-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SI REBUS MOLAS CIBAL

Jumat, 04 Januari 2019 | 01:01 WIB Last Updated 2019-12-05T10:13:39Z
SI REBUS MOLAS CIBAL


Kala fajar mulai memamerkan ayunya dari ufuk Timur, hawa dingin menyengat merasuk kalbu. Pagi di kota Ruteng, dengan ditemani segelas kopi dan kompiang hangat milik toko Tarzan menjadi menu pagi dalam mengawali hari.

Tidak ada yang lebih sempurna dari hidangan pagi seperti itu. Ini Ruteng bro, kota kecil  yang  berada dibawah kaki gunung, tentunya menjadi kota dengan julukan "kota terdingin" se-Manggarai Raya.

Oh iya, kota Ruteng adalah kota dengan curah hujan yang cukup tinggi tiap tahunnya. Jadi wajarlah, kalau kaos kaki basah menjadi teman jalan paling setia.

Saat itu, saya masih bersekolah di salah satu SMA swasta ternama dikota Ruteng. Di sekolah ini, saya mengenal lebih banyak pribadi.

Mulai dari yang kerennya, biasa-biasa saja, hingga yang luar biasa. Wahh..sebuah lembaga pendidikan yang bagus untuk dijadikan ajang "cuci mata", yah tahulah bagaimana kerennya gadis-gadis SMAK St. FX.

Dari sekian banyaknya gadis di lembaga pendidikan ini, ada satu sosok pribadi yang sangat saya kagumi. Dia terlihat begitu sempurna dengan seragam putih abu-abunya. Si dia inilah yang nanti saya sebut "si rebus".

Namanya Kristina, gadis cantik berkulit putih, berwajah bulat dan tentunya dia ber-rambut rebus (tidak terlalu keriting). Dia adalah anak dari seorang pengusaha kecil di Cibal.

Anak dari keluarga ber-adalah tentunya. Dia putri tunggal dari 5 bersaudara. Saat itu, dia sudah duduk di bangku kelas XII, jurusan IPS, sedangkan aku masih duduk di bangku kelas XI yang juga jurusan IPS.

Aku tak mengenalnya di saat itu, tapi aku begitu kagum ketika pertama kali melihatnya menyusuri lorong-lorong kecil di koridor sekolah.

Satu hal yang saya tahu tentangnya, bahwa dia adalah gadis sederhana yang cukup berprestasi di kelasnya.

Dia memiliki keunikan tersendiri dari ribuan makhluk cantik yang diciptakan Tuhan di kota yang dijuluki kota seribu gereja itu.

Tak ada awal pertemuan yang baik semasa di bangku SMA. Semua hanya terjadi secara kebetulan dan tentunya hanya sekilas. Dan entahlah, dia mungkin tak mengenalku disaat itu.

April 2018, pada bulan dan tahun inilah pertemuan aku dengan si rambut rebus ini dimulai. Saat itu, aku yang adalah mahasiswa jurusan Akuntansi di salah satu Universitas ternama di kota Kupang berpapasan muka dengannya.

Lagi-lagi saat itu adalah awal rasa kepo tentang dia. Gadis cantik berkulit putih, aku mendapatkan nama facebooknya. Berawal dari pencarian iseng-isengan, akhirnya aku menemukannya juga.

Mengirim permintaan pertemanan lalu dengan cepat dia menyetujuinya. Mulai chat-chattan melalui via inboks. Panjang dan lebar isi chatnya tak perlu kalian tahu. Itukan rahasia lho…(hehe).

Intinya aku mendapatkan nomor ponselnya. Ahh, ini luar biasa. Waktu begitu cepat berlalu, isi chat menjadi begitu akrab. Lalu kami berjanji untuk saling bertemu.

Dia datang ke kos-an ku. "Hai" sapaku sambil berjabatan tangan dengannya. Nama saya Njiuk. Dia pun kembali menyalami dan menjabat tanganku. Hai juga, nama saya Kristina. Cie ciee.

Andai dia tahu apa yang aku rasakan dari perjumpaan pertama ini, atau semesta mengijinkanku menjadi bagian dari hidupnya, aku tak akan meminta banyak hal, cukup jadikan dia pacarku.

Diperjumpaan ini ada banyak hal yang kami ceritakan, yah, maklumlah karena baru pertama kali bertemu. Kupang langsung jadi Hijau kembali, tidak gersang lagi. Keren tho..

Lama kami saling mengenal, berjumpa menjadi hal rutin untuk dikerjakan. Ada satu hal yang kalian semua harus tahu bahwa sekalipun dia ber-rambut rebus, dia paling jago kalau buat kopi.

Entah bagaimana jarinya meracik adonan kopi dan gula sehingga bisa menghasilkan sajian kopi yang begitu nikmat. Pokoknya dia kerenlah untuk urusan kopi.

Tapi kalau urusan bagaimana kejelasan hubungan dia paling tidak tahu. Tidak tahu atau tidak mau tahu? Kayaknya dia paling tidak mau tahu. Payah e..

Yah begitulah perjalanan perkenalanku dengan si rambut rebus, sebenarnya masih ada banyak hal yang mau saya ceritakan tentang  kisah ini, tapi sayangnya aku takut kopi yang sudah kusajikan di atas meja belajarku perlahan dingin dan aroma pekatnya hilang.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 12.00, itu artinya 40 menit lagi kelas perkuliahanku akan segera dimulai. Kampus lagi….kampus lagi. Kapan liburnya? (Bersambung….)

Oleh: Kevhin Marden (Kupang, 20/12/2018).
×
Berita Terbaru Update