-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KETIKA KITA MENJADI LILIN BAGI DUNIA HAMPA

Sabtu, 09 Maret 2019 | 19:01 WIB Last Updated 2019-12-04T11:02:10Z
  KETIKA KITA MENJADI LILIN BAGI DUNIA HAMPA
/Ilustrasi dari http://curcolplus.blogspot.com/

Oleh Andre Meidianto

Masih teringat cerita lama dari guru sekolah minggu saya yang mungkin juga sudah sering kalian dengar.

Ada suatu perlombaan yang diadakan oleh seorang raja untuk rakyatnya. Dari ribuan rakyatnya, ternyata yang berminat mengikuti lomba ini hanya ada 3 orang. Uniknya, orang pertama adalah juragan sayur tersukses di negeri itu.

Orang kedua adalah seorang kuli bangunan, dan yang terakhir hanyalah seorang anak kecil yang miskin.

Ketika hari perlombaan tiba, atas dasar instruksi raja, mereka bertiga berlomba untuk memenuhi suatu ruangan dengan sesuatu yang mereka punya.

Orang pertama yaitu Sang juragan. Dia sangat optimis untuk memenuhi ruangan dengan membeli banyak sayur. Kemudian sayur tersebut disimpan dalam ruangan hingga ruangan tersebut penuh.

Lalu orang kedua memenuhi ruangan itu dengan semen dan batu bata, sehingga tak ada celah dalam ruangan itu.

Saat giliran ketiga tiba, si anak tidak terlihat membawa apa-apa, tetapi ketika melaksanakan tugasnya, ia merogoh sakunya. Dikeluarkannyalah sebatang lilin dan korek api lalu menyalakannya dan menaruhnya di tengah ruangan itu, sehingga ruangan itu benar-benar terpenuhi dengan cahaya.

Hari pengumuman pun tiba, Sang raja dengan tegas dan bijaksana memberikan penghargaan pada anak tadi sebagai juaranya.

Sang Raja sangat kagum dan tertarik dengan pola pikir anak kecil tadi.
Kisah di atas menggambarkan tiga orang yang berusaha memenuhi ruangan dengan cara masing-masing. Hal menarik dari perlombaan itu, ketika si kecil memenuhi ruangan dengan menyalakan lilin.

Lilin itu bercahaya dan menerangi ruangan itu. Barangkali ruangan itu sangat gelap sehingga terang karena cahaya lilin.

Cara berpikir anak kecil itu sangat sederhana tetapi cerdas. Apa yang  dia lakukan tidak terpikirkan oleh kedua orang tadi. Si kecil memiliki cara berpikir yang sangat bijak. Dia membawa terang di dalam ruangan gelap.

Sebagai orang beriman kita dituntut untuk membawa terang bagi dunia yang gelap ini. Namun menjadi terang dan garam dunia memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Menjadi terang bagi dunia butuh kerja keras. Kita juga perlu belajar seperti lilin tadi. Bukan dari sisi cahaya atau penyinarannya saja yang kita pelajari, tetapi bagaimana lilin itu diproses sehingga dapat bersinar.

Tidak perlu kita tahu tentang cara pembuatannya, tetapi di sini yang saya tekankan adalah saat lilin itu bersinar, melelehlah juga badannya.

Seperti kita yang setiap waktu akan semakin rapuh. Tetapi kita perlu belajar, bagaimana lilin itu tetap efektif memenuhi ruang kosong walaupun ia juga semakin kehilangan bagian tubuhnya. Benar-benar pengorbanan yang besar dari sebatang lilin jika lilin ini adalah manusia.

Di tengah dunia yang semakin dikuasai kejahatan, kita hendaknya semakin berusaha keras untuk menjadi terang bagi dunia ini.

Mungkin hal ini dapat kita  lakukan mulai dari keluarga, atau di lingkungan pekerjaan, sekolah, pergaulan, dan sebagainya. Yang perlu diingat adalah pengorbanan seperti lilin tadi.

Ingat, kita di dunia ini bagaikan domba di tengah-tengah serigala, sehingga pasti kita menemukan banyak permasalahan saat menjadi lilin ini. Tapi satu hal yang lebih pasti adalah Roh Allah selalu hadir dalam diri kita dan akan menuntun kita untuk menjalani misi Ilahi ini.

Tetaplah bersinar dan janganlah pudar. Jadikan doa sebagai senjata dan beranilah berkorban seperti lilin untuk menuntun orang disekitar kita kepada jalan yang benar.

Penulis adalah siswa SMA Tarsisius Vireta, Tangerang
×
Berita Terbaru Update