-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

THE WORLD AND HIM

Sabtu, 16 Maret 2019 | 11:17 WIB Last Updated 2019-12-05T07:27:28Z
THE WORLD AND HIM
Ilustrasi dari aktual.com

Oleh: Jennifer Angelyn Chandra

Pada suatu ketika, aku berani berkata begini kepada teman-temanku, “Aku Jenius”. Gak bermaksud sombong, tapi sungguh aku jenius. Serius, itu fakta.

Jangan melihatku dengan tatapan judgemental seperti guru dengan tatapan menghakimi murid bandel yang dapat nilai bagus.

Aku sungguhan jenius. Iya, jenius dengan IQ 170 di usia 16 tahun, mengalahkan IQ Albert Einstein.

Mama bilang, aku memang berbeda sedari kecil. Saat bayi masih merangkak, aku sudah mengambil langkah pertamaku.

Saat yang lain baru bisa memanggil mamanya, aku sudah bisa berbicara kalimat penuh dengan susunan gramatikal tepat. Dan banyak lagi hal-hal ajaib yang bisa membuat kalian makin mengecapku sombong.

Iya, mungkin aku memang terkesan sedikit sombong. Namun perkataanku sesuai dengan realitas diriku. Saya berkata dari kenyatan hidupku. Bahwa, aku memang jenius dan hal ini sudah dibuktikan melalui teks kemampuanku.

Kalian pasti berpikir aku sejenis those-stereotype-nerd dengan kacamata berlensa tebal, behel, dan baju kebesaran. Hahaha.

Maaf, tapi ini bukan telenovela Betty La Fea atau sebangsanya. Aku tahu, penampilan bisa sangat mempengaruhi persepsi orang mengenai diri kita. Aku bukan pesolek, but at least, you can say I’m decent looking. 

Dan jadi jenius bukan serta merta berarti orang tuaku menganggapku spesial. Karena menjadi anak tengah dari 7 bersaudara akan membuatmu berusaha sangat, sangat keras agar dinotis.

Mereka tahu aku cerdas, tapi hanya itu yang mereka tahu. Mereka nggak tahu sama sekali kalau anak ke-4 mereka menjadi peraih nilai percobaan SAT tertinggi di urutan ke-20 di usia 14.

Mereka juga nggak tahu kalau anak perempuan ke-2 mereka terus ditawarkan beasiswa spesial untuk masuk ke Harvard, Yale, dan Brown.

Sedih? Nggak juga.

Anak tengah yang lain pun begitu. Perhatian Mama terfokus pada Derek, adik bungsuku yang masih berusia 3 tahun. Papa terlalu sibuk dengan teman-temannya, New York Yankees, dan game lotre akhir pekan.

Memang dunia ini indah.

Tapi, aku enggak merasa kesepian, kok. Aku malah lebih suka ditinggalkan sendirian, jadi aku bebas melakukan hal-hal aneh, kayak mencoba menghasilkan listrik dari gas buangan sapi atau mencampurkan hyaluronic acid ke dalam spons.

Aku bukan murid akselerasi seperti anak jenius pada umumnya. Aku belum mau merasa tua sebelum umurku, oke? Jadi sekarang aku masih kelas 2 SMA dan tentu saja, aku punya teman.

Jadi, simpan rasa khawatirmu itu mengenai diriku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.

Oh ya, mau tahu sebuah fakta yang mungkin mengejutkan dariku?
Aku enggak percaya sama eksistensi Tuhan.

*****
BRAK!

“Kak, Mama suruh aku bangunin kamu.”
“Aku kan udah pernah bilang, aku gak mau ke gereja,”

Helena, si anak nomor 5, menghela napas. Dia menghempaskan selimutku ke lantai, menyalakan lampu kamar, dan menggelitiki telapak kakiku.

“Aku tahu kamu gak bakal mau pergi, tapi tetap harus bangun pagi kata Mama. Lagian, emang kenapa sih kamu segitu antinya sama gereja? Kamu ikut aliran setan ya, Kak?”

Tuduhan Helena membuatku terbangun dan mendelik.
“Ke gereja yang gak berdarah-darah aja aku gak mau, apalagi disuruh ke tempat yang disuruh minum darah bayi? Amit-amit!”
Iya, aku takut darah.

“Makanya, bangun. Lagian, semua orang harus bangun pagi buat hari ini, Kak Martha mau membaptis Magnus dan kita semua harus hadir,” jelas Helena datar.

“Ayolah, demi Magnus. Siapa tahu, Kak Martha mau kamu jadi ibu baptisnya.”

“Demi celana panjang Johnny Depp, aku gak peduli. Mana mungkin juga Kak Martha mau jadiin orang absurd kayak aku ibu baptisnya Magnus?

Lagian kan, orang tua baptis itu harus sejenis kelaminnya sama yang mau dibaptis! Pokoknya aku mau di rumah aja!”

Helena menghela napas lagi, lalu bergegas turun ke bawah. Tidak lama, dia naik lagi. Dengan  akuarium Perry.

“Mama bilang kalo kamu gak mau ikut, nanti Perry dibuang,” ancam Helena dengan nada datar. “Dadah, Perry. Silakan kembali ke Australia.”

“GAK ADA YANG BOLEH NYENTUH PERRY! GAAAAK!” teriakku histeris.
Aku terlalu sayang sama platypus tengilku itu. Jadi, mau  nggak mau, aku mengakui kekalahanku. Dan pergi ke gereja.

Ah, padahal aku udah janji mau main sama Lily pagi ini. Anjing husky-nya melahirkan.
Sepanjang perjalanan, aku cuma diam. Ngambek. Aku kan, sudah terang-terangan mengaku kalau aku gak percaya Tuhan. Kenapa masih dipaksa juga?

Mungkin kalian penasaran kenapa aku enggak percaya sama Tuhan. Oke, aku kasih tahu kenapa.
Karena menurutku enggak logis.

Klasik, ya alasannya? Ya aku enggak kebayang aja, sesuatu yang (mungkin) tidak berwujud bisa mewujudkan alam semesta. Gimana ya.

It just doesn’t make sense to me. Dan soal  bagaimana Tuhan Maha Tahu tapi enggak melakukan sesuatu biar Adam dan Hawa enggak makan buah terlarang?
Aku lebih percaya sama sesuatu yang konkrit. Lebih riil rasanya.

Uh, aku kelewat batas ya? Tapi, itu emang pemikiranku, sih. Maaf ya, kalau pemikiranku terlalu liar. Mungkin harus kutempatkan di rehabilitasi pikiran.

Saat misa, aku hanya mengikuti apa yang orang-orang lakukan. Kalau orang-orang berdiri, aku ikut. Mereka bernyanyi, aku ikut.

Mereka duduk, aku juga ikut. Tapi pikiranku melayang  kemana-mana dan hatiku tidak tertuju kepada Tuhan.
Aku benar-benar tipe orang yang dikecam masyarakat.

Helena menyikutku saat dia tahu aku bengong di tengah  homili. Kak Martha juga memanggilku saat kepalaku terangguk hampir tertidur. Bahkan Magnus juga ikut dilibatkan untuk menggangguku.

Padahal kan, sudah kubilang. Aku gak mau ikut.
“Mama, aku mau pulang,” bisikku pada Mama di samping.

Mama melotot. “Sebentar lagi selesai, Roseanne. Kenapa sih, buru-buru banget?”
Iya, namaku Roseanne. Tepatnya, nama tengahku. Mamaku akan memanggilku dengan nama itu jika dia jengkel.

“Karena aku bosan dan aku emang gak mau pergi ke gereja, tapi aku dipaksa.” jawabku. “Mau pulang, mau pulang, mau pulang, mau pulang.”

“Agatha Roseanne Willard, diam.”
Oke, aku harus diam kalau Mama sudah memanggilku dengan nama panjangku.
“Pergilah, kita diutus,”
“Amin,”

Kalimat penutup dari pastur itu sangat membahagiakan bagiku. Aku sebentar lagi bisa melihat bayi husky yang imut-imut itu.

Setelah lagu penutup selesai, aku buru-buru keluar dari bangunan gereja. Sebelum suara horror Kak Martha menyebut namaku.

“Agatha,”
Aku menghembuskan napas dalam. “Apa?”
“Mau ke mana kamu? Magnus mau menerima sakramen permandian,”
Oh iya. Sial.

“Ayo ke sini, semua harus melihat,” ajak Kak Martha dengan nada memaksa. Aku mati-matian berusaha untuk tidak memutar bola mataku. Demi Magnus, keponakan pertama dan kesayanganku yang imut sekali itu.

Dan aku pun melangkah masuk lagi ke dalam gereja.

******

“Kalian percaya sama Tuhan, enggak?” tanyaku spontan pada teman-teman sekelas perempuanku yang sedang bergerombol bersama untuk … menggosip.

Kebanyakan dari mereka mengangguk, tetapi ada yang hanya diam dan ada yang menjawab “Tentu.”
“Pertanyaanmu aneh.

Kamu kan, anti membahas tentang Tuhan atau agama atau sejenisnya,” seru Kaia. “Ini enggak kayak Agatha Willard yang lebih suka bahas ‘hal-hal konkrit nan absolut’ kayak fisika kuantum atau limit kalkulus.”

Beberapa anak lain mengangguk setuju.
“Aneh nggak, kalo aku nggak percaya sama Tuhan?” tanyaku lagi.

Hening.

Lalu mereka menggeleng.
“Oh, nggak aneh ya? Kupikir kalian bakal kaget,” kataku, malah aku yang kaget.

“Orang jenius kayak kamu terlalu logis pikirannya. Gak heran kalau kamu enggak percaya sama Tuhan. Pasti konsep memercayai sesuatu yang omniscient, omnipotent, dan omni-omni lainnya konyol buat orang sepertimu,” jelas Mara.

“Aku percaya sama hewan omnivora, tuh,” sanggahku polos.

Beberapa dari mereka menepuk keningnya, ada yang menghela napas.
“Pun-mu itu garing banget, tahu,” keluh Alicia. “Ganti jokes-mu, kek.”

“Gak bisa, aku cuma bisa bikin pun,” jawabku singkat. “Nah, nah. Aku akui itu emang payah banget. Sekarang aku mau tanya lagi. Kenapa kalian percaya sama Tuhan?”
Mereka terdiam sebentar.

“Eh … karena emang ada?”
“Karena kalo gak percaya, nanti masuk neraka,”
“Karena … apa ya? Aku juga enggak tahu, sih. Ya pokoknya aku percaya aja!”

Aku menghela napas, jawabannya gak memuaskan. Ya tapi, memang itu jawaban rata-rata orang yang pernah kutanya, sih.
Ya sudahlah. Mungkin memang bukan ini tempatku menemukan jawaban.

*****

“Kak A, dipanggil Mama, tuh!” kata si paling kecil nomor 2, Albert. “Katanya disuruh temenin ke panti!”

Iya, Mamaku adalah seorang volunteer di panti jompo yang letaknya hanya 100 meter dari rumah. Sangat dekat, tetapi Mama biasanya ke sana dengan mobil karena memiliki segudang barang untuk diangkut.

Biasanya sih, barang-barangnya dari donasi orang-orang di keluarga kami atau orang asing yang kebetulan menemukan akun Facebook Mama yang penuh dengan posting kegiatan panti jompo.

Semua saudaraku pernah ke situ, kecuali aku. Entah bagaimana, setiap kali Mama ingin mengajakku ke panti, aku pasti mengalami kecelakaan.

Atau sakit. Seperti saat aku melakukan percobaan gila dengan membuat gunung api dari korek api saat 13 tahun dan apinya menyambar kepadaku, menyebabkan luka bakar tingkat 2.

Atau saat aku kena pneumonia saat 4 tahun, masa-masa awal Mama mulai menjadi pengurus volunter di panti.

Sumpah, aku gak sengaja bikin semua itu. Hei, jangan lihat aku dengan pandangan skeptis begitu, dong. Nusuk banget, tahu.

Setelah mempersiapkan diri dengan pakaian yang menurutku pantas, aku turun. Di ruang tamu, Mama sedang hectic mondar-mandir sambil membawa kardus, dibantu dengan Kak  Martha dan Kak Millie. Dan dirusuhi oleh Albert, William, dan Helena.

“Oi, A! Jangan diam saja!” teriak Kak Millie. “Berat, nih!”
Ya aku kan, baru turun. Gimana aku gak bengong dulu? Even genius’ brain needs some times to process.

Jadi, aku ikut bantu-bantu dan angkat-angkat kardus. Sebelum diteriakin lebih kencang lagi.
“Isinya apa, sih, kardus-kardus ini?” tanyaku. “Pasti gak cuma baju. Soalnya banyak banget, terus beratnya beda-beda.”

“Emang bukan cuma baju, A. Ada yang isinya buku, ada yang isinya makanan instan sehat kayak oatmeal. Ya gitulah, pokoknya,” jawab Kak Martha. “Eh iya, kamu dihubungin sama si nomor 3, enggak?”

Si nomor 3 itu kakak ketigaku, Raymond. Yang ‘kabur’ ke Skotlandia buat belajar patisserie. Dan gak bilang-bilang sama siapapun kecuali aku, karena aku yang paling dekat dengannya.

“Oh, terakhir banget sih, dia ngejawab chat-ku dengan ngomongin cewek Skotlandia yang katanya cantik banget kayak Freya dan mau dia gebet.

Dia gak ngomongin studinya atau makanan yang dia bikin. Selalu ngomongin cewek,” jawabku. “Tapi sih, ya, dia ada nanyain kalian, kok. Bahkan dia bilang, dia mempertimbangkan untuk pulang biar gak cuma liat Magnus di foto.”

Kak Millie mengangguk-angguk, lalu kembali berjalan ke arah bagasi mobil. “Yang tadi itu terakhir, kok. Ayo masuk mobil.”

*****
Perjalanannya gak lama. Cuma makan waktu tiga menit termasuk parkir. Pemborosan bahan bakar, pikirku.

“Halo, apakah ada orang?” seru Mama di depan pagar. Seorang wanita yang kira-kira seusia Mama keluar tergopoh-gopoh.

“Halo, Nyonya Willard. Senang bertemu denganmu lagi. Dan kau membawa Millie juga! Apakah itu Agatha di sampingnya?” cerocos wanita itu dengan ramah.

“Halo, Agatha. Panggil saja aku Elena. Dan Millie sekarang berubah sekali! Rasanya seperti baru kemarin dia datang sambil bawa-bawa boneka Elmo.”

Aku berjabat tangan dengan Elena, sementara Millie tersenyum  kecil, lalu berjalan ke bagasi mobil untuk mengambil kardus.

Aku menngikutinya. Mama dan Elena masih mengobrol seperti kawan lama yang 10 tahun belum bertemu.
Padahal baru 2 hari yang lalu Mama ke sini.

Harus kuakui, pantinya benar-benar terasa seperti rumah sendiri. Perapiannya masih berasap, seperti baru saja dimatikan dan ruangannya berbau seperti kayu manis.

Ada beberapa lansia yang sedang beraktivitas, seperti sedang merajut syal atau hanya mengobrol.

Di setiap meja, tertata bunga segar, mungkin bunga daisy dan daffodil. Kalau aku bisa tinggal di sini, aku juga mau tinggal di sini.

“Nah, Agatha. Cobalah mengobrol dengan seseorang. Jangan datang hanya untuk berdiam,” tegur Mama. “Di sana ada Nyonya Kellen.

Matanya terserang katarak, sehingga penglihatannya tidak bagus.  Dia suka mengobrol dan bercerita. Kalau bisa, bacakan juga beberapa buku untuknya.”

Nyonya Kellen adalah seorang lansia dengan pakaian rajut berwarna krem, rambut putihnya terkepang jatuh di punggung. Tubuhnya bungkuk, seperti lansia pada umumnya. Oke, tampak tenang. Sepertinya  aku tidak akan kena ocehan yang … aneh-aneh.

“Halo, Nyonya Kellen. Namaku Agatha Willard,” sapaku pelan.
“Ah, halo, anak muda.” jawab Nyonya Kellen dengan suara serak.

“Apakah ini kunjungan pertamamu? Aku sudah sering bertemu Millie atau Martha. Tapi Agatha … aku baru pertama kali mendengarnya.”

“Ya, Nyonya Kellen. Ini kunjungan pertamaku. Aku selalu mendapat kecelakaan atau sakit kalau Mama akan berencana membawaku ke sini,” ungkapku jujur.
“Sakit atau kecelakaan? Coba ceritakan,”

Aku memulai ceritaku dari sejak aku masih balita. Sesekali, Nyonya Kellen terkekeh. Dia juga kadang menanggapi kejadian-kejadian yang kualami.

Setelah ceritaku selesai, gilirannya yang bercerita. Seperti, masa-masa mudanya atau anak-anaknya.
Nyonya Kellen mengingatkanku pada mendiang nenekku.

“Agatha, ayo pulang!” ajak Mama.
Time sure flies.

“Nyonya, aku pulang dulu,” pamitku pada Nyonya Kellen. “Terima kasih sudah mau mengobrol denganku.”
“Datanglah lagi secepatnya,” pesan Nyonya Kellen.

Aku tersenyum lebar dan mengangguk. “Sampai jumpa, Nyonya Kellen!”
Aku melambaikan tangan pada Elena dan masuk ke mobil untuk pulang.

*****
Sejak saat itu, aku jadi rajin berkunjung ke panti.
Nyonya Kellen punya sangat banyak cerita. Beliau dulu adalah anak seorang konsuler, sehingga sering pergi ke luar negeri.

Teman-temannya juga banyak di negara lain dan mereka masih sering kontak melalui telepon. Tidak jarang juga ceritanya diwarnai dengan ketegangan, seperti saat beliau menyaksikan runtuhnya tembok Berlin.
Tapi … hari ini Nyonya Kellen jadi sedikit berbeda.

“Nah, Agatha. Apa kamu percaya Tuhan?” tanya Nyonya Kellen tiba-tiba.

Mataku melotot. Menurutku, itu pertanyaan tabu karena … well, urusan begitu adalah privasi. Atau paling tidak, bagiku, itu adalah ranah privasi.

“Jawab saja yang jujur. Aku tidak akan menghakimi.” ujar Nyonya Kellen, seolah bisa membaca keraguanku.

“Uh, tidak,” jawabku, sambil menggaruk tengkukku secara refleks. “Kenapa, Nyonya?”
Nyonya Kellen menengadah agar bisa menatapku. Matanya yang berwarna biru kehijauan seperti dapat membaca segala pikiranku.

“Apa alasannya?” tanya Nyonya Kellen lagi.
Aku menimbang-nimbang. Apa jawabanku akan cukup rasional?

“Karena, kalau ada Tuhan, seharusnya Dia tidak membiarkan dunia ini punya banyak kesusahan, kan?

Dunia ini busuk banget, kebanyakan orang jahat dan piciknya. Lagian, dunia ini makin hari makin hancur, Nyonya. Makin aku tidak bisa percaya sama Tuhan,” jelasku.

“Lagipula, menurutku, Tuhan itu cuma ‘buatan’ manusia supaya kita bisa tetap merasa nyaman dan berharap.

Manusia itu pada dasarnya butuh kenyamanan, sementara sesama manusia aja saling mencurangi, gimana mereka mau berharap dan nyaman? Makanya itu, mereka menciptakan Tuhan.”
Nyonya Kellen mengangguk. “Sudah?”
“Ya,” kataku disertai anggukan.

“Harus kuakui, alasanmu lumayan memuaskan,” komentar Nyonya Kellen. “Aku juga bukan orang yang religius saat muda dan alasanku kurang lebih sama sepertimu.”

 “Tapi, suamiku orang yang berbeda denganku. Dia sangat percaya pada Tuhan, sangat rajin ke Gereja, terlibat aktif dalam aksi-aksi sosial Gereja.

Aku pernah bertanya padanya, kenapa sangat percaya dan bergantung pada sesuatu yang tidak pasti? Jawabannya sederhana. Karena Dia memang dan pasti ada. Dia tidak perlu menampakkan diri, semua orang juga tahu Dia adalah pemilik dari semuanya.” 

“Dan aku bertanya lagi saat itu, kenapa mau susah-susah terlibat aksi sosial Gereja, padahal kita bisa membantu orang tanpa perlu terlibat dengan Gereja?

Lagi-lagi jawabannya sederhana. Karena sesungguhnya, Gereja membangun dunia agar menjadi lebih baik dan lebih mirip dengan gambaran Kerajaan Allah.

Gereja bukan hanya tempat, Gereja adalah sebuah media. Agar dunia menjadi lebih indah dan manusia lebih mudah memanusiakan sesamanya.”
 Aku tertohok.

Jawaban suami Nyonya Kellen memang sederhana, tapi sangat … pas. Aku seperti merasa menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.

Aku memberanikan diri untuk bertanya. “Apakah Nyonya langsung percaya pada Tuhan setelah mendengar jawaban suami Nyonya?”

Bibir Nyonya Kellen menyunggingkan sebuah senyum lembut. “Tentu saja tidak. Tapi, kupikir saat itu, tidak rugi mempercayai Tuhan. Malah itu adalah sebuah keuntungan kalau Tuhan benar-benar ada, bukan?”

*****
Mataku menyipit akibat flash kamera.
“Nona Willard! Apa pendapat Anda mengenai teori fisikawan Tom Higgins yang menyatakan alam semesta itu ada bukan karena ketidaksengajaan?

Bukankah ini kontras dengan Big Bang Theory yang menyatakan dunia terjadi atas ledakan?” tanya seorang wartawan dari CNN.

“Harus kukatakan, aku setuju dengan kata-kata Tuan Higgins,” jawabku sopan.
“Lalu siapa yang menciptakan kita dan alam semesta?” tanya seorang wartawan dari BBC. “Apakah ini artinya Anda mengakui keadaan Tuhan?”

Ruangan semakin riuh mendengar pertanyaan yang dilontarkan wartawan itu. Semua mata tertuju padaku, memaksaku untuk segera berbicara.

“Ya, karena Tuhan memang ada dan pasti ada. Lagipula, semua agama juga berusaha untuk membuat dunia ini tempat yang lebih baik, kan?

Kalau Tuhan tidak ada, tidak akan ada pemikiran begitu. Tanpa Tuhan, kita akan menjadi terlalu egois. Lagipula, semua yang ada di alam semesta pasti punya ‘pelatuk’nya, bukan? Alam semesta juga punya ‘pelatuk’, yaitu Tuhan.”

******
×
Berita Terbaru Update