-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MELACAK ENTITAS KEIKHLASAN DALAM PUISI-PUISI KARYA YENI SULISTIYANI

Minggu, 10 Februari 2019 | 22:24 WIB Last Updated 2019-12-12T11:20:21Z
MELACAK ENTITAS KEIKHLASAN DALAM PUISI-PUISI KARYA YENI SULISTIYANI


Oleh: Achnas J. Emte

Puisi-puisi yang menjamur di media sosial nampaknya lebih dominan berisi pencurahan hati. Fenomena ini mempertegas hipotesa bahwa proses kreatif sebuah puisi adalah manifestasi dari kecemasan pemuisi yang berkelindan dalam pikiran bawah sadarnya (Ubudiyah, 2015).

Maka dalam perspektif psikoterafi, puisi bisa digunakan sebagai cara yang ampuh untuk mengurangi kegelisahan karena dalam proses penulisan, pemuisi akan menemukan tatanan pengalaman yang memperkaya nilai-nilai kepribadian dan pada gilirannya akan berefek kuratif di ranah psikologis.

Artinya, besar kemungkinan puisi-puisi di media sosial selain lahir spontan sebagai ungkapan perasaan dalam pikiran sadar atau bawah sadar, sekaligus sebagai cara untuk mengobati kegelisahan bahkan menemukan solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.

Hipotesa tersebut tentu membutuhkan pembuktian empiris. Oleh karena itu, penulis mencoba menelusuri beberapa puisi karya Yeni Sulistiyani untuk kemudian dianalisa dari sisi semantiknya terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai sikap seseorang dalam menghadapi persoalan yang terungkap dalam puisi-puisinya.

Pilihan penulis akhirnya mengerucut pada puisi-puisi Yeni Sulistiyani dengan dua alasan; pertama, puisi-puisinya banyak menggunakan tokoh “aku” yang menyiratkan perenungan konsep diri, curahan perasaan dan pandangannya terhadap dunia luar dalam perspektif psikologis.

Kedua, puisi-puisinya rata-rata memiliki aspek kedalaman (intencity) terutama dalam pemaknaan. Aspek kedalaman ini merujuk pada adanya epport pemikiran dan imajinasi yang maksimal dalam meramu ide, gagasan dan tema dengan paduan penghayatan poetika yang sublim sehingga puisi yang ditulis mampu menampilkan performa yang estetis dan makna-makna prismatik tapi integratif dan sistemik.

Namun demikian, penulis hanya akan membatasi analisanya pada substansi nilai-nilai kepribadian yang kemudian ditengarai sebagai konsep diri pemuisi.

Berikut adalah puisi Yeni Sulistiyani yang pertama :

SUDAHLAH

Biar 
tak ada yang mesti dicatat
atau dilukis di atas kanvas
menjadi penghias mata

Akar tetap bersembunyi
menghidupi daun-daun dan bunga-bunga
dialirinya arteri batang dan ranting
dengan energi dan cinta

Tanpa kata
tanpa pengakuan
sepanjang musim

Bila nanti senyum lahir hanya di sudut
biar, karena itu benalu yang sedang mekar
menyusu pada urat-urat ambisi

Lampung, 01 September 2018

Kata dan quot;sudahlah dan quot;, secara leksikal dapat diartikan sebagai ekspresi penerimaan terhadap sesuatu yang sudah terjadi di luar ekspektasi.

Pada sisi psikologis kata tersebut bisa menyembulkan makna-makna hermeneutik-prismatik dan bertahap mulai dari perasaan kecewa, pembiaran terhadap masalah hingga timbul dorongan kuat untuk mengendalikan emosi atas kekecewaan hingga kemudian bisa bermuara pada sikap frustasi atau sebaliknya justru menjadi pintu ditemukannya ketulusan.

Artinya, dalam sebuah kata, pemuisi bisa menggambarkan struktur batinnya sebagai relasi dinamis antara elemen-elemen kepribadiannya secara instrinsik dengan realitas yang dihadapi secara gradual.

Pada struktur tersebut, Sigmund Freud mengatakan bahwa sikap seseorang terhadap kejadian-kejadian di luar dirinya akan sangat dipengaruhi oleh elemen-elemn kepribadian yang terdiri terdiri dari tiga unsur yaitu id, ego dan superego. 

Disadari atau tidak, Puisi “Sudahlah” dari bait pertama hingga bait akhir menggambarkan graduasi sikap dari elemen kepribadian tersebut.

Menurut Freud, Id adalah potensi kepribadian yang hadir sejak lahir dan muncul di alam sadar dan bersifat naluriah (fitrah). Id merupakan sumber energi psikis, didorong oleh prinsif keinginan dan kesenangan yang segera harus terpenuhi.

Jika kebutuhan ini tidak terpuaskankan secara langsung, hasilnya adalah kecemasan, kekecewaan atau ketegangan.

Dalam konteks puisi “Sudahlah” Elemen Id ini muncul di bait pertama namun sangat tersembunyi. Kita perhatikan bait pertama tersebut :

Biar
tak ada yang mesti dicatat
atau dilukis di atas kanvas
menjadi penghias mata

Bait ini menyiratkan dengan sangat tipis situasi kekecewaan karena adanya harapan “penghargaan” yang tidak terpenuhi atas kontribusi yang dilakukan aku lirik meski tidak bisa dilacak bentuk atau sebabnya.

Keinginan untuk dihargai adalah entitas kebutuhan psikis dalam bentuk “id” karena didasarkan pada keinginan naluriah.

Selanjutnya pada bait kedua berikut ini:

Akar tetap bersembunyi
menghidupi daun-daun dan bunga-bunga
dialirinya arteri batang dan ranting
dengan energi dan cinta

Kendati aku lirik menyiratkan sekebis kekecewaan, tapi ia tidak merasa dirinya harus berhenti berkontribusi dalam kehidupan, bahkan ia terus berupaya melakukan sesuatu yang berharga tanpa harus menampakkanya kepada khalayak.

Hal ini sangat jelas diungkapkan dalam bait kedua bahwa biarlah ia menjadi akar yang tersembunyi untuk menghidupi daun-daun, bunga-bunga, ranting dan batang dengan energi dan cinta.

Bait ini sangat sublim untuk mengungkapkan sebuah pengorbanan yang begitu tulus tanpa harus mematikan dirinya sendiri.

Inilah substansi “ego” yang menurut Sigmund Freud merupakan elemen kedua dari kepribadian. Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menghadapi realitas.

Ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata.

Fungsi ego berada di semua lini kesadaran baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang relevan.

Bahkan dorongan eksistensial yang begitu besar, aku lirik berusaha untuk tetap hidup tanpa puja—puji dan mengingkari “thanatos” atau instink “kematian” yang lazim muncul pada saat dunia luar menafikan dirinya.

Sebuah situasi yang sangat dicemaskan oleh Melanie Klein, sebagaimana dikutip oleh Linus Susanto (Kompas, 15/09/18) yang menangkap bahwa ketakutan fundamental manusia adalah “ansietas annihilasi”, kekhawatiran yang sangat tentang peniadaan dirinya yang kemudian menjadi belenggu hakiki yang menggerus kemerdekaan manusia.

Namun demikian meski dicemaskan, ketakutan bisa menjadi sumber defense ego, yaitu perbuatan kompensasional untuk mempertahankan eksistensi dirinya.

Sehingga kata-kata biarlah atau sudahlan menjadi kamuflase verbalis untuk mengobati kekecewaan diri sehingga ia tetap bertahan dalam prinsifnya dan memberikan corak kepada dunia luar.

Apa yang digambarkan Yeni Sulistiyani dalam bait kedua puisi “Sudahlah”, terjadi konflik batiniah yang membuat dirinya harus keluar dari situasi dilematis.

Apakah harus berhenti dan mati atau meneruskan kiprahnya meski tanpa penghargaan. Kemudian ia jawabnya sendiri dalam larik-larik berikutnya, bahwa tanpa harus bicara banyak dan tanpa pengakuan (pamrih) sampai kapanpun ia akan terus bereksistensi dan melakukan banyak hal. Baginya pamrih adalah benalu yang terus mekar dalam ikhtiar berlandaskan ambisi.

Maka pada titik ini sebenarnya, aku lirik telah menemukan Superego yang oleh Sigmund Freud  dikategorikan sebagai elemen ketiga dalam kepribadian.

Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang diperoleh dari pengalaman, pembelajaran dan interaksi manusia secara luas dengan lingkungannya berdasarkan batasan-batasan perasaaan benar dan salah.

Sehingga superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Superego inilah yang pada titik akhir telah mengantarkan aku lirik pada perasaan “tulus” meski dalam definisi yang masih “menggantung” karena arah ketulusan belum jelas apakah sebatas superego yang imanen atau sudah sampai pada kawasan transenden.

Jika ketulusan ditafsirkan secara tafsili, terbatas pada konsep yang dikontruksi dalam puisi ini saja, berarti Yeni Sulistiyani sekedar membangun kerangka ketulusan dalam wilayah imanensi.

Masih ada hijab yang begitu tebal sehingga makna ketulusan itu belum menyentuh “lubab” (inti) yang berada di kedalaman melampaui akal dan emosi manusia, yaitu wilayah spiritual.

Karena jika ketulusan hanya berhenti secara imanen, ia hanya menduduki posisi duniawi, material, kesementaraan, berubah-ubah, dan tidak memiliki makna yang pasti di hadapan realitas yang maha mutlak, yang lalu manusia melebur dalam makna itu.

Oleh karena itu, sublimasi konsep ketulusan yang ditawarkan dalam puisi ini belum menyentuh “lubab” atau inti.

Ditengarai puisi ini belum tuntas mengekspos konsep ketulusan universal penyairnya. Sehingga penulis membutuhkan puisinya yang lain dan menggali konsep keikhlasan secara lebih mendalam.

Berikut puisi Yeni Sulistiyani yang memuat konsep ketulusan dalam versi yang berbeda:

PADA SISA WAKTU

Di sisa waktu yang tersemat pada bukuku 
terlampau asyik kuanyam bilah-bilah angan
sekerat demi sekerat mimpi sekarat di masa pepat
tinggallah asa beringsut melabuh pada laut
mengiris jerit camar melukis lembayung
bersama kau yang terus melukis bianglala

Hidup menggelombang lesap di samudra hasrat
semenjana pemahaman memburu cahaya
di kaki langit telunjukku tengadah
di keremangan garis abuabu
kusebut namamu dalam parau
dan keras nadi berdenyut bergetar gentar

Duh kekasihku
bila kusebut namamu dalam teduh
dengan kemerdekaan tanpa ketakutan
dengan kemerdekaan tanpa kekhawatiran
dengan kemerdekaan tanpa belenggu dosa
tanpa iri
tanpa dengki
tanpa keinginan untuk merdeka

Kukembalikan hidup pada kekosongan
kukembalikan akar pada rahim bumi
kusemai hidup dalam harap dari seberkas nur 

Akan kucandai waktu yang mengerlingku
akan kusenyumi ia yang tersisa 
dengan telunjuk tegak lurus pada langit 
menunggu engkau di pusara waktu
kita bertemu
dalam keabadian
di sisi arsy-mu
kumerindu

Lampung, 14 Agustus 2017

Jika pada puisi “Sudahlah”, sikap penyair muncul sebagai respon terhadap stimulasi ekstrinsik, maka dalam puisi yang berjudul “Pada Sisa Waktu”, penyair menggali mutiara ikhlas dari gumpalan perasaan yang berkelindan dalam internal kebatinannya (intrinsik).

Tapi akhirnya kedua puisi Yeni Sulistiyani bermuara pada ketulusan dengan proses dan finishing touch yang berbeda.

Jika pada puisi pertama konsep ketulusannya berhenti pada wilayah imanen, sebatas melibatkan hal yang profan dan mengabaikan yang sakral sehingga ketulusan itu hanya menjadi siklus relasi batinnya dengan lingkungan kebendaan semata, sementara pada puisi yang kedua sudah melampaui kawasan transendental di mana ia melibatkan dan bahkan menjadikan Tuhan sebagai pijakaan akhir dari ketulusannya yang kemudian disebut dengan “ikhlas”.

Pertanyaannya adalah, mengapa aku lirik dalam puisi “Pada Sisa Waktu” bisa langsung berkoneksi dengan Tuhan.

Jawabannya adalah bahwa ketika seseorang memfungsikan idnya dengan keinginan atau impian, maka egonya segera muncul yang mendorongnya untuk berikhtiar.

Begitupun superegonya pun keluar dengan cara melihat, mengukur dan mengevaluasi potensi dirinya, sejauh mana itu semua bisa dijadikan modal untuk mencapai mimpinya.

Pada proses evaluasi dan perenungan itulah ia memahami secara konprehensip keberadaan dirinya yang kemudian menjadi celah cahaya untuk mengenal Tuhannya secara holistik (man arafa nafsahu, arafa Rabbahu).

Pada saat itulah manusia sadar bahwa ada kekuatan luar yang mengendalikan potensi, kemampuan dan kekuatan dirinya, yakni Sang Maha Mutlak.

Kesadaran ini yang membuat seseorang membiarkan dirinya untuk tunduk dan berserah kepada-Nya dengan ikhlas, dimana segala amal mestinya hanya dipersembahkan kepada yang Maha Mutlak.

Dalam puisi “Pada Sisa Waktu” , Yeni Sulistiyani secara gamblang “mentawafkan” impian, keinginan, kerinduan, kepasrahan dan keberserahan hanya kepada Tuhan.

Bahkan ia pun merinci bahwa ketika semua mimpi tak tercapai hanya akan menyisakan kekecewaan yang kemudian ia buang ke laut dan kepada apapun, tapi itupun tak pernah berujung, hanya kegelisahan yang bertubi-tubi menderanya.

Hingga akhirnya ia berkeluh kesah kepada Tuhan dalam bait kedua : 

Duh kekasihku
bila kusebut namamu dalam teduh
dengan kemerdekaan tanpa ketakutan
dengan kemerdekaan tanpa kekhawatiran
dengan kemerdekaan tanpa belenggu dosa
tanpa iri
tanpa dengki
tanpa keinginan untuk merdeka

Keluh kesah yang diverbalkan dalam larik-larik tersebut menunjukkan bahwa ada kekecewaan aku lirik ketika ia berusaha mencari solusi dari semua problematika hidup hanya sebatas duniawi tidak pernah tuntas dan hidup makin terasa kosong, hingga akhirnya ia menyerahkan semua dengan tulus ikhlas kepada Tuhan sebagai kekasih seperti tersirat dalam bait berikut :

Akan kucandai waktu yang mengerlingku
akan kusenyumi ia yang tersisa 
dengan telunjuk tegak lurus pada langit 
menunggu engkau di pusara waktu
kita bertemu
dalam keabadian
di sisi arsy-mu
kumerindu

Pada puisinya yang kedua tersebut, Yeni telah melakukan perjalanan batiniahnya secara komprehensif melalui maqam-maqam hati hingga mencapai hubungan eskatologisnya dengan Tuhan.

Dalam perspektif-komparatif antara teori psikoanaliss Sigmun Freud dengan konsep Al Quran tentang masalah “kebatinan” sebenarnya menemui titik simpulnya.

Dalam Al Quran ada elemen Shudrun yang selevel dengan Id. Shudrun (lihat Q.S.15:97) adalah maqom hawa nafsu berupa keinginan kuat untuk mencapai sesuatu (ambisi). Elemen yang kedua adalah qolbun yang selevel dengan ego.

Qolbun adalah Jiwa, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fajr ayat 27, Jiwa adalah sesuatu yang membuat manusia berikhtiar, adalah dorongan atau niat yang bisa mengarah kepada kebaikan atau keburukan.

Pada lapisan hati yang ketiga adalah Fuadun, yang dalam bahasa kita disebut Sanubari. Fuad adalah lapisan tempat beradanya sikap sadar dan tidak sadar (otomatis) yang kita kenal dengan “alam bawah sadar”.

Fuadun satu level dengan superego. Seeorang yang berada di level ini sudah menkoneksikan keimanannya secra konsisten dengan dengan perbuatan sehingga ia selalu mampu memberikan yang terbaik dalam mengerjakan kewajibannya tanpa perlu diingatkan pahala dan dosa..

Yang terakhir, Alquran menempatkan Lubbun atau Lubuk Hati (Nurani) pada level keempat hati manusia. Al-Lubbbe rarti juga pusat pikiran, logika, kebijaksanaan atau kecerdasan dalam melihat segala hal karena tuntunan transendensial dari yang Maha Mutlak, dalam bahasa sufistik disebut dengan ma’rifat.

Dalam pandangan kaum sufi seseorang yang sudah mencapai ma’rifat, seluruh pergerakan naturalnya akan senantiasa berada di rel kebenaran karena terkendali oleh nilai-nilai ilahiah (spiritualitas).

Elemen inilah yang tidak “tercover” dalam teori psikoanalisis Freud, karena Freud berhenti pada tiga elemen yang masih berada di tiga Kawasan imanensi, sementara Lubbun jauh menjangkau Kawasan transenden.

Dalam teori tasawuf, jika seseorang sudah mengelola batinnya pada level lubbun ini ia akan terbebas dari belenggu dunia dan kemudian muncul sikap zuhud (tidak berorientasi dunia), Wara (sikap waspada/eling/ mawas diri) dan mahabbah (penuh cinta).

Mahabbah atau kecintaan terhadap sesuatu akan menjadi sumber dorongan dan energy yang utama.

Sebagaimana Rabiah Al Adawiyah mengatakan bahwa ketika berbuat baik bukan berharap surga dan ketika menjauhi kemungkaran bukan karena takut pada neraka, tapi keduanya ia lakukan karena cintanya kepada Tuhan.

Hal ini tersirat juga dalam kedua puisi Yeni Sulistiyani bahwa ia akan terus seperti akar tetap bersembunyi menghidupi daun-daun dan bunga-bunga dialirinya arteri batang dan ranting dengan energi dan cinta.

Sungguh sebuah ungkapan yang lahir dari kedalaman hatinya yang penuh ikhlas. Keikhlasan yang bermuara pada Allah sebagaimana diungkapkan dalam bait terakhir puisinya yang kedua: menunggu engkau di pusara waktu/kita bertemu/dalam keabadian/di sisi ArsyNya/merindu.

Dari uraian dua puisi Yeni Sulistiyani tersebut dapat disimpulkan bahwa keikhlasan adalah sebuah estapeta perjalanan kebatinan manusia yang akan mencapai garis finish ketika ia mempersembahkan kebermanfaatan dirinya untuk semata-mata mendapat keridhoanNya.

Ketulusan yang hanya bermuara pada ranah material (imanensi) sulit membebaskan dirinya dari kecemasan akibat kekecewaan.

Penghargaan dalam bentuk materi atau puja-puji tidak akan mampu membawa manusia kepada kedamaian sejati.

Tapi ketika keikhlasan sudah melalmpaui kawasan transenden yang bermuara pada nilai-nilai ilahiah maka papaun bentuk permasalahan akan berakhir pada ketenangan batin bahkan bisa memerdekakan hidupnya dari setiap belenggu keinginan untuk merdeka sekalipun.

Konsep keikhlasan yang transendensial inilah yang kemudian membuat keinginan untuk merdeka itu terpenuhi.

“Seseorang akan mendapatkan kemerdekaan hidup ketika ia membebaskan dirinya dari tuntunan dan harapan kepada manusia dan berusaha menjadikan dirinya untuk berguna bagi sesama dengan bersandar kepada yang Maha Pembebas, Allah Subhanahu Wataala”.

Jakarta, 18 September 2018

×
Berita Terbaru Update