-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Malaikat Kecilku Menerbangkanku Gapai Cinta

Kamis, 14 Maret 2019 | 23:35 WIB Last Updated 2019-12-12T03:59:51Z
Malaikat Kecilku Menerbangkanku Gapai Cinta


Hidup kadang sulit ditebak. Entah apa yang akan kita pikirkan apapun yang kita alami semuanya berada pada misteri.

Semuanya seakan berjalan begitu saja. Nia dulu bermimpi untuk memiliki seorang suami. Lama ia hidup sebagai seorang bujang. Hingga hari itu datang hari pernikahannya.

Dihadapan imam ia dan suaminya berjanji untuk hidup semati, dalam untung dan malang, dalam suka dan duka dan dalam sehat maupun sakit.

Janji itu terus terngiang dalam ingatannya hingga saat ini. Nia masih membayangkan bagaimana pertemuan pertama ia dan suaminya.

Kenangan pada masa pacaran, belum lagi dengan foto dihari pernikahan yang masih tersimpan di dinding tembok.

Hari ini masih sepi. Belum lama hujan baru redah. Hanya ada gumpalan butir air yang menuruni atap rumah.

Nia duduk seorang diri, mungkin lagi menerka tentang nasibnya. Dalam hati ia berkata “Tuhan, aku lelah menghadapi semua ini, bantulah aku agar tetap tegar dan kuat dalam menjalani hari hidupku. Teristimewa bagi malaikat kecilku.” 

Lely malaikat kecil Nia sedang tertidur pulas. Hari-hari mereka diisi kecerian. Cinta sang bunda yang begitu tulus membuat Lely mampu menikmati masa kanak-kanak dengan baik. 

Senja pun menongol di depan mata, burung-burung berterbangan kembali ke rumahnya. Terjadi sebuah pengalaman menarik menyaksikan sekumpulan burung gereja terbang mengitari jagat raya.

Tiba saatnya untuk makan malam. Sebelum memulai makan Nia dan anaknya berdoa terlebih dahulu, mereka hidup berdua. Ketika sedang asyik makan, Lely bertanya kepada ibunya.

“Ma… kok bapa tidak pulang-pulang, bapa kemana ma?” Nia tidak tahu harus menjawab apa. Dengan tenang ia mengatakan kepada anaknya, “Dek… ayah pergi ke tempat yang sangat jauh, dan ia tidak mau pulang, ia telah pergi ke Tuhan, jadi kita tidak perlu mencarinya, Tuhan lebih mencintai dia, sekarang kan ada mama yang selalu ada di sampingmu.

” Nia merasakan dadanya sesak, dan tidak tahan untuk menahan air mata. “Sekarang Lely lanjutin makannya, nanti kalau ingat papa terus, awas dia marah.” Dengan muka tertunduk lesuh Lely menikmati makannya.

Mulai dari situ ia tidak bertanya lagi tentang ayahnya. Hal itu menyisahkan duka dihati Nia sang ibu, “Seandainya tidak terjadi begitu cepat pasti ia bisa menikmati senyum manja anak semata wayangnya.” Gumam Nia dalam hatinya.

Malam itu Nia tidak bisa menikmati indahnya memejamkan mata. Di tempat tidur ia terus menatap anaknya, ia menemukan dalam hati anak itu ada sang ayah yang selalu menjaga dan melindungi mereka.

Dalam hati kecil anak itu pun ada kerinduan untuk menikmati pelukan sang ayah, agar ia bisa mengatakan kepada yang lain, aku punya ayah seorang pahlawan yang sangat hebat.

Dari pejaman mata anak itu, ada tangisan yang terus menerus memanggil dan merindukan sosok Ayah yang tak bisa dia lihat. 

Dingin terus menyerang bahkan mengepung jiwa dan raga, kapan semuanya berakhir. Kapan kesedihan ini terhapus.

Andaikan hidup ini seperti film, aku bisa mengulangi lagi kisah-kisah hidupku menatanya dengan baik, dan  memperbaikinya. Tapi apalah daya, hanya ada kata pasrah kepada yang kuasa. 

Ayam berkokok, mentari memamerkan indahnya sinar yang acapkali memberikan kesegaran. Apalagi hangat mentari menelan rasa dingin dan membawa kesegaran. Nia merasa ada yang tidak beres, tidak seperti biasanya. 

Retno bangun sangat pagi dan mempersiapkan diri untuk pergi kerja. Tapi pagi ini ada yang aneh. Nia memberanikan diri masuk ke dalam kamar dan membangunkannya. Dan ternyata ia tidak bernyawa lagi.

Nia beteriak histeris sehingga tetangga rumahnya beramai-ramai datang ke rumahnya. Yang paling menyedihkan adalah ketika Lely bangun dari tidur, dengan rasa bingung ia bertanya, 

“Mengapa mama menangis, ayahkan sedang tidur. Awas ia marah.” Tetangganya mengatakan kepada Lely, “Dek…itu ayahmu telah meninggal.” Lely tetap bersih keras “Ia sedang tidur, ayah sedang tidur jangan ribut awas dia marah.”

Begitulah kepolosan Lely membuat orang yang hadir di rumah itu menangis histeris. 

Pengalaman itu sungguh memenuhi seluruh malam Nia. Tak disadarinya bantal dipenuhi lingangan air mata.

Ia masih membayangkan cinta sang suami yang dulu pernah berjanji akan membuatnya bahagia. Tapi nyatanya sekarang ita pergi meninggalkannya seorang diri bersama anaknya.

Malam itu pun dihadapan Nia bangun dari tidurnya menyalakan lilin dihadapan patung keluarga kudus yang dihadiakan oleh sahabatnya di hari pernikahan Nia.

Melalui doanya Nia ingin menyerahkan seluruh hidupnya kepada penyelenggaraan Tuhan. 

Ia merasa tertegun ketika membaca dan merenungkan kisah Ayub, kata-kata Ayub membuatnya merasa dikuatkan, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk.” 

Ungkapan itu dilengkapi oleh kitab pengkotbah bab 3, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk, ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” 

Kedua kutipan kitab suci itu memberikan kesejukan di tengah kehausan seorang manusia. Pada saat seperti itulah, Nia disadarkan bahwa hidup itu sebuah peziarahan, yang didalamnya menyimpan misteri.

Dan untuk hal itu hanya iman yang membuat dia kuat menjalani semua itu. Hanya iman yang melahirkan pengharapan, sebab besok adalah rahmat. Kasih Tuhan tidak pernah terlambat. 

“Malaikat kecilku hadia terindah yang pernah Tuhan berikan kepadaku, dia adalah segalanya bagiku. Malaikat kecilku milikilah sayap yang bisa menerbangkan aku untuk menggapai cinta.” Gumam Nia sambil ia mencium kening anaknya.

Oleh: Patrisius Epin Du, SMM,
Penulis adalah biarawan Serikat Maria Montfortan, tinggal di Malang di Biara Pondok Kebijaksanaan-Malang

Ilustrasi dari kompasiana.com
×
Berita Terbaru Update