-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sajak si Penjala Ikan, Di manakah Engkau, Pecundang?

Jumat, 15 Maret 2019 | 22:16 WIB Last Updated 2019-12-12T03:50:54Z
Sajak si Penjala Ikan, Di manakah Engkau, Pecundang?

Sajak si Penjala Ikan

Seorang pemuda tampan nan perkasa berdiri di pinggir pantai. Wajahnya yang elok permai mengikat perhatian publik untuk mendekatinya. Entah apa yang hendak ia katakan, tak seorang pun bisa menebak. 

Dia bukan seorang “pakar” retorika. Yang mampu mengolah cita rasa bahasa. Bukan juga staf atau ahli kelautan di zaman itu. Yang mampu memprediksi saat kapan seorang nelayan bisa menangkap ikan. Apalagi soal kali bagi ketika ikan hendak dijual. Jangan ditanya pula sarjananya.

Dia itu seorang anak desa dari kampung sebelah. Rumahnya jauh dari pemukiman umum.  Ayahnya seorang tukang kayu dan ibunya pekerja rumah tangga. 

Entah apa yang terlintas dalam pikirannya, tiba-tiba ia mengatakan sesuatu mengejutkan. Dia bilang kepada seseorang yang bernama Simon yang pekerjaan hariannya hanya menangkap ikan “tebarkanlah jalamu Simon untuk menangkap ikan”. 

Bapa tua nelayan pun bingung. Sebab, seorang anak desa dan bukan seorang yang profesional dalam hal melaut bisa mengatakan demikian. Kecuali kalau dia berbicara soal bagaimana membangun sebuah rumah yang bagus dan kokoh, itu baru bisa dipercaya sepenuhnya. Inikan tidak.

Namun, bapa tua dengan kebingungan dan ketidakyakinan atas pernyataan seorang anak muda tadi, terpaksa ia menjalankannya.
Beberapa menit kemudian, jala Simon pun terkoyak penuh dengan ikan. Ada ikan yang berukuran besar dan ada juga yang kecil. 

Tiba-tiba bapa tua berjanggut tebal tadi tersungkur di kaki anak muda dari desa itu. Ia mengatakan “Guru jadikanlah aku penjala manusia”. Serentak mengagetkan bapa tua bersuara: “Aku ini berdosa. Aku tak pantas ada bersama-Mu dan lain sebagainya. Jadikanlah aku penjala manusia”

Anak muda pun menyuruh bapa tua itu untuk meninggalkan segalanya lalu mengikuti anak desa.

Di manakah Engkau, Pecundang?

Aku dilahirkan di negeri yang subur
Ibuku mengajari aku bagaimana mencintai negeri ini
Karena sungguh diyakini negeri ini aman untuk dihuni

Guru-guruku juga mengajarkan aku tentang sejarah bangsa ini
Saya gemetar ketakutan lantaran keringat darah dan 
nyawa menjadi taruhan anak bangsa untuk negeri ini

Kalau aku lahir di rezim durjana itu mungkin puisi ini tidak dinikmati oleh generasi baru bangsa ini
Namun, Apalah daya

Perlawanan kembali terusik di negeri ini lantaran penguasa negeri menebarkan ketidakadilan dan ketimpangan sosial di terjadi dimana-mana
Kembali suaraku:
“Di manakah Engkau, pecundang?”

Harapan bangsa adalah perubahan 
bukan tanya tanda
Melainkan tanda zaman
Proporsionalitas dijunjung
Nasionalisme diperjuangkan
Patriotisme disuarakan

Membongkar cendekiawan yang sopan-sopan padahal 
menaruh dendam ingin menguasai negeri ini

Bersikap lagi tanpa sopan, etika jadi alas retorika mengabaikan substansi
Pendidikan karakter ala Ki Hadjar Dewantara dulu semacam aktus sia-sia, 
tanpa membekas 
Politik tanpa prinsip
Semuanya kacau-balau....
“Di manakah Engkau, Pecundang?”

Oleh: Vayan Yanuarius. Alumnus seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo.

Ilustrasi dari danielnugroho.com
×
Berita Terbaru Update