-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PERSEMBAHAN IBU (Cerpen Ano Rebon, SMM)

Sabtu, 23 Maret 2019 | 02:43 WIB Last Updated 2019-12-05T07:13:46Z
PERSEMBAHAN IBU (Cerpen Ano Rebon, SMM)


Gemuruh angin disertai hujan terus membelai bumi. Pepohonan yang selama ini terlihat gagah menjulang, diam tak berdaya.

Kilat dan guntur sambar menyambar seolah-olah tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada setiap makhluk untuk bercumbu dengan alamnya.

Malam yang tak berbintang menambah suasana semakin mencekam. Langit sesekali diterangi cahaya kilat. Kurapikan kembali selimut yang terlepas dari tubuhku.
Mataku menerawang menatap langit-langit kamar. Semuanya terasa tak berubah. 

25 tahun telah berlalu dan semuanya tampak tak berubah sedikitpun. Di rumah ini aku lahir dan dibesarkan. Setengah hidupku bersemai di dalam rumah tua ini.

Rumah berdinding bambu pemberian mendiang kakek, ayah dari ibuku ini menjadi satu-satunya harta bagi aku dan ibu. Ah, Ibu. Wanita yang telah menghadirkanku ini adalah wanita terhebat. Wanita yang menghidupkan, perpanjangan tangan Tuhan bagiku. 

Lamunanku semakin jauh dan tak terasa butir-butir kristal mengalir disudut mataku. Lampu minyak yang sedari tadi menerangi kamar perlahan-lahan meredup seiring detak jarum jam yang terus menjauh. Pertanda malam telah jauh larut. 

Di luar sana alam masih saja meronta. Aku bangun dan duduk di sudut ranjang. Kulirik jam yang menempel di dinding, sudah pukul 01.00.

Aku belum juga tertidur. Bukankah pagi ini aku akan memimpin ibadat di Gereja? Yah, aku seorang frater yang berlibur setelah kurang lebih tiga tahun berada dalam komunitas seminari tinggi tempatku meniti jalan panggilan. 

Saat ini adalah momen yang kutunggu-tunggu, setelah sekian lama tidak melihat raut wajah ibu dan mendengar lembut suaranya.

Tapi bukannya menikmati liburan bersama ibu, malah aku di sodorkan jadwal oleh pastor paroki yang bagiku cukup menyita masa liburanku.

Terkadang kuterima tugas ini dengan berat hati dan bahkan inginku menolaknya, karena setiap kali berlibur sejak masih berada di seminari menengah, selalu diberikan tugas melayani umat dan beraneka ragam pelayanan lainnya, seolah-olah pastor parokiku tidak ingin melihat aku berisirahat atau sekedar bersantai-santai di rumah. 

Namun aku sadar, ini adalah tugasku. Aku seorang calon imam yang dipanggil untuk menjadi pelayan. Bukankah Yesus sendiri juga datang ke dunia untuk melayani?

Kembali kutelungkupkan badanku sembari mencoba memejamkan mata, menghilangkan semua pikiran yang berkecamuk dalam benak.

Namun tetap saja aku kembali pada lamunan awalku. Masa laluku, yah masa laluku. Di rumah ini, tempat dimana kisah hidupku diukir.

Aku mempunyai ayah namun tak pernah memeluknya atau bahkan melihat raut wajahnya secara langsung. Ibu dan bahkan semua orang yang mengenal ayah sering mengatakan wajahku mirip ayah. Tak pernah juga aku menyebut kata ayah untuk seorang lelaki dalam hidupku. Tidak seperti teman-teman yang mempunyai kasih sayang yang lengkap, aku hanya mempunyai ibu. 

Wanita yang telah renta ini selain menjadi ibu juga menjadi ayahku. Kata ibu, ayah adalah lelaki yang hebat, penuh kasih sayang dan sangat mencintai ibu. Namun ketika kutanya keberadaan ayah, ibu terdiam seribu bahasa. Terkadang aku melihat ibu menangis dan mendekap foto ayah. 

Aku turut menangis melihat ibu, namun aku tak cukup kuat untuk membantunya dan aku tak tahu bagaimana cara membantu ibu melupakan semuanya ini.

Aku masih kecil. Aku hanya bisa menghiburnya dengan menjadi anak yang baik walau hatiku turut hancur. Dan ibu juga demikian.

Dengan rapinya menyembunyikan suasana hatinya dengan tidak menangis di hadapanku. Aku tahu semuanya itu. 

Cerita ini kudengar dari nenekku. Setelah aku cukup dewasa, nenek merasa bahwa sudah waktunya aku harus tahu apa yang terjadi dengan ayah dan mengapa ibu selalu menangis ketika melihat foto ayah. Ayah, lelaki yang kurindukan, meninggalkan ibu dan aku, ketika aku baru tiga bulan berada dalam rahim ibu. 

Dengan alasan mencari nafkah untuk menghidupkan keluarga barunya, ayah pergi meninggalkan kami, pergi ke negeri seberang dengan meninggalkan berjuta-juta harapan dalam hati ibu.

Walaupun berat bagi ibu untuk melepaskan ayah, namun tuntutan ekonomi dan janji ayah, meluluhkan hati ibu. Akhirnya ayah pergi. 

Bulan-bulan pertama ketika berada di tanah rantau, ayah selalu memberi kabar melalui surat dan sepeser uang untuk ibu.

Namun rupanya madu di tanah rantau lebih manis ketimbang madu di tanah sendiri. Janji itu perlahan-lahan menghilang bersama bergantinya tahun.
Cinta yang dirajut bersama dan diikrarkan di hadapan Tuhan, hilang tak berbekas. 

Ayah pergi membawa separuh cinta ibu dan membuangnya entah ke mana, dan ibu masih setia menunggu dengan cinta dan harapan yang sama.

Tahun-tahun berganti, hati ibu terhibur dengan kehadirankku di dunia. Dukungan dari keluarga juga turut membantu ibu untuk kuat menghadapi luka, walau kecemasan itu semakin menghantui pikirannya. 

Akhirnya ketakutan dan kecemasan itu menjadi nyata ketika berita itu datang. Ayah telah menikah dengan wanita lain. Hati ibu hancur berkeping-keping.

Penantian berbumbu harapan yang selama ini dijaga baik oleh ibu, hilang dalam sekejap. Cinta yang dipelihara ibu selama bertahun-tahun yang mungkin sudah berlumut tak sedikitpun dihargai oleh ayah. 

Ibu mengalami depresi berat dan bahkan bagi orang-orang kampung, menganggap ibu telah gila. Aku pada saat itu yang belum tahu apa artinya cinta dan luka hanya dapat menyaksikan derita ibu.

Namun ibu adalah wanita terhebat. Ia menghalau kabut kegelapan dengan secercah sinar pengharapan yang tersisa. Ibu bangkit dari keterpurukannya menutup luka dengan tenaga yang rapuh. 

Aku satu-satunya harapan itu. Ibu membesarkanku dengan tangannya sendiri, sampai pada akhirnya aku bertumbuh dan memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan.

“Bu, aku mau melanjutkan pendidikanku di seminari menengah”, kataku pada suatu malam. Raut muka ibu berubah, ketika kusampaikan keinginanku. Ibu langsung pergi begitu saja dari hadapankku. 

Malam itu aku terjaga dan kudengar suara isak tangis ibu. Aku merasa bersalah.  Ah, Tuhan!

Mengapa Engkau menabur benih panggilanMu dalam hatiku, sedangkan Engkau sendiri tahu, ibu sangat mencintaiku? Aku adalah satu-satunya harta terindah ibuku.

Kumohon ambilah benihmu dari diriku dan biarkanlah aku membahagiakan ibu dengan cara hidup yang lain. 

Batinku berkecamuk ketika kulihat ibu bersimpuh di depan arca Bunda Maria sambil membisikan namaku. Mengapa aku mengungkapkan keinginanku pada ibu?

Mengapa tidak kusembunyikan niatku ini dan memendamnya dalam hati, toh suatu saat nanti niat ini dengan sendirinya menghilang. Aku telah salah.

Ayah telah melukai hati ibu dan sekarang, aku sekali lagi menghancurkannya. Ah, tidak. Aku akan berusaha melupakan niat ini, dan menghapus semuanya ini dari hatiku. Aku ingin membahagiakan ibu.

Hari berlalu dan semakin ku hapus niat ini, semakin aku menimbun luka dalam diriku. Apakah aku telah membohongi diriku sendiri? Sejak kusampaikan niatku, sikap ibu menjadi berubah.

Perhatian ibu kepadaku menjadi lebih dari biasanya. Aku merasa senang karena dengan perhatiannya membantu aku untuk dapat menghapus niatku. 

Namun entah apa yang meluluhkan hatinya, suatu hari, dua minggu sebelum mendengar berita kelulusan, ibu memanggilku.

“Nak, engkau pernah menyampaikan niatmu pada ibu, bahwa engkau akan masuk seminari dan mengikuti panggilan Tuhan. Apakah niat itu masih ada”? tanya ibu. Aku terdiam.

“Jawablah nak. Apakah niatmu itu masih ada”? tanya ibu lagi. “Iya. Iya bu. Niat itu masih ada.

Selama ini aku mencoba menghapus niatku ini demi kebahagiaan ibu, namun semakin aku mencoba menghapusnya, semakin niat ini terpatri dalam hatiku. Aku tak bisa berbohong dengan diriku sendiri bu”, jawabku terbata diiringi derai air mata. 

Ibu menggenggam tanganku dan dengan lembut menghapus air mataku. “Nak, sejak ibu kehilangan ayah, hati ibu hancur.

Namun kehadiranmu menjadi satu-satunya alasan kenapa ibu masih tetap hidup sampai saat ini. Ibu sangat mencintaimu dan tak mau kehilanganmu, namun ibu sadar, engkau adalah titipan Tuhan.

Ia telah menabur benih panggilan dalam hatimu dan kalau ini pilihanmu, jalanilah. Ibu merelakanmu dan akan selalu mendukungmu”, kata ibu dengan terbata sembari mendekapku erat.  “Terimakasih bu, atas kerelaan ibu”, bisikku.

Sejak saat itu sampai aku menyelesaikan pendidikanku di seminari menengah, ibu selalu mendukungku. Aku tetap teguh dalam jalan panggilan dan ku tahu keteguhanku adalah buah doa-doa ibu.

Dan ketika aku melamar untuk masuk di Novisiat hingga mengikrarkan Kaul Perdanaku, ibu hadir dengan senyum seindah pelangi. 

Kabut kesedihan yang selama ini tergambar jelas pada raut wajahnya kini berganti dengan guratan bahagia. Satu-satunya harta terindah dalam hidupnya, kini dipersembahkannya kepada Tuhan.

Seperti janda yang memberi persembahan kepada Tuhan dari kekurangan, bahkan seluruh nafkahnya dan seperti Bunda Maria yang memberikan dirinya secara total kepada Tuhan, begitu juga ibu.

Ia mempersembahkan satu-satunya mutiara yang ada padanya kepada Tuhan. Ibu memberi dengan tulus, yah dengan tulus. 

Aku terjaga dari lamunanku. Entah sudah berapa lama aku terombang-ambing dalam bayangan masa laluku. Di luar sana alam dan langit telah kembali berdamai.

Kegelapan perlahan bergeser. Ayam berkokok menyambut datangnya hari baru. Aku tidak tidur dan dan akan memimpin ibadat pagi ini. 

Aku akan mempersembahkan diriku dan juga ibuku untuk Tuhan. Segera ku beranjak dari ranjang dan berlutut di hadapan arca Bunda Maria.

“Bunda terimakasih, karena telah mendoakan aku dan ibu, dan terimakasih karena telah melindungi kami selama ini.  Terimakasih karena telah menjadi perantara doaku.

Aku milikmu semata-mata dan segala milikku, kuserahkan kepadaMu, ya Yesus yang terkasih melalui Maria ibuMu yang suci”, bisikku tegas mengakhiri doa pagiku.

Oleh: Ano Rebon, SMM
Penulis adalah mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, Tinggal di Biara Pondok Kebijaksanaan, Malang

Gambar diambil dari tribunnews.com
×
Berita Terbaru Update