sungguh lepuh

Jelang malam karam
aku nyalakan kerlip
pada sepotong tubuhku
sebagai habis lilin

Apa nanti daya pagi
ketika jiwa dan badan
lelehan kehilangan

Kecuali catatan kesaksian:
hiduplah pada nyala cahaya
yang tak batas waktu
gantungkanlah harapan
pada abadi sandaran

Hingga datang menjadi tiang
pulang tinggalkan kegunaan
dua batang kayu nisan

HUJAN KEKACAUAN

Ke mana mengalir air hujan
ketika hutan bukan penyimpanan
dan sawah tak lagi penampungan

Kecuali tanah air genang banjir
tenggelam hulu sampai hilir
gigilkan daya berpikir

Semestinya hujan kucuran kehidupan
bukan badai jerit tangis kekacauan
menghantam bilik-bilik kemiskinan

Begitu heran negeri ini
hujan saja gagal diakrabi
terlebih kemarau biasa membakari

Lantas apa yang dibangun
ketika banjir dan bakar kian unggun
tangan serakah semakin berjibun

REMBULAN LEGAM

Rembulan terbakar
di kamar-kamar berbintang
sedang matahari mengkangkangi
menjadi tubuh lelaki yang telah mati

Rembulan cahaya pantulan
untuknya menghirup edar kehidupan
bukan sebagai tungku memberi api
yang kemudian lukai sendiri
legam menjadi arang
lalu berserakan debu
basahnya berubah lumpur
tenggelamkan jiwanya

Biar rembulan berjalan
dan tertidur pada orbitnya
jangan paksa keadaannya
melenceng dari garisnya
hanya karena keindahannya dipuja
kemudian menjualbelikan temaram
di atas ranjang transaksi
umpan permainan mesin industri
yang jibaku di tengah kegelapan
menuju perayaan kehancuran

Kembalilah rembulan kekasihku
pada orbit kediamanmu
dengan teguh dan tangguh
karena keindahanmu sedang
dipermalukan oleh penghuni bumi
yang tengah menikmati gegar peradaban

WANITA DALAM KACA

Rumah kaca tak lagi hangat
seperti lazim di empat musim
namun kini panas mesum
di sengat syahwat wanita paksa
gemulai di balik kaca-kaca

Mereka berjejer di diskotik
hilir mudik di kamar-kamar gudget
sembunyi di balik iklan televisi
di pentas ratu cerdas dan cantik
harga diri cuma puluh dan ratus juta
kerja bukan sebagai cita-cita

Rumah itu kediaman budak nafsu
lelaki yang berkhianat pada wudhu
tak sadar telah beranak cucu
kencing di sembarang lubang
uang entah telah matikan hati
akal sehat tak lagi berfungsi
aids dan sepilis diakrabi
membeli tanda cepat mati

Mereka bukan orang tak mengerti
berdasi memimpin cerobong industri
tersiar kabar ada di antaranya politisi
pemimpin gagah sebuah birokrasi
oknum, ya benar-benar oknum
ranum di gelap sarang penyamun

Di sana sini gencar mengutukmu
karena mereka tak bisa mampu
cukup kalian saja diberitakan
kegilaan telah diwakili
di tong sampah globalisasi
menjadi cibir dan caci maki

TOPENG SEREMONI

Kau datang berjingkrak-jingkrak
dengan sebelah hati
kadang merangkak-rangkak
dengan sakit pikiran
sesekali terbungkuk-bungkuk
dengan badan telanjang

"Bentangkan aku", pintamu
sambil mengunyah angin
memperlihatkan dada bidang
tulang daging paling nafsu
bertuliskan kalimat rayuan
dengan tinta-tinta usang

Tak ada mata kerinduan menatapmu
kecuali pandang-pandang pertanyaan
hendak apa lagi tampang-tampang
terpampang berloncatan
membagi-bagi pamflet pertengkaran
melubang dalam ketidakpercayaan

Kemudian naik di atas mimbar khutbah
selonjorkan kaki di meja-meja ceramah
mengepal-ngepal tangan di tengah lapang
meneteskan gatal getah
kerumunan menggaruk resah
berhadap-hadapan saling mencakar
pakaian-pakaian berjatuhan

Sepulang, bahkan hilang
sosok berjingkrak-jingkrak itu
aku menyaksikan deretan
meraung-raung kesakitan
pada perih lalu dan luka baru
menjadi lagu pilu anarki
di panggung demokrasi
penuh topeng seremoni


×
Berita Terbaru Update