-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wanita Peliharaan Cinta, Malapetaka

Jumat, 18 Januari 2019 | 18:56 WIB Last Updated 2019-12-12T20:41:43Z


WANITA PELIHARAAN CINTA

Wanita yang berdiri kokoh di garis cinta
luka tikaman makhluk serupa serigala
sesaat setelah ia menikahi rimba
yang semula tak tahu ganasnya

Ia mengira hanya ada teduh kehidupan
pohon-pohon rindang sandaran
dan rimbun daun payung kesetiaan

Bukan runcing gigi dan gergaji
merobek-robek setiap hari
kemudian pergi setiap malam
tikamkan ketakutan kian dalam
makin seram, mencekam

Pada hitungan dua puluh tiga
wanita itu tetap terjaga
merawat cinta di telaga air mata
dalam doa semoga serupa serigala
datang menjadi kunang-kunang
terangi jiwa dan badan sembahyang
hingga henti garang jalang
hijaukan berserak kering ilalang
perlahan tumbuhkan kepercayaan

Kini helai rambut memutih
wanita peliharaan cinta tak berselisih
menanti lelaki mati hidup kembali
aliri dan cahayai janji suci
mekarkan buah hati
yang lama dibuat tiri

Bandung, 15 Januati 2019

MALAPETAKA 

Kali pertama tubuh pucat pasi
menendang berdiri kokoh besi
di negeri bedil dikokang setiap hari
namun mulut-mulut tak mau bungkam
melawan tumbuh pembangunan
enggan disuapi hasil pinjaman

Mahasiswa Universitas Indonesia
mula-mula diskusikan nasib bangsa
tak mau uluran tangan Jepang
investasikan uang sebagai utang
kemudian kobarkan api demonstrasi
menolak cara baru terjajah kembali
di tengah ranum pejabat korupsi
dan harga-harga membumbung tinggi

Pemerintahan kekar merasa tertampar
bayi-bayi sipil berani berkoar-koar
membakar Jakarta dengan asapnya membumbung seantero Indonesia raya
barisan menggoyang wibawa istana
lalu tentara muntahkan peluru
tubuh-tubuh kurus digilas tank baja

Kematian, penculikan dan penjara
golongan mahasiswa mulai terjadi
oleh pemerintahan sendiri
sekaligus kampus kampus dikebiri
dan kritik menjadi bakteri alergi
kecuali demonstran berani
menenteng mati di bengis telapak kaki
pemerintahan militer yang otoriter

Kini api malapetaka 15 januari
menjadi saksi bahwa generasi negeri
tak mau serahkan harga diri negeri
pada panas utang bantuan asing
hingga hilang kedaulatan
dan lukai makna kemerdekaan

sekaligus lembar catatan
ruang kritik tak bisa diruntuhkan
walau berlapis-lapis penjinakan
semakin seram ancaman-ancaman
mahasiswa menerbos lubang senjata
hingga kembali menghimpun diri
pada bendera bertuliskan reformasi
tergulinglah rezim Orde Baru
dengan nyawa, darah dan air mata
dan tubuh-tubuh hilang hingga sekarang

15 Januari titik awal sebuah bukti
mahasiwa dan kampus adalah mimbar
perlawanan ganyang penyimpangan
bukan lapang julurkan lidah dukungan
mata sejarah dibutakan

Bandung, 15 Januari 2019

KAMPANYE KEMISKINAN

Di atas punggung mereka
kau mainkan angka-angka
dikurangi atau ditambah-tambah
sedang nasib mereka tidak berubah

Kemudian pidato berapi-api
atau ceramah wajah memelas nyeri
padahal mereka tak serupa dirimu
memburu bangkai memecah batu

Nganga derita atas nama mereka
kau telanjang meminta-minta
disuapi di atas kertas suara
teguhkan jiwamu miskin merajalela

Mereka berada di luar kaca
justru berduka melihat kau tersiksa
suarakan yang tak dirasakan
lantang tegaskan garis perbedaan

Lantas kau atau mereka yang niscaya
mengendong-gendong kemiskinan
dalam teriak ketidaktabahan
sorongkan piring-piring kosong

Bandung, 16 Januari 2019

DEBAT DI DENGKUR TIDUR

Di jalan dingin malam
angin-angin diperdebatkan
sebagai keinginan-keinginan
embusan yang menyejukkan
bukan ombang-ambing badai
hingga tumbuh lalu runtuh
tak pernah utuh

Biar debat ke ujung mimpi
hendaklah bisa bangun pagi
walau yang diperdebatkan tertidur
mendengkur hilang gairah
karena seperti yang sudah-sudah
nasibnya tak mudah berubah

Tetap berpuluh-puluh tahun mendiami
abadi di catatan kemiskinan
sudah turun-temurun mengerumuni
tak nikmati pendidikan sampai tinggi
biasa terpinggirkan setiap hari
dari ketidakadilan tajam menikami

Kecuali tonjolkan rencana pergantian
orang-orang diputaran kekuasaan
entah apa kelak dipersembahkan
di tengah piring kesejahteraan
hanya jamuan yang dikhayalkan

Berdebatlah yang lebih manis
wahai tuan-tuan
yang lelap tidur jangan dibangunkan
jika itu pilihan hindari kemarahan
atau keputusasaan

Jakarta, 17 Januari 2019

KONTRAS SEBUAH KOTA TUA

Aku jibaku mencari cinta
pada selangkangan kota tua
gulita di gemerlap cahaya
saling menyikut lambung
limbung tak berujung
berkelahi gumuli waktu
berebut terbang debu

Kian hilang belai kasih sayang
centang perenang memburu menang
kenyang dan lapar menjadi jurang
menjatuhkan, dijatuhkan
di jalan-jalan persimpangan
pada lapang lomba kekuasaan
bahkan terlontar di lidah ceramah
singgah pula di salah guna rumah ibadah
kemudian kejam saling menerkam

Di kota ini aku disuguhi
lacur berahi tak mengenal budi
sendiri-sendiri melahap api
harga diri lebih murah sebungkus nasi
sedang kehormatan ditelanjangkan
di taman-taman pertengkaran

Kotaku berikan catatan pengajaran
tentang palsu dandanan kemewahan
dan kenikmatan yang diselewengkan
pada perkeliruan pelaku usaha
jabatan buta di meja jamuan
dunia hiburan menyeret tuli keadaan

Aku terperangah
melihat kerumunan orang kalah
menyerah bercampur dengan sampah
terengah-engah meminta keadilan
dalam gigil lapar di kolong jembatan
berikan kematian pada kejar-kejaran
dengan pentungan aparat ketertiban

Aku hanya bisa bertanya
"wahai pemilik pasrah, dari negara mana hingga kau singgah di kota tua ini?"

Ia menjawab sambil menatapku
tanpa mata nyalakan curiga
"lihat warna kulitmu dan kulitku,
rasakan logat bicaramu dan bicaraku,
atau teteskan darahmu dan darahku
di tanah ini. Niscaya kita sama, namun
kota ini bukan kita punya. Kota telah lama
beri aku rupa-rupa sengsara,
setelah sawah dan ladang di desa
tak lagi beri kehidupan. Paham?"

Terasa ujung jawabnya membentakku
dikira aku wakili peserta pemilu
datang untuk merayu
yang baginya selalu hantu

Jakarta, 18 Januari 2019


×
Berita Terbaru Update