-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ANTOLOGI PUISI KARYA INDRA SERVIN

Sabtu, 09 Februari 2019 | 17:29 WIB Last Updated 2019-02-09T10:29:59Z

Oleh: Vinsensius Indra Servin

MENYESAL

Senyummu di lesunya malam
Mensyaratkan kisah silam
Beraroma rasa
Memanjakan semua yang ada
Aku pun terhanyut dalam. Nyata.
Namun terprangkap pada lara.
Ah?
Bibir malam berlipstik sunyi
Bercium sepi. Lalu kita bersentuh lidah
Tak terasa air matamu jatuh. Aku menyesal.
Bisikmu pada angin.
Kita pun kembali menari di ranjang bobo,
Mengupas habis nikmat semu.
Grimis kringat mengguyuri diri.
Aku malu pada semut merah. Ngomelanmu.
Menyesal tua tiada berguna,
Abu tetaplah abu . Tak akan menjadi arang lagi.
Ingat!!!
Tubuhmu bukanlah alat permainanmu.

ANDA WARAS BANGSA SEHAT

Kau menyelam tragedi 1998
Di kala reformasi mulai membentang
Engkau kah pelaku keji itu?, tentu tidak kan?
Mungkin ia, tapi hukum belum jeli tuk melihat
Atau bukan, menurut mitos terkini.
Ya, masa lalu biarlah berlalu
Tapi….
Indonesia kini dijamuri oleh fiksi belaka
Tentang cerita 21 tahun silam,
Prihal kriminalitas, mengakhiri hidup beberapa anak bangsa
Lalu apa hubungannya!!!
 dongeng terkini itu terhadap demokrasi republik sial ini??
Bukankah debat perdana melahap HAM yang ada??
Bukankah kriminalitas usai dikuburi sejarah?
Atau itu hanya dongeng berwajah topeng.
Ahhh, Indonesia
Aku muak semua itu…
Aku juga malu  dalam lingkaran Bineka Tunggal Ika..
Sebab, anak bangsa berdiri pada kritis
Namun solusi belum dipikirin,
Lantas,,
Para pemikir mengujar ‘kritik tanpa solusi pada hakekatnya  nalar yang mati’ senada
Jiwa republik sial ini
Usia senja namun jiwanya masih terlalu pagi
Pantas,
Ambisi merong-rong diri
Ingin menjadi yang terpilih
Ternyata Indonesi tak tahu diri,
Indonesia butuh pemimpin
Bukan pemimpi,
Indonesia butuh promotor
Bukan profokator,
lalu penentu bangsa itu siapa???
Presiden?
DPR? Atau pemegang keadilan?
Tidak!, jawabannya adalah KITA.
 Kitalah penentu bangsa ini.
Pilihan ada ditangan anda sendiri...
Anda waras bangsa sehat.

KAMU SIAPA?

Manja mu masih terpukau pagi
Melahap embun diujung dingin
Ingin menunjukan diri
Padahal hanya sebuah ambisi
Pelarian  halusinasi,
Apa?
Borokmu masih meleleh?
Faksinmu belum menjamin?
Pantasan, indonesia tak kunjung maju
Lantaran kamu Gigolo bukan? 
Pelacur?  Lalu siapa!

KELOPAK MUDA

Jumpa pagi itu tak ku sesalkan
Biarlah indahmu menawan bak pelangi
Sendu merayap
Lalu lenyap dan pelan-pelan hilang
Raga ini terpukau lalu mati,
seakan tak tahan menahan indahnya mahkotamu,
kepala putikmu terlalu perawan dan
memanjakan mata, aku pun menelan ludah
menahan rasa. Terlalu indah tubuhmu.
Latas..
Banyak yang menggodamu, sebab
barisan sari mu masih tertata rapi. Indah.
Seksi bagaikan peluru tembak mati.
Sungguh tubuhmu molek. Aku jatuh di
Tangkai kelopakmu.
Engkau mekar semasamu, aku pun mekar
Semasaku. Kita beda waktu.
Aku melirikmu dari sudut senja barangkali
Fajar menghantarmu ke ufuk barat
Lalu mengubah mindsedku.
Sungguh bibirmu masih berselaput mahkota.
Hahahhaahhaaaa….
Aku tahu, kamu memerlukanku,
Tuk jadikan putik itu menjadi bakal buah.
Aku menunggumu

Penulis adalah Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo
×
Berita Terbaru Update