-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

OM TELOLET OM VERSUS "HORN OK PLEASE"

Senin, 18 Maret 2019 | 19:28 WIB Last Updated 2019-03-18T12:28:41Z
/Ilustrasi dari www.youtube.com/

Oleh: I Made Kridalaksana, S.Pd.,M.Hum

Beberapa tahun yang lalu teriakan serta tulisan Om Telolet Om pada berbagai bentuk selebaran sempat memberikan hiburan segar kepada publik tanah air. Meskipun demam ber-Om Telolet Om sudah berlalu, sepertinya fenomena ini masih relevan untuk dibahas mengingat kehebohannya tidak hanya mengguncang dunia nyata tetapi juga sempat viral di dunia maya. 

Di dunia nyata, eforia ber-Om Telolet Om dilakukan oleh orang-orang yang berdiri di pinggir-pinggir jalan yang sering dilalui bus. Sementara di dunia maya sempat bermunculan banyak video yang memperlihatkan kegembiraan orang-orang baik dewasa maupun anak-anak ketika teriakan serta tulisan Om Telolet Om mereka direspon oleh pengemudi bus. 

Terkait dengan budaya klakson-mengklakson, saya teringat dengan suasana keriuhan bunyi klakson saat menumpang bus melewati beberapa jalanan yang ada di India. Di kota New Delhi, misalnya, membunyikan klakson sudah menjadi budaya tersendiri bagi pengemudi di tengah semrawutnya suasana berkendara. 

Pada sebagian besar mobil yang berukuran besar dan panjang terdapat tulisan peringatan yang ditujukan kepada pengemudi di belakangnya dengan pesan dalam bentuk tulisan dalam Bahasa Inggris di belakang bak mobil seperti ‘Horn OK Please’—‘tolong membunyikan klakson!’.

Di Indonesia, para ‘penggemar’ Om Telolet Om menggunakan bahasa lisan maupun tulisan dalam menyampaikan aksinya. Seringkali sambil memegang poster bertuliskan Om Telolet Om, mereka berteriak-teriak kepada para pengemudi bus yang lewat untuk menyalakan klaksonnya. 

Sementara itu, di India, para pengemudi tentu tidak bisa berteriak kepada pengemudi di belakangnya. Oleh karena itu, mereka hanya bisa ‘berkomunikasi’ dengan menggunakan bahasa tulis yakni tulisan ‘Horn OK Please’ di bagian belakang bak kendaraan baik yang berukuran sedang maupun lebar. 

Pada fenomena Om Telolet Om orang-orang yang berada di luar bus, yakni, mereka yang berdiri di pinggir-pinggir jalan pada setiap tempat strategis yang akan dilalui bus tersebut akan mencoba membuka komunikasi dengan pengemudi bus dengan memintanya untuk manyalakan klakson yang bunyinya menarik perhatian tersebut. 

Dalam konteks Om Telolet Om ini, para pengemudi membunyikan klaksonnya bukan untuk menghalau mobil yang ada di depannya melainkan hanya untuk merespon ‘request’ orang-orang yang kerap berdiri di pinggir jalan di sepanjang tempat-tempat yang mereka lalui. Sementara itu, pada fenomena ‘Horn OK Please’ komunikasi dalam bentuk tulisan dilakukan oleh pengemudi ditujukan untuk pengemudi yang ada dibelakangnya dengan tujuan mendapatkan rasa aman ketika berkendara. 

Kalau di tanah air, Om Telolet Om lebih dominan berfungsi sebagai hiburan. Orang akan merasa senang dan terhibur seperti tertawa kegirangan sambil meloncat-loncat maupun berlarian jika pengemudi bus merespon permintaan mereka untuk membunyikan klaksonnya. Sebaliknya, kalau permintaan tersebut ditolak pengemudi, tidak ada dampak serius atau membahayakan yang ditimbulkan. 

Namun, di India, pesan tertulis ‘Horn Please’ lebih digunakan sebagai peringatan atau perintah untuk menyalakan klakson. Kondisi berkendara yang memang tidak teratur ditambah dengan minimnya kaca samping (spion) terutama pada truk yang baknya berukuran panjang seringkali membuat posisi mobil mereka melaju agak ke tengah jalan sehingga menyulitkan pengemudi di belakang yang hendak mendahuluinya. 

Oleh karena pesan ‘Horn OK Please’ ini sangat penting, jika tidak dilaksanakan maka akan menimbulkan potensi bahaya seperti tabrakan atau serempetan. Jadi, Om telolet Om maupun ‘Horn OK Please’ adalah dua hal yang memiliki keunikan masing-masing dari dua budaya yang berbeda, Indonesia dan India.
×
Berita Terbaru Update