-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENDIDIKAN ITU KULTUR

Senin, 18 Maret 2019 | 22:59 WIB Last Updated 2019-03-18T16:02:05Z
/Ilustrasi dari http://kabarmakalah.blogspot.com/
Oleh Tarsy Asmat MSF

Pendidikan dan politik memang satu kesatuan. Kebijakan politik menentukan kemajuan pendidikan di satu negara. Maka tidak heran wacana dan program prioritas politik dari capres dan cawapres kita perlu disimak dan dicerna dengan baik.


Tetapi salah satu pertanyaan saya ialah apakah program dan janji politik calon pemimpin negeri ini nantinya dan dalam tempo yang singkat mengubah pendidikan di negeri ini menjadi setara dengan negara yang mereka refrensi sebagai model pendidikan yang advance?

Peran Keluarga
Pendidikan tidak hanya diselesaikan oleh kebijakan politik. Meskipun regulasi itu penting. Mengapa demikian? Kebijakan politik berlaku dari sabang sampai meroke. Tetapi fakta di lapangan, ada kesenjangan yang lebar di bidang ini antara di kota-kota maju di negeri ini dengan yang ada di plosok.

Persis disitu jugalah persoalan penerapan K 13 dan full day school. Penerapan K13 di plosok tanah air, tidak semudah dengan di Kota.


Selain itu perubahan mentalitas dari proses mengajar yang "mencekok" teori dari guru ke siswa tidak sesederhana yang dibayangkan berubah ke guru sebagai fasilitator. Tanggungjawab anak untuk mandiri misalnya ternyata juga PR bagi guru di sekolah, padahal seharusnya peran keluarga anak lebih ditekankan.

Begitu juga kebijakan pendidikan boleh berganti dari satu era ke era yang lain, tetapi kalau tidak menyentuh ke akar persoalannya maka transformasi di bidang pendidikan ini, apapaun kebijakannya selalu tegang dan bahkan jurang perbedaan tetap kekal abadi.

Mudah bagi kita untuk melihat refrensi kemajuan pendidikan di negara Eropa atau tetangga kita, tetapi kita perlu menyadari bahwa capaian mutu pendidikan seperti itu adalah evolusi budaya di suatu bangsa.

Kemajuan pendidikan pendidikan di Eropa dan negara Asia yang lebih advance adalah fase perkembangan peradaban kebudayaan mereka. Mereka mencapai mutu seperti itu karena sejarah peradaban mereka sendiri.

Bagaimana dengan kita?
Untuk mencapai seperti negara maju itu, "gagasan lompat katak" memang perlu menjadi landasan perubahan untuk kita. Lompat katak maksudnya ada fase yang mesti kita lompat untuk sampai setara dengan negara yang maju. Perubahan cepat itu juga didorong oleh globalisasi dan teknologi informasi.

Lompatan katak mengandaikan transformasi sosial dan transformasi kebudayaan di negeri ini. Transformasi sosial dan budaya ini hanya tercapai jika pendidikan kritis yang menekankan pada kesadaran sosial semua masyarakat bahwa pentingnya literasi. Selain itu adanya kesadaran bersama, tanpa terjebak pada konflik identitas seperti SARA yang justru banyak menghambat kemajuaan.

Literasi misalnya sebagi kesadaran baru yang tumbuh di tengah keluarga-keluarga. Ya bagaimana anak bisa rajin membaca buku kalau orangtuanya sama sekali tidak memberi contoh? Mungkin contoh ini terlalu muluk karena kebiasaan membaca juga tergantung pada tingkat pendidikan.

Tetapi dari itu, perlunya kebijakan yang merangsang budaya literasi ini seiring dengan pembangunanan Desa. Transformasi pendidikan harus beriringan dengan pembangunan desa.

Pembangunan infrastruktur adalah bagian dari hardward kemajuam sedangkan pendidikan itu sendiri ialah sofward kemajuaan. Dua-duanya sejalan. Presiden Jokowi selalu menggunakan kata pembangunan berorientasi pada manusia atau juga human movement dsbnya. Tetapi perlu ada rangsangan yang menyentuh pada gerakan revolusi mental ini.

Apa yang saya tulis ini memang sudah sedang berlangsung dan sejalan dengan program pemerintah Jokowi. Saya melihat sekolah baru semakin banyak didirikan di desa-desa. Tetapi belum diperkuat dengan kebijakan yang merangsang kesadaran pentingnya pendidikan tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga keluarga-keluarga.

Pendidikan itu pada dasarnya soal kebudayaan, kebiasaan dan lingkungan hidup. Maka hemat saya perlu mendukung komunitas-komunitas sukarela yang peduli pada semangat pengembangan budaya literasi di tingkat desa. Misalnya komunitas "ayo membaca", dll. Bahan bacaannya ialah koran dan majalah lalu mengajak warga kampung untuk berdiskusi atas bacaan mereka tersebut.

Semangat ini nantinya bagaikan tanah yang subur untuk pertumbuhan. Sehingga kalaupun berganti kebijakan politik karena kultur pendidikannya bagus maka banyak ahli, insimyiur, dan ilmuwan muncul dari kampung-kampung.
Proyek melek kesadaran ini pernah dilakukan di Amerika latin sebagai proyek revolusioner Paulo Friere, mendorong masyarakat untuk samacam "dipaksakan melompat dan maju" serta mempunyai kesadaran kritis.

Jika kultur ini bergerak di desa-desa, maka desa-desa tidak hanya terang karena listrik masuk desa, tetapi juga terang kognitasnya. Untuk itu jika pendamping pengembangan desa bisa dibentuk, maka pendamping pada gerakan perubahan kultur pendidikan ini juga pasti bisa.

Mengajar saja tidak cukup, perlu mengubah mental dan suasana lingkungan di sekitar anak-anak yaitu keluarga-keluarga.
×
Berita Terbaru Update