-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGENAI PERANG SAUDARA

Senin, 04 Maret 2019 | 19:55 WIB Last Updated 2019-12-04T11:05:52Z
MENGENAI PERANG SAUDARA


Oleh: Tifanny Laurencia


Banyak jasad yang terbaring kaku, dan darah yang segar masih mengalir. Beberapa penduduk desa sudah nampak melayat saat matahari mulai menderang.

Kesedihan pun tak terbendung membelut duka, perempuan tengah baya ini masih saja memekik, berceloteh dalam pelukan suaminya. Seakan-akan menuntut keputusan Tuhan.

Kampung pada saat ditinggalkan dulu begitu garang dan damai. Kini kian mencengkam. Suasana semakin hari semakin gaduh tak terkendali. Suara-suara kemerdekaan begitu nyaring terdengar diberbagai pelosok.

Beberapa dari mereka telah loyal menghamburkan mimpi-mimpi kepada kaum-kaum awam yang kurang mengerti, mereka menyatakan negeri ini akan jaya bila pemerintah kita berdiri sendiri.

 Besok bila saudara kita dari kaum sendiri telah memegang tampuk pemerintahan, tidak ada lagi kaum melarat dan miskin, tak ada lagi orang yang kelaparan yang suka menengadah dijalanan.

Tak ada lagi kaum kita yang tertindas, tidak  ada harta dan darah yang terjarah. Sehingga tak perlu pemuda-pemuda tanggung kembali menenteng senjata, menghasut kaumnya untuk menyakiti kaum sendiri. Begitulah kaum pemberontak mengumbar janjinya.

Selama peperangan banyak doa-doa yang terlontarkan dari mulut masing-masing. Mata mereka juga melirik ke kanan ke kiri selalu was-was, tajam seperti mata perempuan jalang. Sikap masyarakat kampung resah, tak tenang. Ada saja kegundahan dalam hati mereka.

Dengan percayanya mereka kepada kuasa Tuhan, mereka terus berjuang. Di suatu malam yang sunyi, mereka telah berencana melawan mereka.

Cerah hari tiba, suara duka tidak terdengar lagi, senyuman muncul ditiap bibir. Mereka berhasil melumpuhkan amukan pemuda musuh tersebut, beberapa peluru langsung dimuntahkan, tepat bersarang di dadanya.

(Ilustrasi dari id.wikipedia.org)
×
Berita Terbaru Update