-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUISI-PUISI TERBAIK KARYA YO HERIE SUYIDNA

Jumat, 18 Januari 2019 | 12:41 WIB Last Updated 2019-12-12T20:46:15Z


JIKA TUHAN MAU MEMAINKAN SEDIKIT NAFAS-NYA 

Kemahaan Sang Tuhan
Disaksikan dari kekerdilan anak manusia
Bumi tempat berpijak hanya sebesar kelereng, mainan
Mengapung melayang layang di ruang hampa, berserakan
Tidak sepadan untuk diadu pandang dalam logika bertelanjang

Dipungut-Nya sang bumi dengan kelembutan tangan Tuhan
Diletakkan di telapak kiri lengkap segenap manusia penghuninya
Kelereng bumi tetap menggangsing di sedia kala
Bermanja pada poros penuh keanggunan

Dalam keteduhan sorot mata Sang Tuhan
Tergores senyum ketimpangan
Prilaku nista mengguncang Arasy'
Sama seperti saat bumi dihuni umat Sang Nabi Nuh

Masa itu, masa penyimpangan beranarkis
Ditenggelamkan bumi pertiwi
Disucikan dari seluruh umat yang berlaku murtad
Yang lupa akan jati diri sebagai manusia berbudi mengabdi
Musnahlah sudah

Kini, irama berperi kebinatangan hadir dalam kemunafikan
Muncul sebagai umat seteru-Nya Allah
Manusia berulah mencobai Sang Allah
Berjalan menurut hati nurani berkiblat bumi
Sebagai bekasaan jauh menyimpang jalan Tuhan
Mati rasa
Buta etika
Dan tuli akan dongeng keluhuran budi
Tuhan juga akan berlaku sama
Dengan sedikit memainkan nafas-Nya saja
Memberi teguran sebagai tanda murka

Tuhan pun mengela nafas
Terhembus melunta menimpa bumi bertegur sapa
Bumipun berputar makin mengencang tanpa haluan
Sempoyongan tertatih tatih jadi ringkih
Wajahnyapun meretak debu berhamburan banjir bandang
Perutnya mules semburkan lahar berpijar meluluh lantakan
Sendi sendi bumi lepas dari mangkuknya
Bergeser malang melintang meregang sebagai gempa gempa mengaura
Daging tanahpun terguncang dan melongsor ikrarkan bencana
Nafas Tuhan meniup bertalu talu berputar melingkar berbatara kala
Menjelma pedut tancapkan taring berputing beliung
Menimpa wajah samudra gelombang pasang menggunung menyapu bibir pantai
Tanah lapang tanpa gedung  katanya menyimpan aman sebagai pilihan
Letuh oleh hujan lebat petir menjilat, berhalilintar

Mau lari kemana wahai insan yang hilang iman
Semua terserah padamu
Kembali di jalan Tuhan
Atau meniti langkah bejatmu meramu
Karena Tuhan masih menyimpan nafas Dahzat-Nya

Trenggalek, 18  Januari 2018

HASRAT GUBAHANKU

Aku tahu cara diam-mu
Di balik punggungmu
Rasaku yang kueja
Belumlah semua kau cerna

Di sini
Di balik awan biruku
Ada surga yang belum kau intip
Dan aku, harus mengandung rindu
Tentu pada dirimu
Agar tahu caraku
Bagaimana membuat bahtera hakiki

Tetapi,
Apa dayaku dari kuasamu itu
Tanganku,
Tidak cukup panjang, rengkuhmu
Kaki kakiku sendiri
Meragu aku langkahkan
Walau belum sampai merapuh
Oleh karena sikap bisu, diam-mu
Yang semua nya mendahului
Cemerlang bintang eja caraku

Demi perangah jiwamu itu
Yang menjedakan kisah sebuah hasrat
Caraku harus ku-ubah
Hingga simpul simpul matimu, terusik
Menghadapi diammu
Dan, Nantikan gubahanku

Untukmu Kasih jedaku

Dariku Kekasih usangmu

Indonesia, 16 April 2016

JEMPARING SANG AGUNG

Dalam menelusuri rona hidup
Baik di dalam langkah kanan,
Langah kiri ataupun di tempat
Di tegaknya gemulai hidup di bumi
Sungguh mengeringkan tulang
Melingsutkn belulang, mengeriput
Dagingpun mulai tinggalkan rangka
Betapa terseoknya Sang Anak Manusia
Menggapai bitiran butiran darah
Demi tetap hidup
Walau hidup yang paling sederhanapun
Dan itu di rasakan oleh semua

Dalam menyikapi beratnya beban
Dan panasnya sang matahari
Apa lagi di kemarau kerontang
Bahkan di hujan berpetir halilintar
Maka perlu mengendapkan logika
Meletakkan rasa di relung terdalam
Merajut ratap
Berdialog dengan jiwa
Menyapa salam Sang Agung
Sudah benarkah langkah ini
Sesuai nota dinas Sang Agung
Maka Sang Agung pasti
Memberi isyarat melaluhi bahasa roh
Dalam Jemparing Sang Agung

Jemparing Sang Agung
Berwijud bahasa roh
Karena Sang Agung bersifat Roh
Melalui isyarat makluk di semesta alam ini
Tergantung peka jiwamu dalam menangkap

Bias bias Jemparing Sang Agung
Melesat kulat melebihi kesepatan angan
Menancap halus luka tak kentara
Bahasa akal sulit mengeja
Apalagi rasa yang sarat kedagingan
Karena jemparing itu fitrah yang fitri

Hidup dalam kedagingan
Tak bisa kau singkiri
Karena engkau Tanaman Sang Agung
Yang ditanam di bumi
Separo jiwa berakar pada dagimg
Tapi itylah ingin Sang Agung
Pada persemaian tanamannya
Berupa hidup Anak Manusia
Akan dipilah untuk dipilih
Dan yang terpilih diangkut
Sebagai penghias Taman Surg
Tentu mengundang senyum bangga
Hati Sang Maha Agung

Kediri, 16 April 2016

GARAM 

Ini seberkas cahaya untukmu, Anakku
Yang dialiri darah jiwaku
Yang tunduk pada bias Sang Leluhur
Pewaris tahta Negri ini

Ragaku berjalan terhuyung
Bahkan sampai bumi merintih
Karena hentakan tapak kakiku
Yang menghentak menahan beban berat ragakku
Oleh gelantungan pundi pundi
Berisi garam dari tujuh samudra
Hasil kelana jiwaku
Selama menapaki rona hidupku
Dalam petualangan nyamannya hidup

Sini,
Ke sinilah
Duduk sebumi denganku
Biar aku bukakan sepundi demi sepundi
Dan ini aku bukakan sepundi untukmu
Yang kuambil dari kalbu samudra Hindia
Yang asinnya mengkerutkan lidah
Warnanya putih dan merah membara
Aromanya seharum durian busuk
Daya uapnya bermantra hipnotis
Dan ini sangat penting tuk menggarami
Bagi butir butir darah generasi
Para cucuku darimu, Anakku

Garam yang kuambil dan kukecap
Di wahana masa seterunya Allah
Dan aku benar benar hidup jadi satrunya Allah
Aku tidak percaya adanya Allah
Allah itu omong kosong
Surga dan Neraka itu hanya fatamorgana
Akhirnya aku tidak takut dosa
Dosa apa
Dosa itu belenggu hidup merdeka
Aku hidup di arena binatang
Bersama binatang binatang jalang
Perikemanusiaan aku tinggalkan
Apalagi periketuhanan sangat aku singkiri
Yang aku kenal bersama sebagian besar
Seluruh anak Negri saat itu
Hidup berperibinatangan
Siapa kuat dialah hidup berkuasa
Siapa lemah akan jidup tertipu muslihat
Bahkan bangkaipun tersulap jadi nutrisi lezat
Hanya demi keping emas, Diri

Kini, lihatlah wahai Anakku
Aneka kehidupan Negrimu
Yang haram terkemas halal
Dari kecerdikan perikebinatangan
Itu karena garam berpundi Satrunya Allah
Engkau ingin para cucuku
Hidup dalam berperikebinatangan
Kalo itu yang engkau inginkan
Biarkanlah garam yang ada dalam darahku
Mengalir pada setiap butir darah cucuku
Biar generasi para cucuku
Jadi binatang binatang jalang

Kediri, 14 April 2016

HISTERISKU

Tuhaaaaaan, pepes hatiku
Oleh umpatan para Anakku
Dari sisi hitamku

Kediri, 24 Maret 2016

JEMPARINGE KAPUJANGGA

Kapujanggan mono
Dudu perkara kang lumrah
Ananging sipat genep kang linuwih
Kang mlaku jroning rasa
Anut ilining jiwa
Dumunung ana awang awange urib
Kang nora bisa kasuwun
Uga ora bisa katolak,  tekane

Kapujanggan kuwi
Tuwuh bareng karo tekane urib
Nalika nyawa kasuwukake marang raga
Dining Gusti Kang Maha Urib
Tinandur Awujud Anugrah
Miturut rencana rancangane Gusti
Lan Pujangga dhewe amung kaduta
Kautus netepi wajibing urib
kanggo nyebarake Paugerane urib bebrayan
Mulang wuruk marang pepadha
Miturut ular ularing Gusti Pengeran
Mula Pujangga kuwi sejatine Guru Sejati

Sakjroning Pujangga netepi sipat Guru Sejati
Kasinungan sipat panjang sabar
Lembah manah kang nyamudra
Kinasih lan amayungi
Tulus amardi ngilmu
Nrima ing pandum
Uga teges jroning njejekake kautaman
Nora doyong mangiwa lan tengen
Ora milik nggendong lali
Ora dumeh awujud Adigang Adigung Adiguna
Sapa sura sapa ingsun
Kang ana amung rasa
Aku iki amung dutaning Gusti

Ananging uen yo ana Pujangga
Kanugrahan Kapujanggan
Nanging lelakuning mlumpat saka kautaman
Kuwi sarana manungsane dhewe
Dudu rencanane Gusti pengeran
Lan pujangga bakal nanggung swargane
Mala saka kuwi ojo penak lan kepenak
Rasa bangga dadi pujangga
Sejatine abot kanugrahan kaperwiran
Awujud gleger Kapujanggan

Eling lan waspada
Kuwi kang gawe dadekake
Pujangga sejati

Trenggalek, 29 Pebruari 2016

×
Berita Terbaru Update