-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TANTANGAN DAN SOLUSI KAUM MUDA ZAMAN KINI

Selasa, 19 Maret 2019 | 23:47 WIB Last Updated 2019-03-19T16:48:21Z
/Ilustrasi dari http://ozip.com.au/
Oleh: Vayan Yanuarius.

Menurut Fitrah kejadiannya, manusia diciptakan bebas dan merdeka dalam segala hal. Kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari kemerdekaan sebab kemerdekaan merupakan dambaan setiap manusia. Kebebasan mutlak diperlukan oleh manusia dalam rangka pembentukan dan pengembangan kepribadian.

Pembentukan dan pengembangan manusia sangat menentukan strata dalam kehidupan sosial. Kaum muda dan kualitas-kualitas yang dimiliki, akan menduduki kelompok elit dalam kehidupan generasinya. Sikap keberanian dan kritis merupakan ciri dari kelompok elit kaum muda. Keberanian dan kekritisan kaum muda didasari oleh objek yang mereka perankan, apabila objek tersebut sesuai dengan karakter mereka yaitu bebas merdeka maka hasilnya nanti baik.

Sejarah telah mencatat bahwa kaum muda memiliki peran yang sangat penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia. Kalau kita melihat ke album lembaran sejarah bangsa Indonesia, di sana sangat jelas hasrat kaum muda yang menggebu-gebu dan gigih dalam memperjuangkan nasib bangsa Indonesia kearah yang lebih baik.

Perjuangan kaum muda pada masa silam membawa emansipasi yaitu kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945. Berbagai cara ditempuh untuk ke luar dari belenggu penjajahan dalam kurun waktu 350 tahun oleh bangsa Belanda. Sejarah juga telah mencatat keterlibatan kaum muda dalam gerakan perubahan-perubahan sosial politik di bangsa ini, sejak era kebangkitan hingga bergulirnya era reformasi 1998 (Drs. Aloysius B. Kelen, M. SI, 2014: 155). Dapat kita ketahui bahwa kaum muda adalah generasi milenial sebagai penerus bangsa yang memiliki gagasan-gagasan brilian dalam merekostruksi bangunan sistem pemerintahan bangsa Indonesia yang berkualitas.

Gerakan Pemuda Bangsa Indonesia Sekarang

Keragaman gerakan kaum muda sangat tidak mempengaruhi keadaan sekitar, selagi kaum muda  masih menyadari atau mengingat ikrar yang telah ditegakan bersama sebagai dasar untuk melangkah ke depan yakni “Sumpah Pemuda”. Dengan menyatakan bahwa kita adalah satu bangsa, satu bahasa dan bertanah air satu yakni tanah air Indonesia, itu berarti di balik pernyataan ini gerakan kaum muda memiliki intensi privilese untuk membangun bangsa Indonesia.

Namun, sangat disayangkan, akhir-akhir ini eksistensi kaum muda mengalami degradasi, sehingga keadaannya dalam kehidupan sosial mulai dipinggirkan oleh berbagai pihak. Banyak kalangan memiliki kecemasan tersendiri bahkan menaruh sikap pesimis terhadap generasi muda dalam menggapai masa depan yang lebih baik.

Problem yang sering diperbincangkan adalah tindakan kriminalitas yang dilakonkan oleh kaum muda. Meskipun ada begitu banyak peristiwa yang miris terjadi seperti seks bebas, tawuran, vandalisme, hubungan seks pra-nikah dan kelompok geng, namun kadar sadistis yang tampak terjadi pada tindakan kriminalitas.

Dari fakta di atas dapat kita simpulkan bahwa ketahanan diri kaum muda sangat represif. Inilah yang menjadi akar krisis identitas kaum muda sehingga menjurus pada pemahaman yang dangkal dari pemahaman kebebasan tanpa tanggung jawab. Dr. Glasser mengatakan bahwa menanam sikap bertanggung jawab merupakan tugas yang paling penting dari semua jenis binatang mulia, khususnya manusia. 

Mentalitas dekonstruksi kaum muda di atas sering ada keterkaitannya dengan perubahan zaman. Perubahan zaman ini sering disebut globalisasi. Globalisasi tiba-tiba menggerogoti setiap sendi-sendi kehidupan manusia dengan begitu cepat, sehingga sulit untuk membendungnya. Kesulitan ini berdampak pada culture yang ikut berkembang. Pemuda lebih menyukai hal-hal yang baru dan ikut bergabung dalam perubahan-perubahan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Pengaruh-pengaruh globalisasi berdamapak pada pola pikir, sikap dan tindakan generasi muda dalam menyikapi perubahan, yang lebih menekankan pada kekuatan fisik dan kekerasan daripada mengelolah inteklektual dan afeksi. Misalnya kaum muda yang hanya tahu tawuran, berteriak di jalan, kaum muda penganguran, kaum muda pengguna narkoba serta kaum muda yang tahu melontarkan kritik tanpa memberikan solusi. Persoalan tersebut dapat dilihat dari kurangnya kreatifitas, kemandirian, produktivitas di kalangan generasi muda, sehingga generasi muda tidak ikut berpartisipasi aktif dalam proses perubahan bangsa ini.

Solusi Bagi Kaum Muda

Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan kedakwaan kepada Tuhan, penyalur minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang memampukan kita (kaum muda)  untuk sukses di kemudian hari. Tetapi, walaupun dengan cara teguran sering dilakukan, namun tetap saja masih ada remaja yang tidak mengaktualisasikannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, sehingga solusi yang ditawarkan ini berdasarkan pantauan terhadap masalah remaja.

Pertama: Memperbaiki cara pandang. Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam “kenyataan”, maksudnya sebaiknya remaja dididik sejak dini di dalam keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil mesti membantu sikap remaja dalam memandang atau menyikapi segala perubahan zaman dengan selektif.

Kedua: Remaja perlu berpikir tentang masa depan. Dalam buku Mazab Ketiga yang berjudul Psikologi Humanistik Abraham Maslow yang tulis oleh Frank G. Goble dikatakan bahwa hanya dengan mengubah mind set, manusia dapat berubah. Seandainya remaja sadar akan keberadaannya, maka muncul pertanyaan “apa yang terjadi pada diri saya, ketika sekarang saya tidak menggunakan waktu dengan baik untuk: belajar dan mengembangkan bakat, dalam menyusun langkah untuk menjadi orang yang sukses?”

Hal ini bukan saja kata-kata, tetapi tindakan serta komitmen yang paling penting untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu kaum muda dapat mempertimbangkan dan memilah mana yang mendukung kontribusi kapasitas diri dan mana yang menghambat kemajuan.

Ketiga: Mengenali diri dengan segala kekurangan dan kelebihan. Jangan bangga dengan kelebihan, lalu lupa untuk mempertahankannya. Jangan pula menutup-nutupi kekurangan supaya dilengkapi dengan kebaikan. Artinya yang dituntut ialah sikap keterbukaan diri untuk menunjukkan yang sebenarnya.

Jadi, cara pandang, mengenali diri sendiri serta pola pikir dari kalangan remaja dapat membantu kepribadiannya. Kematangan cara pandang, mengenali diri sendiri serta pola pikir remaja ini merupakan modal yang kuat bagi remaja sebagai tulang punggung bangsa untuk bersolidaritas dan nasionalisme.

Sebagai kaum muda yang masih berdarah muda, mari kita kenakan semangat muda para pemuda kemerdekaan. Kita bersatu hati dan satu suara untuk memerangi segala kejahatan yang masih mengepung bangsa kita ini.

Penulis adalah Alumnus Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update