-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

SURAT NATAL UNTUK IBU

Senin, 07 Januari 2019 | 18:54 WIB Last Updated 2019-12-05T07:57:16Z
SURAT NATAL UNTUK IBU


Oleh: Vinsensensius Indra Servin
(Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo)

Kisahku berawal dari bagaimana aku meninggalkan rumah. Berusaha bertahan hidup demi impian yang ada dibenakku. Perih sakitku tak banyak orang yang tahu.

 Aku diam dan tutup mulut karena aku yakin Tuhan selalu bersamaku. Keputusanku untuk merantau memang tidaklah semudah membalikan telapak tangan.

Merantau beralaskan penderitaan, memang sesunggguh menyakitkan. Apalagi meninggalkan sang harta yang paling indah (ibu) sungguh menyakitkan.

Dan inilah tamparan yang berat dalam perjuangan hidupku. Sebab kini aku meninggalkan ibu sebatang kara. Apalagi bilur kisah tragis ayah masih terlintas indah dalam ingatanku.

Saat mentari menyusup di jendela kamar kontrakanku, memoriku terhempas dalam lamunan panjang tak bertepi. Pikiranku terpeleset dalam kisah ayah yang memilukan hati.

Ia mati terkapar lantaran sebilah pedang menusuk dirinya. Ia layaknya seekor domba yang dibawa ke tempat pembantaian untuk di gunting bulunya.

Sebab ia dihukum mati di pulau Nusakembang karena ditudungi telah menista agama. Ia memang seorang politisi yang pandai beretorika dan punya konsepsi masa depan yang luar biasa untuk negara.

Namun tak disangka, ia dihukum mati hanya dengan satu kata yang menurut banyak orang dinilai sebagai penistaan agama.

Tragedi ini terjadi tujuh tahun silam saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Waktu itu aku masih culun, dan tak tahu apa-apa tentang hidup apalagi aktifitas politik aku belum mengerti sama sekali. Buta.

Setelah ayah pergi, sang ibulah yang melanjuti peran ayah dalam rumah tangga. Ia adalah ibu sekaligus ayah bagiku.

Dia bagaikan air mineral tanpa ada label dan cap lain pada dirinya. hanya modal kerendahan hati yang membuat ayah jatuh hati padanya. Cantik pun juga tidak.

Kemurnian hati dan cinta yang tuluslah yang membuat ayah betah pada dirinya. Namun satu hal yang aku bangga pada ibu bahwa ia rela melepaskan putranya yang tunggal untuk merantau, walaupun kedua pipinya selalu dibanjiri oleh air mata kerinduan.

Kini kesepian, kesendirian dan kerinduan yang akrab dirasakan olehku saat ini. Saat jauh dari ibu, aku selalu menyimpan permasalahan dan kerinduanku sendiri tanpa harus bicara lansung kepadanya.

Aku selalu menceritakan hal yang baik-baik saja dan aku tidak mau permasalahanku ditanah rantau membebani pikiran ibu.

Setiap malam aku bersujud di sudut kamar sembari menyembah sang Khalyk. Aku berdoa. Dalam butir-butir doaku, namanya selalu ku sebut Ibu.

Dan tak lupa pula berdoa bagi keselamatan ayah. Lagu “waktuku masih kecil” kini mengiringi setiap ujudku. Aku pun menangis dan terus menangis meratapi kepedihan hati.

Lalu mataku tertipu pada sehelai kertas kusam yang tertata rapi di meja belajarku. Aku mengambilnya dan memulai meruncingkan kata demi kata pada ujung sebuah pena; 

Dear ibu

Ibu…,
Walaupun kita berjauhan, aku berjanji sekuat tenaga akan membahagiakan ibu, doa setiap sudut ibu selalu menemaniku menuju kesuksesan itu. Sejujurnya kesedihan yang terdalam yang ada di hatiku adalah saat jauh dari ibu.

Kesendirian dan kesepian adalah hal yang setiap hari aku temui, aku juga menyadari bahwa ibu mengalami kesendirian di rumah seperti keluarga yang tak mempunyai anak, sebab aku jauh dari hadapan ibu.

Ibu…,,
Aku tidak tahu apakah esok, aku masih menemukan senyum dibibir ibu, aku tak tahu apakah nanti aku bisa menyejukan hati ibu yang selama ini jemur dipanas teriknya mata hari demi aku.

Aku sadar bahwa saat aku berada di dunia, saat yang sama pulalah engkau berdiri tegak di ladang sawah. Engkau tak mengenal alas kaki bahkan kepalapun tak kau tutupi. Walaupun matahari berganti hujan engkau tak pernah mengeluh.

Ibu…
Dalam diam dan kesepian, aku punya mimpi yang sangat besar tentu ada pengorbanan yang akan aku lakukan yakni memalingkan rindu pada tanah kelahiran dan dengan janji nanti akan terbayar lunas saat kembali.

Ibu…
Tak lupa pula aku mengucapkan merry cristmas and happy new year. Walaupun natal kemarin aku tidak bisa bersama ibu. Aku yakin ibu juga merindukan natal bersama kan?

Tapi kini ruang dan waktu yang membatasi jarak bu. Hanya satu yang ku pinta dari ibu, tetaplah tegar dan tegak dalam menghadapi hari-hari hidupmu. Semoga peristiwa inkarnasi ini sungguh membaharui hidup kita. Amin.
     
                                                                                                                     Salam manis,

                                                                                                                   

                                                                                                                      Cervin Indra

Setelah kutulis surat ini aku termanggu lesu di bawah rembulan malam. Aku ingin menikmati malam bersama bayangan sang ayah.

Mengecap secangkir alam pada tapal jarak antara aku dan dia. Sembari mengupas rindu pada ibu dengan menegukkan angin sepoi yang menerobosi  kulit ariku dan mengalir bersama darah dalam nadiku menuju persinggahan terakhir di impuls.

Tapi aku masih menyimpan luka pada bibir batinku tentang tragedi ayah. Dia mati lantaran politisasi agama yang mingintai dirinya.

Ia memperjelaskan maksud isi hatinya dalam kampanye dengan menggunakan perikop dalam ayat-ayat alkuran.

Namun apa daya tangan tak sampai memeluk gunung. Dia mati termakan politik karena dinilai sebagai penyimpangan terhadap tubuh politik.

Aku merindukanmu ayah. Kini sepotong politik telah ku jilat dalam nama kristus yang terlahir dalam palungan hina. Selamat natal ayah, sampaikan isi hatiku pada ibu...

Ilustrasi dari youtube.com
×
Berita Terbaru Update