-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AIR MATA TUHAN DI TENGAH PERTARUNGAN POLITIK INDONESIA

Selasa, 26 Maret 2019 | 21:24 WIB Last Updated 2020-01-30T13:40:56Z
AIR MATA TUHAN DI TENGAH PERTARUNGAN POLITIK INDONESIA


Pertarungan politik di Indonesia sangat menarik perhatian untuk dikaji. Realitas politik yang dimainkan para elite sangat bertentangan dengan hakekat dari politik itu sendiri.

Cara berpolitik para elite bukan bertujuan untuk bonum commune seperti yang dikatakan oleh filsuf sekaligus teolog besar Katolik, Thomas Aquinas, melainkan untuk diri sendiri atau golongan. Oleh karena itu, penulis mencoba mengaitkan politik para elite dengan air mata Tuhan. 

Untuk memahami tulisan ini, penulis bercermin pada permainan politik pada jaman Yesus hidup. Permainan politik tersebut dicari titik relevansinya dengan politik dewasa ini di Indonesia. Kemudian penulis melihat kaitannya dengan kepedulian Tuhan terhadap realitas politik saat ini. 

Realitas Politik Indonesia

Akhir-akhir ini, suasana politik semakin memanas di Indonesia. Politik semakin dijadikan sebagai senjata ampuh untuk melumpuhkan sesama demi tujuan tertentu.

Gambaran tentang politik mulai bergeser yakni tidak lagi mengarah pada subjektivitas tetapi lebih pada objektivitas. Politik yang seperti ini bukan politik akal sehat atau disebut dengan politik ‘non akal sehat’. 

Politik non akal sehat semakin membuat rakyat gelisah. Permainan politik ini dilakukan oleh para elite politik. Mereka membentuk kelompok yang terstruktur, teratur, sistematis, dan rahasia. Pergerakan politik mereka sangat cepat, cerdas, dan tajam. Motivasi dan intensinya tidak mengarah pada kebaikan bersama.  

Para elite politik menjadi harimau bagi lawan politiknya. Demikian pun sebaliknya. Kita tidak tahu secara pasti, ‘siapa lawan siapa’ dan ‘siapa mengalahkan siapa’ karena politik itu menyamar pada wajah kawan.

Kawan nampak di mata, tetapi belum tentu sekawan dalam permainan politik sehingga benar apa yang dikatakan dalam pepatah kuno yakni kawan bisa jadi lawan atau lawan bisa jadi kawan. Dalam hal ini kawan adalah lawan terbesar karena ada kecendrungan kawan makan kawan. 

Permainan politik yang tidak sehat tersebut diungkapkan melalui penyebaran berita bohong (hoaks), dikaitkan dengan persoalan agama, saling menunjukan ujaran kebencian, perang politik dingin, isu SARA, ketidakadilan, ‘politik dua kaki’ dan atau kekerasan karena permainan politik yang sifatnya menyamar dan sebagainya. Politik seperti ini tajam ke luar dan tumpul ke dalam. 

Pertarungan politik ini tak berkesudahan. Hukum balas dendam di antara para elite politik menjadi momok yang menakutkan. Rakyat ditelantarkan sebab mereka sibuk dalam pertarungan politik. Mereka yang kaya semakin kaya, yang menangis semakin menangis, yang miskin semakin miskin, yang menderita semakin menderita, dan yang terpinggir semakin terpinggirkan. 

Bagi para elite, permainan politik yang berdampak negatif bagi rakyat merupakan jalan lebar yang mengantar mereka pada suatu titik tertentu. Tangan mereka seperti cakar ayam yang berusaha mengais keuntungan pribadi atau golongan di balik pergerakan politik. Pertanyaannya, kemanakah arah bahtera Indonesia?

Di tengah ganasnya pertarungan politik, seperti salah satunya yakni permainan politik menjelang PILEG dan PILPRES ini, banyak hal menarik yang menjadi perhatian khusus.

Ujaran kebencian untuk menjatuhkan lawan politik menjadi taktik dan strategi yang sangat jitu. Janji-janji manis dan tebar pesona bermaksud untuk menggoda suara rakyat. Apakah cara dan kualitas kerja dan program unggulan tatkala mereka terpilih itu benar dan sesuai dengan janji, hal itu menjadi pertanyaan besar. 

Melihat realitas politik non akal sehat saat ini, banyak pertanyaan muncul di kalangan rakyat, termasuk penulis artikel ini. Mengapa terjadi permainan politik yang tidak sehat? Apa yang dicari para elite politik dalam pertarungan politiknya? Apakah harta, tahta, dan wanita yang dicari? Lalu untuk apa semuanya itu? 

Air Mata Tuhan

Berbicara tentang air mata apalagi air mata Tuhan tidak mudah. Kita tidak tahu seperti apa air mata Tuhan di tengah pertarungan politik. Hal ini masuk dalam ranah pergumulan manusia di jaman modern ini. Pergumulan tentang air mata Tuhan dan politik merupakan dua hal berbeda, tetapi dapat menemukan satu titik temu. 

Pada jaman Yesus hidup di dunia, banyak orang bahkan umat pilihan Allah tidak percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias yang dinanti-nantikan. Mereka mengira Yesus hanyalah anak si tukang kayu. Orang-orang sekampung-Nya pun tidak percaya, Dia adalah Allah yang hidup. 

Karena ketidakpercayaan ini, meskipun Yesus menyerukan pertobatan, mewartakan Kerajaan Allah, membuat banyak mukjizat, tetapi hati mereka tetap membatu. Mereka berbuat dosa dan menjauhkan diri dari Allah.

Mereka hidup di bawah bayang-bayang hukum Taurat. Maksudnya, mereka menerjemahkan hukum Taurat secara harafiah. Mereka lebih mengutamakan aturan-aturan semata daripada belaskasih. Bagi mereka, manusia ada untuk hukum Taurat dan hukum Taurat bukan untuk manusia.  

Mereka memaksa rakyat kecil untuk mentaati hukum Taurat tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Mereka melarang orang tidak melakukan dosa tetapi mereka sendiri berbuat dosa. Siapapun yang bertentangan dengan hukum taurat dihukum bahkan dihukum mati. 

Salah satu kejahatan politik jaman itu yakni pemerintah, imam-imam besar, dan para pemuka agama menjadikan bait Allah sebagai pusat birokrasi kepemerintahan. Bait Allah dijadikan tempat penjualan para pedagang. Tempat Allah berdiam dinodai dengan tindakan amoral dan permainan politik kotor. 

Bait Allah juga dijadikan pasar, tempat pertukaran uang, dan sarang penyamun. Bahkan bait Allah menjadi tempat yang dapat diperalat para petinggi agama untuk mengambil uang rakyat.

Seperti dikatakan Richard Daulay dalam tulisannya, bahwa akar kemiskinan adalah korupsi dan manipulasi yang merajalela pada semua lapisan masyarakat terutama pada birokrasi pemerintahan yang berpusat di Bait Allah. 

Bait Allah sudah kehilangan substansinya yakni kesucian, tempat Allah berdiam. Kejahatan manusia memporakporandakan kebeningan cinta Allah.

Kejahatan semakin membuat manusia lupa dari mana dia datang dan ke mana dia akan pergi. Manusia lupa hakekat diri dan panggilan Allah. Barangkali benar kata-kata Friedrich Nietzche, seorang ateis, yang mengatakan ‘Tuhan sudah mati’. Dan manusialah yang membunuh Tuhan.

Sebab manusia takut jika Allah selalu mengintip setiapkali manusia berbuat dosa. Agar perbuatan-perbuatan jahat manusia tidak diketahui Allah, maka manusia membunuh-Nya. Dengan demikian, ketika Allah sudah mati, tidak ada lagi yang mengintip atau pun melarang manusia untuk berbuat dosa. Manusia hidup bebas sebebas-bebasnya. 

Karena kejahatan manusia inilah, Yesus meneteskan air mata. Hemat penulis Yesus tidak membenci manusia tetapi dia membenci perbuatan dosa. Yesus menangis bukan karena diri manusia tetapi kejahatan yang dilakukan manusia.

Seperti tatkala Yesus meratapi Yerusalem, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan. Tetapi aku berkata kepadamu: kamu tidak akan melihat Aku lagi sampai pada saat kamu berkata: Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan (Luk 13:21-35)”. 

Relevansinya

Permainan politik para petinggi agama sangat berbeda jauh dengan cara hidup yang ditampilkan Yesus. Politik para petinggi agama berlandaskan harta, tahta, dan wanita. Mereka berusaha memeras uang rakyat.

Mereka mengambil keuntungan dalam pergerakan politiknya, sehingga pantaslah mereka kaya. Mereka lebih mementingkan tahta kekuasaan duniawi daripada membawa rakyatnya pada kebaikan bersama.

Mereka juga melarang orang untuk berzinah tetapi ada diantara mereka sendiri yang justru melakukan hal yang sama. Singkatnya mereka mengharuskan rakyat untuk mentaati hukum Taurat tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. 

Berbeda dengan cara hidup yang ditawarkan Yesus. Yesus menampilkan cara hidup unik bahkan bertentangan dengan cara hidup para pemuka agama Yahudi. Yesus lebih mengutamakan belaskasih untuk menyelamatkan manusia.

Bagi Yesus, hukum Taurat ada untuk membantu manusia menemukan keselamatan Allah. Belaskasihlah yang menjadi fundasi karya penyelamatan Yesus. 

Bagaimana dengan politik para politikus Indonesia? Permainan politik para elite hampir mirip dengan politik pada jaman Yesus hidup.

Titik persamaannya yakni permainan politik para petinggi agama pada jaman Yesus dan para elite politik jaman sekarang sama-sama bermaksud untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau golongan. Perbedaannya terungkap pada konteks jaman yang berbeda. Namun keduanya mengedepankan harta, tahta, dan wanita (3T). 

Melihat titik temu kejahatan politik tersebut, penulis bisa menyimpulkan air mata Tuhan tidak hanya tertuju kepada orang-orang Yahudi yang tidak setia kepada Allah, tetapi juga kepada orang-orang yang melakukan politik kotor dewasa ini di Indonesia.

Air mata Tuhan merupakan cara Allah menyadarkan mereka yang tidak menjadikan keadilan dan kebenaran dalam cara berpolitiknya.  

Air Mata Tuhan merupakan air mata kepedulian terhadap umat-Nya. Air mata itu terurai harapan agar manusia kembali ke jalan yang benar yakni politik akal sehat dan bersih.

Dia berusaha mempertobatkan manusia dengan usapan air mata-Nya, bahkan rela mengorbankan diri wafat di kayu salib untuk keselamatan manusia. Dengan demikian air mata Yesus adalah air mata cinta dan keselamatan.

Air mata Yesus adalah air mata yang dapat membersihkan politik kotor atau politik non akal sehat menjadi politik bersih yang berlandaskan cintakasih demi kebaikan bersama. 

Oleh: Nasarius Fidin
Penulis adalah alumnus STF Widya Sasana Malang, Jawa Timur. 
×
Berita Terbaru Update