-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TAWA ANAK NEGERI

Sabtu, 23 Februari 2019 | 23:59 WIB Last Updated 2019-02-23T17:00:14Z

Hari ini saya ingin menggambarkan sedikit kebahagian yang saya rasakan dalam waktu kurang lebih empat tahun, belakangan. Saya merasa bahagia. Kebahagian tersebut disebabkan oleh kesetaraan dan perlakuan yang adil oleh negara. Kami tidak lagi merasa seperti anak tiri. Kami sudah menjadi anak kandung di pangkuan ibu pertiwi sendiri. Ah negeri ini memang sudah banyak berubah.

Hari ini saya adalah satu dari sekian banyak anak pelosok negeri yang ingin mengungkapkan kesenangan itu dengan cara menarasikannya. Jika kamu ingin mengetahui gambaran desaku, maka aku akan menarasikannya. Sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, desaku menjadi sebuah desa yang sangat terpencil. Kami tak kenal PLN, kami tak kenal jalan beraspal, apalagi jaringan. Itu hal ter-bullshit untuk didapatkan saat itu. 

Hari-hari yang kami temui adalah lampu pelita atau jika punya uang lebih kami bisa menggunakan lampu gas. Di desa saya, harga barang yang dianggap mahal oleh orang di kota, bagi kami itu sudah biasa. Kami sudah biasa diperlakukan seperti itu, hingga membuat kami tak sadar bahwa praktek ketidakadilan sedang mewarnai kehidupan kami di pelosok negeri ini. 

Akses jalan ke kampung-kampung sudah cukup dengan jalan tikus (jalan kecil yang sengaja dibuat hanya untuk manusia). Jangan mimpi kau bisa menyetir kendaraanmu untuk masuk ke kampung-kampung di desaku. Sekali lagi itu hal ter-bullshit. Dan jangan tanya bagaimana akses jalan menuju kota, itu lebih parah kawan. Bayangkan saja jika sudah memasuki musim hujan, akses jalan ke kota akan terputus. Kendati ini karena tidak adanya perhatian lebih dari pemerintah saat itu untuk memperbaiki akses jalan. 

Saya yakin anda akan menangis ketika melewati jalan seperti itu. Di desa saya tak ada yang namanya jaringan telkomsel. Jika pun ada itu mungkin hanya kabel yang tersangkut lalu di bawah angin. Bagi kami jika ingin berkomunikasi dengan saudara jauh dari desa, kami hanya bisa menggunakan surat. Untuk mengirim satu surat kau butuh waktu 1 bulan untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Menyakitkan!. 

Tapi itu dulu, hari ini potret desa ku tak lagi seperti itu. Desa kami sudah mengenal yang namanya PLN, warga desa begitu gembira menyambut hal ini. Harga barang sudah tak lagi semahal dulu, semuanya bisa dijangkau oleh masyarakat kecil.  Akses jalan ke kampung-kampung tak lagi menggunakan jalan tikus, sekarang semuanya sudah beraspal. Kau tau teman, sa punya motor tidak kotor lagi kalo pi jalan- jalan di kampung. Ko jalan su aspal na. Hahaha. Surat tidak lagi menjadi media untuk komunikasi, sudah bergeser ke media elektronik. Kami sudah mengenal tentang jaringan 2G, 3G, sampai 4G yang saya rasa kamu pasti tahu bagaimana kecepatan akses internet dari jaringan diatas. Sa punya opa oma bisa video call dengan dia pumya cucu yang di kota. Mereka daler. Hahaha.

Hari ini, saya anak yang lahir dari desa yang terpencil bisa menikmati rahmat surga dari pemerintah untuk semua pembangunan infrastruktur yang dicanangkan. Bapak Jokowi, ditangan beliau kami merasakan keadilan. Di tangan beliau kami menjadi bagian dari ibu pertiwi. Lanjutkan pembangunanmu pak, karena rakyat di pelosok negeri membutuhkan itu. Jika mereka yang dikota mengatakan "kami tidak butuh jalan, kami butuh makan", maka kami justru meminta yang sebaliknya. Kami butuh jalan pak, urusan makan itu hal yang mudah. Salam keadilan dari pelosok negeri untuk mu Bpk. Presidenku (Joko Widodo).

Oleh: Kevhin Marden (Kupang, 24/02/2019)

×
Berita Terbaru Update